Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Tengah Malam
"Ingat, Mbak. Begitu sampai di bawah, jangan gunakan taksi online. Arkan memantau semua riwayat digital di area ini. Gunakan taksi konvensional yang lewat di ujung jalan sana."
Janu membisikkan instruksi itu dengan suara gemetar di balkon servis yang gelap. Ia menyerahkan sebuah tas kecil berisi uang tunai dan ponsel lama miliknya yang tidak terlacak.
"Terima kasih, Janu. Kamu yakin Sofia tidak akan mengecek kamarku lagi malam ini?" tanya Naya sambil menyampirkan tas itu di bahunya.
"Ibu Sofia sedang minum obat tidur dosis tinggi karena bertengkar hebat dengan Pak Arkan tadi. Masalahnya sekarang adalah Pak Arkan. Beliau belum tidur, masih di ruang kerjanya. Mbak harus turun lewat tangga darurat gedung sebelah," Janu menunjuk ke arah celah sempit di antara dua balkon.
"Aku akan menemui Hendra. Kamu tahu alamat tepatnya di Bogor?"
"Villa Arkan, kawasan Puncak. Cari bangunan dengan gerbang hitam tinggi tanpa papan nama. Itu satu-satunya tempat yang dijaga pengawal pribadi Arkan, tapi di jam segini mereka biasanya lengang. Mbak harus masuk lewat pintu belakang dapur," Janu mendorong bahu Naya pelan. "Cepat, Mbak. Sebelum saya berubah pikiran karena takut."
"Kalau Arkan bertanya besok pagi, katakan aku ada di kamarku dan mengunci diri," Naya menatap Janu untuk terakhir kalinya sebelum memanjat pagar balkon.
Perjalanan menuju Bogor terasa seperti selamanya bagi Naya. Sepanjang jalan di dalam taksi tua yang berbau rokok, ia terus menggenggam ponsel pemberian Janu. Ia mencoba menghubungi nomor Pak Baskoro, paman Arkan, namun tidak ada jawaban.
"Pak, bisa lebih cepat sedikit? Saya benar-benar terburu-buru," desak Naya pada supir taksi.
"Ini sudah maksimal, Mbak. Jalannya mulai berkabut dan menanjak," sahut sang supir tanpa menoleh.
Tiba-tiba, ponsel di tangan Naya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Arkan ke ponsel Janu yang dipegangnya.
Janu, cek kamar Naya sekarang. Aku merasa ada yang tidak beres.
Jantung Naya seolah berhenti berdetak. "Sial! Dia sudah curiga!"
Naya segera mematikan ponsel itu dan menyembunyikannya di dalam sepatu. Ia harus sampai di Villa itu sebelum Arkan mengirim orang untuk mencegatnya.
"Berhenti di sini saja, Pak," ucap Naya saat melihat gerbang hitam tinggi yang dimaksud Janu.
Ia turun di pinggir jalan yang gelap dan dingin. Hawa Bogor menusuk hingga ke tulang, tapi Naya tidak peduli. Ia berjalan mengendap-endap menyusuri pagar tembok yang tinggi, mencari celah atau pintu kecil. Di sudut belakang, ia menemukan sebuah pintu besi kecil yang sedikit terbuka—mungkin bekas pelayan yang lupa mengunci.
Naya masuk ke area villa. Suasananya sangat sunyi, hanya suara jangkrik yang bersahutan. Ia menuju pintu dapur dan membukanya perlahan.
"Siapa di sana?" sebuah suara pria yang serak terdengar dari arah ruang tengah yang remang-remang.
Naya mematung. Ia melangkah perlahan menuju sumber suara. Di sana, seorang pria kurus dengan wajah pucat duduk di kursi roda, menatap layar televisi yang hanya menampilkan bintik-bintik hitam putih.
"Pak Hendra?" bisik Naya.
Pria itu menoleh dengan kaget. "Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Apa Arkan mengirimmu untuk menghabisiku?"
"Bukan! Saya Kanaya. Anak dari Baskara. Pemilik perusahaan yang Anda hancurkan bersama Arkan," Naya mendekat, menatap langsung ke mata pria yang gemetar itu.
Hendra tertegun. "Anak... Pak Baskara? Kenapa kamu ada di sini? Arkan bilang kamu sudah menjadi istrinya dan menikmati harta itu."
"Menikmati? Saya hidup dalam neraka setiap hari karena perbuatan Anda dan Arkan! Anda memalsukan tanda tangan Ayah saya, kan? Anda membuat hutang fiktif itu!" teriak Naya, suaranya tertahan namun penuh tekanan.
Hendra menunduk, tangannya yang kurus meremas selimut di pangkuannya. "Saya tidak punya pilihan, Kanaya. Arkan mengancam akan memenjarakan anak saya jika saya tidak membantu audit palsu itu. Dia sangat licik. Dia tahu semua kelemahan saya."
"Sekarang pilihan itu ada lagi, Pak Hendra. Berikan saya pengakuan tertulis. Berikan saya bukti asli yang Anda simpan. Ayah saya, Pak Baskara, sekarang sekarat di rumah sakit karena ulah kalian!"
"Dia punya pengawal di luar, Kanaya. Kita tidak bisa keluar dari sini," bisik Hendra ketakutan.
"Aku tidak butuh kita keluar sekarang. Aku hanya butuh bukti itu! Di mana Anda menyimpannya?"
Hendra terdiam sejenak, lalu menunjuk ke arah jam dinding besar di ruangan itu. "Di balik penutup belakangnya. Ada flashdisk yang berisi rekaman suara Arkan saat dia memberikan instruksi untuk memalsukan audit itu. Saya menyimpannya untuk jaminan nyawa saya."
Naya segera berlari menuju jam dinding itu. Dengan tangan gemetar, ia merogoh bagian belakangnya dan menemukan sebuah flashdisk kecil yang ditempel dengan isolasi.
"Dapat!" seru Naya.
"Sekarang pergi, Kanaya! Pergi sebelum Arkan sampai! Dia biasanya menelepon ke sini setiap jam dua pagi untuk mengecek saya," desak Hendra.
"Saya tidak akan meninggalkan Anda di sini. Ayo ikut saya!"
"Aku tidak bisa jalan, Nak. Aku hanya akan membebanimu. Bawa bukti itu ke Pak Baskoro, paman Arkan. Hanya dia yang punya kuasa untuk melawan Arkan di pengadilan," Hendra mendorong kursi rodanya menjauh.
Baru saja Naya hendak melangkah keluar, lampu ruang tengah tiba-tiba menyala terang.
"Begitu rupanya cara kalian reuni? Sangat menyentuh."
Arkan berdiri di ambang pintu utama dengan tangan bersedekap. Di belakangnya, dua pengawal berbadan besar menatap Naya dengan dingin.
"Arkan..." bisik Naya, tubuhnya membeku.
"Naya, Naya... kamu benar-benar tidak pernah belajar, ya? Kamu pikir Janu benar-benar berani mengkhianatiku tanpa aku tahu? Ponsel yang dia berikan padamu... itu punya pelacak GPS aktif, Sayang," Arkan melangkah masuk, suaranya sangat tenang namun mematikan.
"Kamu sengaja membiarkanku datang ke sini?" tanya Naya dengan suara parau.
"Tentu saja. Aku butuh alasan yang sah untuk melenyapkan Hendra selamanya. Dan dengan kehadiranmu di sini, aku bisa membuat cerita bahwa kamu dan Hendra mencoba melarikan diri bersama dengan uang perusahaan, lalu terjadi kecelakaan," Arkan menoleh ke arah pengawalnya. "Ambil barang yang dia pegang."
Salah satu pengawal maju dan merampas flashdisk dari tangan Naya.
"Kembalikan! Itu milikku!" teriak Naya mencoba melawan, tapi pengawal itu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
Arkan mengambil flashdisk itu, memutarnya di antara jari-jarinya. "Hendra, kamu mengecewakanku. Aku sudah memberimu tempat tinggal yang layak, dan ini caramu membalasnya?"
"Kamu iblis, Arkan! Pak Baskara tidak pernah berbuat jahat padamu!" teriak Hendra dari kursi rodanya.
"Pak Baskara terlalu lemah untuk dunia ini, Hendra. Dan kamu juga," Arkan memberi isyarat pada pengawalnya. "Bawa Hendra ke mobil belakang. Kita akan melakukan perjalanan kecil ke tebing."
"Jangan, Arkan! Aku mohon!" Naya memeluk kaki Arkan, menangis histeris. "Hancurkan aku saja, tapi jangan bunuh dia! Jangan tambah dosamu pada keluarga kami!"
Arkan berjongkok, menjambak rambut Naya agar menatapnya. "Dosa? Di dunia bisnis, tidak ada dosa, Naya. Hanya ada untung dan rugi. Dan malam ini, kamu adalah kerugian terbesar yang harus aku bereskan."
"Bun*h aku kalau begitu! Bun*h aku sekarang!" tantang Naya.
Arkan menatap bibir Naya, lalu tersenyum dingin. "Tidak, Naya. Kamu akan tetap hidup. Kamu akan tetap menjadi istriku. Tapi kamu akan hidup dengan mengetahui bahwa setiap orang yang mencoba membantumu akan berakhir di dasar jurang. Itu adalah hukuman yang lebih pantas untukmu."
Para pengawal menyeret Hendra keluar. Suara teriakan pria tua itu menggema di seluruh villa sebelum akhirnya menghilang ditelan suara mesin mobil yang menjauh.
"Sekarang, bangun," perintah Arkan sambil menarik Naya berdiri dengan kasar. "Kita pulang ke Jakarta. Dan besok pagi, kamu akan menandatangani surat pengakuan bahwa kamu mengalami depresi dan mencoba melakukan bunuh diri malam ini. Mengerti?"
Naya tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dengan pandangan kosong. Harapannya musnah. Bukti terakhirnya hilang. Dan Ayahnya, Pak Baskara, masih terbaring tak berdaya tanpa tahu bahwa putrinya baru saja kalah dalam taruhan paling berdarah.
"Jawab aku, Naya!" Arkan membentak.
"Iya, Arkan. Aku mengerti," jawab Naya tanpa emosi.
"Bagus. Janu sudah aku bereskan di Jakarta. Jangan berharap dia bisa membantumu lagi," Arkan menarik Naya keluar dari villa menuju mobilnya yang sudah menunggu.
Dalam perjalanan pulang yang sunyi, Naya menatap tangannya yang gemetar. Ia telah gagal. Tapi di dalam benaknya, sebuah rencana terakhir mulai terbentuk. Jika ia tidak bisa menghancurkan Arkan dengan hukum, maka ia akan menghancurkan Arkan dengan tangannya sendiri—walaupun itu berarti ia harus ikut hancur bersamanya.