NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Bertengkar Dengan Aning

"Tapi feeling-ku mengatakan, anak Anda ada di pinggiran Jakarta, Tuan. Seseorang pasti menyembunyikannya, tapi kemungkinan besar seseorang yang Anda tidak kenal."

Hardyn menatap pria di depannya dengan pandangan nanar. "Jangan bilang anakku kabur lalu diculik, sebab aku bisa gila!" Ia kembali berteriak sambil memukul meja dengan keras.

Collins adalah satu-satunya harta peninggalan yang ia miliki dari Aiko-istri pertamanya. Ia tak mau ada orang yang menyiksa atau bahkan menghilangkan nyawa anak pertamanya itu karena ia pasti akan hidup dalam penyesalan.

Pria di hadapannya itu tak bisa bicara apa-apa lagi karena semua masih perkiraan. Hal ini membuat Hardyn semakin kehilangan kewarasannya.

Milyuner itu meraih pajangan porselen di dekatnya dan membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Periksa sekali lagi! Perdagangan manusia, atau telepon dari si penculik dan aku ingin hasilnya, segera!!"

"Baik, Tuan."

****

Motor Collins menghampiri Aida yang berada di depan pagar sekolah, menunggunya. "Ayo, Mbak."

Aida naik ke motor. Sebentar kemudian motor sudah di jalan. Collins melewati gang-gang agar bisa memotong jalan untuk sampai ke rumah Aida.

"Bang ... Abang marah ya?"

Pria itu terkejut mendengar kata-kata sang wanita. "Lho, marah kenapa?"

"Masa Saya bilang terima kasih, Abang marah?" Wajah ustadzah itu terlihat sendu.

Collins baru sadar dengan apa yang tengah dibicarakan. 'Sensitif sekali dia ya? Padahal aku cuma menggodanya.' "Eh ... aku cuma becanda kok." Ia jadi serba salah.

Aida kaget mendengar pengakuan Collins. "Oh."

Keduanya kemudian terdiam, fokus dengan jalan yang dilewati hingga akhirnya motor sampai di depan pagar rumah Aida. Wanita itu pun turun.

"Besok di jam yang sama 'kan?" tanya Collins menatap Aida.

"Oh, iya."

"Ok, kalo ada perubahan, telepon ya."

Wanita itu mengangguk pelan.

"Ya sudah. Sampai besok." 'Sekarang menjemput Mpok pulang.' Collins memundurkan motor dan kemudian berputar arah. Motor itu pun bergerak menjauh.

****

"Aning, kamu pulang?" Aida mendengar pintu depan terbuka. Biasanya bila ia masuk, pintu depan tak dikunci karena menunggu sang sepupu pulang.

"Mmh." Aning mengunci pintu. Ia melirik Aida dan kemudian masuk kamar.

Aida sendiri tengah mencuci piring. Baru saja ia selesai mencuci, Aning keluar kamar dan mendatanginya.

Wajah sepupunya itu nampak serius. Ia melipat tangan di dada dan menatap Aida. "Kenapa cowok itu yang ngantar Kakak kerja? Apa dia juga jemput Kakak pulang?"

"Iya." Aida meraih tongkatnya.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Dia butuh uang dan ia melakukan pekerjaan halal. Kenapa tidak?" Aida melangkah pelan-pelan ke kamar. Ia tidak ingin menceritakan pada sang sepupu bahwa Collins telah menolong dirinya dari murid yang tengah menggodanya di jalan.

"Kakak ini gak ngerti ya, Kakak tuh ngundang bahaya banget, tau! Bagaimana kalau dia punya niat jahat, seperti yang waktu itu?"

"Tidak mungkin! Aku percaya padanya." 'Bang Bara begitu sopan. Dia malah yang menolongku dari muridku yang bebal. Dia tak mungkin melakukan sesuatu yang jahat kepadaku.' Namun Aida tidak mengatakan apa yang dipikirkannya.

"Kakak, kok diajari gak mau ngerti sih? Nanti kalau sudah kejadian aja ...."

Aida berhenti dan memutar tubuhnya ke arah Aning. "Tapi perasaanku mengatakan tidak. Dia orang baik. Kali ini aku merasa feeling-ku benar, Aning."

"Bagaimana kalau tidak?!" Aning menantangnya dengan mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencibir. "Kau selalu pembawa sial di rumah ini!"

"Aning!" Aida mengerut dahi.

"Apa!? Kakak buta, tapi kerjaan Kakak terus saja mengambil pacar orang, atau mendatangkan orang jahat ke rumah ini. Kalau lain kali ada kejadian seperti ini lagi, kakak harus keluar dari rumah ini, ya!" usir Aning terang-terangan.

Selama ini ia memang kesal, Aida selalu mematahkan pria-pria yang naksir dengannya setelah melihat Aida. Belum lagi, pernah ada orang yang membuntuti sang sepupu cantik ini hingga hampir mencelakainya.

"Ini 'kan rumah kakak?" Aida tak percaya mendengar ucapan sepupunya itu.

"Memang kenapa? Kakak memang dari dulu selalu nyusahin! Setelah orang tua Kakak meninggal, memang siapa yang ngurus Kakak? Orang tuaku, tau! Orang tua Kakak meninggal waktu Kakak masih kecil. Orang tua Aning yang membesarkan Kakak, apa Kakak tidak ingat itu!!" Kali ini Aning mengungkapkan isi hati. Ia sampai hampir menangis sambil menunjuk-nunjuk dirinya. "Gara-gara pergi sama Kakak, orang tuaku kecelakaan, Kak. Tapi apa yang terjadi? Orang yang menabraknya malah memberi ganti rugi pada Kakak bukan padaku. Iya 'kan!?"

"Aning, kamu juga dapat," bantah Aida.

"Iya, tapi kenapa Kakak dapat yang paling besar, hah? Kenapa?!" Aning meneteskan air mata.

Tentu saja karena kecelakaan itu menyebabkan mata Aida buta. Dan orang yang menabrak itu memberi ganti rugi pada paman dan bibi mereka yang satu lagi, untuk memastikan Aida bisa sekolah dan menjalani hidup seperti manusia normal lainnya. Aning hanya mendapat uang duka.

Aida tak mau mengungkit ini karena takut Aning merasa diperlakukan tidak adil. Namun ternyata sepupunya itu sudah merasakannya sejak lama. "Aning ... selama kamu di sini, Kakak 'kan gak pernah beda-bedain kamu." Ia berusaha bicara lembut.

"Tapi tetap saja, seharusnya aku yang dapat kompensasi yang lebih besar, tau! Kenapa aku jadi orang yang menumpang di sini? Bukankah orang tuaku yang membesarkan Kakak? Harusnya rumah ini jadi milikku!"

"Aning, astaghfirullah aladzim." Aida mengurut dada.

"Apa?!" Kini Aning menyerangnya dengan mata nyalang dan air mata yang masih berderai. "Sekali lagi ada kejadian kayak gini lagi, Kakak harus keluar dari rumah ini! Aning gak mau tau!" bentaknya dengan suara lantang sambil tangannya menunjuk ke arah luar. Ia kemudian bergegas ke kamar dan membanting pintu.

'Ya, Allah. Salah apa aku selama ini dengannya', batin Aida lirih. Ia berusaha untuk ikhlas. Padahal tidak sedetik pun juga ia pernah menyusahkan Aning. Ia berusaha mandiri bahkan membantu sepupunya itu menyelesaikan pendidikannya hingga tamat SMA dari gajinya sebagai guru. 'Aning. Maafkan kakak kalau selama ini menyusahkanmu, tapi ... mudah-mudahan Bang Bara tidak seperti yang kamu takutkan.' Aida menghela napas pelan.

****

"Bara ... sini!" Ipah memanggil.

Collins yang baru keluar dari kamar, datang mendekat. "Ada apa, Mpok?"

Ipah melepas tali ukuran yang ia kalungkan di leher sedari tadi. "Bentar. Mpok mau ngukur. Diem aje lu di situ." Wanita itu kemudian melingkarkan tali ukuran itu di sekitar dada Collins.

"Buat apa, Mpok?" tanya pria itu bingung. Ia memperhatikan kakak angkatnya ini mengukur tubuhnya.

"Mpok lagi belajar bikin baju laki. Lu ntar Mpok bikinin baju satu, dah!"

"Kenapa ngak Babe aja sih, Mpok?" Collins memberi pilihan sambil melirik Ipah.

"Aku mau bikin baju opah-opah koreah."

"Aku bukan opah-opah Korea, Mpok ...." protes Collins pelan. Ia mulai merengut.

"Ntar Mpok bikinin kemeja batik, masa gak mau sih?"

Melihat Ipah yang terlihat serius, akhirnya Collins hanya bisa diam. Pria itu melirik kumpulan bapak-bapak yang ramai di ruang tamu. Sepertinya ada rapat tertutup sehingga Collins tak berani mengganggu babe.

Setelah diukur Ipah, Collins ke dapur mengambil air minum. Sesudahnya ia kembali ke kamar.

"Bara!"

Collins menoleh. Babe memanggilnya. Rapat di ruang tamu ternyata telah selesai dan mereka telah pulang.

"Ada apa, Be?"

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!