Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Shadow Lord
Lokasi: Alun-Alun Besar Ibu Kota Aethelgard.
Waktu: Tengah Hari (Jam Eksekusi).
Matahari bersinar terik di atas Ibu Kota, seolah-olah dewa sendiri ingin menyoroti dosa yang akan dilakukan manusia hari ini. Tidak ada awan yang berani menutupi langit. Alun-alun kota yang biasanya digunakan untuk festival bunga dan pasar rakyat, kini dipadati oleh ratusan ribu manusia. Lautan kepala bergerak gelisah, berdesak-desakan, memanjat atap rumah dan patung demi mendapatkan pandangan terbaik ke arah panggung eksekusi di tengah lapangan.
Suasana di sana bukan suasana duka. Itu adalah suasana pesta kebencian. Amarah menggantung tebal di udara, lebih menyesakkan daripada panas matahari. Rakyat butuh kambing hitam atas segala ketakutan mereka, dan hari ini mereka mendapatkannya.
"Bunuh Monster itu!"
"Pembalasan untuk Pendeta Cassian!"
"Bakar Iblis Gremory!"
Di atas panggung eksekusi yang terbuat dari batu hitam, Leon Gremory berlutut.
Kondisinya sangat mengenaskan. Tubuh setinggi 2,5 meter itu diikat dengan dua belas rantai Adamantite raksasa yang tertanam ke dasar panggung. Rantai-rantai itu dialiri sihir cahaya tingkat tinggi yang terus-menerus membakar kulit sisiknya, mencegahnya menggunakan regenerasi. Asap tipis berbau daging hangus mengepul dari tubuhnya yang penuh luka cambuk. Mata kirinya buta bekas panah, mata kanannya redup menatap lantai batu yang panas.
Dia sudah pasrah. Dia bisa mendengar caci maki rakyat yang dulu dia bersumpah untuk lindungi dengan nyawanya. Rakyat yang dulu memujanya saat dia datang dengan kereta emas.
Mereka membenciku... batin Leon. Pikirannya lambat dan kacau. Aku mencoba menjadi baik... Aku mencoba menjadi pahlawan... Aku tidak pernah ingin menyakiti siapa pun... Kenapa berakhir begini?
Di balkon istana yang menghadap alun-alun, Raja Aethelgard duduk di singgasananya yang megah, didampingi oleh Grand Mage Eldric, para jenderal, dan pejabat gereja.
Di sisi Raja, berdiri Putri Aeliana. Dia mengenakan gaun formal kerajaan berwarna hitam tanda berkabung, wajahnya tertutup cadar tipis. Tubuhnya kaku, tangannya gemetar hebat menahan tangis. Varian tidak ada di sini—dia izin "sakit" di asrama akademi—tapi Aeliana merasa bayangan Varian ada di mana-mana, mengawasinya, memaksanya menonton kehancuran pria yang pernah mencintainya dengan tulus.
"Rakyatku!" suara Raja diperkeras dengan sihir angin, membungkam keriuhan massa.
"Hari ini, kita membersihkan noda terbesar dalam sejarah kerajaan kita! Leon Gremory, yang kita kira Pahlawan Terpilih, ternyata adalah Iblis yang menyamar! Dia membunuh orang suci! Dia menghancurkan biara dan membunuh anak-anak! Hukuman untuk pengkhianatan ini adalah mutlak: Pemusnahan Jiwa!"
Sorak sorai membahana. "BUNUH! BUNUH! BUNUH!"
Grand Mage Eldric maju ke depan balkon. Dia mengangkat tongkat sihirnya. Dia mulai merapal mantra tingkat legendaris yang hanya bisa digunakan oleh penyihir sekelasnya.
"Divine Judgment: Soul Purge (Penghakiman Ilahi: Pembersihan Jiwa)."
Langit berubah. Awan-awan tersedot membentuk pusaran cahaya putih di atas alun-alun. Sebuah pedang cahaya raksasa terbentuk di langit, ujungnya yang tajam mengarah tegak lurus ke leher Leon.
Leon mendongak. Dia melihat cahaya itu. Dia menutup matanya yang tersisa.
Maafkan aku, Ibu... Ayah... Aku gagal menyusul kalian dengan cara yang terhormat.
Pedang cahaya itu mulai turun perlahan, tekanan energinya membuat retakan di panggung batu.
Namun, tepat sebelum ujung pedang cahaya itu menyentuh leher Leon...
"Membosankan."
Satu kata. Suaranya tidak keras, tidak berteriak. Tapi suara itu terdengar jelas di telinga ratusan ribu orang, seolah dibisikkan langsung ke dalam otak mereka masing-masing.
Langit tiba-tiba berubah warna.
Cahaya putih yang menyilaukan itu... dimakan.
Sebuah titik hitam muncul di tengah pedang cahaya itu. Titik itu berputar, membesar, dan dalam sekejap mata, meledak menjadi kubah kegelapan (Void Sphere) raksasa yang menelan seluruh alun-alun. Matahari hilang. Siang berganti menjadi malam gulita dalam sedetik. Suhu udara jatuh drastis.
"Apa yang terjadi?!"
"Gelap! Aku tidak bisa melihat!"
"Lindungi Raja!"
Kepanikan massal pecah.
Di tengah kegelapan itu, di atas panggung eksekusi, sebuah retakan dimensi berwarna ungu terbuka.
Sesosok pria melangkah keluar dari ketiadaan.
Varian, dalam wujud Shadow Lord. Dia mengenakan jubah hitam legam yang ujungnya seolah terbuat dari asap yang terus bergerak. Wajahnya tertutup topeng porselen putih polos tanpa fitur wajah—hanya ada satu simbol retakan ungu yang bercahaya di bagian mata kanan.
Di tangan kanannya, dia memegang Void Excalibur—pedang Leon yang sudah dicuri dan dikorupsi menjadi hitam.
Di tangan kirinya, dia memegang kepala putus dari Kepala Algojo yang baru saja dia penggal dalam kedipan mata saat kegelapan turun.
Aura Fear (Ketakutan) yang memancar darinya begitu pekat hingga membuat para Ksatria Kerajaan yang berada di dekat panggung jatuh berlutut karena lutut mereka lemas seketika. Kuda-kuda mati karena serangan jantung.
Varian melempar kepala algojo itu ke kerumunan yang histeris. Dia mengangkat Void Excalibur.
TRANG! TRANG! TRANG!
Dengan tiga tebasan cepat, dia memotong rantai Adamantite yang mengikat Leon. Rantai terkeras di dunia itu putus seperti benang rapuh di bawah bilah pedang Void.
Leon terbebas. Tubuhnya ambruk ke depan, tapi dia menahan dirinya dengan tangan. Dia mendongak, menatap sosok bertopeng itu dengan bingung.
"Berdiri," perintah Varian. Suaranya diubah dengan sihir menjadi berat dan bergema ganda. "Dunia menginginkanmu mati merangkak seperti binatang. Apa kau akan memberikannya?"
Varian berbalik, menoleh ke arah balkon istana, menatap lurus ke arah Raja dan Eldric yang terpaku pucat.
"Rakyat Aethelgard," suara Varian menggema ke seluruh penjuru kota, menembus kepanikan. "Kalian bersorak untuk darah. Kalian memuja cahaya yang buta. Dan kalian membuang pelindung kalian sendiri seperti sampah hanya karena satu kesalahan."
Varian mengangkat tangan kirinya ke langit.
"Rise (Bangkitlah)."
Tanah di sekitar alun-alun retak. Dari bawah paving blok, ratusan tangan kerangka menyembul keluar. Varian membangkitkan kuburan massal tua yang ada di bawah fondasi kota. Pasukan mayat hidup bangkit, menahan para ksatria yang mencoba mendekat.
"Namaku adalah Shadow Lord," deklarasi Varian. "Dan mulai hari ini, kerajaan ini... adalah tempat berburu-ku."
"Raja... nikmatilah takhtamu yang empuk selagi bisa. Karena saat kami kembali... tidak akan ada yang tersisa dari istanamu selain debu dan abu."
Varian kembali menoleh ke Leon. Dia mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan hitam.
"Mereka menyebutmu Monster," kata Varian pada Leon. "Mereka menyebutmu Iblis. Pembawa Sial."
Varian membungkuk sedikit, mendekatkan topengnya ke wajah Leon.
"Tapi aku? Aku melihat Potensi. Aku melihat Dendam yang indah."
"Ikutlah denganku, Leon. Dan aku akan memberimu kesempatan untuk membakar kerajaan yang munafik ini sampai ke akarnya. Aku akan memberimu kekuatan untuk membunuh mereka semua."
Leon menatap tangan itu. Dia melihat sekeliling. Dia melihat rakyat yang melemparinya batu. Dia melihat Raja yang memerintahkan kematiannya. Dia melihat dunia yang tidak menginginkannya.
Tidak ada tempat baginya di sini. Tidak ada rumah.
Tangan Leon yang bersisik dan bercakar terulur perlahan. Dia menggenggam tangan Varian.
"Aku..." suara Leon parau, penuh kebencian yang mendalam. "Aku akan... membunuh mereka semua."
Varian tersenyum lebar di balik topengnya.
"Kesepakatan diterima."
"Vanish."
Sebuah portal bayangan raksasa muncul di bawah kaki mereka, menelan Varian, Leon, dan Agna (yang baru saja muncul untuk menahan serangan Grand Mage).
Dalam sekejap, mereka menghilang dari alun-alun. Langit kembali terang. Matahari bersinar lagi.
Tapi pemandangan di bawah sana telah berubah selamanya. Alun-alun hancur. Ribuan orang terluka. Keyakinan rakyat pada keamanan kerajaan telah runtuh.
Dan yang paling menakutkan: Pahlawan Terpilih telah dibawa pergi oleh Raja Iblis.
Raja Iblis telah merekrut Jenderalnya. Dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai