Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Langit tiba di rumah ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ia melangkah masuk dan menatap ruang tamu yang remang-remang. Di sana, Mentari telah terlelap di sofa, dengan televisi yang masih menyala menampilkan drama korea yang paling disukai wanita itu
Langit mengembuskan napas pelan. Rasa bersalah menyelinap di dadanya,ia telah menyuruh wanita itu menunggu, namun urusannya di kantor ternyata memakan waktu jauh lebih lama dari yang ia perkirakan.
Dengan langkah nyaris tak bersuara, Langit berjongkok di hadapan Mentari. Ia menatap wajah damai itu, wajah yang tengah larut dalam mimpi.
Hatinya menghangat tanpa bisa dicegah.
Wajah cantik Mina memang warisan dari ibunya.
Ia harus mengakui itu.
Perlahan, kelopak mata Mentari bergerak. Beberapa detik kemudian, kedua matanya terbuka. Langit buru-buru berdiri, berusaha tampak biasa seolah ia tidak sedang memperhatikan Mentari sedari tadi. Namun terlambat.
“Kamu sudah pulang, Lang?” ucap Mentari lirih, suaranya masih berat oleh kantuk.
“Iya,” jawab Langit singkat.
“Kenapa tidur di sini?”
“Aku ketiduran,” balas Mentari sambil berusaha duduk tegak.
“Kok lama? Kamu sudah makan belum? Aku hangatin lagi makanannya, ya.”
Ia bangkit dari sofa, menggulung rambut panjangnya ke atas. Leher jenjangnya terekspos sejenak,cukup untuk membuat Langit refleks menelan ludahnya sendiri.
“Tari, tunggu,” ucap Langit tiba-tiba.
Mentari berhenti dan menoleh.
“Ada apa?”
“Duduklah,” kata Langit dengan nada yang berbeda,lebih dalam, lebih serius.
“Kita bicara.”
Mentari menatap pria itu beberapa detik, membaca sesuatu di sorot matanya. Lalu ia mengangguk pelan dan kembali duduk, jantungnya entah kenapa mulai berdetak lebih cepat.
"Mungkin selama ini kamu bertanya-tanya,” ucap Langit pelan, berusaha menata napasnya,
“dari mana asal-usul Minara. Apalagi ketika kamu tahu aku dan Angel tidak pernah benar-benar menjadi suami istri.”
Mentari mengangguk ragu. Ia tak menyangkal,rasa penasaran itu memang selalu ada, meski tak pernah berani ia tanyakan.
"Aku ingin kamu mendengar langsung dariku." Ucap Langit.
Mentari terdiam menunggu pria itu kembali bicara.
“Mina bukan darah dagingku,” lanjut Langit. Suaranya terdengar lebih dalam.
“Aku menemukannya di sebuah kebun, tak jauh dari rumah sakit.”
Ia terdiam sejenak, membiarkan bayangan masa lalu kembali hadir.
“Waktu itu aku sangat terpuruk karena kehilangan Sila,” ucapnya lirih.
“Tanpa sengaja aku mendengar suara tangisan bayi. Saat aku mencari sumbernya… aku melihat bayi merah itu tergeletak begitu saja, hanya terbalut selimut tipis.”
Mentari refleks menutup mulutnya. Matanya membesar, tak menyangka bahwa awal kehidupan Mina begitu menyedihkan.
“Lalu…” suaranya nyaris berbisik, meminta Langit melanjutkan.
“Saat aku mengangkatnya,” kata Langit, matanya menerawang,
"dia langsung berhenti menangis. Seolah… tersenyum padaku.”
Sudut bibir Langit terangkat samar.
“Kau tahu? Matanya saat itu mengingatkanku pada Sila.”
“Itulah sebabnya aku membawanya pulang… dan memberinya nama Minara Pradita Putri.”
"Aku tak pernah menyelidiki asal-usul Mina setelah itu,” lanjut Langit dengan suara berat.
“Yang aku tahu, dia menjadi pengganti Sila… untuk menemaniku.”
Langit menunduk sejenak, lalu menambahkan,
“Satu-satunya bukti yang dibawa Mina saat aku menemukannya hanyalah selimut itu.”
Mentari masih terdiam. Dadanya naik turun tak beraturan, menunggu Langit melanjutkan kata-kata yang terasa semakin berat.
Perlahan, Langit meraih sesuatu dari dalam tas kerjanya.
Sesuatu yang membuat dunia Mentari seolah berhenti berputar.
“Ini…” ucap Langit sambil menyerahkannya.
Tangan Mentari gemetar hebat saat menerima selimut kecil itu.
“Ini?” suaranya bergetar.
Matanya langsung berlinang. Pandangannya mengabur ketika ia menatap kain yang begitu dikenalnya,selimut yang ia buat sendiri saat berada di penjara. Di ujungnya, masih terlihat jelas motif matahari disela-sela awan yang ia jahit dengan tangannya sendiri.
“Nggak mungkin…” bisiknya lirih.
“Maaf,” ucap Langit pelan.
“Aku baru memberitahumu sekarang. Karena aku sendiri baru bisa mengumpulkan bukti-bukti itu.”
Mentari mengangkat wajahnya perlahan.
“Jadi maksud kamu…”
Langit mengangguk mantap.
“Dia anakmu,” katanya tanpa ragu.
“Rey juga sudah membuktikannya lewat tes DNA—tanpa sepengetahuanmu.”
Ia menatap Mentari dengan penuh kejujuran. Kebenaran inilah yang ingin ia sampaikan
Mentari menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Ya Tuhan…” isaknya pecah.
“Anakku…”
“Dia… dia anakku?”
Selimut itu ia peluk ke dada, seolah tengah memeluk bayi yang selama ini ia kira telah tiada. Tangisnya menggema di ruang tamu,tangis kehilangan yang akhirnya bertemu dengan harapan.
Langit memeluk Mentari erat, mengusap punggung wanita itu yang bergetar karena tangis yang tak tertahan.
“Mulai sekarang kamu nggak perlu sedih lagi,” ucap Langit pelan namun mantap.
“Anak kita sudah bersama kita sekarang.”
Ia menunduk sedikit, suaranya mengeras penuh tekad.
“Dan aku pastikan orang-orang yang sudah berbuat jahat akan menerima akibatnya. Semua bukti sudah aku serahkan ke polisi. Mereka akan segera ditangkap.”
Langit menggeser wajahnya, menatap Mentari lembut.
“Kamu senang?”
Di dalam pelukan Langit, Mentari mengangguk cepat. Dadanya penuh oleh rasa haru yang sulit dijelaskan. Sungguh, ia tak pernah menyangka Langit bisa berbuat sejauh ini untuknya membela, melindungi, dan berdiri di sisinya.
“Kenapa kamu berubah begitu baik padaku, Lang?” ucap Mentari lirih.
“Padahal aku orang yang sudah membuatmu menderita…”
Langit menggeleng pelan.
“Enggak. Bukan kamu,” jawabnya jujur.
“Aku yang salah paham.”
Ia mendekap Mentari lebih erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
“Maafkan aku, ya.”
Di dalam pelukan itu, untuk pertama kalinya Mentari benar-benar merasakan ketulusan dari pria yang orang bilang dingin dan arogan itu.
*
Setelah drama haru di ruang tamu, keduanya kini berada di kamar. Langit duduk di tepi ranjang sambil membuka sebuah album foto,album yang berisi potret Minara sejak masih bayi.
Ia menunjukkan satu per satu foto itu.
Dari Mina yang baru berusia satu bulan, tersenyum tanpa gigi…
hingga foto-foto terkini.
Dan lagi-lagi, Mentari hanya bisa menangis.
Bukan karena sedih semata, melainkan karena penyesalan yang begitu dalam,karena ia tak pernah menyaksikan sendiri tumbuh kembang anak yang dilahirkannya.
“Apa yang harus aku lakukan untuk mengganti semua kebaikanmu padaku dan anakku, Lang?” ucap Mentari lirih.
“Kalau harus seumur hidup menebusnya… aku bersedia.”
“Benarkah kamu mau melakukan itu?” tanya Langit, menatapnya penuh arti.
Mentari mengangguk tanpa ragu.
“Aku sudah menemukan kembali hidupku. Dan itu semua… berkat kamu.”
Langit menutup album itu perlahan.
“Ada satu hal yang harus kamu lakukan.”
“Apa itu?” tanya Mentari, jantungnya berdegup lebih cepat.
“Hidup bersamaku selamanya,” ucap Langit mantap.
“Menjadi ibu untuk Minara… dan anak-anak kita selanjutnya.”
“Maksud kamu?” Mentari bertanya terbata, matanya membesar.
“Riko sudah mendaftarkan pernikahan kita ke catatan sipil,” lanjut Langit tanpa ragu.
“Besok kita akan menikah.”
Ia menggenggam tangan Mentari erat.
“Setelah itu, kamu akan menjadi istriku selamanya… dan ibu yang sah untuk Mina.”
“A-apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Mentari ragu, suaranya gemetar antara terkejut dan haru.
Langit menggeleng,"Sebelum bu Desi dan Abi menyadari bayimu masih hidup,kita harus menikah dan Mina jadi anak kita yang sah."
Bersambung...
Apa Mentari akan setuju menikah dengan Langit?kita tunggu bab berikutnya ya
menteri cerdas
lantas,,
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk