NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Reingkarnasi Jia Menjadi Istri Suami Yang Cacat Tahun 60 An

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa pedesaan / Terpaksa Menikahi Suami Cacat
Popularitas:21.2k
Nilai: 5
Nama Author: Smi 2008

Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.

“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.

“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”

Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:

“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Mesum

⚒️

"Bayi yang sekarat selalu didahulukan daripada orang dewasa," ucap Jia sambil melangkah maju hendak menerobos. Namun tangan pria itu bergerak lebih cepat. Dalam satu langkah saja, tubuh tinggi itu sudah bergeser menutup jalan seperti tembok yang tak bisa dilewati.

"Nona, tidak ada pengecualian. Demi keselamatan Tuan saya, saya tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi. Termasuk Anda."

"Hei! Hei! Kau menyakiti Nona Lu! Apa Tuan tidak dengar? Bayiku sedang sekarat! Biarkan Nona Lu menolongnya dulu!"

Suara Ma Zhenli pecah oleh kepanikan. Ia segera menarik lengan pria itu, berusaha memaksa jalan terbuka. Sayangnya, kekuatan mereka berada pada tingkat yang sama sekali berbeda. Tanpa menoleh sedikit pun, pria bertopeng itu mengibaskan lengannya. Ma Zhenli langsung terhuyung beberapa langkah.

"Hei, jangan kasar, bodoh!" bentak Jia. Ia mencoba memutar tubuh, tetapi bahunya langsung dikunci kuat.

Dan tepat saat itulah... hidung pria itu menangkap sesuatu. Aroma samar yang bercampur dengan bau debu jalanan dan keringat, sangat tipis namun cukup jelas untuk dikenali. Matanya langsung menyipit. Itu bau ramuan obat - ramuan yang sebelumnya berada di dalam bungkusan miliknya. Seketika rahangnya mengeras.

"Kau..."

Raut wajahnya langsung berubah gelap. Ia segera mencengkeram kedua bahu Jia dengan sangat erat, lalu mengguncang tubuh gadis itu kasar hingga Jia meringis kesakitan.

"Lancang!"

"Kau sudah membuka isi bungkusan itu? Berani-beraninya menyentuh barang yang bukan milikmu! Di mana kau taruh benda itu sekarang? Jawab!"

"Tidak ada padaku!"

"Kembalikan sekarang, lalu kulepaskan!" desak pria itu.

Jia berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman itu terasa seperti besi. Semakin ia melawan, semakin sakit bahunya dibuatnya. Di sisi lain, Ma Zhenli yang baru saja bangkit kembali berlari mendekat.

"Hei! Lepaskan Nona Lu!"

Namun pria bertopeng itu bahkan tidak repot menoleh.

DUAGH!

Kakinya menyambar ke belakang. Tendangan keras itu menghantam perut Ma Zhenli tepat sasaran. Udara di paru-parunya seolah dipaksa keluar sekaligus. Tubuhnya terpental lalu jatuh terduduk di tanah.

"Sinting!" umpat Jia.

BUGG!

Tinju Jia meluncur tanpa peringatan. Pukulan itu menghantam pipi kanan pria bertopeng tersebut dengan keras. Kepalanya langsung terlempar ke samping, dan kain penutup wajahnya ikut bergeser.

"Sialan...!"

Pria itu meludah ke tanah. Rasa asin darah langsung memenuhi mulutnya.

"Itu balasanmu."

Jia menarik napas cepat lalu berbalik. "Kak Zhenli! Ayo cepat!"

Namun mereka belum sempat pergi.

GREP!

Pergelangan tangan Jia kembali terkunci. Tarikan mendadak itu membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu terduduk keras di tanah.

"Serahkan obatnya!"

Nada suara pria itu kini jauh lebih tajam. Kesabarannya mulai habis.

"Minta saja sama suamiku, idiot!"

"Di mana rumahmu?"

"Cari sendiri! Astaga, cepat lepaskan tanganku! Jika bayinya mati, kaulah orang pertama yang akan kukubur hidup-hidup!"

Pria itu tak mengindahkan ancamannya. Cengkeramannya justru semakin kuat. Dengan gerakan tergesa, ia meraih bagian depan pakaian Jia, berniat mencari bungkusan obat yang hilang.

Namun sesaat kemudian tangannya membeku.

Sentuhan itu terasa salah. Terlalu lunak - bukan kain, bukan bungkusan.

Pria itu membeku. Jia juga membeku.

Untuk sesaat keduanya hanya saling menatap. Wajah pria itu perlahan kehilangan warna, sementara rona merah merambat naik ke pipi Jia.

Lalu...

"KYAAAAA!"

Jeritan nyaring itu meledak begitu tiba-tiba hingga beberapa burung yang bertengger di atap rumah langsung beterbangan.

"Dasar mesum! Pria hina! Berani-beraninya kau merabaku?"

Pria itu seperti tersengat petir. Tangannya langsung terlepas dari pakaian Jia.

"Aku tidak sengaja! Aku hanya mencari barang!"

Namun semuanya sudah terlambat. Suara jeritan Jia telah menyapu jalanan desa yang semula tenang. Satu demi satu pintu rumah terbuka. Beberapa kepala muncul dari balik pagar. Orang-orang yang sedang menjemur pakaian, memberi makan ayam, bahkan yang baru selesai sarapan mulai berhamburan mendekat.

"Hei! Apa yang terjadi di sini?"

"Tolong! Dia merabaku!" teriak Jia sambil menunjuk pria bertopeng itu dengan jari gemetar.

"Apa?"

"Barusan aku lihat dia menarik pakaian Nona Lu!" sahut seorang warga dari kejauhan.

Kerumunan langsung bergemuruh.

"Kurang ajar!"

"Biadab!"

"Masih siang begini berani berbuat tak senonoh!"

Tatapan yang semula hanya penasaran berubah menjadi penuh permusuhan. Pria bertopeng itu mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ia tahu keadaan sudah tidak bisa diselamatkan - melawan satu orang masih mudah, melawan seluruh desa adalah perkara lain.

Perlahan ia menoleh ke arah Jia. Tatapan itu tajam seperti pisau, jelas berisi ancaman. Namun Jia hanya menatap balik dengan wajah polos.

Akhirnya pria itu mendengus kesal, berbalik, lalu berjalan cepat menjauh. Beberapa langkah kemudian, langkah cepat itu berubah menjadi lari. Tak lama kemudian sosoknya lenyap di tikungan jalan.

Kerumunan masih mengomel dan mengutuk ketika Jia perlahan berdiri. Raut histeris yang tadi memenuhi wajahnya menghilang tanpa bekas. Ia menunduk sopan kepada warga.

"Terima kasih... terima kasih banyak atas bantuan semuanya."

Setelah itu, ia segera menghampiri Ma Zhenli yang masih terduduk di tanah. Pria itu memegangi perutnya sambil menatap Jia dengan wajah bingung - sepertinya sampai sekarang ia masih belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.

🐦 Kediaman Keluarga Ma

"Bu... Bu, kenapa bayiku? Kenapa dia tidak mau menyusu?"

Suara Yu Hua pecah oleh tangis. Ia memeluk bayinya yang semakin lesu seolah takut anak itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedetik saja. Mata kecil sang bayi terpejam rapat, hanya sesekali kelopaknya bergerak lemah.

Yu Hua linglung. Matanya membengkak akibat kurang tidur dan terlalu sering menangis. Tubuhnya bahkan belum pulih dari persalinan, tetapi ia sudah dihadapkan pada ketakutan terbesar seorang ibu. Anak yang baru beberapa hari lalu ia lahirkan kini tampak semakin lemah di dalam pelukannya.

Ma Shurong menepuk pahanya keras-keras.

"Menangis, menangis terus. Apa gunanya menangis? Anak sudah kau rawat sampai jadi begini!"

Nada suaranya tajam seperti cambuk. Alih-alih merasa iba, wanita tua itu justru tampak semakin kesal setiap kali mendengar tangisan Yu Hua.

Yu Hua memeluk bayinya semakin erat.

"Ibu, aku tidak tahu kenapa dia tidak mau menyusu..."

"Tidak tahu?" bentak Ma Shurong. "Sejak masuk ke keluarga kami, kau hanya tahu berkata tidak tahu! Melahirkan satu anak saja tidak becus mengurusnya. Jika cucuku sampai terjadi apa-apa, bagaimana kau mempertanggungjawabkannya kepada keluarga Su?"

Setiap kalimat menghantam tanpa ampun. Namun Yu Hua sudah tidak lagi memiliki tenaga untuk membela diri. Ia merangkak mendekati ibu mertuanya yang masih berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Ia sudah tidak peduli lagi pada caci makian yang terus menghujaninya.

"Bu, kumohon... tolong lihat dia."

Dengan mata sembap, Yu Hua mengangkat bayi dalam pelukannya. Gerakannya hati-hati, seakan benda paling rapuh di dunia sedang berada di kedua tangannya. Ia tidak meminta bantuan, tidak meminta uang, tidak meminta belas kasihan - saat itu, ia hanya berharap wanita tua itu bersedia menyentuh cucunya sendiri.

Namun harapan itu terasa begitu mewah. Sejak cucunya lahir hampir seminggu yang lalu, sang nenek belum pernah sekalipun menggendongnya. Bahkan untuk sekadar menatap wajah mungil itu pun, ia selalu memalingkan muka. Padahal, itu adalah cucu pertamanya.

Ma Shurong mundur selangkah. Gerakan kecil itu membuat hati Yu Hua semakin tenggelam. Entah kenapa, rasa tidak nyaman tiba-tiba menjalari tubuh Ma Shurong saat melihat bayi tersebut. Bahkan sebelum kulit mereka bersentuhan, tubuhnya sudah gemetar tanpa alasan yang jelas.

Yu Hua perlahan menurunkan kedua tangannya. Kekecewaan memenuhi wajahnya. Apakah ibu mertuanya jijik pada bayinya? Tetapi kenapa?

"Mana suamimu? Kenapa lama sekali memanggil tabib?" tanya Ma Shurong tidak sabar. Ia menoleh ke luar halaman - di kejauhan, Ma Jian masih sibuk menjemur pakaian dengan wajah muram.

"Kenapa Ma Zhenli belum juga datang? Kalau sesuatu terjadi pada bayi itu, bagaimana keluarga kita menjelaskannya kepada orang-orang?"

"Tidak... tidak! Anakku tidak akan mati!"

Tangisan Yu Hua kembali pecah. Suasana rumah yang sempit itu terasa semakin sesak oleh kepanikan.

BRAK!

Tiba-tiba pintu rumah terbanting terbuka. Ma Jian masuk sambil membawa keranjang bambu, wajahnya terlihat gelap. Tanpa peringatan sedikit pun, ia menendang keranjang itu ke arah Yu Hua. Keranjang bambu meluncur di lantai tanah dan menghantam lengan wanita muda tersebut.

Refleks, Yu Hua langsung membungkukkan tubuhnya dan memeluk bayinya erat-erat, melindungi anak itu dengan seluruh tubuhnya. Namun tindakan itu sama sekali tidak melunakkan hati Ma Jian. Ia maju, jarinya teracung ke wajah Yu Hua, hampir menyentuh dahinya.

"Diam!" bentaknya. "Diam! Kau membuatku pusing!"

Ia terus menunjuk-nunjuk kepala Yu Hua dengan wajah merah padam.

"Gara-gara tubuhmu yang tidak berguna itu, keluarga ini harus menghabiskan banyak uang! Membayar dukun beranak itu tidak murah!"

Tatapannya jatuh pada bocah mungil dalam pelukan Yu Hua.

"Sekarang anak itu malah jatuh sakit. Benar-benar pemboros! Sejak kalian masuk ke rumah ini, uang keluarga terus mengalir keluar!"

"Ma Jian, sudah cukup. Suamimu, Ma He, tidak lama lagi akan datang. Kau ingat, bukan?" tegur Ma Shurong.

Mendengar nama suaminya disebut, wajah Ma Jian langsung berubah. Ia mengembuskan napas kasar, lalu memungut keranjang bambu yang tadi ditendangnya.

"Dengar baik-baik." Ma Jian melirik Yu Hua yang masih memeluk bayinya. "Kalau terjadi sesuatu pada kalian, bukan lagi tanggungan kami."

Dengan wajah masam, ia berbalik dan keluar dari rumah.

Ma Shurong menoleh ke arah pintu, memastikan putrinya benar-benar pergi. Setelah itu, pandangannya kembali jatuh pada Yu Hua.

"Dasar pembawa sial!" hardiknya. "Sejak kau melahirkan, keluarga ini tidak pernah tenang. Nasib buruk apa yang sebenarnya kau bawa?"

Yu Hua menundukkan kepala sambil memeluk bayinya semakin erat. Namun Ma Shurong belum selesai.

"Kalau ibumu masih hidup dan melihat caramu merawat anak, mungkin dia akan malu mengakuimu sebagai putrinya."

Tepat saat kata-kata itu meluncur dari bibirnya, suara pertengkaran terdengar dari luar rumah. Ma Shurong dan Yu Hua sama-sama menoleh.

Di halaman, Ma Jian tampak beradu mulut dengan seorang pria yang baru saja datang. Suara mereka terdengar semakin keras dari detik ke detik. Tak lama kemudian, pria itu melepaskan diri dari pertengkaran tersebut dan berjalan cepat menuju rumah, langkahnya panjang dan tergesa.

Begitu melihat siapa yang datang, Ma Shurong membeku. Itu Ma He.

Tanpa berpikir panjang, ia segera meraih bayi dari pelukan Yu Hua. Perubahan sikapnya terjadi begitu cepat - wajah galak yang sebelumnya penuh amarah langsung melunak.

"Nak Ma He, kau sudah pulang?" sapanya dengan senyum ramah.

Namun senyum itu hanya bertahan sesaat. Tubuh Ma Shurong mendadak menegang. Pandangannya jatuh pada sosok kecil dalam gendongannya: bibir pucat, napas lemah, kelopak mata yang nyaris tidak bergerak.

Dunia di sekelilingnya seperti mendadak sunyi. Untuk sesaat, ia seolah tidak lagi melihat cucunya - yang terlihat justru wajah bayi pertamanya puluhan tahun silam. Kenangan yang telah lama terkubur tiba-tiba muncul kembali.

Napas Ma Shurong tersendat. Jemarinya perlahan kehilangan tenaga.

Bayi itu terlepas dari gendongannya.

"Bayiku!"

1
Yuni Anto
😍😍aku slalu setia menunggu nopel² KKA author 💪💪💪y kka
Latifa Ainum
ditunggu ya Thor😭🥳
Latifa Ainum
authorrrr, ini cerita nya g lanjut kah😭
Latifa Ainum: oke gpp Thor yg penting cerita nya lanjuttt,, aku tunggu ya Thor, semangat revisi sma ngetik nya Thor❤‍🔥🥳
total 2 replies
Pa Muhsid
ati ati coy kau memelihara jagal untuk tubuh mu dan cuan mu belum lagi si pandai besi kebayang kan tukang jagal dan tukang besi bersatu auto tamat disitu yicheng end sudah 😛😛😛
Yani
ayok crita nya d lanjut kan Thor 🥰🥰🥰
Yuni Anto
🙄sayang. di lewat kan🤩🤩cuan2ny🥰🥰🥰
Fahreziy
nexk
Smi
oh. Itu ucapan muslim Hui menyebut Assalamualaikum.
🌹🌼🍁embun nirmaladewi🍀🌻🌺
??????????!!!!!!!!!!
Elwana Muhamad
bagus
Yuni Anto
/Curse/hehehe/Curse/ada² aja kelakuan Jia 🥳🥳🥳 semangat 💪💪💪 ya Thor makasih update ny tiada henti selalu menanti update KKA../Pray//Pray//Pray//Kiss//Kiss//Kiss//Heart/
Fauziah Daud
hahaha... trusemangattt
Smi
👻 terimakasih 💝💝💝
Yuni Anto
😍hmn 🥰 makasih banyak KKA 🥳🥳🥳hati ku GE happy 🥳🥳🥳KKA author tersayang lagi sering banget kasih update terus 🥳/Kiss/🥳💪💪 semangat terus ya Thor 💪💪💪n sehat selalu Bwt kka 🤩🤩🤩/Determined//Angry//Determined//Angry//Determined//Determined/
Smi
hihiji, orang yg barunsaja kena apes
Fauziah Daud
lanjuttt
Smi
aku ...👋
Smi
sudah ku dagu😁
Yuni Anto
🙄saha atuh🤔tamu yg tak di undang ini bikin kita yg baca kena penyakit kepo pisan/Frown//Determined//Angry//Determined//Angry/
Lina Hibanika
siapakah tamu tak terduga itu 🤔
Lina Hibanika: kayak nya yg jari tangan nya bengkak 🤔
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!