Proses Revisi.
Sebelum membaca jangan lupa di Favoritin ❤️ dulu ya Kakak.
"Mas. Sebenarnya cinta kamu itu sebanyak apa sih sama aku, sampai sekarang aku belum percaya punya suami sebaik kamu." Puji Kanaya menatap dalam manik mata Rangga penuh gemas.
"Yang jelas selama kamu bernafas, maka selama itu aku candu padamu sayang. Bahkan ketika alam semesta merebut mu paksa, aku akan tetap hanya candu pada satu nama yaitu Kanaya Herazille, kamu adalah Canduku, cinta mati ku, apapun akan ku lakukan demi kebahagian mu sayang. Aku sangat beruntung, sekalinya aku jatuh cinta, cintaku jatuh di orang yang tepat seperti kamu......" ucap Rasa penuh cinta memandangi wajah istrinya.
.
.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Selalu ikuti dan dukung cerita Kamu adalah Canduku ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hertati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-25
Mereka bertiga telah sampai di apartemen Rangga, Vino memarkirkan mobilnya lalu menyusul Rangga dan Rania yang sudah lebih dulu memasuki gedung itu.
Sesampainya dilantai 32 tempat apartemen Rangga, Rania memberi kode kepada Rangga dengan menatap manik mata itu untuk bersiap dan dengan menggangukan kepalanya. Setelah dirasa yakin siap, Rangga mengikuti Rania dengan menganggukan kepalanya. Rania memasukkan kode pintu masuk, memang itu apartemen Rangga namun Rania selalu dibebaskan oleh Rangga untuk keluar masuk apartemennya, serasa itu adalah milik Rania juga. Berhubung Rania kuliah di salah satu Universitas ternama di Negara JP dan dia lebih memilih tinggal di apartemen Rangga berhubung lokasinya begitu dekat dengan kampus Rania. Dan Rania baru saja lulus kuliah. Sedangkan Rangga datang ke Negara JP hanya sesekali untuk mengecek kondisi anak cabang perusahaannya saja.
Rania masuk lebih dulu diikuti oleh Rangga dan Vino yang sudah tepat dibelakang Rangga dengan kedua koper yang dibawanya. Apartemen Rangga lumayan sangat luas, ada 3 kamar untuk tidur, 1 ruang tamu yang sekaligus dijadikan ruangan keluarga, 2 kamar mandi untuk tamu dan 1 ruang dapur yang cukup luas. Langkah kaki mereka terhenti dikamar kedua didekat ruang keluarga, mereka memasuki kamar itu dengan sangat pelan.
Kamar itu sangat dingin, dingin bukan karena ac yang menyala, melainkan hawa dari suasana didalamnya. Didalam kamar itu terdapat tempat tidur size cukup besar, dan ada seorang wanita yang sedang terbaring lemah terinfus dan dipasangkan dengan beberapa alat medis lainnya. Wajah cantik itu sudah memucat, kulit bening itu tak lagi mulus terawat, senyuman manis itu tak terlihat lagi, tubuh mungil yang indah itu sudah sangat kurus terlihat, saat ini yang ada hanyalah seorang wanita yang sedang berjuang untuk hidup. Dia adalah Kanaya. Ya, Kanaya yang berhasil hidup setelah ambang kematian menyambutnya.
Flashback On baca Ch.20
Setelah Riko menurunkan Dio dipinggir jalan berhubung Dio akan menemui adiknya yang sedang mendapat masalah, Riko pun melanjutkan pekerjaannya.
Sambil mengemudi Riko melirik tubuh Kanaya yang notabene sangat cantik itu. Sempat rasa tergiur akan makhluk indah yang dihadapannya saat ini, namun pemikiran itu segera hilang berhubung Riko tiba-tiba merasa kebelet ingin buang air kecil, ia menepikan mobil itu dipinggir jalan yang sepi yang diantaranya hanya ada pepohonan tinggi, sungguh sangat menyeramkan bila sendirian didaerah itu, Riko pun berlari masuk kedalam diantara pepohonan itu.
Kanaya yang entah kapan sadar tiba-tiba mendudukan tubuhnya yang sangat sakit itu. terlihat dari raut wajahnya yang begitu pucat. Kepalanya begitu pusing, namun secepatnya ia tersadar bahwa dia sedang tidak aman. Dia melirik keseluruh isi mobil itu dimana hanya sendirinya saja orang didalam. Matanya tertuju pada sebuah tas yang ada dibawah kursi yang dia tempati, ditariknya tas itu dari kolong, dan memeriksanya. Terdapat sebuah jaket kulit pria, kaos oblong bewarna hitam dan celana training 2 buah. Segera dia mengganti pakaiannya dengan baju-baju yang dia temukan, memaksa tubuhnya yang meremang kesakitan terutama dibagian bawah perutnya, darah segar itu kembali menetes, namun Kanaya masih fokus mengganti pakaiannya. Setelah selesai berganti baju, Dia turun dari mobil itu meletakkan pakaiannya yang bersimbah darah itu ditempat yang ditempatinya sebelumnya. Kemudian dia berlari dengan tertatih-tatih kehutan diseberang mobil itu, bersembunyi dibalik pohon besar yang dikelilingi rumputan semak, Kanaya bersembunyi diantara rerumputan itu.
Riko yang sudah selesai dengan misi kebeletnya, langsung memasuki mobilnya tanpa melirik kebelakang ataupun melalui kaca spion, berhubung hari yang semakin malam, rasa lelah dan ngantuk menghantui Riko membuatnya ingin segera menyelesaikan misi yang diperintahkan bosnya Riska.
Riko sampai ditepi jurang tempat ia ingin membuang Kanaya, ditepikannya mobil itu, kemudian turun dari mobil dan berjalan kepintu belakang. Saat membuka pintu belakang matanya terbelalak, matanya mencari-cari keseluruh sudut mobil itu, ia tak mendapati jasad Kanaya, yang tersisa hanyalah pakaiannya saja. Ia begitu terkejud sekaligus bingung, sejak kapan dia kecolongan kehilangan Kanaya. Lama dia berpikir tiba-tiba ponselnya berbunyi, terdapat nama bos Riska sedang memanggil. Dengan ragu-ragu dia mengangkat dan menjawabnya sebisa mungkin untuk tidak terlihat gugup.
“Halo Bos”
“Bagaimana. Apa sudah kalian bereskan.”
“Sudah Bos. Bos tenang saja. Aman kok.”
“Bagus. Kirimkan buktinya bahwa kerja kalian memang berhasil.”
Riska langsung mematikan panggilan itu, membuat Riko semakin cemas, kemudian dia melirik pakaian Kanaya, lama ia menatap pakaian itu kemudian sebuah ide muncul. Dibentuknya pakaian Kanaya seperti manusia yang sedang posisi tidur tengkurap, diisinya pakaian itu dengan rerumputan agar terlihat lebih berisi, sedangkan dibagian kepala ditutupinya dengan batang kayu kemudian difotonya lalu mengirimkannya pada bosnya itu.
Riko sangat lega ketika mendapati pesan “Bagus” dari bosnya. Ia pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan tenang, setidaknya bosnya sudah percaya bahwa Kanaya sudah tiada. Lalu Riko melajukan mobilnya untuk kembali pulang.
Kanaya yang sudah mengetahui mobil penjahat itu pergi, langsung keluar dari persembunyiannya, dipeganginya perut bagian bawahya yang sangat perih itu, dengan tertatih dia memaksa berjalan dengan dipenuhi rasa takut melihat jalanan yang begitu sepi, hari juga sudah semakin larut malam. Kanaya menangis, meratapi kehidupannya yang selalu menderita.
“Tuhanku yang baik, aku tau setiap hal yang kuterima selama ini hanyalah sebuah pencobaan untuk menguji kekuatan imanku, namun aku hanyalah manusia biasa, sesungguhnya aku sudah lelah, aku tak kuat lagi menghadapi kehidupan yang begitu menyiksaku ini. Izinkanlah aku ikut dengan mamaku. Hiksss, hiksss. Mamaaa, Kanaya rindu maaa, Kanaya begitu takut ma, Kanaya udah gak kuat lagi ma, gak ada alasan buat Kanaya untuk hidup lagi. Kanaya sudah mulai membenci kehidupan ini ma. Jemput aku maaaa, mamaaaaaaaaa. Kenapa mama begitu tega meninggalkan aku sendiri, mama jahat, mama gak sayang lagi sama aku, mama gak perdulikan aku. Hikssss, huaaaaaa” teriak Kanaya meraung-raung dalam isakan tangisnya.
Kanaya begitu melepaskan rasa sakitnya ditengah jalan yang sepi, dan gelap membuat tubuh merinding. Dengan keadaan gontai, badan yang lemah, darah yang mulai bercucuran sedikit demi sedikit membuatnya sulit untuk melangkahkan kakinya, wajahnya begitu pucat, tubuhnya jika disentuh sudah sangat dingin, sekalipun dia menggunakan jaket kulit. Kanaya berjalan dengan memaksa menyeret kakinya sendiri untuk tetap berjalan, tidak ada harapan dihati Kanaya agar mendapat pertolongan, pikiran dan hatinya begitu kosong tidak memiliki tujuan, ia hanya berjalan semampunya, untung-untung ini menjadi hari terakhir harap Kanaya, ia begitu frustasi. Larut dalam kesedihan, kegundahan membuatnya tak sadar bahwa ada sorot lampu cahaya mobil dari belakang tubuhnya yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Kanaya berjalan dengan tak tentu, tak menyadari bahwa dirinya sedang berada ditengah-tengah. Seorang pria yang mengendarai mobil sedan yang melaju saat itu sudah melihat bayangan tubuh Kanaya dari jauh berhubung jalan itu begitu gelap dan hanya sorot lampu mobilnya yang menerangi jalanan itu, namun dia mengernyitkan dahinya, pria itu sempat melambatkan kecepatan dan berpikir ‘bagaimana mungkin ada seseorang ditengah malam begini berjalan dijalanan sepi dan gelap begini’ ucapnya dalam hati.
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊
jangan lupa untuk kunjungi karyaku juga ya : When I Meet You
terima kasih😊