Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerita
*
*
Hening.
Mereka asyik dengan pikirannya masing-masing. Hanya detak jantung yang terdengar ditelinga Sofia saat dia menyurukkan kepalanya di dada Satria. Setelah pria itu merebahkan tubuhnya, dan menarik perempuan itu ke pelukannya.
Berkali-kali Sofia menarik napas dan membuka mulutnya, hendak berbicara. Namun selalu dia urungkan. Kata-kata selalu tertahan di tenggorokan.
Sebelah tangan Satria membelai punggung Fianya, sementara tangan lainnya merayap menggapai tangan perempuan itu yang melingkar di pinggangnya. Membawanya ke depan wajah, menatapnya dengan teliti.
"Apa ini sakit?" tanyanya, menatap bercak merah kebiruan dipergelangan tangan Sofia.
Perempuan itu mengangguk.
"Maaf, ..." kemudian mengecup pergelangan tangan itu dengan lembut.
"Kamu takut sama saya sekarang?" tanya nya lagi, mengelus kepala Sofia, menyurukkan jari-jarinya disela rambut hitam itu.
Sofia menggeleng pelan.
"Kalau papi marah seperti semalam, Fia takut." jawabnya, ragu-ragu.
Satria terkekeh mengingat kejadian semalam saat dirinya meledak tak karuan, hanya karena hal sepele. Penolakan Fianya.
"Sudah saya bilang, saya tidak menerima penolakan." meraih wajah Sofia, memandangnya dengan lekat.
Sofia mengangguk, lalu menyurukkan lagi kepalanya di dada bidang pria itu yang terasa nyaman baginya.
Satria menghela napas dalam.
"Kamu ... mau tanya sesuatu?" katanya, tanpa melepaskan belaiannya di kepala Sofia, membuat perempuan itu mendongak. Mata bulatnya mengerjap, memandang manik kelam sang papi yang begitu dekat. Sofia menelan ludahnya kasar.
"Papi mau bilang sesuatu?" Sofia balik bertanya.
Satria tersenyum. Bibirnya berkedut. Menahan kata-kata yang hampir berhamburan. Banyak hal yang ingin dia bicarakan. Banyak cerita yang ingin dia ungkapkan. Dan banyak kata yang ingin dia utarakan. Tapi Satria bingung harus memulainya darimana.
"Kalau nggak mau bilang ya nggak usah, Fia nggak maksa." Sofia kembali menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Menikmati debaran yang terasa dua kali lebih cepat dari pada sebelumnya.
"Tahu ini benar kamu, sudah cukup. Kak Nik-ko!!" katanya, dengan suara parau. Mengeratkan pelukannya ditubuh Satria, seolah tak ingin melepaskannya.
Satria terkekeh lagi, membalas pelukan perempuan itu dengan belaian dan kecupan hangat dipuncak kepalanya.
🍃 Flashback on 🍃
Satria menatap gerombolan siswa SMA yang sedang merayakan kelulusannya dengan mencorat-coret seragam mereka di pinggir jalan. Hari itu dia menemukan Fia yang kini telah dewasa.
Gadis kecil yang bertahun-tahun ada dalam ingatannya, kini ada di depan matanya, tengah merayakan kelulusannya dengan begitu cerianya.
Setelah mendatangi panti asuhan tempat singgahnya dulu, Satria menemukan fakta bahwa ternyata Fia telah diadopsi oleh sepasang suami istri baik yang kemudian membawa gadis itu hijrah ke kota kembang.
Kini dia ada di depannya. Berbalut seragam putih abu yang membuatnya tampak manis. Fia telah tumbuh menjadi gadis mempesona.
Ada debaran aneh dihatinya.
Niat awal Satria ingin membawa gadis itu untuk dia angkat menjadi anggota keluarganya. Setelah kini dia dapat separuh tanggung jawab mengelola perusahaan keluarga dari ayahnya, membuatnya memiliki kemampuan lebih dan wewenang untuk melakukan apapun yang di inginkan nya. Tanpa takut dengan ancaman Nikolai senior yang akan meratakan panti asuhan tempat dia singgah dulu jika dia tak menuruti kemauan ayahnya itu.
Sebagai gantinya, Nikolai senior akan mengirimkan bantuan dana untuk memperbaiki fasilitas dan memelihara panti asuhan itu hingga kini. Membuat Satria menyetujui keinginan ayahnya untuk melanjutkan sekolah dan ikut mengurus usaha keluarganya hingga berkembang pesat ke mancanegara. Dengan angan suatu saat nanti, setelah dirinya lebih mampu dia bisa membawa si gadis cengeng yang telah memberinya sebotol air mineral itu untuk tinggal bersamanya. Menyekolahkannya, dan memberinya kehidupan yang lebih layak.
Dan disinilah dia, didepan sebuah gedung sekolah negeri di kota Bandung. Menatap Fianya dari dalam mobil.
Sebuah motor berhenti tepat di depan mereka, pengendaranya turun, seorang pemuda berperawakan sedang. Segera Fia menghambur kepelukan pemuda itu sesaat setelah dia menyadari kehadirannya. Pemuda itu membalasnya dengan belaian hangat.
Satria menatap puluhan foto di kursi penumpang. Pemuda itu kekasih Fia.
"Baiklah, aku akan kembali lagi nanti." Satria bermonolog.
Hingga dua tahun kemudian saat Satria kembali ke kota kembang untuk meyakinkan dirinya bahwa kabar yang dikirimkan oleh orang suruhannya benar. Bahwa Fia telah menikah dengan pemuda pilihannya. Gadis itu bahkan meninggalkan pekerjaannya di sebuah butik yang juga masih anak perusahaannya untuk mengabdi kepada suami dan keluarga.
Satria menyerah. "Sudah ada yang melindungimu, Fia. Kini aku tenang meninggalkanmu." dia membatin.
Satria memutuskan untuk melaksanakan permintaan ayahnya untuk menikahi seorang gadis yang telah menolong Nikolai senior saat pingsan karena serangan jantung di dalam lift sebuah hotel. Dan menjalani hidup senormal mungkin.
Berusaha melupakan segala ingatannya tentang gadis kecil yang telah menarik hatinya belasan tahun lalu.
Namun setelah delapan tahun berlalu, sesuatu membawanya kembali ke kota kembang, pekerjaannya yang semakin menanjak dengan bisnisnya yang semakin meluas membuat Satria harus sering bolak balik ke kota sejuk itu.
Dalam kegamangan, dan perjalanan pernikahannya yang mulai goyah diterpa godaan. Ditambah kejenuhan akan semua pekerjaan yang tak ada habisnya, Satria mulai mencari tantangan lain. Yang mungkin mampu mengalihkan sejenak pikirannya.
Hingga seorang bawahannya mengirimkan beberapa foto perempuan yang dia minta. Dan perhatiannya tertuju pada foto seorang perempuan dengan penampilan biasa. Tanpa makeup berlebih. Berbeda dengan foto-foto perempuan sebelumnya yang berpenampilan terbuka dan menggoda.
Perempuan itu mengenakan dalaman hitam dilapisi cardigan rajutan putih, dengan rambut lurus sebahu yang disisir asal. Berpose biasa saja.
Melihat tulisan dibawah foto, Sofia Anna.
Sekejap saja Satria mengenali wajah itu. Dia tidak akan pernah lupa wajah polos yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya setiap malam selama sepuluh tahun belakangan.
Fia nya.
Butuh waktu berminggu-minggu bagi Satria untuk memberanikan diri menghubungi Sofia. Setelah mengumpulkan segala informasi yang dia butuhkan dirasa cukup.
Foto-foto Sofia dan keluarganya, juga anak semata wayangnya, Dygta. Berikut segala keterangan tentang pekerjaan, perceraian, termasuk masalah hutang ke sebuah bank yang bernilai lumayan besar bagi perempuan itu.
Setelah berpikir cukup lama, pria itu akhirnya memutuskan untuk melakukan panggilan ke sebuah nomor yang sudah lama disimpannya. Sofia.
🍃 Flashback Off 🍃
Sofia mengerjap dengan mulut menganga. Cerita panjang lebar dari mulut Satria membuatnya hampir tak percaya.
"Kamu tahu, rasanya sakit mengetahui keadaan kamu sekarang. Maksud saya, ..." menatap lekat manik coklat nan bening di depan matanya. Mengelus wajah tirus yang selalu membuatnya ingin menyentuhnya.
"Kadang saya merasa menyesal kenapa waktu hari kelulusan itu tidak langsung menemui kamu. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." lanjutnya,
"Saya sudah sangat terlambat menemukan kamu." Satria menghela napasnya dalam. Seolah sedang menanggung beban berat dihatinya.
Sofia menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang hampir menyeruak, namun dia gagal.
Tetesan air lolos dari sudut matanya.
"Tapi sekarang tidak lagi. Saya sudah disini. Saya tidak akan membiarkan kamu melakukannya lagi." Satria menarik tubuh Fianya hingga jarak wajah mereka sudah tak lagi tersisa. Menempelkan kening mereka berdua. Mata keduanya terpejam.
"Saya tidak akan meninggalkan kamu lagi. Saya janji. Sofia Anna." Satria berbisik.
*
*
*
Bersambung ...
like
koment
vote
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭