NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ponsel di genggaman Kirana terasa sedingin es. Huruf demi huruf di layar tipis itu seolah melompat keluar, mencengkeram lehernya hingga pasokan oksigen ke paru-parunya mendadak seret.

"Jangan senang dulu, Sekretaris Kirana. Pertunangan palsumu dengan Raditya tidak akan bertahan lama setelah media tahu siapa sebenarnya ayah kandungmu. "

Kirana membalikkan ponselnya dengan gerakan patah-patah, menyembunyikan layar itu dari pandangan staf humas yang kebetulan lewat di koridor. Dia memaksakan napasnya agar kembali teratur, meskipun detak jantungnya kini sudah berpacu seperti genderang perang.

Siapa yang mengirim pesan ini? Dari mana orang ini tahu tentang status palsu pertunangannya dengan Radit? Dan yang paling mengerikan... bagaimana bisa masa lalu tentang ayah kandungnya yang sudah dia kunci rapat-rapat di dasar ingatan, tiba-tiba mengapung ke permukaan?

Selama lima tahun bekerja di Baskara Group, Kirana selalu mengisi kolom data keluarga dengan sangat minim. Dia hanya menulis nama ibunya, dan mengosongkan nama ayahnya dengan alasan "tidak ada ikatan legal". Sebuah kebohongan administratif yang sengaja dua lakukan demi melindungi kariernya dari bayang-bayang kelam masa lalu.

"Mbak Kirana? Anda tidak apa-apa? Wajah Anda pucat sekali" suara Tika tiba-tiba memecah lamunan Kirana.

Kirana tersentak pelan, segera memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer. Topeng kaku dan tenangnya kembali dipasang dalam hitungan detik.

"Saya tidak apa-apa, Tika. Hanya sedikit pusing karena AC di ruang rapat terlalu dingin tadi. Tolong siapkan mobil untuk agenda Pak Radit jam satu nanti."

"B-baik, Mbak. Sudah saya koordinasikan dengan sopir"jawab Tika agak ragu, namun tidak berani bertanya lebih jauh melihat aura dingin yang mendadak menguar dari tubuh Kirana.

Sisa hari itu berjalan seperti siksaan lambat bagi Kirana. Di dalam mobil saat menemani Radit menuju lokasi makan siang bisnis dengan Pak Wijaya, Kirana hanya diam membisu, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.

Radit yang duduk di sampingnya beberapa kali mencoba memecah keheningan dengan candaan random-nya, mulai dari membahas bentuk awan yang mirip si Kuning hingga rencana mengubah warna seragam satpam kantor menjadi hijau neon agar serasi dengan jas hujan mereka dulu. Namun, Kirana hanya menanggapi dengan anggukan formal atau jawaban satu-dua patah kata.

Hingga akhirnya, jam kantor resmi berakhir. Sekarang sudah pukul lima lebih lima belas menit.

Pintu ruangan CEO sudah ditutup rapat. Seluruh staf di lantai eksekutif sudah berangsur pulang, menyisakan kesunyian yang mencekam di ruangan kerja Radit.

Radit melepas jasnya, melemparkannya ke atas sofa, lalu berjalan mendekati meja kerja Kirana yang sedang mematikan laptopnya. Sesuai dengan Aturan Baru Pasal 1, jam korporat sudah usai. Kini saatnya Radit menjadi dirinya sendiri.

"Oke, Pihak Kedua, waktu formal sudah habis," kata Radit sambil mengetuk meja Kirana dengan ujung jarinya, mencoba menarik perhatian wanita itu. "Ada apa denganmu hari ini? Sejak jam sebelas siang tadi, kamu seperti berubah jadi robot versi modern. Dingin, kaku, dan mengabaikan semua leluconku. Apa cubitan di pahaku kurang kencang sampai kamu mogok bicara?"

Kirana berhenti merapikan mejanya. Dia menatap Radit lama, menimbang-nimbang apakah dia harus membagikan beban ini pada pria di depannya. Logikanya berbisik untuk menyelesaikan ini sendiri, ini adalah masalah pribadinya, masa lalunya yang kelam. Namun, ancaman itu juga menyeret nama Radit dan validitas pertunangan mereka.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Kirana mengeluarkan ponselnya, membuka pesan misterius itu, lalu menggesernya di atas meja ke hadapan Radit.

"Baca ini" ujar Kirana pendek.

Radit mengernyitkan dahi, mengambil ponsel Kirana dan membaca teks singkat tersebut. Dalam sekejap, binar usil di mata Radit lenyap. Rahangnya mengeras, dan aura jahilnya menguap digantikan oleh ketegasan yang dingin.

"Siapa yang mengirim ini?" tanya Radit, suaranya mendadak turun beberapa oktaf, terdengar berat dan berbahaya.

"Saya tidak tahu. Nomornya tidak terdaftar," jawab Kirana, suaranya mulai bergetar halus. "Tapi orang ini tahu kalau pertunangan kita awalnya adalah kontrak. Dan yang paling membuat saya takut... dia tahu tentang ayah saya."

Radit meletakkan ponsel itu kembali ke meja, lalu menatap Kirana dengan pandangan menyelidik yang lembut namun menuntut penjelasan.

"Kirana... selama lima tahun kamu bekerja denganku, kamu tidak pernah sekali pun membahas tentang ayahmu. Aku menghargai privasimu, jadi aku tidak pernah bertanya. Tapi melihat ancaman ini... apa sebenarnya yang mereka maksud dengan 'siapa sebenarnya ayah kandungmu'?"

Kirana menarik napas dalam-dalam, merasakan dadanya sesak. Dia mencopot kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa linu. Rahasia yang dia simpan sendirian selama belasan tahun akhirnya harus runtuh di depan pria ini.

"Ayah kandung saya... adalah mantan Direktur Utama dari Arwana Property" kata Kirana, suaranya sangat lirih namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

Radit tertegun. Matanya sedikit melebar.

 "Arwana Property? Perusahaan yang bangkrut sepuluh tahun lalu karena skandal penggelapan dana investasi terbesar di sektor perumahan rakyat?"

"Benar" Kirana mengangguk getir, setitik air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya lolos membasahi pipinya. "Pria yang namanya dicaci maki oleh ribuan korban penipuan itu, pria yang divonis lima belas tahun penjara dan sampai sekarang masih mendekam di Lapas Sukamiskin... dia adalah ayah kandung saya. Hadi Hartono"

Kirana menatap Radit dengan pandangan yang rapuh, seolah seluruh pertahanannya telah hancur lebur.

"Sekarang Anda mengerti, kan? Jika media tahu sekretaris utama sekaligus tunangan dari CEO Baskara Group yang terhormat adalah anak dari seorang koruptor dan penipu ulung yang menghancurkan hidup ribuan orang... reputasi perusahaan Anda akan ikut terseret ke dalam lumpur. Pengumuman pertunangan kita malam itu akan dianggap sebagai skandal terbesar, dan Ibu Sofia... Beliau pasti akan sangat kecewa."

Kirana menghapus air matanya dengan kasar, lalu berdiri dari kursinya, mengambil tasnya dengan terburu-buru.

"Mungkin... keputusan saya untuk menerima Aturan Baru kemarin adalah kesalahan besar. Hubungan kita dari awal memang sudah salah, Radit. Saya seharusnya tahu diri."

Sebelum Kirana sempat melangkah pergi melintasi meja, Radit bergerak lebih cepat. Dengan satu gerakan tegas namun lembut, Radit mencengkeram pergelangan tangan Kirana, menahannya di tempat.

Pria itu tidak melepaskan genggamannya, justru menarik Kirana mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Di bawah pendar lampu ruangan yang mulai temaram, Radit menatap Kirana dengan sepasang mata yang memancarkan badai emosi, bukan kemarahan karena dibohongi, melainkan rasa protektif yang teramat sangat.

"Lepaskan saya, Radit," bisik Kirana, mencoba memberontak lemah. "Karier saya, masa lalu saya... ini semua akan menghancurkanmu."

"Aku tidak peduli siapa ayahmu, Kirana Larasati," kata Radit, suaranya terdengar mutlak dan tak terbantahkan, mengunci seluruh kepanikan di dalam diri Kirana. "Dia adalah masa lalunya, dan kamu adalah dirimu. Kamu tidak menanggung dosa dari kesalahan yang dibuat orang lain."

Radit memajukan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Kirana yang basah.

"Dan soal orang yang mengirim pesan ancaman ini... dia sudah melakukan kesalahan besar karena berani membuat tunanganku menangis di dalam ruanganku sendiri. Aku yang akan menyeretnya keluar dari bayangan itu, siapa pun dia."

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!