NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pertemuan yang Mengubah Arah

Sofie terdiam, memandang Theo dengan tatapan yang kini dipenuhi rasa hormat. Ide tentang "kampung hijau" yang dikombinasikan dengan pengembangan penginapan atau hotel ramah lingkungan benar-benar memukau dirinya. Ini adalah solusi yang cerdas, inovatif, dan yang terpenting, sejalan dengan moto PT Alta. Ia melihat bahwa anak muda di hadapannya ini memiliki visi yang jauh melampaui usianya.

"Kau tahu, Theo," kata Sofie akhirnya, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. "Aku terkesan. Sangat terkesan. Ide ini... ini adalah sesuatu yang belum pernah terpikirkan olehku atau timku." Ia menoleh pada Jhonatan, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Sepertinya adikmu ini memiliki bakat terpendam, Jhon."

Jhonatan tersenyum bangga. "Aku sudah bilang padamu, Sofie. Theo punya pemikiran yang unik."

Sofie kembali menatap Theo. "Konsep 'kampung hijau' yang melibatkan warga dan pengembangan penginapan di area yang terabaikan... Ini bisa menjadi terobosan bagi PT Alta. Ini bukan hanya tentang membangun taman, tapi menciptakan sebuah destinasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat."

Ia kemudian menghela napas panjang, seolah beban berat terangkat dari pundaknya. "Baiklah, Theo. Aku setuju dengan idemu. Kita akan ubah konsep proyek ini. Kita akan fokus pada pengembangan kampung hijau dan mengintegrasikannya dengan pembangunan penginapan di area yang kau sebutkan."

Theo merasa lega dan bahagia. Ia tidak menyangka idenya akan diterima dengan begitu baik.

"Namun," tambah Sofie, "tentu saja, kita perlu melakukan studi kelayakan yang lebih mendalam. Kita perlu memastikan bahwa konsep ini benar-benar layak secara finansial dan operasional. Jhon, aku ingin kau dan Theo bekerja sama untuk menyusun proposal yang lebih rinci mengenai ide ini. Aku ingin melihat bagaimana kita bisa mewujudkan 'kampung hijau' yang tidak hanya indah, tetapi juga menguntungkan

...****************...

Theo terkejut. Ia tidak menyangka bahwa idenya akan diterima begitu saja, apalagi ia diminta untuk bekerja sama langsung dengan Jhonatan dalam menyusun proposal. Ia merasa sedikit kewalahan membayangkan tanggung jawab sebesar itu.

"Saya... saya?" Theo tergagap, matanya membelalak menatap Sofie. "Bekerja sama dengan Kak Jhonatan?"

Jhonatan tersenyum melihat reaksi Theo. Ia menepuk pundak adiknya dengan lembut. "Ya, Theo. Kau yang punya ide brilian ini. Tentu saja kau harus terlibat. Aku senang bisa bekerja sama denganmu."

Sofie mengangguk, senyumnya semakin lebar. "Ya, Theo. Kau yang punya visi ini. Aku ingin kau membantuku dan Jhonatan untuk mewujudkan konsep 'kampung hijau' yang kau impikan. Aku yakin, dengan kombinasi pengalaman Jhonatan dan ide segarmu, kita bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa."

Ia melanjutkan, "Aku tahu kau masih SMP, tapi aku melihat potensi besar dalam dirimu. Ini akan menjadi pengalaman belajar yang berharga bagimu, sekaligus kesempatan untuk membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk berkontribusi. Bagaimana, Theo? Apakah kau siap menerima tantangan ini?"

Theo menatap Jhonatan, lalu beralih menatap Sofie. Ia melihat kesungguhan di mata mereka. Rasa terkejutnya perlahan berganti dengan semangat yang membuncah. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan. Ia ingin belajar, ia ingin membuktikan kemampuannya.

"Baik, Kak Sofie. Kak Jhonatan," Theo menjawab dengan suara yang lebih mantap, meskipun masih ada sedikit getaran di sana. "Saya siap. Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Sofie tersenyum puas. "Bagus. Jhon, tolong atur jadwal pertemuan selanjutnya untuk membahas detail proposal ini. Aku ingin kita segera bergerak."

Jhonatan mengangguk. "Siap, Sofie."

Pertemuan di kafe itu berakhir dengan suasana yang sangat berbeda dari awal mereka datang.

...****************...

Theo merasa dunianya berputar. Ia tidak menyangka bahwa sebuah ide sederhana yang muncul dari pengamatannya bisa mendapatkan respons sebesar ini. Permintaan Sofie untuk bekerja sama dalam menyusun proposal proyek yang begitu besar terasa seperti mimpi.

Sepulang dari kafe, Theo tidak sabar untuk menceritakan segalanya kepada ibunya. Ia tahu ibunya akan senang mendengar kabar baik ini, dan mungkin juga sedikit khawatir melihatnya terlibat dalam urusan bisnis orang dewasa.

Sesampainya di rumah, Theo langsung menghampiri ibunya yang sedang berada di dapur. "Ibu! Ibu! Dengar berita bagus!" serunya penuh semangat.

Ibunya menoleh, melihat wajah Theo yang berseri-seri. "Ada apa, Nak? Kok kelihatannya senang sekali?" tanyanya sambil tersenyum.

Theo menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan kegembiraannya agar ceritanya terdengar jelas. "Tadi aku diajak Kak Jhonatan bertemu dengan Ibu Sofie, CEO PT Alta. Ingat kan, Bu, yang Kak Jhonatan ceritakan itu?"

Ibunya mengangguk. "Oh iya, yang punya proyek taman hijau itu. Terus bagaimana?"

"Nah, Ibu," Theo melanjutkan, matanya berbinar. "Aku kan bilang kalau alasannya tidak mau menggusur itu karena ada anak-anak bermain di sana. Terus aku usulkan konsep 'kampung hijau' dan juga membuat penginapan di lahan yang terabaikan."

Ia berhenti sejenak, menunggu reaksi ibunya. Ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian, senyumnya semakin lebar.

"Dan Ibu tahu apa?" Theo melanjutkan dengan nada penuh kemenangan. "Ibu Sofie suka sekali idenya! Dia bilang dia terkesan dan ingin aku bekerja sama dengan Kak Jhonatan untuk menyusun proposalnya!"

Ibunya terdiam sejenak, matanya memancarkan kebanggaan sekaligus sedikit kekhawatiran. "Ya ampun, Theo. Benarkah? Ibu bangga sekali mendengarnya. Tapi... kau yakin bisa, Nak? Itu kan urusan orang dewasa

...****************...

Ibunya terdiam sejenak, matanya memancarkan kebanggaan sekaligus sedikit kekhawatiran. "Ya ampun, Theo. Benarkah? Ibu bangga sekali mendengarnya. Tapi... kau yakin bisa, Nak? Itu kan urusan orang dewasa, urusan bisnis yang besar."

Theo mengangguk mantap. "Aku yakin, Bu. Kak Jhonatan pasti akan membantuku. Dan aku juga mau belajar. Ini kesempatan besar buatku."

Melihat kesungguhan di mata Theo, Ibu Ratna tersenyum. Ia tahu anaknya ini cerdas dan punya semangat belajar yang tinggi. Ia pun memutuskan untuk memberikan dukungan penuh.

"Baiklah, Nak," kata Ibu Ratna sambil mengusap kepala Theo. "Ibu percaya padamu. Tapi ingat, ini adalah tanggung jawab yang besar. Kamu harus serius menjalaninya. Dengarkan baik-baik apa yang Kak Jhonatan dan Kak Sofie katakan, jangan ragu bertanya jika ada yang tidak kau mengerti."

Ia melanjutkan dengan nada menasehati, "Jadilah dirimu sendiri, Theo. Jangan takut untuk menyampaikan idemu, tapi juga jangan memaksakan kehendakmu. Ingat, kamu masih belajar. Gunakan kesempatan ini untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Dan yang terpenting, jangan sampai tugas ini mengganggu sekolahmu, ya."

Ibu Ratna kemudian memberikan beberapa saran praktis. "Saat menyusun proposal, coba pikirkan lagi detailnya. Bagaimana warga akan dilibatkan secara konkret? Bagaimana penginapan itu bisa menarik wisatawan? Apa saja potensi risikonya? Coba catat semua pertanyaanmu, lalu diskusikan dengan Kak Jhonatan. Jangan malu untuk mengakui kalau kamu tidak tahu, itu lebih baik daripada sok tahu."

Ia menambahkan, "Dan jangan lupa, Theo. Tetaplah rendah hati. Meskipun idemu diterima, ingatlah bahwa ini adalah hasil kerja tim. Hargai kontribusi orang lain."

Theo mendengarkan setiap kata ibunya dengan saksama. Nasihat itu memberinya kekuatan dan panduan. Ia merasa lebih siap untuk menghadapi tantangan

...****************...

Tentu, ini kelanjutan Bab 24:

Bab 24: Pertemuan yang Mengubah Arah (Lanjutan)

Mendengar tekad dan kesungguhan Theo, Ibu Ratna tak kuasa menahan haru. Air mata tiba-tiba menetes di pipinya. Ia memandang Theo, anak lelakinya yang kini mulai beranjak dewasa, dengan perasaan campur aduk antara bangga, bahagia, dan sedikit rindu.

Dalam diri Theo, Ibu Ratna seolah melihat kembali sosok Baskara, almarhum suaminya. Ia melihat keteguhan hati, semangat juang, dan kecerdasan yang dulu ia kagumi dari Baskara. Theo mewarisi banyak sifat baik ayahnya.

"Theo..." bisik Ibu Ratna, suaranya sedikit bergetar karena haru. Ia menarik Theo ke dalam pelukannya. "Kamu mirip sekali dengan ayahmu, Nak. Sangat mirip."

Theo sedikit terkejut dengan reaksi ibunya, namun ia membalas pelukan itu dengan erat. Ia merasakan kehangatan dan cinta dari ibunya.

"Ayahmu dulu juga punya mimpi besar," lanjut Ibu Ratna, air mata masih mengalir di pipinya. "Dia selalu ingin membangun sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Dia punya semangat yang luar biasa untuk belajar dan berinovasi."

Ia melepaskan pelukan itu, lalu menatap Theo lekat-lekat. "Ibu tahu, ayahmu pasti akan sangat bangga melihatmu sekarang. Dia pasti akan mendukungmu sepenuhnya. Ibu... Ibu hanya ingin kamu tahu, Ibu selalu ada untukmu. Apapun yang terjadi, Ibu akan selalu mendukungmu."

Theo merasa tersentuh oleh ucapan ibunya. Ia tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya secara mendalam karena kepergian Baskara saat ia masih sangat kecil. Namun, mendengar ibunya berkata seperti itu, ia merasa ada ikatan kuat yang menghubungkannya dengan sosok ayah yang tak pernah ia kenal.

"Terima kasih, Bu," kata Theo lirih. "Aku akan berusaha membuat Ayah dan Ibu bangga."

Momen itu menjadi pengingat bagi Theo akan pentingnya keluarga dan warisan semangat yang ia bawa.

...****************...

Di sisi lain kota, di sebuah ruang kantor mewah dengan pemandangan gemerlap lampu kota, Rendra menggebrak meja kerjanya dengan penuh amarah. Kertas-kertas berhamburan, dan vas bunga antik di sudut ruangan bergetar hebat. Wajahnya memerah, urat-urat di lehernya menonjol.

"Sialan!" bentaknya, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi. "Bagaimana bisa mereka menolak akusisi kita? Rencana ini sudah matang! Semua detail sudah diatur!"

Ia meraih ponselnya, jari-jarinya menari di atas layar dengan kasar. Ia menelepon asistennya. "Periksa lagi semuanya! Aku ingin tahu siapa yang ada di balik penolakan ini! Aku tidak percaya ini terjadi begitu saja. Pasti ada yang mengacaukan rencana kita!"

Rendra mondar-mandir di dalam ruangannya, pikirannya berpacu mencari tahu siapa dalang di balik kegagalannya. Ia selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, dan penolakan ini terasa seperti penghinaan pribadi. Ia merasa ada tangan tak terlihat yang sengaja menjegal langkahnya.

"Siapa yang punya motif untuk menghentikan kita?" gumamnya pada diri sendiri, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Siapa yang diuntungkan dari penolakan ini?"

Ia teringat beberapa nama, beberapa perusahaan yang mungkin merasa terancam oleh ekspansi PT-nya di pasar kosmetik luar negeri. Namun, ia tidak melihat adanya motif yang cukup kuat dari mereka untuk melakukan manuver sebesar ini.

"Ini bukan sekadar penolakan biasa," pikir Rendra. "Ini seperti ada yang tahu persis kelemahan kita, atau punya informasi yang bisa mereka gunakan untuk melawan kita."

Ia berhenti melangkah, sebuah ide mulai terbentuk di benaknya. "Mungkin... mungkin ini ada hubungannya dengan proyek lain yang sedang kita kerjakan? Atau ada seseorang yang merasa dirugikan oleh langkah-langkah kita sebelumnya?"

Rendra menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!