NovelToon NovelToon
Janda Bersegel

Janda Bersegel

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:13.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sri Rusmiati

Kisah ini adalah perjalanan hidup Mia yang disebut sebagai anak haram. Liku dan kerasnya kehidupan, mampu membawanya menjadi wanita yang kuat. Dua kali menikah, dua kali pula menjadi janda. Status janda yang disandang dalam usia remaja semakin membuatnya dicaci dan dihina.

Kegagalannya dalam pernikahan, membuatnya tak punya mimpi untuk bahagia dalam sebuah ikatan pernikahan. Baginya, menikah itu hanya ajang untuk mengabdikan dirinya pada seorang suami dengan imbalan uang.

Akankah Mia menemukan pria yang benar-benar bisa membuatnya merasakan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa yang duluan keluar?

Malam telah berganti dengan pagi hari. Kokok ayam terdengar di telinga Bu Ningsih yang sudah bangun dari tadi. Namun ada hal yang janggal. Mia yang biasanya sudah bangun sejak pagi dan segera membereskan rumah dan memasak, tapi pagi ini rumah Haji Hamid masih sepi.

Pikiran Bu Ningsih melayang pada suara Haji Hamid yang ia dengar ketika jam dua malam tadi. Matanya melihat ke arah kamar Haji Hamid, masih tertutup rapat.

"Tempurnya sampai malam sih, jadi kesiangan deh. Aduh, padahal pengantinnya udah lama. Tapi masih saja seperti pengantin baru." Bu Ningsih tersenyum membayangkan mereka berdua.

Karena merasa tidak ada teman, maka Bu Ningsih memutuskan untuk membereskan rumah Haji Hamid dan memasak untuk sarapan. Padahal biasanya jika ada Mia, Bu Ningsih tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Mia memperlakukan Bu Ningsih layaknya seorang ratu. Antara senang dan tidak enak bagi Bu Ningsih. Karena biasanya Bu Ningsih selalu mengerjakan semuanya sendirian, apalagi setelah Mia menikah dengan Haji Hamid.

Dulu, setiap hari Bu Ningsih harus mengurusi bayi besar yang manja dan menyebalkan. Siapa lagi kalau bukan Pak Baskoro. Namun setelah perceraiannya, Bu Ningsih merasakan jadi manusia. Hidup bebas dan sangat nyaman. Tidak ada yang memakinya setiap hari. Bahkan sekarang, justru Mia melarangnya untuk melakukan pekerjaan apapun. Alasannya adalah Mia tidak ingin melihat ibunya kecapean.

Memang mulia hati Mia. Walaupun sibuk dengan tugas kuliahnya, namun Mia masih bisa membagi waktu dengan pekerjaan rumahnya. Statusnya sebagai seorang mahasiswa tidak mengganggu statusnya sebagai seorang istri.

Sudah jam 8 pagi, kamar Haji Hamid dan Mia masih tertutup rapat. Bu Ningsih sudah selesai membereskan rumah dan memasak untuk sarapan.

"Memangnya mereka bertempur sampai jam berapa ya? Kok jam segini masih belum bangun juga?" gumam Bu Ningsih.

Sebenarnya rasa ingin mengupingnya sangat besar, memastikan kalau mereka benar-benar masih tidur. Atau mungkin mereka bertempur lagi pagi ini? Tidak! Tidak mungkin! Bu Ningsih menggelengkan kepalanya. Menolak pikirannya yang melayang kemana-mana di pagi hari. Disamping rasa ingin mengupingnya, tersimpan rasa khawatir ketahuan oleh Haji Hamid. Bu Ningsih membayangkan ketika sedang menguping, tiba-tiba Haji Hamid membuka pintu. Alasan apa yang akan Bu Ningsih katakan pada Haji Hamid? Bisa hilang muka.

Bu Ningsih memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Menonton film pada layar televisi yang menempel di dinding kamarnya. Walaupun Bu Ningsih tidak tahu acara apa yang menarik, namun itu lebih baik dari pada harus menguping di kamar Haji Hamid.

Lagi-lagi Bu Ningsih salah sangka dengan Haji Hamid dan Mia. Sebenarnya Haji Hamid dan Mia sudah bangun sejak subuh. Hanya saja setelah sholat, Haji Hamid menahan Mia untuk tidak beres-beres dan memasak dulu. Haji Hamid masih penasaran dengan mimpinya semalam. Tiba-tiba saja, rasa takut dari mimpi itu membuat Haji Hamid ingin bertaubat dan menjauhi Dev. Haji Hamid tidak mau jika hidupnya yang bergelimang harta di dunia ini, harus berakhir dalam panasnya api neraka.

Mia tidak mengiyakan atau melarangnya. Bagi Mia, semua keputusan sepenuhnya ada di tangan Haji Hamid. Meskipun sejujurnya ada rasa sangat bersyukur saat mengetahui niat baik Haji Hamid, namun Mia membatasi ekspresinya. Mia takut Haji Hamid tersinggung apa lagi jika bahasannya sudah menyinggung Dev.

"Aku bingung bagaimana cara menyampaikan semua keputusan ini pada Dev, Mia. Kau punya ide?" tanya Haji Hamid.

"Tidak," jawab Mia sambil menggelengkan kepalanya.

"Mia kau sepertinya tidak senang mendengarku mau taubat?" tanya Haji Hamid kesal.

"Bukan begitu, Pak Haji. Mia hanya kaget saja. Ya alhamdulilah kalau Pak Haji sudah menyadari semua kekeliruan yang selama ini terjadi. Tapi Mia juga sama, bingung menghadapi Dev." Mia menunduk takut ucapannya salah dan menyinggung perasaan Haji Hamid.

Namun diluar dugaannya, Haji Hamid terlihat begitu bahagia mendengar ucapan Mia.

"Aku beruntung memilikimu, Mia. Kau orang yang tepat. Kau bisa menerima semua kekuranganku. Terima kasih untuk semuanya, Mia." Haji Hamid tersenyum menatap Mia.

Mia sangat bahagia dengan semua ini. Seperti diberi hadiah istimewa. Harapan dan doanya selama ini didengar oleh Tuhan.

"Tentang Dev," ucap Haji Hamid menggantungkan ucapannya.

"Jangan suruh Mia yang memberi tahu Pak Haji. Mia tidak mau," ucap Mia.

"Haahha... Jangan khawatir. Aku tidak akan melibatkanmu, Mia. Aku berjanji!" ucap Haji Hamid.

"Lalu apa rencana Pak Haji?" tanya Mia.

"Untuk sementara ini, aku masih akan membalas semua pesan Dev. Namun perlahan aku akan mulai mundur dan menjelaskan semua keinginanku untuk kembali ke jalan yang lurus," ucap Haji Hamid.

Entah untuk memberi waktu pada Dev, atau justru untuk mencoba membiasakan dirinya agar terlepas dari Dev. Karena hubungan yang sudah terjalin lama itu, tidak mungkin bisa pupus begitu saja. Mungkin akan terjadi banyak drama, namun Haji Hamid akan berusaha untuk tetap pada keputusannya.

"Mia sedikitnya mengerti bagaimana perasaan Pak Haji, cinta itu tidak bisa pergi begitu saja dengan cepat. Tapi satu hal, jika kita yakin dengan apa yang kita lakukan maka semuanya akan terjadi dengan mudah. Tuhan selalu bersama kita. Nikmati setiap prosesnya," ucap Mia.

Haji Hamid mengangguk. Benar! Setiap jalan kebaikan pasti ada rintangannya. Yang harus ia lakukan adalah menikmati setiap prosesnya. Pasti selalu akan ada cara disetiap masalah yang akan ia temui nanti besama Dev.

"Mia, kuliah yang benar ya! Nanti setelah kamj selesai kuliah, aku akan pergi meninggalkanmu. Dengan bekal ilmu dan sebagian hartaku, aku yakin kau dan Bu Ningsih akan hidup layak." Nada suara Haji Hamid sangat menyentuh hati Mia.

Meninggalkan? Apa artinya bercerai? Janda? Status yang paling Mia takuti dalam hidupnya. Apalagi setelah terbiasa hidup dengan Haji Hamid. Meskipun selama menikah Haji Hamid tidak pernah menganggapnya sebagai istri, namun perlakuan Haji Hamid membuat Mia sangat tergantung padanya.

Sikap ngemong dan perhatian meskipun kadang menyebalkan membuat Mia akan sangat kehilangan jika Haji Hamid benar-benar meninggalkannya. Rasa kehilangan itu terjadi karena Mia merasa kasih sayang seorang ayah itu dari Haji Hamid. Semua sikap dan perlakuan yang tak pernah didapatkanya dari Pak Baskoro.

"Mia, kenapa kau menangis?" tanya Haji Hamid.

"Aku takut jadi janda, Pak Haji." Mia dengan polosnya menjawab pertanyaan Haji Hamid.

"Apa?" tanya Haji Hamid menahan tawanya.

"Pak Hajiiiiii, jangan mengejek Mia seperti itu," ucap Mia kesal saat melihat ekspresi Haji Hamid.

"Mia, dengarkan aku! Kau lebih baik janda dari pada harus seumur hidup bersamaku. Aku memang berusaha untuk menjadi baik, tapi bukan berarti aku bisa menjadi suami yang baik. Usia kita terpaut sangat jauh. Kau masih muda. Kau berhak mendapatkan suami yang lebih baik dari aku. Kau harus hidup selayaknya manusia normal. Menikah dan memiliki anak. Aku tidak bisa Mia!" ucap Haji Hamid.

Anak? Bahkan Mia tidak pernah memikirkan itu. Yang Mia tahu, kuliah sampai selesai dengan nilai bagus. Bekerja dan menghasilkan uang sendiri untuk membahagiakan ibunya. Namun ucapan Haji Hamid membuatnya cukup terkejut.

"Ah, Pak Haji sudah! Mia tidak mau menbahas itu. Lebih baik Mia beres-beres dan masak dulu. Perut Mia juga sudah keroncongan. Ini sudah jam 7," ucap Mia sambil menunjuk ke arah jam dinding.

Haji Hamid mengangguk. Paham kalau Mia tidak akan semudah itu menerima semua keputusannya. Tapi Haji Hamid yakin, seiring berjalannya waktu Mia akan mengerti keadaannya.

"Ya sudah," ucap Haji Hamid mempersilahkan Mia untuk keluar dari kamarnya.

Namun baru saja membuka pintu, Mia langsung menutupnya kembali.

"Ada apa Mia?" tanya Haji Hamid.

"Ada ibu. Pak Haji saja duluan. Mia takut ditanya-tanya kalau jam 7 baru keluar," ucap Mia.

"Enak saja! Apa lagi aku. Nanti aku jawab apa? Bu Ningsih kan kepo. Kamu saja yang keluar duluan, kamu kan anaknya." Haji Hamid mendorong Mia untuk keluar lebih dulu.

Namun Mia berhasil lolos dan bersembunyi di balik tubub Haji Hamid. Kini giliran Mia mendorong Haji Hamid.

"Pak Haji saja duluan. Pak Haji kan yang punya rumah ini. Lagi pula, ibu tidak akan berani bertanya macan-macam sama menantunya, beda sama anaknya." Mia meminta Haji Hamid untuk keluar.

"Jadi siapa yang mau keluar lebih dulu?" tanya Mia.

"Kamu," jawab Haji Hamid menunjuk pada Mia.

"Tidak mau, Pak Haji saja." Mia menolak.

Namun keduanya tak ada yang mau mengalah. Haji Hamid dan Mia tak ada yang mau keluar kamar lebih dulu. Akhirnya mereka duduk lagi di sofa memikirkan cara agar mereka keluar tanpa pertanyaan aneh dari Bu Ningsih. Itulah sebabnya sampai jam 8 pagi ini, baik Haji Hamid ataupun Mia belum keluar dari kamarnya.

##############

Jangan lupa likenya kakak..

Terima kasih...

1
Rahma Waty
kkwwkwkwkwkwk
Rahma Waty
ckckck dipaksa lagi
Rahma Waty
mantul. mantap betul
Rahma Waty
jauhkan ibu mia dr suami tak tau diri
Rahma Waty
aku kasih like ya thor
Rahma Waty
hahahaah
Rahma Waty
semoga yg belok dpt hidayah
Rahma Waty
kasian lagi
Rahma Waty
kasian
Yunia Spm
komen ah....

Gokil author nya 😂
IndraAsya
👣👣👣 jejak💪💪💪🥰🥰🥰
Nurcahyono Sajum
hayo lanjut terus
Rahmawati Wati
ya knpa pak hjinya gay ada rsa gmna gitu
Nana Be
lumayan
Saida Tondrang
Kecewa
Deoky Oky
lanjut
Sely Ina
klo Mia tau ketemu Danu kaget dia bisa jantungan 😂
Sely Ina
wah ketemu nih sama nyonya nataly ...ada jodoh ni ma Danu ,semoga Danu dah sembuh bisa pya anak nikah ma Sindi dan bhgia semua deh
Sely Ina
tuan felik ...apa BP Mia yah ,
Sely Ina
sukur deh nyonya Natalya sudah sadar semoga Danu sembuh dan nikah bisa pya cucu ,jadi kasian liatnya ,semoga Danu sembuh yah tar jadi besanan deh anak Danu sama Dion ...🤭😂😂😂🌹❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!