Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mobil yang dikendarai Arlan berhenti di halaman rumah mewah milik mertuanya. Di Arlan ada Rachel yang baru pulang dari kampus beberapa waktu lalu. Rachel tidak banyak bicara selama dalam perjalanan. Arlan bisa merasakan perubahan itu, bahkan sejak kemarin. Tepatnya setelah mereka sarapan bersama dengan Erik dan Bulan. Setelah pulang dari sana, Rachel sudah tidak pernah marah-marah lagi. Tiba-tiba menjadi pendiam dan hanya bicara seperlunya. Sikap itu jelas berbanding terbalik dengan sikap Rachel sebelumnya. Biasanya Rachel akan mencari-cari masalah untuk diperdebatkan. Bahkan terkadang melontarkan kata-kata tajam tanpa dasar yang jelas. Arlan cukup bingung melihat perubahan Rachel kali ini.
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Arlan sebelum mereka turun dari mobil. Arlan khawatir perubahan sikap Rachel yang sekarang dipicu oleh rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin saja sedang Rachel pendam sendiri.
Rachel mengangguk. “Tentu saja baik. Memangnya aku terlihat sakit?” Rachel malah balik bertanya karna dia tidak sadar dengan perubahannya sendiri.
“Aku pikir kamu sakit. Kamu lebih banyak diam sejak kemarin.” Arlan tampak menghela nafas lega mendengar jawaban Rachel, walaupun itu belum cukup untuk menjawab rasa penasarannya.
Rachel hanya menahan senyum tipis. “Aku sudah bosan membuat onar. Ternyata lebih banyak diam tidak buruk.”
Rachel segera turun dari mobil setelah memberikan jawaban yang justru menambah rasa penasaran Arlan. Dia jadi yakin ada sesuatu yang Rachel sembunyikan darinya. Mungkin ada masalah yang tidak ingin Rachel ceritakan padanya.
Suasana di dalam rumah cukup sepi. Mereka berdua hanya disambut oleh asisten rumah tangga. Frans masih berada di perusahaan. Belina sedang menghadiri acara sosial. Sedangkan Kakak Rachel sudah pindah ke rumah baru dengan suaminya. Devan juga belum pulang dari sekolahnya.
“Aku akan ke kamar saja. Kamu juga langsung ke bandara sekarang kan?” Tanya Rachel.
Arlan melihat jam di tangannya. “Masih ada waktu 2 jam sebelum berangkat ke bandara. Aku temani kamu dulu disini.”
Rachel mengangkat acuh kedua bahunya. “Terserah kamu saja.” Ujarnya sembari berjalan menuju tangga. Arlan mengekori Rachel di belakang sampai dan masuk ke dalam kamar.
Rachel membuka pintu balkon dan pergi ke sana. Dia berdiri didekat pagar pembatas sembari mengedarkan pandangan ke halaman rumah yang cukup luas.
“Jika di luar sana ada seseorang yang kamu cintai, sebaiknya perjuangkan dia saja agar bisa hidup bersama. Jangan membuang-buang waktumu disini karna aku tidak memiliki perasaan apapun padamu.” Lirih Rachel. Dia sempat menatap Arlan yang berdiri disebelahnya. Arlan terlihat sangat terkejut dari ekspresi wajahnya.
Arlan menatap mata Rachel dalam-dalam, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Rachel. Perubahan sikap dan pembahasan seperti ini pasti bukan suatu kebetulan. Dua hal itu tampak saling berkaitan.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Cecar Arlan.
“Aku hanya bicara seandainya. Lagipula pernikahan ini terjadi karna paksaan dan tanpa cinta. Kamu terlihat sudah siap menjalani pernikahan, sedangkan aku sangat jauh dari kata siap. Aku hanya bisa membuat keributan dan menyusahkan mu. Jika tetap bersama ku, waktumu hanya akan terbuang sia-sia.” Rachel bicara tanpa menatap Arlan sedikitpun. Pandangannya hanya lurus ke depan dan tampak menerawang.
Arlan meraih bahu Rachel agar menghadap ke arahnya. “Apa aku terlihat seperti orang yang ingin mempermainkan pernikahan? Aku bahkan tidak pernah berfikir mengakhiri pernikahan ini. Jika kamu belum siap menghadapi pernikahan, aku bisa menghadapinya sendiri sampai kamu benar-benar siap. Sebaiknya jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi.” Tuturnya lembut.
Melihat Rachel tidak bereaksi apa-apa, Arlan perlahan membawa Rachel dalam dekapannya.
Rachel mendorong pelan dada Arlan agar lepas. dari dekapannya. Dia menatap lekat wajah pria di depannya.
“Arlan, aku serius. Kamu bisa mengakhiri pernikahan ini jika diluar sana sudah menemukan orang yang kamu cintai. Akupun akan melakukan hal yang sama.” Rachel tidak ragu sama sekali dengan keputusannya. Sejak awal dia memang tidak berharap diterima sebagai istri oleh Arlan. Sekarang setelah tau Arlan rela menemani Haura berobat ke Singapura, Rachel tidak akan mempersulit hubungan mereka.
Arlan mengangguk-angguk paham. “Aku mengerti sekarang, sebenarnya kamu yang sedang mencintai seseorang dan ingin menjalin hubungan dengannya kan? Pantas saja.” Tatapan Arlan pada Rachel terlihat kecewa. Rachel bersikap seolah-olah ingin membiarkan Arlan bahagia dengan orang yang dia cintai di luar sana, sampai menyuruh Arlan mengakhiri pernikahan ini. Ternyata Rachel memiliki maksud lain demi kepentingannya sendiri.
Rachel menggeleng keras. “Kamu tidak bisa bicara seperti itu padaku tanpa bukti. Aku tidak mencintai siapapun saat ini!” Tegas Rachel. Dia kesal karna Arlan malah balik menuduhnya, sedangkan Rachel yang lebih tau apa yang terjadi dibelakangnya.
“Lalu menurutmu kamu berhak mengatur ku untuk menyudahi pernikahan ini?” Arlan melempar tatapan tegas.
Rachel tersenyum miris dan membuang wajah ke arah lain. “Lupakan saja, anggap aku tidak pernah bicara seperti itu. Lakukan saja sesuai keinginan mu.” Rachel berlalu dan masuk kembali ke kamarnya. Dia duduk di sofa dan memilih menonton drama.
Arlan tidak berhenti sampai disitu, dia mengikuti Rachel dan kembali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Rachel memulai pembahasan tadi.
“Sudah ku bilang lupakan saja. Aku hanya asal bicara.” Jawab Rachel. Alih-alih berkata jujur tentang apa yang dia ketahui, Rachel memilih menyimpannya sendiri. Dia ingin melihat sampai sejauh mana Arlan berpura-pura.
“Sejak kemarin kamu juga lebih banyak diam, sudah pasti ada pemicunya. Aku tidak akan tau jika bukan kamu sendiri yang bercerita. Apa ada masalah lagi di kampus?” Tanya Arlan baik-baik. Dia bersikap tenang dan sebisa mungkin membuat Rachel nyaman agar mau terbuka padanya.
Rachel tampak menghela nafas berat. “Satu-satunya masalahku saat ini adalah hubungan kita. Kenapa kamu tidak menceraikan ku saja? Daddy pasti tidak akan menghalangi jika kamu yang meminta cerai. Dia sekarang lebih percaya padamu daripada aku.” Ada senyum getir disudut bibir Rachel. Semua keluarga sudah jauh darinya. Rachel mulai sadar semua itu karna sikapnya sangat keterlaluan.
“Rachelin, sejauh ini hubungan kita baik-baik saja. Masalahnya hanya karna kamu belum siap menerima pernikahan ini. Aku sudah katakan akan menunggu dan membantu kamu agar siap menerima semuanya. Bagaimana?” Arlan menatap teduh bola mata Rachel. Sebesar apapun kekacauan yang telah Rachel buat selama ini, Arlan percaya jika Rachel bisa berubah suatu saat nanti.
Sikap Rachel sejatinya terbentuk karna terlalu dimanja dan dilindungi oleh orangtuanya meski dulu berbuat kesalahan.
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun.” Jawab Rachel. Jika Arlan tidak berbohong padanya soal menemani Haura ke Singapura, mungkin dia bisa mempertimbangkan tawaran Arlan.
“Tidak apa-apa, kita jalani dulu saja seperti ini.” Ucap Arlan seraya mengusap lembut pucuk kepala Rachel.
Tak berselang lama, seorang ART mengetuk pintu kamar Rachel. Dia mengatakan jika Belina sudah pulang dan menunggu mereka di ruang keluarga. Arlan segera mengajak Rachel untuk turun menemui Mommynya.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊