Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Jatah
"Eh Ricardo yang bener aja, masa dua puluh lima persen? gila loe."
Bian bersungut kesal, melempar berkas kontrak kerja di hadapan model, teman sekaligus ibu tirinya yang baru saja masuk ke ruangannya dan duduk di sofa.
"Loe ya boro-boro manggil gue mama, manggil nama gue aja seenak jidat loe, gue Rickha Ayodya Watiana Aulia gak sudi punya anak tiri kayak loe."
Wanita yang berumur tiga tahun di atas Bianca itu terlihat memalingkan muka sambil melipat tangannya.
"Eh Rawa-rawa."
Rickha terlihat melotot menyadari Bian memanggil dengan cara menyingkat nama panjangnya.
"Apa duit bulanan dari bokap gue kurang? lagian tega bener loe sama anak sendiri, pokoknya mentok gue bisa naikin honor loe lima belas persen, take it or leave it."
"Bi, gue bentar lagi mau ikut audisi Asian Pacific next top model, gue yakin bakal bisa jadi finalis dan masuk sepuluh besar dan kalau gue jadi pemenang gue pastiin gue ogah jadi model Neil fashion lagi."
Kesal mendengar kesombongan Rickha yang melebihi kesombongannya, Bian melemparkan bantal sofa tepat ke muka wanita itu. Secepat kilat istri ketiga Nataniel itu menepisnya.
"Ampun Bian! hidung gue baru ini."Rickha mengelus hidungnya, "Dua ratus juta tahu."
Bianca geleng-geleng kepala merasa tak habis pikir. Meski Rickha berstatus istri ke tiga papanya, tapi Bian sama sekali tidak peduli apalagi sampai membenci wanita itu karena yang terpenting bagi Bian adalah Rickha selalu bersikap baik kepadanya, walau di mata orang ia terlihat matrealistis tapi tidak baginya.
Tidak bisa dimunafikkan zaman sekarang wanita hidup di muka bumi tak hanya butuh cinta tapi juga materi, begitu juga Rickha. Dengan menjadi istri Nataniel hidupnya menjadi bergelimang harta, dan yang terpenting statusnya bukanlah wanita simpanan.
"Bi, liat produk-produk loe yang pakai gue jadi modelnya, selalu laris manis kan? apalagi produk underwear." Rickha membanggakan diri.
"Udahlah kalau elo emang ga mau, gue bakal cari model lain." Bian berdiri untuk kembali duduk ke meja kerjanya, membiarkan Rickha memikirkan tawarannya.
"Gue bisa cari model dari agensi, lagi pula kalau dipikir-pikir setiap Niel Fashion meluncurkan produk baru pasti ada loe yang jadi modelnya, gue mau ganti suasana lah, bosan." Bian mencoba mengancam Rickha dengan cara halus.
"Masih ada sederet model yang bisa gue kontrak secara exclusive." Mengancam lagi, Bian mencoba membuat Rickha berubah pikiran.
"Dua puluh persen," tawar model cantik itu.
Bergeming, Bian tak menggubris omongan Rickha. Gadis itu bersikap tak acuh memilih memeriksa lembaran berkas yang ada di atas mejanya.
"Ya udah lima belas persen, tapi kalau gue masuk Asia Pacific next top model loe harus sponsorin semua wardrobe gue."
"Deal!" Senyum kemenangan terbit di wajah ayu Bianca.
****
Sementara di Pabrik milik PG group, Beni terlihat kerepotan masuk ke ruangan atasannya dengan membawa empat belas paper bag berisi produk baru pabrik yang di minta Skala kepadanya.
"Mau di taruh dimana pak?" tanya Beni.
"Mobil." Jawab Skala enteng.
Beni melotot tak percaya karena baru saja dirinya bersusah payah membawa bingkisan-bingkisan itu sampai ke lantai dimana ruang kerja bos nya berada.
Memutar otak Beni mencari alasan, "Nanti saya bawakan ke mobil, tapi sekarang biar di sini dulu ya pak, saya capek harus turun kebawah lagi," tawarnya.
"Emang kamu habis ngapain?"
"Habis dari acara bapak kemarin, istri saya langsung minta jatah berkali-kali, saya kuwalahan pak," curhat Beni.
"Berapa jatah yang istri kamu minta? biar aku yang nambahin," jawab Skala enteng.
"Bapak!"
Beni membentak, membuat Ska terjingkat kaget sampai punggungnya membentur sandaran kursinya.
"Apa maksud Bapak? Anda pikir saya tidak mampu?"
"Lha kan kamu sendiri yang bilang kuwalahan ngasih jatah ke istri kamu, aku kan cuma menawarkan bantuan."
Keduanya masih belum satu jalur dengan jatah yang dimaksud, baik Ska dan Beni menafsirkan kata jatah dengan arti yang berbeda.
"Kalau saya bilang mau ngasih jatah istri bapak, apa bapak rela?" Beni terlihat emosi.
"Mustahil, aku kan lebih hebat dari kamu, mana mungkin aku biarkan istriku dapat jatah dari kamu."
Merasa terhina Beni semakin emosi, Ia melemparkan paper bag berisi mikurame edisi terbatas ke sofa ruang kerja Skala.
"Bapak memang jahat, pantas bapak setuju nama rasa mikurame edisi terbatas ini hot level mulut tetangga, kenapa kemarin tidak sekalian diberi nama hot level mulut Skala Prawira."
Beni berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja bosnya, bersungut kesal dan emosi sampai melonggarkan dasi di lehernya, tapi Skala dodol masih belum mengerti apa yang membuat sekretarisnya tersulut emosi sampai marah-marah seperti itu.
Sore menjelang pulang kerja, Beni mengetuk pintu ruang kerja Ska, mendekat meminta kunci mobil bosnya untuk membawakan bingkisan-bingkisan yang berada di atas sofa ke dalam mobil sesuai perintah laki-laki itu kepadanya tadi pagi. Ska terlihat berdiri menyambar jasnya bersiap untuk pulang juga. Mendapati Beni yang cemberut, Ska mengernyitkan dahi, heran.
"Aku bawa pulang tiga belas saja, yang satu jatah buat istri kamu," ucap Ska.
"Ga usah," tolak Beni ketus."Istri saya ga butuh jatah dari bapak."
"Kalau begitu anggap saja itu jatah buat kamu, ini jatah berikan ke istrimu." Ska memasukkan sebuah amplop ke kantong celana Beni.
"Tidak banyak, tapi ini seluruh uang yang ada di dompetku, jatah untukmu nanti aku transfer saja ke rekeningmu." Ska menepuk pundak Beni, menyambar separuh paper bag untuk membantu sekretarisnya itu.
"Aku tidak ingin kerjaanmu terganggu karena masalah jatah istrimu, jadi jujur saja kalau kamu menginginkan kenaikan gaji," ucap Skala santai.
Beni terlihat terbengong, menyadari bahwa pikirannya tentang arti jatah ternyata berbeda jauh dengan arti jatah yang dipikirkan Skala.
"Mana mungkin otak Skala sepolos itu," batin Beni tak percaya.
***
Sesampainya di rumah Skala berjalan menuju dapur menyambar sebotol air mineral dari dalam kulkas, melihat Bianca yang duduk di meja makan sambil menyantap salad buah laki-laki itu tergiur lantas menyambar mangkuk istrinya, Skala duduk lalu menggerakkan tangannya meminta sendok di tangan Bian. Mencebikkan bibir, Bian berdiri mengambilkan sendok baru untuk suaminya.
"Jangan makan makanan sehat terus, sesekali loe harus ngerasain produk andalan pabrik gue." Skala melemparkan kunci mobilnya. "Di bagasi ada bingkisan isinya mikurame rasa baru edisi terbatas, bagiin sana ke geng sultini loe!"
Hanya berhem, Bian berjalan keluar untuk melakukan apa yang suaminya perintahkan, bukan tanpa alasan gadis itu menurut , ancaman halus yang dia praktekkan ke sang model sekaligus mama tirinya tadi pagi sebenarnya adalah ide yang dia dapat dari Skala.
Daripada mengucapkan terima kasih langsung yang nantinya malah membuat dirinya dihina habis-habisan oleh suaminya, Bian lebih memilih berjanji di dalam hatinya untuk menuruti perintah Skala selama dua belas jam.
Bian membawa dua belas bingkisan yang ia keluarkan dari bagasi mobil dengan sedikit kerepotan, " Harusnya gue bawa dikit aja dulu, dasar bodoh," gerutunya.
Melihat sang tetangga baru yang kesusahan , Dewa yang baru saja pulang segera melepas helmnya. Cowok itu langsung berlari menghampiri Bianca sambil membuat lengkungan indah di bibirnya.
"Mau dibantu ga kak?"
Kaget sekaligus senang, Bianca membalas senyuman manis dari anak tunggal Bu Dewan itu dengan sebuah tatapan yang menawan, "Terima kasih GD."
Akhirnya mereka berdua berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, menyerahkan bingkisan dari Skala ke anggota geng sultini blok Kamboja sambil bercanda, Mereka tidak sadar sebuah tragedi heboh akan terjadi setelahnya.