Karya sudah Tamat.
Ini tentang Seorang yang begitu setia dalam menjalin hubungan, hingga mendapat sebuah penghianatan yang akhirnya merubah cara pandang hidupnya mengenai seorang perempuan di dunia ini.
"Langit tidak akan menikah seumur hidup! Perempuan tidak ada yang setia kecuali Bunda dan Nenek!"
Yah itulah Langit putra Pratama seorang pemuda tampan yang sangat setia pada kekasihnya, namun karena penghianatan dia tidak percaya sama sekali dengan wanita kecuali Bundanya dan Neneknya.
Hingga suatu saat di sebuah Rumah sakit dia bertemu Mentari, Dokter Cantik bersahaja yang merawat Bundanya. Mengubah Kehidupannya dalam sekejap.
Mampukah Mentari mencairkan bekunya kutub Utara pada Hati Langit???
Bisakah Langit mempercayai cinta dan jatuh cinta sekali lagi???
Bagaimana kah kisah cinta diantara mereka???
Yuk lanjut baca sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Mantan
Pagi yang cerah mengawali hari yang penuh dengan padat lalu lintas. Mobil-mobil berlarian di jalanan berlomba-lomba menuju tempat tujuan. Motor-motor sesekali menjadi penengah di antaranya.
Lampu merah sebagai pengatur lalu lintas yang selalu di taati namun juga di benci lantaran menambah waktu semakin lambat sampai di tujuan.
Di tepi jalan nampak ada seorang perempuan muda menggandeng Anak perempuannya untuk menyebrang namun urung selalu karena mobil dan motor yang tak mau mengalah.
Setelah lenggang merekapun menyebrang namun naas ada mobil yang melaju ke arahnya tanpa memperhatikan jalan. Bunyi decitan rem ditekan sekuat tenaga memekakkan telinga yang mendengar dengan suara ban yang menggores keras di aspalan.
Langit terkejut saat ada orang yang tiba-tiba melintas di depannya, sekuat tenaga Dia menginjak rem, beruntung mobil berhenti tepat di depan orang yang menyebrang tadi tanpa menabraknya.
Langit keluar dan memastikan keadaanya, namun anehnya si anak tadi jatuh pingsan di tempat padahal tidak tersentuh sama sekali. Langit Memohon maaf dan membawa anak tadi ke dalam mobilnya untuk di bawa sekalian ke Rumah Sakit.
Namun betapa terkejutnya saat Dia melihat ibu dari perempuan itu adalah Lucy mantannya dulu. Langit membisu wajahnya menjadi datar, entah apa yang dia rasa saat ini.
"Maaf."Kata Langit sambil terus menyetir.
"Maaf juga Lang, lama tidak bertemu... Apakah Kau baik...?" Tanya Lucy memecah kesunyian.
"Hemm". Jawab Langit tanpa menoleh.
Lucy menunduk, sakit saat orang yang dulu amat memuja, mencintainya sekarang tidak peduli sama sekali terhadapnya.
"Maafkan Aku Lang, Soal yang dulu..., Aku tau kamu kecewa denganku, tapi jujur perasaanku sampai sekarang masih sama..." Kata Lucy sambil berurai air mata.
Dunia terasa sempit bagi Langit, sejauh hari melangkah meninggalkan hari, hingga tahun berganti sampai menempuh tahun-tahun. Langit sudah sejauh ini berlari meninggalkan Jakarta namun kenapa masih bisa bertemu dengan orang yang namanya sudah ia buang jauh-jauh dari hatinya.
Sudah hilang semua memori tentangnya yang baik-baik hanya kenangan terakhir yang paling Langit ingat sampai saat ini. Kenangan yang menjadikan Langit sosok yang berbeda, menjadi orang yang dingin, datar dan tidak bisa di sentuh oleh siapapun.
Hingga waktu berlalu dan Tuhan memberikan obat yang mujarab bagi hatinya, secercah cahaya cinta dari senyum Mentarinya.
Hening, hanya hening yang menjawab semua perkataan Lucy, Langit tetap beku tak bersuara, hanya mata dan tangannya yang terus fokus pada kendali mobilnya.
"Lang... Aku sudah tidak bersama Fery..." Lanjut Lucy bercerita.
"Tidak ada laki-laki yang lebih baik dari pada dirimu, Aku di paksa menikah dengannya, namun setelah Natasya lahir orang tuanya menjodohkan dengan gadis pilihannya. Dan dia menikah lagi... karena tidak mau di keluarkan dari hak warisnya." Cerita Lucy tanpa di minta dengan air mata yang masih mengalir.
"Aku, Aku di madu dan semakin hari perlakuan Dia padaku berbeda, Dia lebih mencintai istri keduanya dari pada Aku." Lanjut Lucy masih bercerita tentang kisah rumah tangganya.
" Natasya kehilangan sosok Ayah, Natasya sudah tidak pernah mendapatkan kasih sayang darinya." Terus cerita Lucy mengalir begitu saja.
Langit seperti orang dungu yang tak mendengar orang berbicara, tidak ada sahutan sama sekali dari bibirnya. Langit memasukkan mobilnya ke parkir Rumah Sakit, lalu keluar membawa gadis bernama Natasya dalam gendongannya.
Langit setengah berlari membawa anak itu ke Ruang Rawat Darurat, Langit menaruh di ranjang pasien, lalu Dokter yang berjaga memeriksanya.
Setelah mendengar dari Dokter yang memeriksa bahwa anak tersebut hanya mengalami panik atau kaget maka Langit bernafas lega.
Langit ke raung administrasi dan membayar biaya pengobatan Natasya, lalu menghampiri Lucy yang tengah menunggu Natasya sadar dari pingsannya.
"Maaf, biaya Rumah Sakit sudah Saya bayar, Untuk selanjutnya mohon tidak menghubungi Saya lagi, karena Putri Anda tidak apa-apa. Ini sebagai ganti rugi Saya terhadap putri Anda." Kata Langit sambil memberikan Amplop, di taruh di sisi ranjang Natasya, lalu Langit berlalu pergi meninggalkan Lucy yang menatap Langit dengan sendu.