NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Nana tidak langsung menjawab Steven.

Telepon masih menempel di telinganya, tapi matanya bergerak ke meja, ke map plastik, ke lelaki tua yang mulai kehilangan warna wajah, lalu ke Daniel. Di luar kaca, mobil abu-abu itu lewat lagi, lebih lambat dari sebelumnya.

"Loki jalan dulu," ulang Steven di telepon. "Sekarang."

Daniel mengangkat alis, seolah menunggu Nana memutuskan apakah ia akan menjadi anak baik atau anak nekat.

Nana menarik napas.

"Loki keluar dulu lewat dapur," katanya. "Tapi bukan sendirian. Bapak ikut dia. Daniel bawa map. Aku di tengah."

Steven diam di seberang.

Daniel tertawa kecil. "Kau sedang mengubah instruksi?"

"Aku sedang memastikan semua orang pulang."

Senyum Daniel hilang sedikit, digantikan sesuatu yang lebih serius. "Baik."

Loki berdiri tanpa banyak suara. Lelaki tua itu ragu, tangannya memeluk map plastik seperti anak kecil memeluk bantal.

"Mapnya ke Daniel," kata Nana.

"Tapi..."

"Kalau Bapak yang pegang, mereka tahu siapa sumbernya. Kalau Tuan Daniel yang pegang, mereka harus berpikir dua kali."

Daniel menerima map itu. "Aku suka saat logikamu merugikanku tapi benar."

"Berhenti bicara," suara Steven terdengar dari telepon, dingin. "Dapur. Kiri setelah tirai hijau. Ada pintu besi kecil. Irwan sudah kirim orang ke gang belakang."

Nana menatap Daniel.

"Ternyata matanya tidak terlambat," katanya.

Daniel menyeringai. "Jangan bilang padanya. Nanti dia besar kepala."

Mereka bergerak.

Kedai kopi mendadak terasa sempit. Kipas angin berputar di atas kepala, mengaduk bau kopi, minyak goreng, dan ketakutan. Pemilik kedai pura-pura mengelap meja, tapi tangannya berhenti setiap kali suara motor lewat di depan.

Loki membuka tirai plastik hijau. Dapur di belakang kecil dan panas. Ada panci besar, karung beras, ember biru, dan pintu besi yang catnya mengelupas.

Lelaki tua itu hampir tersandung ambang.

Nana memegang sikunya.

"Pelan. Jangan lihat belakang."

"Mereka akan tahu aku bicara."

"Mereka sudah tahu," kata Nana. "Sekarang yang penting Bapak masih bisa bicara besok."

Kalimat itu membuat lelaki tua itu menatapnya sebentar. Ada malu di matanya, mungkin karena ia baru saja ditenangkan oleh gadis yang jauh lebih muda darinya.

Pintu besi dibuka.

Gang belakang sempit dan lembap. Bau air selokan langsung naik. Di ujung gang, seorang pria berpakaian biasa berdiri sambil memegang kantong plastik seperti baru belanja. Nana mengenali cara ia tidak melihat mereka.

Tim Lilin.

Loki berjalan lebih dulu membawa lelaki tua itu. Daniel menyusul, map sudah diselipkan di dalam jaketnya. Nana hendak melangkah ketika dari arah depan kedai terdengar suara kursi terseret keras.

Seseorang masuk.

Daniel langsung meraih pergelangan Nana dan menariknya ke belakang dinding.

Jari Steven di telepon seperti ikut mencengkeram lewat suara. "Apa itu?"

"Ada orang masuk dari depan," bisik Nana.

"Keluar sekarang."

Daniel menunduk dekat telinganya. "Kalau mereka melihat pemilik kedai panik, gang belakang juga akan disisir. Kita tunggu tiga detik."

"Tidak," kata Steven.

"Tiga detik," kata Daniel.

Nana memejamkan mata sebentar.

Satu.

Di depan, suara laki-laki bertanya soal kopi bungkus.

Dua.

Pemilik kedai menjawab terlalu cepat.

Tiga.

Nana membuka mata. "Sekarang."

Mereka keluar bersamaan. Daniel melepas pergelangannya begitu mereka mencapai gang, seolah sadar sentuhannya terlalu lama. Nana tidak sempat memikirkan itu. Ia melihat Loki sudah memasukkan lelaki tua itu ke mobil lain di ujung gang. Pria Tim Lilin tadi berjalan melewati mereka dan menjatuhkan sesuatu ke lantai, sekadar botol minum kosong, tapi bunyinya cukup keras untuk menarik perhatian dari arah depan.

Nana dan Daniel masuk ke mobil Loki.

Begitu pintu tertutup, Nana baru sadar napasnya pendek-pendek.

Daniel duduk di sampingnya, map di pangkuan. "Kau tidak memilih aku."

Nana menoleh.

Daniel tersenyum, tapi senyum itu tenang. "Kau juga tidak sepenuhnya memilih Steven."

"Aku memilih jalan yang membuat semua orang pulang."

"Itu lebih sulit daripada memilih pria."

"Aku tidak sedang memilih pria."

"Aku tahu." Daniel melihat keluar jendela. "Itu sebabnya aku bilang kau menarik."

Ponsel Nana masih tersambung.

Di seberang, Steven berkata datar, "Kalau sesi filsafat kalian selesai, mobil kedua belok kanan."

Daniel tertawa.

Nana tidak.

Ia hanya menatap ponsel itu dan merasakan sesuatu yang aneh. Steven tidak melihatnya, tapi suaranya memegang peta. Daniel duduk di sampingnya, tertawa, tapi tubuhnya menutup sisi jendela. Keduanya menyebalkan. Keduanya berbahaya. Keduanya, dengan cara yang berbeda, baru saja memastikan ia tidak tertinggal.

Ketika mereka kembali ke Rumah Besar Sie, langit sudah memerah.

Stella menunggu di tangga depan. Begitu Nana turun, Stella langsung memeluknya.

"Aku benci kalian semua," katanya, suaranya teredam di bahu Nana.

Daniel menunjuk dirinya sendiri. "Aku termasuk?"

"Terutama kau."

"Adil."

Steven berdiri tidak jauh dari pintu, wajahnya seperti malam yang belum turun. Ia menatap Nana dari kepala sampai kaki, berhenti sebentar di pergelangan yang tadi sempat ditarik Daniel, lalu kembali ke wajahnya.

"Kau terluka?"

"Tidak."

"Yakin?"

"Kalau ada, Cici Stella sudah berteriak."

Stella melepas pelukan dan memang menatap pergelangan Nana. "Kenapa merah?"

Nana melirik Daniel.

Daniel mengangkat tangan. "Aku menariknya dari pintu saat ada orang masuk. Sebelum Koko Steven mengirim petir, aku jelaskan dulu."

Steven menatapnya. "Jangan sentuh dia kalau tidak perlu."

"Kalau perlu?"

"Pastikan dia tetap hidup."

Daniel terdiam setengah detik, lalu senyumnya kembali. "Itu instruksi yang bisa kuterima."

Stella melihat mereka berdua, lalu menarik Nana menjauh beberapa langkah. Suaranya mengecil.

"Na, aku serius. Jangan biarkan mereka menjadikanmu tali yang ditarik dari dua sisi."

Nana mengikuti arah mata Stella. Steven sedang bicara dengan Loki soal kendaraan abu-abu. Daniel menyerahkan map kepada Irwan yang baru datang dari garasi samping. Mereka tampak seperti dua orang dari dunia berbeda yang berdiri di medan yang sama.

"Aku bukan tali," kata Nana.

"Aku tahu. Tapi kadang orang kuat lupa bahwa yang mereka pegang bisa sakit."

Kalimat itu masuk pelan ke dada Nana.

Stella meraih tangan Nana dan membalik telapaknya. Bekas lama dari Pasar Atom sudah memudar, tapi garis merah baru di pergelangan masih terlihat tipis.

"Lihat," kata Stella. "Yang satu bilang ini demi melindungimu. Yang satu bilang ini demi memberimu pilihan. Pada akhirnya kulitmu yang merah."

Nana tidak menjawab.

"Aku tidak melarangmu dekat dengan siapa pun," lanjut Stella, lebih pelan. "Aku cuma takut kau terlalu sibuk membuktikan bahwa kau kuat sampai lupa bertanya apakah kau bahagia atau tidak."

Nana menutup jemarinya pelan. Pertanyaan itu terasa asing. Selama ini ia belajar bertahan, makan, lari, membaca wajah, memilih pintu keluar. Bahagia terdengar seperti barang mahal yang dipajang di etalase, bukan sesuatu yang boleh ia hitung dalam keputusan.

Malamnya, setelah Daniel pergi dan rumah kembali tertutup, Steven memanggil Nana di lorong dekat ruang kerja.

"Besok pagi kau ikut aku."

Nana langsung waspada. "Ke mana?"

"Menemui seseorang."

"Orang yang menelepon malam itu?"

Steven tidak menjawab langsung.

"Kalau kau ingin belajar siapa yang bisa dipercaya," katanya, "mulailah dari orang yang paling tidak suka dipercaya tanpa alasan."

"Siapa namanya?"

Steven menatapnya.

"Pak Shen."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!