Gibran Satya Dinarta, putra tunggal dari pebisnis ternama Asia, Satya Dinarta dan Ranti Dinarta. Gibran merupakan seorang CEO muda di perusahaan GS Group milik keluarganya.
Berbeda dengan CEO yang lain, otak Gibran agak sedikit geser karena sikapnya yang koplak dan somplak.
Dia rapat menggunakan celana boxer, menghadiri pesta pernikahan dengan sandal jepit, dan masih banyak lagi jal konyol dalam dirinya.
Suatu hari dia dipertemukan dengan seorang gadis cantik bernama Jasmine yang terlihat somplak padahal sifat aslinya sangat dingin dan anggun.
Jasmine bersikap somplak hanya untuk menutupi rasa sakitnya yang berasal dari keluarganya.
Bagaimana jika Gibran jatuh cinta dengan Jasmine? Penasarankan silakan baca..
Alur cerita ini sedikit lambat, jadi jika tidak langsung ke inti, itu adalah faktor kesengajaan.
ig. Karlina_sulaiman
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlina Sulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSJC : Chapter 25
"Tuan, hmmmm-" Jasmine tidak bicara lagi karena bibirnya sudah ditutup dengan bibir Gibran.
Gibran melu**t habis bibir Jasmine sampai napas mereka terengah-engah tidak beraturan. Kesambet demit dari mana entahlah tidak ada yang tahu. Tidak ada angin, tidak ada hujan ada bibir seksi main sosor saja.
Setelah puas mencium bibir Jasmine, Gibran segera menyudahi ciumannya dan setelah ciuman mereka terlepas, Jasmine menampar pipi Gibran dengan sangat keras dan meninggalkan bekas merah di pipi Gibran.
"Dasar pria brengsek, kamu mencuri ciumanku." Setelah menampar Gibran, Jasmine memukuli dada Gibran dengan tangannya sampai dia merasa lelah dan berhenti sendiri.
Gibran terkekeh melihat wajah kesal Jasmine yang entah mengapa membuat dia bisa tersenyum bahagia.
"Bilang saja kalau kamu mau lagi." Gibran bicara dengan gaya angkuhnya padahal dia sedang tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya.
"Mau saya jadikan pisang mu itu jadi pisang coklat, hah?" Jasmine tampak bersungut-sungut melihat Gibran.
"Saya nggak takut, kamu mau pegang?" Gibran tersenyum sarkastik pada Jasmine.
"Gila ya, Tuan memang tidak waras." Jasmine berteriak keras membuat beberapa pengemudi mobil menurunkan kaca mobil mereka hanya untuk melihat apa yang terjadi.
Gibran yang tidak bisa menahan tawanya langsung tersenyum lebar karena tidak mungkin jika dia tertawa di tengah kota seperti ini.
"Terserah kamu mau bilang saya gila, atau gula." Gibran tersenyum sombong, membuat Jasmine ingin sekali menciumnya-eh memukulnya.
"Mau saya jadikan kamu sapi perah?" Gibran ikut membalas dengan sengit ancaman Jasmine.
"Kau gila, Tuan." Jasmine menutup dadanya dengan kedua tangan.
"Dadamu kecil, aku tidak akan tergoda." Tatapan mata Gibran mengarah pada gundukan di dada Jasmine.
"A-apa yang kamu lihat, Tuan. Tutup matamu, tutup!" Jasmine menutup mata Gibran dengan kedua tangannya, sampai Gibran tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Jasmine kesal.
"Jas-jasmine, ikutlah denganku ok!" Gibran menggenggam tangan Jasmine dan mengajaknya berjalan ke tempat black lion berada.
"Jangan main tarik aja, Tuan. Kamu kira saya kerbau." Jasmine terlihat semakin kesal karena Gibran.
"Ikut saja atau mau saya cium lagi?" Gibran menatap Jasmine intens.
Jasmine menggelengkan kepalanya cepat dan akhirnya dia hanya bisa mengikuti Gibran dengan kesal. Sesampainya di motor, Gibran menyerahkan helm yang tadi dia pakai pada Jasmine.
"Pakailah!" perintah Gibran dengan nada jutek.
"Ganteng-ganteng songong!" umpat Jasmine lirih dan masih bisa di dengar Gibran.
"Walaupun, songong tetap saja kamu bilang kalau saya ganteng." Gibran tersenyum penuh kemenangan.
Mimpi apa gue semalam bisa ketemu sama singkong macam dia. Jasmine menatap sengit Gibran.
"Tcih! Saya bukan singkong." Gibran terlihat ingin menguyel-uyel wajah Jasmine saking gemasnya.
"Ya-ya bukan singkong tapi kingkong." Jasmine mencebikkan bibirnya, lalu eh-dia bingung kenapa Gibran bisa tahu kalau dia mengumpatnya.
"Kok Tuan bisa tahu kata hati saya?" Jasmine terlihat heran.
"Jangankan kata hati kamu, isi pikiran kamu pun saya tahu." Gibran tersenyum penuh arti pada Jasmine.
"Eh- benarkah?" tanya Jasmine takjub.
"Lupakan, sekarang kamu pakai helm saya dan temani saya ke rumah sakit." Jasmine menerima helm milik Gibran lalu memakainya.
"Mau ke rumah sakit jiwa, ya, Tuan?" tanya Jasmine sambil menutup mulut menahan tawa.
"Iya, biar kamu dirawat di sana." Gibran sekarang yang balik tersenyum melihat mata Jasmine melotot kepadanya.
"Sudahlah cepat naik!" perintah Gibran yang saat ini sudah duduk di atas motor miliknya.
Jasmine pun segera naik dan setelah memastikan gadis itu duduk, Gibran langsung memutar gas motornya sampai Jasmine tersentak dan memeluk erat pinggang Gibran.
"Tuan, kalau mau mati jangan ajak-ajak dong!" protes Jasmine masih dengan rasa terkejut yang belum hilang.
"Saya sudah pernah mati." Gibran menjawab dengan tenang.
***
"Ayo masuk!" Gibran menarik tangan Jasmine membuat gadis itu kesal dan uring-uringan.
"Tuan, helmku belum aku lepas." Gibran menoleh pada Jasmine lalu tersenyum.
"Maaf." Karena tidak ingin membuang banyak waktu, Gibran membantu Jasmine melepaskan helmnya dan kembali menarik Jasmine.
"Kamu suka sekali menarik tanganku. Aku kan bukan tambang." Jasmine menggerutu dan berlari kecil agar bisa menyamai langkah kaki Gibran.
"Siapa yang bilang kalau kamu itu kambing." Jasmine hanya bisa melongo saat mendengar perkataan Gibran yang tidak nyambung dengannya.
"Suster, di mana rumah perawatan pasien bernama Bayu Erlangga?" tanya Gibran pada suster penjaga.
"Saya cek dulu, Pak." Suster tersebut mengecek dengan cepat data pasien, "pasien ada di ruang xx nomor 201."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Pak."
Lagi-lagi Gibran menarik tangan Jasmine dan segera menuju ke ruang perawatan Bayu. Gibran membuka pintu kamar ruang perawatan Bayu dan masuk secara perlahan.
Tuan ini sudah seperti maling saja, masuk pakai acara mengendap-endap.
"Kamu bisa diam atau tidak?" ucap Gibran memberikan tatapan tajam pada Jasmine.
"Perasaan dari tadi aku diam," balas Jasmine lirih.
Gibran yang baru saja ingat kalau itu merupakan kata hati Jasmine langsung diam dan tidak protes lagi.
Karena melihat Gibran yang melangkah dengan hati-hati, Jasmine pun melakukan hal yang sama.
Setelah sampai di samping tempat di mana Bayu tertidur di ranjang. Gibran hanya bisa bergeming sambil menatap Bayu dengan perasaan campur aduk. Sudah seperti makan gado-gado semua rasa campur jadi satu.
Jasmine yang melihat Gibran diam langsung melihat ranjang di depannya. Terlihat pria tampan tertidur dengan damai dan terpasang banyak alat-alat medis di tubuhnya.
Jasmine menatap Bayu dan Gibran secara bergantian. Eh-Jasmine dibuat terkejut saat melihat mata Gibran mengeluarkan air bahkan sudah sampai mengalir pelan di pipinya.
Perasaan Jasmine yang melihat Gibran menangis jadi tidak karuan. Jasmine merasakan sedih yang tiba-tiba datang begitu saja tanpa di undang.
Entah dapat keberanian dari mana, kaki Jasmine melangkah mengajaknya untuk mendekat kepada Gibran. Dan tangan Jasmine bergerak menyentuh wajah Gibran lalu ibu jarinya bergerak mengusap pelan air mata yang jatuh mengalir itu.
"Tuan, jangan menangis!" Jasmine menatap mata Gibran yang menatapnya juga.
Tatapan mata mereka terkunci, Gibran mendapat sedikit rasa ketenangan saat mendapat tatapan teduh dari gadis yang telah meracuni pikirannya.
Brukkk ... tanpa aba-aba Gibran memeluk tubuh Jasmine dengan erat lalu menumpahkan semua perasaan sedihnya saat itu juga.
"Aaa ...." Jasmine berteriak dengan suara yang sangat keras membuat gendang telinga Gibran hampir pecah dibuatnya.
"Kamu kenapa?" Gibran bertanya dengan heran pada gadis itu.
"I-itu ... Tuan, it-it-"
"Kamu mau bilang apa? Itik?" tanya Gibran menebak.
Jasmine menggelengkan kepalanya dan menunjuk sesuatu yang bergerak mendekat pada mereka tepatnya menunjuk ke belakang Gibran.
Gibran yang penasaran pun akhirnya menoleh dan dia pun berteriak tidak kalah kerasnya dengan Jasmine tadi.
Gibran melompat naik ke ranjang pasien tempat di mana Bayu terbaring dan berteriak, "K-kecaaap ...."
Jasmine ....
Ceritanya jangan terlalu banyak nyelenehnya, lebih baik diselang seling biar dapat feelnya. Kalau diterima ya, kalau nggak juga nggak pa"...🤭🤭🤭