Melati...
Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.
Cantik, anggun dan berkelas.
Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.
Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zainal
"Hei, jangan kuat-kuat, Zain! Aku bisa jatuh!" Teriak Dara sambil tertawa. Ia takut, tapi juga bahagia.
Zain senyum-senyum aja, sambil terus mendorong ayunan yang Dara naiki. Tubuh Dara yang kecil, seperti melayang di udara. Rambutnya berkibar bebas.
"Stooopp! Zain, stop!" Pekik Dara saat dorongan Zain, ia rasa semakin kuat. Ia sudah pegangan kuat-kuat di tali ayunan.
Zain malah semakin jahil mengerjai Dara.
"ZAINAL, STOP!" Jerit Dara.
Berhasil, Zain langsung nggak mood lagi. Ia duduk di bangku taman sambil cemberut.
Dara melompat dari ayunan dan duduk di sebelah Zain. Ia masih tertawa-tawa bahagia.
"Ayok, gantian kamu yang naik. Aku yang dorong." Dara meraih lengan Zain, sedikit menyeretnya agar bangun.
Saat tak ada respon dari Zain, Dara menatap adik iparnya itu.
"Hei, kamu capek?" Tanya Dara sambil duduk disebelah Zain.
"Nggak." Jawab Zain ketus.
Dara mengingat-ingat kenapa Zain berubah bete, itu saat dia menyerukan nama Zain dengan lengkap.
Dara menutup mulut, menyadari kebodohannya. Ibu mertuanya pernah cerita, Zain paling nggak suka dipanggil Zainal.
Konon saat SMA, Zain sering debat kusir dengan gurunya, masalah nama.
"Nomer sebelas coba kamu jelaskan, Nal." Tunjuk pak guru didepan muka Zain.
"Duuh Pak, panggil Zain dong, jangan Nal." Protes Zain tak terima.
"Loh kenapa? Zainal itu artinya bagus lho."
Tuh kan, Nal lagi. Sengaja nih guru minta di hadang pulang sekolah. Pikir Zain.
Bukannya apa-apa. Cuma Zain pikir lebih keren dipanggil Zain daripada Nal. Cocok gitu sama ototnya yang nyembul-nyembul gemes.
"Berasa bebek kan gue!" Zainal mendengus frustasi.
"Kok bebek sih? kamu bukan Donald lho Nal. Orang tua kamu itu kasih nama Zainal dengan harapan kedepannya kamu tumbuh menjadi laki-laki yang dihargai, baik dan tampan."
"Pak Guru, saya ini sudah menjadi yang orang tua saya harapkan lho. Baik? Iya. Tampan? Banget!"
"WUUUUUUUU...." Sorak murid lainya.
Pak guru sampai membuat tanda T dengan tangannya. Agar kelas tidak gaduh yang mengundang perhatian kelas lainnya.
"Cuma kalau untuk dihargai mungkin segera Pak, kalau saya sudah mapan dan kaya dengan hasil keringat sendiri." Lanjut Zainal sambil nyender santai di kursinya. Mirip pas lagi ngopi di warung tenda samping sekolah.
Pak guru memijit pelipisnya. Ini anak orang kaya loh yang ngomong. Yang bapaknya udah mapan, yang kaya tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh belokan. Bener-bener si Zainal.
"Zainal, kalau kamu mapan dan kaya tapi tidak punya attitude, orang pun malas menghargai kamu." Sindir pak guru.
"Lho Pak, mana ada sih, di negara ini yang mau menghargai orang miskin? Kaya dulu baru dihargai Pak. Bapak nggak percaya kalau duit itu bisa ngomong? Saya bisa sekolah disini juga karena bapak saya banyak duit."
"Lagian nih Pak, si Alexander Benjamin Jose aja di panggil Ben, lho Pak. Bukan Min."
Pak guru mulai frustasi mengahadapi mulut lemes Zainal. Sedang murid lainya mulai tertidur pulas meninggalkan obrolan absurd antara Pak Guru dan muridnya itu. Terusin ajaaa... Yang lama kalau bisa. Nggak bakalan kelar deh tu debat.
Kecuali si Benjamin, matanya melotot plus jari tengah mengarah ke Zainal, "Sueee lo!"
Mulai saat itulah anak-anak demen banget godain Zain dengan nama yang -sesungguhnya- artinya memang sebagus itu.
Back to Zain dan Dara.
"Aku nggak ngerti, kenapa kamu nggak suka dipanggil Zainal?"
"Eeerrr..." Zain mengeram tak suka.
Dara terkikik melihat expresi Zain.
"Jangan marah dong. Yuk, beli es krim." Dara menunjuk food truck berwarna pink di ujung taman yang menjajakan es cream. Matanya terlihat berbinar, Zain mana bisa menolak.
Sumpah, receh banget dah Kakak iparnya ini. Di ajak jalan-jalan ke taman aja senengnya nggak ketulungan.
Padahal tadi habis nangis, sekarang sudah kembali ceria, hanya dengan dijajanin es krim pinggir jalan. Murah banget harga senyumannya.
Tanpa sadar Zain ikut tersenyum. Meski Dara belum mau terbuka, tapi melihatnya ceria, Zain ikut lega.
"Eh, jam berapa Zain?" Dara melongok jam tangan Zain.
"Duh, Mas Brian bentar lagi pulang. Mana belum masak buat makan malam." Dara terlihat panik. Wajahnya dah macem ketahuan selingkuh, padahal cuma makan malam loh ini. Kak Brian biasa nyeplok telor sendiri kalik di rumah, batin Zain.
"Pulang yuk..." Ajak Zain nggak tega.
***
"Sepertinya Dara sedang keluar." Ucap Brian saat keluar dari kamar tidur.
Ia mencari Dara, tapi tak kunjung ketemu. Dapur tempatnya biasa nongkrong juga kosong. Nggak biasanya pergi tanpa pamit.
Juga Brian belum pernah pulang tanpa disambut senyuman Dara.
Kemana anak itu?
"Ya udah sih, tunggu aja." Sahut Melia santai sambil menyesap Vape nya.
Ia menyilangkan kaki di sofa ruang tamu apartemen Brian yang bersih dan wangi ini. Bima datang nanti jam sembilan, masih ada waktu.
Brian pamit mandi sebentar. Tapi sampai ia selesai, Dara tak kunjung pulang. Brian berusaha menghubunginya, tapi ponsel Dara nggak aktif.
"Kasihan ya Dara..." Gumam Melia cukup keras sampai bisa di dengar Brian yang sedang sibuk menghubungi Dara.
"Sudah berusaha menjadi istri yang baik, eh lakinya nyimpen gundik, mau di madu pula."
Brian tak menggubris ucapan Melia. Ia sengaja membiarkan Lia berfikir sesuka hati tentang dirinya.
Tak lama terdengar pintu apartemen dibuka, Dara nongol dengan wajah panik. Dibelakangnya ada Zain.
Brian mengakat alisnya, dibalas Zain dengan mengangkat bahu.
"Aduh Mas, maaf aku baru pulang. Tadi habis dari taman sama Zain. Mas lapar? Biar aku buatin makan malam. Tunggu ya..."
Brian menahan langkah Dara, ia mengajak Dara duduk di sofa ruang tamu. Wajah Dara tampak terkejut melihat Melia duduk disana, begitu juga Zain.
"Ada apa, Mas?" Lirih Dara, suaranya jelas terdengar bergetar.
"Duduklah..." Brian mengajak Dara duduk. Zain sendiri sudah sejak tadi menghempaskan pantatnya didekat Melia.
"Hai, apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Sapa Zain ke Melia. Ia terlihat familiar dengan wajah Mel.
Melia melirik sekilas, lalu menyesap Vape lagi. "Sorry, lupa."Jawabannya singkat, tanpa minat. Dia paling males digodain brondong.
"Mel, kenalin ini adikku, Zainal..."
"Zain!" Ralat Zain ketus.
"Iya, jangan panggil Zainal, pokoknya panggil Zain ya." Lanjut Brian.
"Zain, kenalin ini Melia. Kakaknya Dewan."
Zain mengrenyit sambil menelisik Melia dari atas hingga ke bawah.
"Waaahh... Beneran kan, aku pernah lihat foto Kakak di ponsel Dewan. Tapi pas masih SMA kalau nggak salah. Sekarang beda banget loh kak, tambah cantik sumpah." Puji Zain tulus. Sialan si Dewan, nggak kasih info kalau Kakaknya spec Dewi gini. Umpat Zain dalam hati.
"Kamu teman dekatnya Dewan?" Mel terlihat tertarik.
Zain mengangguk, sebentar kemudian Mel dan Zain suda asyik ngobrol kesana kemari.
Diujung sofa, Dara duduk dengan gelisah, berkali-kali ia meremas jari-jarinya.
"Ehem..." Brian menginterupsi obrolan Melia dan Zain. Kompak mereka terdiam dan menatap Brian.
"Zain, Melia ini calon Kakak Iparmu."
***
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.
great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣
you did it JENG KELIN ❤️🌹