Hani, seorang pelayan kafe yang dituntut untuk menafkahi keluarganya. Hidupnya selalu menjadi bahan perbandingan dengan sang adik. Dari segi fisik maupun pekerjaan.
Tuntutan sang ibu dan sifatnya yang matrealistis, membuat Hani ingin segera menikah dan meninggalkan keluarga toxicnya, hingga ia mendaftarkan dirinya pada salah satu aplikasi kencan buta, Soulmate App.
Apakah Hani berhasil mendapatkan pasangan dari aplikasi tersebut? Lalu bagaimanakah kelanjutan kisah hidup wanita pelayan kafe ini?
Simak cerita selengkapnya hanya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayan Kafe Naik Pangkat
“Yeee selamat, Hani!”
“Naik pangkat nih.”
“Kamu berhak berada di posisi ini, Han. Selamat bekerja ya!”
Banyak dukungan mengalir dari rekan-rekan kerjanya. Meskipun hanya bekerja sebagai pelayan kafe, namun lingkungan kerjanya begitu sehat. Tidak ada yang ingin saling menjatuhkan. Semuanya saling bahu membahu demi kelancaran pekerjaan temannya, sesama pekerja.
“Kalau jam istirahat, turun ya ke kafe, samperin aku,” pinta Ayun memanja.
Hani tersenyum dan memeluk teman sejatinya itu.
Angga yang sedang berdiri di pojok kafe, tersenyum melihat para karyawannya yang akur dan saling mendukung satu sama lain. Angga sendiri, sangat bersyukur bisa memiliki mereka. Karyawannya sungguh bisa diandalkan dan mereka bekerja cukup baik. Entah apakah nanti di Sydney ia bisa merekrut karyawan seseru di sini, yang sudah dianggapnya seperti keluarga.
Hani pun mulai belajar tugas dan tanggung jawab barunya di kantor kafe. Ia sungguh bertekad akan bersungguh-sungguh memahami setiap detail materi dan praktek yang diajarkan. Ia tak ingin mengecewakan Angga, bos terbaiknya.
Angga juga tak sungkan mengajarkan ilmunya saat berkuliah dahulu, untuk memimpin kafenya hingga dikenal seperti sekarang.
###
Sementara itu, Razka yang tengah melakukan diskusi dengan ayah juga timnya, mulai membahas kerja sama perusahaannya dengan perusahaan ayah Tasya.
“Jadi, apa yang kamu sudah paham, Ka?” tanya ayah Razka menguji pemahaman sang anak.
Razka kemudian menjelaskan apa yang dipahaminya, setelah membaca benar-benar isi proposal perusahaan ayah Tasya. Bahwa sebenarnya, tujuan tersirat mereka dalam kerja sama ini adalah hanya untuk mengetahui strategi perusahaan ayahnya. Bagaimana pun, perusahaan ayah Tasya ini pernah memiliki riwayat serupa saat bekerja sama dengan perusahaan pesaing lainnya. Untuk itu, ayah Razka tidak pernah mau bekerja sama dengan perusahaan Indriawan sedari dulu. Hanya saja, ia seakan menutup mata dan telinga seolah tak tahu sejarah kelam tersebut.
“Jadi kenapa Ayah seperti mau membuka tangan untuk bekerja sama dengan mereka?” tanya Razka yang tak paham dengan kelanjutan strategi sang ayah.
“Terkadang, tupai harus dijebak agar ia terjatuh. Karena jika tidak, ia akan terus melompat dan merugikan banyak pihak. Perusahaan Indriawan bekerja sama dengan pesaingnya hanya untuk menutupi kebobrokan dan kecurangan hasil kerja mereka serta untuk mengambil klien perusahaan lain. Jadi, maksud Ayah yang seakan mau mengajak mereka bekerja adalah, kita kembalikan apa yang selama ini mereka perbuat,” jelas ayahnya.
Razka seakan mulai terkoneksi dengan penjelasan ayahnya. “Kita yang akan mengambil klien mereka?”
Ayah Razka tertawa kecil melihat ekspresi anaknya yang begitu cerdas dan mudah menangkap sesuatu. “Sengaja kita ulur saja rencana kerja sama mereka, sampai mereka perlahan membuka satu per satu klien dan strateginya. Lagi pula, kinerja mereka tidak lebih baik dari kita, jadi sangat mudah untuk mengalihkan calon klien mereka. Setelah itu, kita tolak kerja sama ini.”
Razka juga menanyakan perkara rencana perjodohannya dengan Tasya. Ia kembali mengatakan pada sang ayah jika ia tak mencintai Tasya dan hanya menginginkan Hani. “Apa salah jika Razka menyukai perempuan yang baik hati dan tulus, meskipun dia bukan dari kalangan atas?”
Ayah Razka hanya tersenyum kecil melihat anaknya yang tetap ingin hidup bersama pilihannya. Seakan ia merasa de javu, teringat akan sesuatu yang pernah ia rasakan. Senyum ayah Razka itu pun berubah menjadi senyum getir. Seolah kesedihan baru saja lewat di hadapan matanya.
“Bukan kah Ayah selalu berpesan pada Razka kalau cinta itu menguatkan, dan mengalahkan segalanya?” lanjut Razka.
Ayahnya mengangguk dan memeluknya. “Itu memang benar. Suatu saat kamu akan paham maksud Ayah. Ayah tak memaksa kamu menikahi Tasya, jika bagimu dia bukan yang terbaik. Pilihlah yang menurutmu baik. Ayah percaya padamu, kamu lebih hebat dari Ayah. Perjuangkan apa yang ingin kamu perjuangkan, Ayah akan selalu mendukung di belakangmu.”
Mendengar jawaban sang ayah, seakan memberikan angin segar padanya. Razka kembali memeluk sang ayah yang selalu bisa memahaminya. Tak seperti ibunya yang selalu menuntutnya. Itu alasan mengapa Razka selalu iri pada teman-temannya, termasuk Angga.
Karena ibu Angga begitu sayang pada Angga. Ibunya lah yang berjuang membesarkan Angga dengan ketulusan, darah, dan air mata, tanpa sosok suami. Berbeda dengan Angga yang iri pada temannya itu karena mendapat kasih sayang dari seorang ayah, yang tak pernah ia dapatkan. Baginya, ayahnya sudah tiada sejak dia meninggalkan anak dan istrinya begitu saja.
###
Malam ini, sesuai dengan instruksi sang ayah, Razka dan ayah ibunya melakukan pertemuan di rumah Tasya sekaligus memenuhi undangan makan malam Indriawan. Mereka akan membicarakan tentang perjodohan Tasya dan Razka. Meskipun Razka enggan untuk datang, ia melakukan semua ini semata-mata hanya demi ayahnya.
Saat tiba di rumah Tasya, mereka disambut begitu hangat di rumah mewah itu. Ibu Tasya pun mempersilakan duduk Razka dan orang tuanya. Mereka tampak mengobrol tentang rencana pertunangan Razka dan Tasya yang tak akan lama lagi. Tentunya, hanya ibu Tasya dan ibu Razka, juga Tasya yang antusias membahas hal ini. Sementara Razka, sibuk bermain dengan ponselnya, saling berkirim pesan dengan sang kekasih.
Razka : Aku rindu.
Hani : Besok jemput aku sepulang kerja ya, ada yang mau aku ceritakan. Kamu sedang di mana?
Razka : Siap, Sayangku. Aku masih di kantor.
Hani : Sampai jumpa besok.
Di tengah obrolan mereka, pembantu Tasya mengabadikan momen pertemuan mereka, atas permintaan Tasya. Setelah mengambil banyak foto, Tasya meminta ponselnya dan mulai mengirimkan foto tersebut pada seseorang.
“Hani, sudah tidur? Lihat lah foto keluarga kami yang lengkap dan bahagia ini. Kami sedang membicarakan acara pertunanganku dengan Razka."
...****************...