Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sasha Tau Video Itu
Semalaman Sasha gelisah, ia sama sekali tidak tidur. Namun di pesawat akhirnya dia bisa tidur juga. Perkataan Ardan sungguh mengganggu pikirannya, apa laki-laki itu bersungguh-sungguh untuk mengabulkan keinginan orang tuanya?
"Udah dibawa semua, Sha?" Ardan yang mengenakan setelan rompi levis dan celana yang sepasang dengan atasannya, ditambah kacamata hitam membuat ia jadi tampak keren. Pria itu mengajak Sasha untuk bersiap turun dari pesawat.
Sasha agak kaget, karena dari ia tertidur dan rasanya baru sepuluh menit saja. Sasha malah terdiam dengan mulut sedikit menganga, ia tidak menyangka jika hari ini akan tiba juga.
"Kenapa? Ada yang aneh?" Ardan melihat ke arah dirinya sendiri.
"Ah, tidak tidak." Sasha mengalihkan pandangannya dan mulai mengambil tas koper di kabin atasnya.
"Biar aku saja!" Seru Ardan seraya mengambil koper dari tangan Sasha. Tubuh mereka sedikit beradu, jantung Sasha pun reflek berdebar dengan sangat kencang.
"Ah, te ... terima kasih," ujar Sasha sambil salah tingkah saat tangan mereka bersentuhan.
"Kenapa dia baik sekali?" batin Sasha. "Aduuh, jangan sampai aku jatuh cinta, bisa memalukan, jika aku dulu yang merasakannya," gumam kata hati Sasha.
Entah kenapa akhir-akhir ini Ardan sering membuat dia salah tingkah. Malu dan gugup ia rasakan bersamaan di depan laki-laki yang menjadi suaminya ini.
Setelah turun dari pesawat, Sasha dan Ardan langsung menuju ke hotel tempat mereka bermalam. Pemandangan laut Lombok yang indah sepanjang jalan menarik perhatian Sasha. Ia begitu takjub karena ini pertama kalinya ia kemari.
"Jangan norak!" sahut Ardan saat melihat Sasha menempelkan kedua telapak tangannya ke jendela mobil.
"Emang gak boleh?" Sasha langsung melepaskan telapak tangannya dan menengok ke arah Ardan dengan tatapan sinisnya.
Ardan tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan kepalan tangan.
"Kalau aku tau kamu bakal sebahagia ini, mungkin lebih baik aku mengajakmu lebih awal," ucap Ardan sambil mengusap pucuk kepala Sasha.
Gadis itu menjauhkan kepalanya dari tangan Ardan yang berusaha mengacak rambutnya.
"Tidak bisa kan aku ada ulangan!" Sasha memalingkan mukanya.
"Itu urusan gampang, kau lupa? Akulah dosenmu!" Ardan memasang wajah sombongnya.
"Heh," ejek Sasha. "Mentang-mentang dosen bisa seenaknya. Bisa-bisa hatersku di kampus makin banyak. Belum lagi karena kasus video itu, orang jadi banyak yang kesal padaku." Sasha melipat kedua tangannya, dahinya berkerut dan dadanya kembang kempis, sepertinya dia sedang sangat marah.
"Kau tau video itu?" Ardan merasa aneh, karena ia merasa sudah menyembunyikan video itu dari Sasha.
Sementara Sasha masih memalingkan muka, dia enggan menjawab apa yang Ardan tanyakan.
***
Saat itu Sasha sedang merias kue. Namun pegawai dapur yang lain tampak meributkan sesuatu.
"Sssst, nanti didengar Non Sasha. Nyonya Nasyila dan tuan muda bilang untuk menyembunyikan hal ini darinya." Salah satu koki dapur mendesis sambil menyimpan satu telunjuk di depan bibirnya.
"Ah, iya bubar, bubar, nanti non Sasha curiga!" ujar yang lainnya dan diikuti oleh bubarnya kerumunan mereka di depan kompor.
"Memang apa sih?" gumam Ava dalam hatinya, namun ia berusaha untuk tidak menggubris dan mencoba tak peduli.
"Eh, liaaat! Video baru diunggah, katanya kedekatan dengan Pemilik utama perusahaan Adinata." Seseorang histeris memanggil temannya, dia sendiri masih sambil memegang senjata tajam untuk memotong daging.
"Ih mereka seakrab ini?"
"Jangan sampai terdengar!"
"Non Sasha ... beneran pelakor?" ungkap mereka bisik-bisik.
Di tengah kerumunan itu, tiba-tiba Sasha menghampiri. "Siapa yang pelakor?"
***
Bersambung ...
Author corner!
Hi, terima kasih yang sudah membaca karya receh saya. Saya tidak menyangka jika ada yang suka dengan cerita ini. Saya pikir tidak ada yang suka sehingga tidak diteruskan, tapi ternyata banyak juga yang bertanya. Akhirnya saya teruskan lagi. Dukung terus Ardan dan Sasha ya...
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..