Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
" Wooi... Kumpul-kumpul gue ga diajak..."
Terdengar suara Fian berteriak. Dia berjalan mendekati Ran, Rama dan Bara yang sedang duduk di bawah pohon jambu. Motornya sudah terparkir cantik disisi motor Bara.
" Siapa Lo.. Memang kenal.." Jawab Rama sambil mencebik.
Kebiasaan mereka kalau bertemu pasti berantem. Selalu ada saja yang diributkan.
" Enggak kangen Lo sama gue..."
" Ikh sory ya.. " Rama melengos.
Rama semakin menggoda Fian. Dia memang paling suka mengganggu Fian. Fian akan selalu mencari cara untuk menarik perhatian dan Rama akan selalu mendebat apa yang Fian ucapkan.
Fian ikut duduk di bangku yang memang muat banyak orang. Dia mengambil sebuah pisang goreng dan langsung memakannya.
" Ran, ambilin gelas Ran, gue mau minum.."
" Enggak usah kak, biar ambil sendiri. Tahu tempatnya kan..." Rama mencegah Ran yang sudah bangun untuk mengambilkan gelas di dapur. Tangannya di tarik Rama agar duduk kembali.
" Tidak apa-apa Ram, biar Ran yang mengambil.." Ucap Ran memandang Rama.
" Tidak usah, dia kan tahu tempatnya.."
" Iya,gue ambil sendiri.."
Fian bangkit dan berjalan menuju rumah. Dia memang sudah terbiasa di rumah ini.Dia sudah seperti anggota keluarga di rumah ini. Dengan santai dia melenggang masuk rumah.
Bara hanya tersenyum menyaksikan interaksi diantara mereka. Selalu begitu. Ramai dan seru. Walaupun seperti sebuah perdebatan, namun sebenarnya hanya sebuah permainan kata untuk meramaikan suasana.
" Ram...." Bara melihat ke arah Rama yang duduk bersandar di batang pohon jambu dengan memejamkan mata. Tidak tidur namun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Iya bang.." Rama membuka mata. Dia menoleh ke arah Bara.
" Tadi di jalan saya mendengar berita yang tidak enak. Apakah kamu sudah mendengar..?" Dengan hati-hati Bara bertanya tentang desas-desus yang dia dengar.
" Memang apa yang Abang dengar.." Rama memalingkan muka. Dia memandang ke atas pohon. Seolah mencoba membuang sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya.
" Desas-desus tentang kakak kamu. Tentang arwah..."
" Iya bang.." Rama memotong perkataan Bara. Dia tidak ingin mendengar kelanjutan perkataan Bara. Karena buat dia sungguh sangat menyakitkan.
",Apa sudah menyebar ya Ram.."
" Iya sudah.. jujur gue marah bang. Gue tidak rela. Gue pengen bantaii itu orang yang menyebarkan berita itu..." Nafas Rama tersengal karena emosi. Rama selalu emosi jika membahas hal tersebut. Makanya dia tidak pernah keluar rumah, untuk mengantisipasi agar tidak mendengar berita yang tersebar.
" Sabar Ram.. Maafkan saya. Karena saya kamu jadi begini...." Bara merasa bersalah. Tapi memang sebenarnya dia ingin mengetahui berita tersebut dengan gamblang. Apa benar ada warga yang pernah ditemui arwah Arin seperti dirinya.
"Abang tidak salah.. mungkin gue saja yang tidak sabar.." Rama menunduk. Hatinya sangat sedih mengingat hal tersebut.
"Nanti kita cari sama-sama siapa yang menyebarkan dan apa penyebabnya.. saya bantu semampu saya .."
Rama mengangguk. Rama percaya Bara akan melakukan yang terbaik demi sang kakak. Rama tahu bagaimana Bara yang begitu menyayangi sang kakak.
Ran hanya menyimak. Dia pun sedang duduk melamun, merangkai semua kejadian yang dia alami. Dia hanya mendengar sekilas perbincangan mereka berdua.
Ran duduk bersandar di sisi lain batang pohon jambu yang memang besar. Bisa buat bersandar dua orang saling berlawanan. Ran menengadah, melihat ke atas pohon. Ran ingin mencoba mencari petunjuk. Karena yang Ran tahu, pohon jambu tersebut beberapa kali menunjukkan sesuatu yang ganjil.
Dengan seksama Ran mengamati setiap batang, setiap cabang bahkan setiap daun. Dia ingin menemukan sesuatu yang bisa menunjukkan hal yang aneh.
Namun tidak ada sesuatu keanehan dia temukan. Dahan dan cabang pohon terlihat seperti biasa. Daun bergoyang perlahan seperti ditiup angin. Hanya itu selebihnya hanya suara cicit burung yang terdengar.
" Ran, kamu diam saja. Ada apa ? Ada yang sedang mengganggu pikiranmu..?" Bara beralih pada Ran. Melihat Ran yang hanya diam mendengarkan, Bara masih merasa bersalah karena tadi dia mengabaikan pertanyaan Ran.
"Ini orang tidak peka atau bagaimana. Sudah tahu sedang ada masalah, ya kali tidak kepikiran.." Gumam Ran. Namun terdengar jelas di telinga Bara.
Bara hanya tersenyum. Dia bukan tidak peka. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana memulai percakapannya dengan Ran.
" Maaf Ran.." Ucap Bara pada Akhirnya.
Ran hanya mencebik. Dia masih asyik dengan kegiatannya. Memandangi satu persatu daun jambu di atas mereka.
" Maaf untuk apa..?" Jawab Ran tanpa menoleh.
" Untuk yang tadi. Tadi saya sedang fokus sama jambu yang terlihat menggoda. Saya ingin segera merasakan rasanya yang manis.."
Ran hanya menoleh sekilas. Lalu kembali lagi pada aktivitasnya memandang daun jambu.
"Kak, bikin bumbu rujak dong. Seger siang-siang bikin rujak.." Rama menepuk lengan Ran. Ran yang melamun sampai terjengat.
" Iya Ran, saya juga kepengen.." Bara menimpali.
Ran bangun dan berjalan menuju rumah. Dia akan membuat bumbu rujak. Memang siang hari yang terik sungguh nikmat makan rujak yang pedes dan buah yang berair.
Namun Ran terkejut ketika memasuki ruang tamu. Dia melihat Fian yang berwajah pucat dan nafas memburu.
" Eh.. kamu kenapa. Apa yang terjadi.." Fian terkejut. Dia sampai meloncat. Dia tidak tahu kalau ada Ran. Wajahnya semakin pucat . Dia memalingkan muka, mungkin malu dengan wajah pucat tersebut.
" Kenapa,..? Ada apa? Apa yang terjadi..?" Ran sudah berpikiran yang tidak-tidak. Ran berpikir pasti Fian mengalami kejadian aneh di dalam sana.
" Sini duduk dulu. Gue ambil minum dulu ya.."
" Ran..." Fian meraih tangan Ran. Seperti tidak mau ditinggalkan oleh Ran.
" Ada apa? Gue cuma sebentar. Lepas dulu.."
Fian melepas tangan Ran dengan perlahan. Dia seperti tidak mau sendiri di ruangan itu.
Ran memandang Fian dengan rasa iba. Ran tahu pasti Fian mengalami kejadian buruk di dalam rumah.
" Sebentar saja. Mengambil air minum buat kamu. Atau mau ikut ke dalam ?"
Fian mengangguk. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju ruang makan. Ran mengambil gelas dan menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyerahkan kepada Fian. Fian menggeleng. Dia malah semakin pucat.
" Kenapa?"
Fian menggeleng lagi. Dia memandang Ran dengan sendu.
" Nih aku minum ya." Ran meminum air putih itu seteguk. Sengaja ingin menunjukkan kalau itu memang air minum, karena Ran melihat Fian seperti ketakutan melihat isi gelas.
" Tidak ada apa-apa. Rasa air putih.."
Fian merebut gelas itu dan meminumnya dengan cepat.Gelas itu sudah kosong dengan segera.
" Ran.. duduk di ruang tamu yuk."
" Ada apa. Ada yang mau kamu ceritakan kah..?"
Fian mengangguk. Mereka berdua berjalan kembali ke ruang tamu. Dan duduk di kursi yang ada.
Fian menghela nafas panjang. Mukanya sudah tidak pucat lagi seperti tadi. Dia duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Pandangannya ke atas. Menatap langit-langit. Sejenak kemudian dia memandang Ran.
Ran yang merasa dipandang sedemikian rupa menoleh ke arah Fian dan tersenyum. Bukan bermaksud apapun. Hanya ingin memberi kekuatan pada Fian. Ran yakin kalau Fian mengalami kejadian yang sama dengan dirinya.
" Ran,... Apakah belakangan ini Lo mengalami kejadian aneh tidak sih di sini. Di rumah ini ."
Ran memandang Fian. Mereka saling pandang seolah ingin saling merasakan apa yang dirasakan orang yang di pandangnya.
" Kamu melihat apa? Kamu mendengar suara aneh kah..?." Ucap Ran lembut. Biasanya mereka berdua selalu bermusuhan. Namun kali ini mereka berdua terlihat sangat akur . Dan Ran merasa menemukan orang yang tepat untuk bercerita tentang hal yang dia alami selama ini.
" Gue melihat sesuatu yang tidak seharusnya di dapur. Dan ada bau kemenyan juga. " Akhirnya Fian mengungkapkan apa yang dia alami.
" Hanya itu.. Sampai sepucat itu. seperti mayat hidup. Hahaha.." Ran tertawa. Dia malah ingin menggoda Fian yang terlihat ketakutan.
" Malah tertawa. Gue serius Ran. Dua rius malah.." Fian kesal ditertawakan oleh Ran. Padahal dia tidak berbohong. Dan Ran tahu itu. Ran hanya ingin mencairkan suasana yang tegang.
" Boleh gue tahu, Lo tadi melihat apa..." Ucap Ran lirih. Dia melihat ke kanan dan kiri seolah takut ada yang mendengar ucapannya.
" Lo lihat apa sih. Jangan bikin gue tambah takut deh...." Fian ikut melihat ke sekeliling.
" Hahaha.... cowok kok penakut.." Ran tergelak. Entah dia merasa senang melihat Fian yang seperti ini. Tidak lagi bisa menindas dia. Ran hanya ingin menunjukkan pada Fian untuk berani menghadapi apapun.
" Ran... Lo aneh deh. Selama gue kenal Lo, Lo tidak pernah bersikap seperti ini."
" Maaf Fian.. Gue hanya merasa lucu saja. Ini siang hari ya. Lo melihat atau mendengar sesuatu yang aneh dan Lo setakut ini. Enggak sebanding sama sikap Lo selama ini.." Ran mencibir.
Fian terdiam. Memang benar apa yang Ran katakan. Kemarin waktu ada Bara, Fian melihat foto yang berkedip ,dia masih berani. Karena ada temannya mungil. Dan sekarang dia sungguh sangat ketakutan ketika melihat penampakan di dapur. Atau sebenarnya dia memang penakut. Fian menggeleng. Dia merasa malu.
" Ok deh, sekarang Lo cerita ada apa. Apa yang Lo alami tadi.." Ran terlihat serius sekarang. Dia sebenarnya ingin tahu apa yang Fian alami.
" Enggak jadi.. Nanti Lo ketawa. Lo ngatain gue penakut..." Fian merajuk. Dia sebenarnya merasa malu. Tapi memang tadi sangat menakutkan buat dia.
" Fian, boleh gue bertanya.." Ran berhenti sebentar. Melihat Fian mengangguk Dan meneruskan ucapannya. Namun sebelumnya dia menarik nafas panjang terlebih dahulu. Karena tiba-tiba dadanya terasa sesak.
" Apa Lo mendengar desas-desus yang beredar di masyarakat belakangan ini..?" Tanya Ran, dia memandang Fian.
Fian masih diam. Dia bingung mau berkata apa. Dia ingin menyembunyikan apa yang dia tahu agar keluarga ini tidak tersakiti. Namun tidak mungkin jika mereka tidak tahu. Karena memang berita itu sudah tersebar luas di masyarakat.
" Katakan saja, kita tidak apa-apa. "
" Sebenarnya gue ingin menyembunyikan semuanya. Namun pasti kalian sudah mendengarnya."
" Iya Fian, Kasian bunda dan Ayah."
Ran menunduk. Setetes air mata jatuh. Dia merasa tidak tega melihat bunda yang selalu terlihat sedih.
" Jangan bersedih, sebaiknya kita selidiki semuanya. " Fian mengusap lengan Ran pelan.
Dan Ran tentu terkejut. Dia segera menghindar. Merasa tidak nyaman. Takut ada yang berpikir yang tidak-tidak.
" Maaf..." Fian memandang Ran penuh penyesalan.
" Iya tidak apa-apa. Cuma takut ada fitnah .." Ucap Ran lirih.
" Iya gue ngerti.."
" Cie... Cie yang berduaan.."
Tiba-tiba terdengar suara Rama. Dia berdiri di ambang pintu dengan senyum menggoda dan alis yang bergerak keatas ke bawah.
" Cih.. Ganggu aja." Fian melengos.
Ran hanya tersenyum. Dia tidak pernah memikirkan celotehan Rama yang selalu menggodanya.
" Mana bumbu rujak. Ditungguin malah pacaran.." Ucap Rama lagi. Dia melangkah masuk sambil membawa jambu tadi.
" Astaghfirullah lupa.." Ran menepuk jidatnya. " Ya sudah sekarang Ran bikin dulu."
" Iya cepetan kak. Tidak usah diurus satu orang ini. " Ucap Rama lagi.
" Fian tadi tidak sengaja saya dengar kamu mau menyelidiki kebenaran berita yang beredar ya.." Bara Mendekati Fian dan duduk di sampingnya.
" Abang juga sudah mendengar berita itu ?" Tanya Fian.
" Sudah, saya sudah mendengar dari dua hari yang lalu waktu saya lewat jalan depan. Makanya hari ini saya ingin memastikan semuanya." sambung Bara.
" Iya bang. Baru hari ini juga gue sempet kesini. Rencananya mau bertanya sama Ran atau Rama. Dan tadi..." Fian menghentikan ucapannya. Dia hampir saja keceplosan. Fian merasa malu jika ingin dia yang begitu ketakutan. Namun dia tetap harus menceritakan
" Tadi apa ? Kok tidak diteruskan ceritanya. Apa ada yang terjadi..?" Bara terlihat penasaran dengan ucapan Fian yang terpotong.
Bara memandang Fian meminta penjelasan. Namun Fian terlihat masih diam. Dia sedang menimbang bagaimana sebaiknya bersikap.
"Sambal sudah jadi......"
Bersambung
Yuk makan rujak dulu. Lanjutkan nanti ceritanya. Habis jambunya lebih menggoda dari cerita Fian.
Terima kasih untuk yang sudah mampir. Love buat kalian semua ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya