Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Atas Altar Mawar
Rasa sakit itu tidak datang dari hunjaman pedang di dadanya, melainkan dari senyuman pria yang berdiri di hadapannya.
Aura Zephyra menatap gaun pengantinnya yang putih bersih, kini perlahan berubah menjadi merah pekat, sewarna dengan bunga mawar yang menghiasi altar kuil suci Zephyr. Di sekelilingnya, api berkobar melahap pilar-pilar marmer. Jeritan anggota klannya terdengar sayup-sayup di kejauhan, bercampur dengan denting senjata dan tawa kejam para penyerang.
"Kenapa, Gavin ...?" suara Aura bergetar, nyaris berupa bisikan di antara kepulan asap. Darah segar menetes dari sudut bibirnya.
Gavin Elrod, pria yang beberapa menit lalu mengucapkan sumpah suci untuk mencintai dan melindunginya seumur hidup, perlahan menarik pedangnya dari dada Aura. Wajah tampan yang biasanya memancarkan kehangatan remaja itu kini tampak begitu dingin dan asing. Tidak ada penyesalan di matanya. Hanya ada keserakahan yang telanjang.
"Kau terlalu naif, Aura," bisik Gavin, berlutut di samping Aura yang perlahan ambruk ke lantai kuil yang dingin. Gavin mengulurkan tangan, bukan untuk memeluknya, melainkan untuk merenggut kalung kristal biru yang melingkari leher Aura—Inti Sihir Klan Angin. "Klan Zephyra sudah terlalu lama menguasai langit. Dunia fantasi Eldoria ini tidak butuh penyihir lemah seperti kalian. Aku hanya membutuhkan kekuatanmu untuk naik ke takhta kekaisaran, bukan cintamu yang kekanak-kanakan."
Aura terengah-engah, pandangannya mulai mengabur. Masa remajanya yang indah, kenangan berlatih sihir di bawah pohon ceri, dan tawa tulus yang ia berikan pada pria ini ... semuanya palsu. Semuanya hanyalah investasi Gavin untuk menghancurkan keluarganya dari dalam.
"Aku ... mengutukmu, Gavin," desis Aura dengan sisa kesadarannya. Air mata darah mengalir di pipinya. "Jika ada kehidupan setelah ini ... aku akan menjadi mimpi buruk yang paling mengerikan dalam hidupmu!"
Gavin hanya tertawa meremehkan. "Mati saja dengan tenang, Aura. Di kehidupan berikutnya, pastikan kau tidak menjadi gadis bodoh."
Pandangan Aura menggelap sepenuhnya. Jiwanya ditarik ke dalam pusaran kegelapan yang tak berujung. Rasa hangat darahnya sendiri adalah hal terakhir yang ia rasakan sebelum jiwanya hancur.
Wush!
Aura tersentak bangun. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah-olah ia baru saja tenggelam dalam lautan terdalam. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa panik yang hebat. Tangannya langsung bergerak menyentuh dadanya.
Tidak ada lubang. Tidak ada darah. Gaun pengantinnya yang merah bersimbah darah tidak ada di sana.
Sebaliknya, ia mengenakan gaun tidur sutra ringan berwarna putih. Aura memandang sekeliling dengan panik. Ini bukan kuil yang terbakar. Ini adalah kamar tidurnya di kediaman Klan Zephyra. Kamar yang luas dengan jendela besar yang menampilkan pemandangan taman mawar biru yang melambai ditiup angin pagi yang sejuk.
"Ini ... di mana?" gumamnya, suaranya terdengar lebih muda, lebih cempreng.
Ia segera berlari ke arah cermin besar di sudut kamar. Di dalam pantulan kaca, ia melihat seorang gadis berusia tujuh belas tahun. Kulitnya seputih porselen, rambut peraknya terurai panjang, dan sepasang mata biru jernih yang belum ternoda oleh keputusasaan.
Aura menatap kalender sihir yang tergantung di dinding. Tahun 742 Kalender Eldoria.
"Dua tahun sebelum pernikahan ... dua tahun sebelum pembantaian," bisik Aura, tangannya bergetar saat menyentuh permukaan kalender.
Dia telah kembali. Jiwanya telah melintasi waktu, kembali ke masa remajanya, ke masa sebelum semua tragedi itu terjadi. Ini bukan sekadar keajaiban; ini adalah kesempatan yang diberikan oleh dewa-dwi Eldoria untuk membalas dendam. Rasa sakit dari pedang Gavin seolah masih membekas di dadanya, membakar habis seluruh kepolosan remaja yang pernah ia miliki. Aura yang naif telah mati di altar itu. Yang tersisa sekarang adalah Aura yang haus akan keadilan darah.
Tok, tok, tok.
"Nona Muda Aura? Anda sudah bangun? Tuan Muda Gavin telah menunggu di aula depan. Beliau membawa hadiah mawar dari ibu kota untuk Anda," suara pelayan setianya, Lily, terdengar dari balik pintu.
Mendengar nama Gavin, rahang Aura mengeras. Aura dingin yang tidak biasa tiba-tiba memancar dari tubuhnya, membuat suhu di dalam kamar turun drastis hingga embun es mulai terbentuk di sudut-sudut jendela. Aura terkejut dengan perubahan ini. Di kehidupan lalu, sihirnya adalah angin yang lembut. Mengapa sekarang ... ada es?
Ia mengabaikan pertanyaan itu untuk sementara. Ia menarik napas dalam-dalam, menekan semua kemarahan dan kebencian ke dasar hatinya, lalu memasang topeng senyuman manis yang biasa ia gunakan.
"Iya, Lily. Katakan pada Gavin, aku akan segera turun," jawab Aura dengan nada suara yang riang, sangat kontras dengan matanya yang sedingin badai salju.
Di aula depan yang megah, Gavin Elrod berdiri dengan anggun. Ia mengenakan jubah biru khas bangsawan kelas atas, dengan senyum menawan yang selalu berhasil memikat para gadis remaja di kekaisaran. Di tangannya, ia memegang sebuket mawar merah sihir yang mekar abadi.
Ketika mendengar langkah kaki menuruni tangga, Gavin menoleh dan tersenyum lebar.
"Aura, lihat apa yang kubawakan untuk—"
Kata-katanya terhenti saat melihat Aura. Gadis itu berjalan menuruni tangga dengan keanggunan yang berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang berubah dari pembawaan Aura. Jika dulu ia selalu berlari menyambut Gavin seperti anak anjing yang ceria, kini ia berjalan dengan tegak, tatapannya tenang, dan senyumnya ... tampak begitu berjarak.
"Gavin," sapa Aura lembut. Ia menerima buket mawar itu, namun tidak mencium aromanya seperti yang biasa ia lakukan. "Terima kasih atas bunganya. Ini sangat indah."
"Aura, kau tampak berbeda hari ini. Apa kamu sakit?" Gavin melangkah maju, mencoba menyentuh dahi Aura dengan cemas—kecemasan palsu yang dulu selalu membuat Aura tersipu.
Aura dengan halus melangkah mundur, berpura-pura merapikan gaunnya untuk menghindari sentuhan Gavin. Sentuhan pria itu membuatnya mual. "Aku hanya kurang tidur karena memikirkan ujian sihir kekaisaran bulan depan, Gavin. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Ah, ujian itu. Kau tidak perlu terlalu memaksakan diri, Aura. Klan Zephyra sudah memiliki nama besar, dan setelah kita menikah nanti, aku yang akan melindungimu," kata Gavin dengan nada merayu, persis seperti skenario yang ia gunakan di kehidupan lalu untuk membuat Aura malas berlatih sihir.
Melindungiku? Atau melemahkanku agar mudah kau hancurkan? batin Aura mencemooh.
"Tentu saja," jawab Aura, tersenyum manis. "Oh ya, Gavin. Aku mendengar kabar bahwa Pangeran Kaelen Vane dari Wilayah Utara sedang berada di ibu kota untuk menghadiri pertemuan perserikatan klan. Apakah itu benar?"
Gavin mengerutkan kening mendengar nama itu. Ekspresi jijik kilat lewat di matanya. "Kaelen? Si monster dari Utara itu? Ya, dia ada di sini. Tapi untuk apa kau menanyakannya, Aura? Dia adalah pria yang berbahaya dan kejam. Ayahmu bahkan melarang kita mendekatinya."
Kaelen Vane. Dalam kehidupan lalu, pria itu adalah musuh bebuyutan Gavin. Kaelen adalah satu-satunya orang yang hampir menggagalkan rencana Gavin sebelum akhirnya Kaelen tewas dalam konspirasi jebakan yang licik. Kaelen dikenal sebagai pria berdarah dingin yang tidak tersentuh oleh wanita, namun kekuatan militernya di Utara adalah yang terkuat di seluruh Eldoria.
Jika Aura ingin menghancurkan Gavin dan melindungi klannya, ia tidak bisa melakukannya sendiri. Ia membutuhkan sekutu yang kuat. Seseorang yang sama-sama membenci takhta kekaisaran saat ini. Dan orang itu adalah Kaelen Vane.
"Aku hanya penasaran karena mendengar para pelayan membicarakannya," kata Aura santai, meletakkan buket bunga mawar dari Gavin ke atas meja marmer dengan acuh tak acuh. "Gavin, maafkan aku, tapi kepalaku tiba-tiba terasa sangat pening. Kurasa aku harus kembali ke kamar untuk istirahat."
Gavin tampak sedikit kecewa, namun ia segera menyembunyikannya dengan senyum pengertian. "Tentu, Aura. Istirahatlah. Aku akan datang lagi besok."
Setelah Gavin pergi, Aura menatap buket mawar merah di meja. Dengan lambaian tangannya yang acuh tak acuh, embun es tiba-tiba menjalar dari ujung jarinya, membekukan seluruh buket bunga itu dalam hitungan detik, sebelum akhirnya mawar-mawar itu hancur menjadi serpihan es yang tak berharga di lantai.
Aura menatap serpihan itu dengan mata yang berkilat tajam. "Gavin, permainan baru saja dimulai. Di kehidupan ini, akulah yang akan menulis akhir ceritamu."
Langkah pertama dari pembalasan dendamnya adalah membatalkan pertunangan ini. Dan untuk melakukan itu, ia harus menjual dirinya kepada sang monster dari Utara—Pangeran Kaelen Vane. Melalui sebuah pernikahan kontrak yang akan mengguncang seluruh fantasi Eldoria.