Karena kesalahan yang dilakukan nya di masa lalu membuatnya harus menanggung semua nya di masa kini.
Bahkan dia harus merelakan angan dan cinta nya untuk menebus kesalahan nya.
Akira Insyira, gadis berusia 23 tahun itu harus rela menikah dengan Rizky Perdana, laki-laki yang menyimpan dendam untuknya demi menyelamatkan orang yang
dicintainya.
********
Love can be learn. Walau kadang kita sendiri tidak tau bagaimana cinta itu bisa datang. Dia datang tanpa kita punya waktu untuk belajar tentangnya.
#Akira Insyira
Manusia tidak akan menghargai sesuatu yang bergarga, jika dia tidak pernah merasa sakitnya kehilangan orang terkasih.
#Rizky Perdana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrCo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SWEET REVENGE 25
"Ibu rasa, terlalu cepat untuk Kira kalau harus membangun rumah tangga sekarang. Lagipula, Kira tinggal satu tahun lagi selesai kuliah. Apa gak sebaiknya kita tunggu Kira selesai kuliah dulu?" Tanya Bu Rossa.
Kira tersenyum. 'Yes! Sampe aku sama Apin selesai kuliah, abis itu dia gak akan bisa ngancem aku lagi.' Batin Kira.
Rizky menghela nafas lalu berkata, " Bukan saya gak bisa nunggu, tapi saya rasa lebih cepat lebih baik. Maaf kalau saya datang kesini seorang diri untuk membicarakan masalah ini tanpa membawa kakak saya. Cuma dalam minggu ini Dia sibuk mengurus perusahaan." Jawab Rizky.
"Hmm. Orangtua kamu kerja apa?" Tanya Pak Hassan Ayah Kira
"Ayah dulu CEO. Setelah ayah meninggal, perusahaan jatuh ke tangan Kakak. Saya pun baru mulai belajar karena baru selesai kuliah." Jawab Rizky
"Kalau Ibu?" Tanya Bu Rossa Ibu Kira
"Ibu juga sudah meninggal." Jawab Rizky sambil tersenyum. Bu Rossa menatap lekat wajah Rizky.
"Saya minta maaf kalau kedatangan saya kesini tanpa persiapan. Tapi saya serius mau menjaga Kira, saya cuma punya kakak sekarang. Mungkin lucu dengernya kalau saya ngomong ini, tapi dengan adanya Kira disisi saya, saya bisa dapat lebih. Maksud saya, orangtua yang bisa saya ajak berdiskusi, saya juga mendapat kasih sayang seorang ibu, masakan ibu, nasehat dari ayah." Jelas Rizky
Kira menatap mata Rizky. 'Apa maksud dia?' Batin Kira. Kira melirik kedua orangtuanya, pandangan mereka sendu. 'Kenapa mereka?' Batin Kira
Kira merasa aneh melihat tatapan kedua orangtuanya. Kira menyiku Ibunya, "Bu...." Belum sempat Kira melanjutkan, Ibunya terlebih dulu membuka suara.
"Kapan Ibu meninggal?" Tanya Bu Rossa. Kira membulatkan matanya merasa ada yang aneh dari pertanyaan ibunya.
"Waktu saya umur tiga tahun." Jawab Rizky.
"Kalau Ayah?" Tanya Bu Rossa lagi.
"Waktu saya belajar di Ireland, waktu umur 19 tahun." Jawab Rizky.
Kira mulai merasa ada gelagat aneh dari kedua orang tuanya.
"Tapi Om sama Tante harus nanya dulu sama Kira, apa keputusan dia. Kami takut nanti dia tidak bisa fokus belajar." Jawab Ayah Kira menengahi pembicaraan.
Rizky tersenyum. "Saya paham. Om sama Tante butuh waktu untuk berfikir. Nanti kalau semuanya sudah selesai, saya akan minta tolong kakak saya untuk datang melamar." Jawab Rizky.
Bapak Hassan mengangguk-anggukan kepalanya lalu menatap Kira yang kalang kabut.
"Kita makan siang sama-sama sebentar lagi ya." Ucap Bu Rossa memecah keheningan yang terjadi. Rizky mengangguk.
"Assalamualaikum!" Jerit Dilla dari luar.
"Waalaikumussalam." Serentak isi rumah menjawab. Wajah Dilla yang tadinya letih berubah ceria seketika.
"Gantengnya!!!" Perkataan pertama yang keluar dari bibir Dilla ketika menatap Rizky. Rizky melebarkan senyumnya.
Kira mengepalkan tangannya. 'Ish! Dasar bikin malu!!' Batin Kira.
"Ini Kak Rizky." Bu Rossa bangkit dari duduknya menyambut Dilla
"Ini anak bungsu Ibu, Fadillah." Lanjut Bu Rossa lalu pamit ke dapur.
"Hai kak! Aku Dilla. Jangan panggil Fadillah, aku gak suka." Dilla memperkenalkan dirinya. Kira menatap jengah kearah Rizky dan Dilla lalu beranjak ke dapur menemani ibunya.
Setelah makan siang, Rizky pamit untuk kembali karena urusannya disini telah selesai.
"Jadi sekarang, jawabannya ada di lo dan gua udah tau jawabannya. The wedding is on." Ucap Rizky disela kegiatannya memasang seatbelt. Rizky sempat memandang keluar dengan senyum yang terus mengembang.
Kira menurunkan kaca mobil Rizky, "Nanti kakak kabarin kalo kakak udah sampe!!" Kira melambaikan tangannya.
"Iya. Hati-hati bawa mobilnya." Pesan Bapak Hassan pada Rizky. Rizky hanya menganggukan kepalanya.
"Bu, Kak Kira mau nikah sama kakak itu ya?" Tanya Dilla
"Iya."
"Kapan?"
"Dalam waktu dekat."
Dilla terdiam. 'Kalo Kak Putri tau pasti dia histeris. Kemaren dia minta ibu nikahin dia, tapi gak boleh. Ibu bilang jangan ada yang nikah kalo belom selesai kulliah, tapi ini?' Batin Dilla.
Selama perjalanan keduanya terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Pukul 10 malam Kira tiba di rumah kontrakannya.
"Let's get prepared, dokumen dan semua keperluan nikah." Tawar Rizky. Kira hanya menatap kosong rumah kontrakannya, keadaan kembali sunyi.
Rizky menoleh kearah Kira. "Kira!!" Panggil Rizky.
"Assalamualaikum." Kira membuka pintu mobil dan menghempasnya kuat. Kakinya melangkah masuk kedalam rumah tanpa menoleh kebelakang. Air matanya perlahan turun membasahi pipinya.
Rizky senyum sinis disetiap langkah Kira. 'Semua rasa sakit yang pernah aku rasa, kini saatnya kamu ngerasain itu semua. Thanks to the words you're saying, aku semakin yakin untuk balas dendam.' Batin Rizky.
Malam yang panjang. Entah berapa banyak air mata yang keluar, Kira tak tau. Hampir jam 12 malam, sebentar lagi hari ulang tahun Apin yang ke 23 tahun. Kira perlahan bangun dan keluar dari kamarnya.
Kira mengelap airmatanya lalu berjalan ke dapur. walaupun kepalanya kusut karena berbagai hal, Kira punya satu trik yang bisa digunakan untuk mengurangi tekanan di kepalanya. Masak.
Kira mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas dan lemari. Apron yang tergantung di sisi jendela diraihnya, lalu mengikatnya kebelakang.
"C'mon Kira. Lupakan masalah. Kita buat kue untuk Apin. Here we go." Kira coba menguatkan hatinya.
Disela kegiatannya menyiapkan kue untuk Apin, Kira melirik ke arah ponselnya. Dilihatnya layar ponselnya, air mata Kira tumpah tanpa diperintah. 'Aku selalu inget hari kelahiran kamu, tapi kamu cuma dua kali inger sama ulang tahun aku, Apin.' Batin Kira.
Kira merasa bodoh menyukai laki-laki yang tidak ada perasaan apapun padanya. Tapi Kira tetap mencintai laki-laki itu karena dia yakin jodoh itu milik allah. Dia selalu berusaha dan berdoa untuk laki-laki itu agar melihat cinta yang telah diberikannya selama ini.
Biarlah jika memang dia ditakdirkan untuk memberi cinta saja pada Apin, dan tidak mendapat balasan. Kira akur, Allah tau. Itu yang terpenting bagi Kira
Selesai membuat kue untuk Apin, Kira kembali kekamarnya, badanya baru merasa letih. Baru memejamkan matanya, Kira lalu terbuai di alam mimpinya. Dalam senyumnya, ada air mata yang menetes dalam tidurnya.
Rizky tidak bisa tidur. Dia tau hari ini hari ulang tahun Apin, pasti Kira menyiapkan sesuatu untuk laki-laki itu. Rizky semakin resah memikirkan tentang hadiah yang akan diberikan Kira untuk laki-laki itu.
Rizky menggapai ponselnya, menelfon Kira. Berdering beberapa kali lalu kembali sepi.
"Gak diangkat?!" Rizky semakin kelimpungan karena panggilannya tidak dijawab Kira.
"Apa yang dia siapin buat Apin?!" Rizky mengacak-acak rambutnya. Kepalanya tidak dapat berfikir tentang apa yang akan diberikan Kira untuk Apin.
Lama dia berfikir hingga air mata jatuh tanpa dia sadari. Rizky menggosok matanya dengan punggung tangannya dan langsung naik ke King size miliknya. Selimut ditarik membalut tubuhnya, guling dipeluknya erat sambil matanya dipejam rapat-rapat walaupun ada air mata yang menetes.
Terima kasih sudah mau membaca novel saya.
Mohon maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam novel saya karena saya masih belajar.
Terima kasih
by Emaknya Queen mampir nih kak
Semangat terus Kak Author
dukungan like sudah mendarat 🤗
salam dari Barryneald