NovelToon NovelToon
Putih Semu Jingga

Putih Semu Jingga

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Menikah Karena Anak / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:359.2k
Nilai: 5
Nama Author: NaraY

Ini bumi dimana tradisional dan modern bergabung.

Ramainya upacara pernikahan adat bergabung dengan tradisi pedang pora malam ini turut menjadi saksi bisu kealpaannya. Tanpa sengaja Letnan muda itu mabuk karena ulah para rekannya. Lebih parahnya lagi ia menyentuh seorang gadis yang sama sekali tidak di kenalnya.

Beberapa tahun berlalu, takdir mempertemukan dirinya dengan seorang anak laki-laki yang mirip dengannya. Matanya, hidungnya, bibirnya sampai perawakan tubuhnya bahkan sifat garang dan pemberaninya sangat mirip dengan dirinya.

"Saya terpaksa mencarimu."

"Apa kita pernah saling kenal?"

"Secara langsung tidak, tapi anak ini menuntunku agar kita saling kenal." Jawab wanita tersebut. "Pendopo kesultanan, usai pernikahan seniormu."

"Kamu.. gadis yang malam itu........."
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Putih semu Jingga.

Bang Girish panik melihat tiba-tiba sahabatnya terdiam namun meremas dadanya dengan kuat.

"Senooo..!!"

Seorang team medis yang sedang siap siaga disana segera membantu memasang cungkup oksigen pada jalur pernafasan Bang Seno.

Bang Girish yang prihatin hanya bisa mengusap kening sahabatnya yang basah oleh air mata.

Tak lama terdengar suara teriakan histeris dari luar sana. Suara Bang Bija yang nampaknya juga syok dengan kejadian ini.

"Dimana keponakanku???" Tanyanya.

"Sabar Pak, Almarhum Gilang sedang mendapatkan perawatan khusus."

"Tidak.. kenapa bisa jadi seperti ini??? Apa bapaknya tidak bisa mengurusnya???" Bentak Bang Bija emosi.

Bang Girish yang tau kondisi sahabatnya tak lagi bisa membendung amarahnya. Ia segera keluar dari ruangan perawatan Gilang dan menghampiri Bang Bija. Kali ini dirinya tak mengenal senior dan junior.

plaaakk.. buugghhh...

Tamparan dan hantaman mengarah ke wajah Bang Bija. "Saya sudah katakan.. jangan mengedepankan emosi untuk mencari solusi. Disana banyak kesakitan dan luka yang mungkin tidak akan pernah kering. Coba sedikit saja Abang berbaik hati pada mereka. Mereka tau semua yang terjadi adalah kesalahan, tapi kesalahan tersebut mereka tanggung demi anak dan sekarang anak mereka yang satu lagi sedang sekarat. Apa Abang masih mau dan tega menambah beban psikis mereka. Pikirkan kebaikan untuk mereka Bang, jangan mengikuti emosi tidak berarti." Tegur Bang Girish.

"Astagfirullah hal adzim..!!" Bang Bija terdiam sejenak. Semua ini memang sangat berat untuk di rasakan. Pasti begitu pula dengan Seno dan Laras yang mengalaminya.

"Laras belum tau masalah ini, dan mental Seno sendiri sudah down dan tenaganya drop. Bagaimana pun kita harus mendampingi mereka.

...

Bang Seno sudah lebih baik, ia memasrahkan urusan persemayaman dan pemakaman Gilang sedangkan ia sendiri akan memberi tau Laras dan pasti akan menenangkan istrinya itu.

Perlahan Bang Seno berjalan masuk ke dalam ruangan. Laras baru saja siuman. Wajah masih menahan ribuan kesakitan.

"Gilang bagaimana Mas?" Tanya Laras.

"Bagaimana keadaan mu. Apa sudah baik-baik saja?" Bang Seno mengalihkan perhatian Laras.

Laras adalah seorang ibu, tentu saja dirinya peka dengan keadaan Gilang.

"Apa yang terjadi dengan Gilang?"

Bang Seno mengusap rambut Laras yang halus dan lembut.

"Lapar atau tidak?"

"Maaass.. Laras tanya tentang Gilang." Tanya Laras seakan habis kesabaran.

Sekarang atau nanti Laras pasti akan tau keadaan putranya juga. Bang Seno menarik nafas panjang menguatkan hati lalu menatap lekat kedua bola mata Laras.

"Gilang.. sudah tiada."

Laras terdiam sejenak mendengarnya. Ada senyum kepahitan yang ia rasakan. "Mas bohong khan?"

"Sabar Dinda.. kendalikan dirimu..!!" Pinta Bang Seno. Sekuat hati dirinya juga mengendalikan perasaan.

"Laras mau Gilang..!! Gilang milikku Mas..!!!" Laras berteriak histeris dan sulit untuk di kendalikan. "Laras mau lihat Gilaaang..!!!"

Bang Seno menengok kesana kemari mencari dokter. Setelah mempertimbangkan banyak hal akhirnya dokter mengijinkan Laras meninggalkan rumah sakit asalkan masih dengan pengawasan yang ketat.

...

Bang Seno memapah langkah Laras menuju kerumahnya. Para anggota menyalami Bang Seno dan juga Laras. Para istri anggota pun memeluk Laras dengan tulus. Mereka ikut prihatin dengan apa yang telah menimpa Laras dan Bang Seno.

"Saya turut berduka cita ya Bu Seno..!!"

Laras kehabisan kata dan hanya bisa membalas pelukan 'saudara' barunya. Bang Seno sudah lebih bisa mengendalikan emosi tapi tidak dengan Laras yang kembali histeris melihat Gilang terbujur kaku di ruang tamu rumah Bang Seno. Tubuh kecil itu tertutup kain jarik. Tampak senyum tampan menghias wajah pria kecil tersebut.

"Kenapa Gilang tinggalkan Mama????? Adik sudah lahir nak..!! Tunggulah sebentar lagi..!!" Pinta Laras.

Para ibu berusaha memeluk dan menenangkan Laras karena Bang Seno pun terdiam dengan pandangan kosong seakan nyawa dan raga tak bersatu.

"Mama minta maaf belum menjadi orang tua yang baik untuk Gilang. Mama tidak berusaha keras untuk menyembuhkan Gilang." Laras memeluk dan meratap memeluk Gilang dengan erat. "Biarkan semua orang menolak hadirmu, sejak kamu ada.. Mama tidak pernah menolakmu, Mama menyayangimu melebihi apapun. Mama tau kamu sehebat dan sekuat Papa."

Terlintas dalam benaknya setiap penolakan dari para tetangga yang terus menghakiminya. "Maafkan Mama nak..!! Maaf..!!!"

Tangis Laras tak juga berhenti hingga kemudian nafasnya tersengal. "Pak Seno.. ibu..!!!!!"

Bang Seno segera sigap membantu Laras apalagi istrinya itu siang tadi baru saja melahirkan. "Biar saya yang tangani Bu..!!" Kata Bang Seno.

-_-_-_-_-

Malam terdengar suara para anggota membaca do'a untuk berpulangnya Gilang. Laras masih menangisi kepergian putranya dan hal itu semakin membuat hati Bang Seno menjadi susah.

"Dinda, kita harus terus melangkah maju. Ingat anak kita. Galang juga masih membutuhkan kita..!!"

"Laras mau kembali ke rumah saja, Laras tidak mau lihat rumah ini lagi." Kata Laras.

"Jangan sekarang ya..!!" Tolak Bang Seno padahal ia tau jika Laras memilih pulang ke rumah maka keadaannya akan semakin buruk.

"Laras mau kesana Mas..!!" Pinta Laras semakin tak terkendali.

Pada akhirnya daripada dirinya harus bersitegang dengan Laras, Bang Seno pun mengijinkan Laras untuk pulang ke rumah di bawah pengawasannya.

...

Laras mengusap air matanya melihat rumah yang selama ini di huninya bersama Gilang. Wangi aroma minyak telon masih kental terasa menusuk hidungnya.

Baru satu langkah Laras berjalan, ada seorang tetangga lewat di belakangnya. "Ya ampun, akhirnya anak haram itu sudah tidak ada. Sekarang tidak ada lagi wabah di kampung kita. Eehh tapi benar ya mbak, anak keduanya itu wajahnya mirip kera. Itu pasti karena karma." Ujar seorang ibu pada tetangga yang lain, yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit tempat gilang di rawat.

Saat itu mereka tidak melihat Bang Seno yang masih menunduk mengambilkan sandal milik Laras.

Ucapan tersebut seketika membuat Laras down tak terkecuali Bang Seno yang sangat murka mendengar ucapan ibu tersebut.

"Jadi kalian.. kalian makhluk b****b yang sudah merusak keluarga saya. Atas dasar apa kalian membicarakan keluarga saya????" Bentak Bang Seno membuat ibu-ibu panik dan takut.

"Mak_sud kami......."

Seorang ibu menarik lengan ibu-ibu yang lain dan berniat menghindar tapi Bang Seno menghadang langkahnya bahkan menendang sebuah pot bunga hingga pecah.

"Kalau mau pergi.. pergilah..!! Tapi saya pastikan kalian semua akan mendekam di dalam jeruji besi..!!!"

Dari arah berlawanan, dua orang bapak berlari menghampiri. "Pak.. tunggu Pak..!! Ada apa dengan istri saya?"

"Bapak tanyakan saja pada istri bapak yang sok suci ini..!!" Jawab Bang Seno.

"Kamu buat apa Ma??" Tanya Pak RT menatap wajah istrinya dengan bingung.

"Nggak Pa.. nggak ada." Jawab Bu RT ketakutan.

"Dia menghina almarhum anak pertama saya berbagai anak haram dan saya juga tidak terima dia menghina anak saya yang terlahir prematur seperti kera." Suara Bang Seno menggelegar mengundang para tetangga untuk keluar.

"Maaa... Apa-apaan kamu bicara seperti itu?????" Wajah Pak RT sudah merah padam menahan malu.

.

.

.

.

1
Mawar Merah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣waduh bisa berabe urusanya ma daluman.sumpah perut q sakit bacanya ketawa terus👍👍👍
V-hans🌺
laras kayak wanita murahan bgt si maap maap ya thor
Si Memeh
Luar biasa
titiek
🤣🤣🤣 ada yang semua aman bang
titiek
🤣🤣🤣🤣
titiek
kok Asmarani??
titiek
😭😭😭😭😭
titiek
Ya Allah selamatkan Gilang.
titiek
jgn2 tu komandan yg ngasih obat dl ya
titiek
ni laki bnr2 ya. apa gak ngidam muntah2 ya seno 😁😁
Umun Munawaroh
good
fhittriya nurunaja
Luar biasa
Pipin Nurma
udah ku perbaiki ya kak bintangnya👍👍👍
Pipin Nurma
trima kasih kak nara udah di kelarin novelnya sampai END..ada kepuasan tersediri klo baca novelnya sampe selesai..💪💪💪💪👃 terus berkarua ya lak nara..
Pipin Nurma
kak nara jenapa sekarang gak ada lagunya lagi biasanya setiap novel kak nara pasti ada di sisipin lagunya😁😁😁✌✌✌
jadi bacanya gak tegang amat..🙏🙏
Rittu Rollin
mantaaaanbb
Rittu Rollin
ga ush dirayu², asal dsodorin ATM insyallah amarah lgs reda... hihihi
Nur Asiyah
keren aku suka...
cerita nya bikin hatinano2
Kusriyati Kusriyati
I💓U Thor karyamu luar biasa
Nazwan Faiq
awaaal baca sediiih tapi hadir lah noven yeeh ngakak sendiri dehh jadi 'y🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!