Sekuel After Marriage.
"Anha nggak mau menikah lagi, Ma."
Karena masa lalunya yang kelam, Anha di ceraikan di malam pertamanya.
Satu kali diceraikan, satu kali gagal menikah, itu semua membuat Anha trauma akan yang namanya pernikahan. Anha tidak mau menikah lagi dan memilih untuk sendiri saja.
Hamkan, anak dari teman Mamanya diam-diam memiliki rasa kepada Anha. Akankah Anha mau membuka hati untuk Hamkan?
***
Instagram: Mayangsu_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayangsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gesekan Kulit
“Kamu kenapa ke sini? Tungguin aja aku di sana. Nanti aku bawain makanannya,” kata Anha sambil menutup pintu kulkas setelah mengambil beberapa sayuran dari dalam sana.
Mata Hamkan terlihat menangkap beberapa sayuran segar di meja dapur yang hendak dijadikan salad sayur itu. Anha mencucinya terlebih dahulu satu per satu.
“Mau bantuin kamu,” kata Hamkan dengan singkat sambil berjalan mendekat ke arah Anha.
Kini Hamkan berdiri di samping Anha dan mengambil salah satu piring dari rak tempat piring berada.
Lagipula mengerjakan sesuatu dengan bersamaan bisa cepat selesai, bukan?
Akhirnya Anha lebih memilih untuk fokus mengiris sayurannya dan menatanya di piring. Hamkan pun juga menata selada di piringnya sendiri.
“Maaf, ya, kalau Mama malahan ngerepotin kamu,” kata Hamkan mencoba mencairkan suansa.
“Nggak papa, kok. Aku nggak ngerasa repot sama sekali. Malah aku seneng Tante Asih datang ke sini.”
Hamkan mengangguk. Bingung hendak berbicara apa lagi. Dia tidak pandai mengobrol dengan lawan jenis.
Akhirnya lengang di antara mereka berdua, hanya terdengar suara detik jarum jam yang berada di dinding dapur ini berpadu dengan suara pisau yang sedang mengiris sayuran.
Kini Anha memotong timun menjadi bentuk dadu kecil yang sudah dikupasnya terlebih dahulu.
Anha sekarang menjadi sosok yang pendiam. Bicara paling juga itu-itu saja. Sepertinya maksimal tiga kata. Ia jarang menanyainya balik. Sekarang, dia harus bagaimana?
Sial. Ternyata benar, ya. Sangat susah sekali mencari bahan obrolan dengan wanita. Rasanya canggung.
Anha merasa tidak enak juga jika mereka saling diam-diaman seperti ini. Apalagi waktu itu Hamkan sudah berbaik hati memberinya tumpangan sampai ke rumah. Maka dari itu Anha berinisiatif untuk mengajaknya berbicara duluan.
“Hamkan…”
Hamkan yang merasa terpanggil menengok ke sampingnya.
“Ya?”
Hamkan menatap kembali ke arah semula—piringnya. Ia tersenyum tipis. Kini saladnya sudah jadi, bahkan dia bisa menyelesaikannya lebih cepat daripada Anha.
“Hamkan… Aku mau tanya ke kamu. Kenapa dulu waktu aku sama mama pergi ke makan malam malahan kamu nggak dateng? Padahal, kan, Tante Asih yang ngundang kami berdua buat ngehadiri makan malam bersama.”
Anha masih penasaran akan hal itu. First impression Hamkan pertama kali memang tidak begitu bagus bagi Anha.
Hamkan meringis, ternyata memang benar adanya jika wanita itu ahlinya dalam mengingat, dan ahli sejarah juga.
Sebenarnya bukan berniat tidak menghadiri acara perjodohan makan malam itu. Hanya saja….
“Aku… aku minta maaf, ya, kalau waktu itu nggak dateng. Aku lagi ada kerjaan di luar negeri. Sedangkan Mama nggak bilang itu semua dari awal, mama ngerencananin itu semua secara sembunyi-sembunyi. Aku minta maaf,” kata Hamkan sambil menggaruk ujung hidungnya.
Anha mengangguk. Hanya menjawab dengan satu kata pendek yaitu….
“Oh.”
Hanya begitu saja.
Sekarang suasana di sini canggung kembali. Hamkan melirik sedikit Anha dari sudut matanya yang saat ini sedang menuang sause mayonnaise dari wadah ke pinggiran piring—takut apabila Tante Asih tidak suka mayonnaise.
Hamkan jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati. Apa jangan-jangan Hamkan di mata Anha adalah sosok yang membosankan, ya?
Hamkan menatap ulang saladnya yang sudah jadi, tapi dia belum menuangkan saus mayonnaise sama sekali.
Tangannya terulur hendak mengambil sendok yang berada di dalam wadah mayonnaise tersebut namun tanpa disengaja sama sekali tangan kirinya bersentuhan langsung dengan kulit tangan kanan Anha yang ternyata juga hendak mengambil mayonnaise itu lagi karena merasa kurang pada saladnya.
Hamkan terdiam, mata mereka saling tatap beberapa detik.
“Ma-maaf,” kata Hamkan refleks. Bahkan dia tidak tahu kenapa juga dia meminta maaf untuk hal yang tidak ia sengaja.
“Gapapa, kok.”
Sialanannya, hanya satu gesekan antar kulit dengan kulit saja bisa menimbulkan gelenyar aneh di benaknya.
***
makasih udah bikin karya sebagus ini
banyak pembelajaran yang bisa diambil
si hamkan pula juga msh banyak perempuan suci msh ngejar² bekas orang