Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Rela Berkorban.
"Umiiiiiiik." Jerit Lexsa dan Hana.
Mereka langsung bersimpuh, saat melihat Umik Ainun tergeletak tak berdaya. Motor yang menabraknya terpental jauh, dan langsung di amankan masa.
Banyak orang berdatangan melihat keadaan Umik Ainun. Dan memberikan bantuan, memanggil ambulan.
"Umik, bangun. ya Allah, bagaimana ini Lex." Ustazah Hana menangis. Begitu juga Lexsa.
"Hiks hiks,, Maafkan kami Umik, bangun Umik," Lexsa juga sangat histeris melihat Umik Ainun tidak sadarkan diri dan darah di kepalanya mengalir deras.
Bayangannya akan Ibu Karren masih sangat terngiang dikelpalanya. Sosok ibu yang pergi meninggalkannnya.
"Ayo mbak, kita angkat, ambulan sudah datang." Ujar Salah satu orang yang ada di kerumunan itu.
Akhirnya Umik Ainun di bawa ke rumah sakit, Lexsa dan Hana langsung ikut mobil Ambulance itu. Tak peduli mobil Lexsa ditinggal, yang ada dibenaknya hanya ingin menyelamatkan Umik Ainun saja.
Mobil melaju dengan kencang, tak lama kemudian mobil sudah sampai di rumah sakit Soetomo surabaya.
Segera Umik Ainun di larikan ke ruang UGD. Lexsa dan Ustazah Hana mondar mandir di depan UGD, mereka panik. Dan bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap Umik Ainun.
"Lexsa, cepat telepon Gus Fariz, kita harus memberitahu beliau. Kalau sampai terjadi sesuatu kita yang akan disalahkan."
"Baik Ustazah."
Lexsa segera menelpon Gus Fariz.
Tut tut tut
"Assalamualaikum Gus,"
"Waalaikumsalam, Iya. Dimana Umik, apa umik tidak mabuk, atau sakit." Ujar Gus Fariz dari sebrang sana.
"Maafkan kami Gus, maaf," Lexsa diam
"Ada apa?" Panik
"Umik, Gus," diam
"Iya kenapa dengan Umik???" Semakin panik
"Umik di tambrak motor sewaktu mau menyebrang ke parkiran."
Tuuuuuuut
Panggilan terputus. Lexsa sangat takut sekali, tapi apapun yang terjadi, dia harus menerima kenyataan, bahwa akan di marahi oleh Gus Fariz.
"Keluarga Ibu Ainun," Tiba-tiba dokter memanggilnya.
Segera Lexsa dan Ustazah Hana menghampirinya.
"Iya Dokter, bagaimana dengan Umik?" Tanya Lexsa panik.
"Pasien banyak meengeluarkan darah, dan harus mendapat darah Ab, tolong segera di carikan. Karena kalau dalam satu jam tidak menemukannya, kami tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Dimana kami harus mendapatkannya Dok?" Tanya Ustazah Hana.
"Dirumah sakit sedang kosong, coba ke apotik dekan rumah sakit ini., biasanya ada."
"Sepertinya darah saya Ab Dok. Boleh dicek dulu." Ujar Lexsa. Yang tiba-tiba ingat jika golongan darahnya Ab.
"Boleh, segera ikut kami."
Ujar salah satu suster yang berdiri di samping dokter. Lexsa segera ikut untuk diperiksa. Sedangkan Ustazah Hana masih menunggu di depan UGD.
Pemeriksaan pun berhasil. Dan hasilnya, kesehatan Lexsa baik-baik saja. Segera di ambil darah Lexsa, mungkin tidak semua orang kuat, setelah mendonorkan darahnya. Sama seperti Lexsa, yang terlihat pucat dan lemas. Kini Lexsa berbaring tidak berdaya. Tubuhnya benar-benar lemas sekali, tapi bagi Lexsa itu hal yang baik, dan bisa menyelamatkan Umik Ainun.
Ustazah Hana, menghampiri Lexsa, membawa Air dan makanan.
"Mbak Lexsa belum makan, ayo makan dulu. Biar tubuhnya cepat sehat. Karena kita harus menjaga Umik."
"Makasih Ustazah, sudah merawat saya. Yang terpenting nyawa Umik bisa diselamatkan. Karena kalau tidak, kita akan sangat bersalah. Ustazah, kirimkan lokasi kita ke Guz Fariz, supaya beliau langsung kesini."
"Iya, saya akan kirim pakai Handphone Mbak Lexsa."
Jam menunjukkan pukul 5.00. Lexsa yang tertidur karena pengaruh obat, terkejut saat melihat sosok orang yang ditakuti berdiri dihadapannya.
"Maafkan saya Gus." Ujar Lexsa pelan dengan rasa bersalah.
"Terimaksih sudah menyelamatkan Umik. Allah sudah memberi petujuk yang luar biasa. Lewat kamu umik bisa tertolong."
"Apa yang saya lakukan adalah kewajiban, justru kami yang merasa bersalah terhadap Umik dan ke Kiai juga Gus."
"Sudahlah, kamu jangan berpikir seperti itu, sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulillah, sudah tidak pusing dan lebih enakan. Bagaimana keadaan Umik Gus?"
"Alhamdulillah, sudah diruang rawat inap. Dan sudah sadar juga. Kamu sebaiknya istirahat dulu yang cukup, biar kamu tidak sakit."
"Syukurlah Gus, terimakasih Gus."
"Sama-sama. Nanti kalau perlu apa-apa kamu panggil Ustazah Hana,"
"Baik Gus."
"Oh iya, untuk administrasi yang sudah kamu bayar, biar saya ganti nanti, kirimi nomor Rekeningnya saja."
"Tidak perlu Gus, suatu kehormatan dan membanggakan karena bisa menolong Umik."
"Jangan seperti itu. Kamu sudah berkorban untuk umik, masalah uang harus saya ganti. Sekarang istirahatlah."
"Terimakasih Gus. Tapi benar tidak apa-apa, saya ikhlas."
"Dan saya tidak mau,"
"Terserah Gus saja, saya manut."
"Saya pamit temui Umik dulu."
Lexsa mengangguk, setelah Gus Fariz pergi, ganti ustazah Hana yang menemani Lexsa.
"Ustazah kalau mau istirahat, gak apa-apa saya ditinggal sendirian saja. Ustazah juga harus istirahat biar tidak sakit."
"Saya sudah istirahat tadi disini, karena Mbak Lexsa belum bangun. Dan di kagetkan Gus Fariz datang."
"Waktu Gus Fariz kesini, apa tidak marah ke ustazah."
"Hampir saja marah, tapi suster yang datang menjelaskan kalau Mbak Lexsa sudah mendonorkan darah. Dan saya lajut menjelaskan kejadiannya, akhirnya Gus Fariz percaya." Jelas Ustazah Hana.
Karena sudah merasa nyaman, Lexsa meminta suster membuka infusnya, setelah di buka infusnya, Lexsa dan ustazah Hana pergi menuju ke kamar Umik Ainun.
Ada Kiai Furqon, dan santri putra yang menjadi sopir Kiai. Lexsa dan Ustazah Hana berdiri agak jauh, karena merasa sungkan kepada Kiai Furqon. sedangkan Gus Fariz tidak tampak di di depan kamar Umik Ainun.
"ustazah Hana, Lexsa," panggil Kiai.
Mereka langsung mendekat, dengan kepala menunduk, sopan sekali.
"Iya, Kiai,"
"Kamu sudah membaik, kenapa tidak istirahat," Ujar Kiai Furqon pada Lexsa.
"Sudah tidak pusing Kiai."
"Terimakasih, sudah menyelamatkan Umiknya. kamu sudah berbaik hati sampai-sampai tidak perduli kesehatanmu sendiri."
"Dengan senang hati Kiai, asal bisa berguna saya sudah bersyukur." Jawab Lexsa.
"Kalian masuk saja, temani umiknya. Ada Fariz didalam. Saya mau ke mushollah dulu."
"Baik Kiai."
Mereka pun masuk, Umik ainun tersenyum melihat Lexsa. Dan tanpa terasa Umik Ainun meneteskan air matanya.
"Lexsa sini dekat Umik." memanggil Lexsa
Lexsa melangkah menuju arah Umik Ainun yang masih tidur di ranjang.
"Maafkan Kami, Umik. Sudah lalai menjaga jenengan." Lexsa menunduk.
"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah, justru saya sangat berterimakasih. Saya punya hutang budi sama kamu."
"Umik tidak perlu seperti itu, selama masih bisa bantu, lexsa akan bantu."
"Kalian sudah makan,"
"Belum Umik,"
"Pergilah cari makan dulu, ini uangnya." Gus fariz menyodorkan uang seratus ribuan 2 lembar."
"Terimakasih Gus, saya ada."
"Mungkin uang ini tidak seberapa kalau untuk kamu, tapi tolong diterima, kalian tanggung jawab kami" Ujar Gus Fariz.
Demi menjaga perasaan Gus Faris, uang yang di sodorkan akhirnya diterima. Setelah itu Ustazah Hada dan Lexsa pergi menuju kantin rumah sakit.
Saat dijalan, Lexsa tanpa sengaja menabrak seseorang, yang membuat mata Lexsa terbelalak.
.......
Yuk like, komen, tekan tanda bintang... biar author makin semanga.
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..