NovelToon NovelToon
Gendhis

Gendhis

Status: tamat
Genre:Ibu Pengganti / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Ibu Tiri / Kontras Takdir / Chicklit / Tamat
Popularitas:549.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Sebutir Debu

“Jangan dulu makan! Cuci piring dan sapu halaman belakang, baru makan!” Bentak Bunda.

Bentakan, hardikan dan cacian sudah kenyang aku terima setiap hari. Perlakuan tak adil dari dua saudara tiri ku pun sering aku dapatkan. Aku hanya bisa pasrah, hanya ada satu kekuatan untuk ku masih bertahan tinggal dengan ibu tiri ku, semua karena demi ibu ku!

Ya, ibu yang mengalami Gangguan Jiwa sehingga harus di rawat dirumah. Maka aku hanya bisa bersabar menerima semua kondisi ini. Kemana akan berlari sedangkan ibu ku butuh di rawat, namun setiap hari perlakuan ibu tiri pada ibu membuat aku tak dapat menerimanya. Puncaknya saat aku mengutarakan pada ayah ku jika aku ingin kuliah.

“Tidak! Anak perempuan untuk apa kuliah! Kamu hanya akan di dapur! Buang-buang biaya!” Tolak ibu tiri ku dengan keras. Ayah pun hanya mengikuti keinginan istri mudanya.

‘Aku harus menjadi perempuan kuat dan aku harus bisa merubah takdir ku!’ Tekad ku sudah bulat, aku akan merubah takdirku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sebutir Debu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Menghibur Uni Desi dan Talita

Keramaian di mall pada hari libur sangatlah kentara. Suasana yang ramai dan penuh semangat terasa begitu menyenangkan. Ketika aku dan Uni Desi juga Talita memasuki mall, terdengar suara riuh dari berbagai arah. Orang-orang berjalan dengan cepat, sibuk mencari barang-barang yang mereka inginkan.

Di lantai pertama, toko-toko pakaian dan aksesori dipenuhi dengan pengunjung yang antusias. Antrian panjang terbentuk di kasir, menandakan betapa banyaknya orang yang berbelanja. Terdengar suara perbincangan dan tawa riang dari para pembeli yang sedang mencari pakaian terbaru atau mencari barang diskon.

Di lantai atas, food court menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menikmati makanan lezat. Meja-meja penuh dengan pengunjung yang menikmati hidangan mereka sambil bercengkrama. Bau makanan yang menggugah selera mengisi udara, menciptakan suasana yang menggoda.

Di area mainan anak, anak-anak berlarian dengan riang gembira. Terdengar tawa mereka yang ceria dan suara mainan yang berbunyi. Beberapa orangtua berjalan di sekitar, mengawasi anak-anak mereka dengan senyuman di wajah mereka.

Di bioskop, antrean panjang terlihat dari jauh. Orang-orang yang ingin menonton film terbaru dengan sabar menunggu giliran mereka untuk masuk ke dalam. Terdengar suara musik dan promosi film yang diputar di dalam bioskop, menambah kegembiraan dan harapan para pengunjung.

Suasana di mall pada hari libur memang sangat hidup. Keramaian yang penuh semangat dan kegembiraan menciptakan energi yang positif. Meskipun kadang-kadang terasa sedikit sempit dan ramai, namun tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran semua orang di sana menciptakan suasana yang menyenangkan dan menghibur.

Aku, sedang sibuk mengikuti dan menemani Talita, putri kecil Uni Desi, ketika kami berada di mall. Kami berjalan keluar masuk tempat permainan yang ramai dengan anak-anak yang sedang bermain dan tertawa riang. Talita sangat antusias, berlarian ke sana kemari untuk mencoba berbagai permainan yang menarik.

Namun, meskipun aku sibuk mengawasi Talita, pikiranku tidak bisa lepas dari Uni Desi, bosku yang terlihat begitu bersedih akhir-akhir ini. Aku tahu bahwa dia sedang menghadapi masa sulit dalam kehidupannya karena harus memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Meskipun aku hanya seorang anak buah, kami memiliki hubungan yang dekat dan aku ingin memberikan dukungan kepadanya.

Saat kami berjalan di sekitar area permainan, aku melihat Uni Desi duduk sendirian di sebuah bangku. Wajahnya terlihat murung dan pikiranku terasa terbagi antara mengawasi Talita dan memberikan dukungan kepada Uni Desi.

Kami berjalan ke area permainan yang ditujukan untuk anak-anak. Talita langsung bersemangat dan melompat-lompat kegirangan saat melihat berbagai macam permainan yang menarik. Aku berusaha untuk tetap waspada dan menjaga Talita agar tidak terlalu jauh. Meskipun aku masih merasakan beban pikiran tentang situasi keluarga kami, aku tahu bahwa aku harus memberikan perhatian penuh kepada Talita.

Sementara itu, aku melihat Uni Desi duduk sendiri di bangku dekat area permainan. Wajahnya masih terlihat bersedih dan penuh keprihatinan. Aku berharap ada yang bisa aku lakukan untuk menghiburnya, tetapi aku juga tahu bahwa saat ini dia membutuhkan waktu dan ruang untuk menyembuhkan hatinya sendiri.

Talita, yang tidak pernah kehabisan energi, terus berlarian dari satu permainan ke permainan lainnya. Aku berusaha untuk mengikutinya dengan cepat, tetapi dia selalu beberapa langkah di depanku. Ketika aku akhirnya berhasil mengejar dia, kami berhenti sejenak untuk beristirahat.

"Dek, kamu harus hati-hati ya," kataku sambil mengatur napasku. "Jangan terlalu jauh dan selalu tunggu aku di sini jika kamu ingin bermain di tempat lain." ingat ku lagi.

Talita mengangguk dengan wajah ceria. "Baik, Kak Gendhis! Aku akan menunggu kamu di sini," jawabnya sambil melambaikan tangannya.

Kami berjalan kembali ke area permainan, dan aku tetap berada di samping Talita untuk memastikan keselamatannya. Meskipun aku terus merasa sedih dan khawatir tentang Uni Desi, melihat Talita tersenyum dan menikmati setiap momen permainan membuatku merasa sedikit lebih baik.Puas bersama di tempat bermain.

Kami akhirnya mengantar Uni Desi pergi berbelanja baju. Kami bertiga berdua memasuki sebuah toko yang dipenuhi dengan berbagai macam pakaian dan aksesori. Uni Desi adalah seorang wanita yang selalu tampil anggun dan modis, sedangkan aku hanya memiliki penampilan yang biasa saja.

Kami berjalan melewati rak-rak yang penuh dengan pakaian-pakaian cantik. Uni Desi dengan penuh semangat mencari-cari pakaian yang sesuai dengan selera dan gaya busananya. Aku hanya mengikuti langkahnya dengan penuh kekaguman, mengagumi kepiawaiannya dalam memilih pakaian yang cocok.

Tiba-tiba, Uni Desi berhenti di depan sebuah rak yang berisi jilbab-jilbab cantik. Aku melihat-lihat dengan tertarik, namun gagal menemukan yang sesuai dengan selera dan warna yang aku sukai. Uni Desi melihat kebingunganku dan dengan senyuman, ia mengambil beberapa jilbab dan membawanya ke ruang pakaian.

“Ini di coba Ndis, Uni lihat kamu jarang ganti baju. Baju mu itu-itu saja dan gaya nya kurang modis.” Ucap Uni Desi.

Aku mengikuti Uni Desi ke ruang pakaian dan mencoba jilbab-jilbab yang ia pilih. Ketika aku memandang diriku di cermin, aku merasa terkejut dengan perubahan yang terjadi. Jilbab-jilbab itu membuat penampilanku menjadi lebih anggun dan elegan. Aku merasa lebih percaya diri dan bangga dengan penampilanku yang baru. Walau awalnya malu, namun aku ingin menyenangkan Uni Desi, karena saat aku mencoba satu jilbab ia tertawa.

“Hahaha… Gendhis… ga begitu pakai jilbabnya…. Kamu ini anak kuliahan kok ga ikut trend” Tawa Uni Desi terdengar lepas. Aku juga tersipu malu.

Uni Desi melihat kegembiraanku dan dengan penuh kebahagiaan, ia mengatakan bahwa jilbab-jilbab itu sangat cocok denganku. Ia memuji penampilanku yang baru dan berbagi tips tentang cara mengenakan jilbab dengan gaya yang berbeda.

Kami meninggalkan toko dengan senyuman di wajah kami. Aku merasa sangat berterima kasih kepada Uni Desi atas kebaikan dan perhatiannya. Saat di dalam mobil Talita justru memeluk ku erat, Uni Desi mengendarai mobil.

“Kak Gendhis tinggal di rumah terus saja kalau memang ayah pergi keluar kota dan ga tahu kapan pulangnya.” UCap Talita karena ia tak tahu bahwa mamanya akan bercerai.

“Ya.. ndak bisa dong… jauh dari tempat kuliahnya kak Gendhis.” Ucap ku sopan seraya membenarkan poni gadis cantik itu.

“Ndis, Uni setuju dengan apa yang di ucapkan Talita. Berapa bulan ke depan kamu tinggal dulu di rumah. Nanti kamu biar langganan grab atau apa agar tidak susah ke kampus.” Ucap Uni Desi tanpa melihat wajah ku. Bibir ku bahkan di katup oleh Talita karena termangu.

“Ih.. kak Gendhis… kok malah mangap nanti mulut kakak kemasukan lalat gimana…hihi… “ tawa ibu dan anak itu terdengar begitu ceria,sejenak Uni Desi terlihat lebih bahagia dari tadi.

1
Deswita
🙏🙏
Katherina Ajawaila
keren thour, akhinya mulai ada kemajuan buat gendhis semoga mmnya bisa di msukin k rmh sakit jiwa
Katherina Ajawaila
oithour, yg. baca pasti. pada ngembeng matanya, udh. lah thour sengsaranya 😭
Katherina Ajawaila
sabar Gendhis minta sama yg kuasa biar kamu kuat hingga. berhasil, unjukin sm ayah mi yg tau nya hanya di sugguhon daging basi sm jalang nya , dasar mmg laki2 hanya otak nya daging basi aja, 🤬
Katherina Ajawaila
Sedih amat thour alur ceritanya , perempuan jalang ngk! tau, diri, semangat gendis. pasti kamu akan sukses 😭
Katherina Ajawaila
aku mampir Outhour, ceritanya sedih, amat y
Siti Sopiah
dalam dunia nyata takda mertua macam tu.thor
Siti Sopiah
itu sih perempuan jadi2an
Siti Sopiah
Ya Allah Cika meninggal ?
Siti Sopiah
bagus ndis sekali kali bercanda jgn hanya main air mata.kau membuat air mata readers tumpah ruah ndis
Fajar Ayu Kurniawati
.
Sry Kurnia
Kecewa
Sry Kurnia
Buruk
Hasrie Bakrie
Assalamualaikum mampir ya thor, pasti ceritanya sangat seru.
Dini Mariani s
Buruk
Heri Wibowo
kok nggak dilanjutin lagi ceritanya kak, sudah kangen nih sama Gendis.
💗vanilla💗🎶
tdk bs berkata2 .. duh gendis
💗vanilla💗🎶
br mampir thor .. dan udh nyesekk..tp menarik
Pujierde
Masya Allah
Pujierde
jadi penasaran ada kejadian apa sajakah yv di alami zia ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!