📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...
Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 [Dominasi]
"Sayang..." Ezra mendengar suara itu. Namun, mata yang kantuk tak mengizinkan dirinya untuk terjaga.
Seluruh tubuhnya terasa remuk. Masih sempat Ezra mengingat, rentetan peristiwa saat ia pulang ke rumah dan memilih mandi, mengganti pakaian tidur, memandangi foto baru Elea sore tadi, dengan itu ia berfantasi di atas ranjangnya lantas tertidur.
"Sayang..." Sentuhan dari tangan basah mengenai pipi, terasa deritan kecil seperti ada seseorang yang naik ke atas ranjang yang dia naungi.
Sontak dahinya mengernyit saat aroma khas kesukaannya menusuk kuat-kuat indera penciumannya. Ini wangi segar yang sangat Ezra sukai, wangi yang tak pernah Ezra buang dari kamar mandi serta kamar tidurnya saat ini.
Aroma manis vanilla yang begitu meng candu dirinya. Ezra mengerjap mata untuk beberapa kali, sapaan Sayang dan belaian lembut di pipi membuatnya ingin segera beranjak dari alam mimpi yang entah sejak kapan menyinggahi.
Seketika bibirnya tersenyum, sambil berharap semoga ini bukan ilusi, ketika saja ia membuka matanya seulas senyum manis tersuguh di hadapannya.
Dia pandangi wajah cantik itu dengan jantung yang berdebar-debar. Napas yang kian riuh bergemuruh.
Matanya lalu terpejam, kini mulai terasa kelembutan yang perlahan lahan menyapu basah bibirnya. Lama tak lagi merasai, kini ada kecupan yang berhasil membangkitkan gairahnya.
Masih terpejam menikmati, Ezra meraih tengkuk wanita itu, menekannya dalam-dalam menerima kecupan hangat yang masih setia merayapi bibirnya. Dan seakan sinkron, raba tangan pun mulai sampai pada paha.
Meremas, lalu menggulingkan tubuh wanita itu agar berada di bawah kungkungan tubuh bidangnya. Menghirup dalam-dalam liukan leher yang menguarkan aroma damai. "Aku merindukan mu, Bee."
"Za?"
Mata yang semula terpejam, mendadak terbuka lebar. Ezra terdiam, ia terjaga dari ilusi yang menghampiri tanpa ia sadari.
Barusan Ezra yakin sekali, dirinya melihat senyum manis Elea, yah, Elea yang datang menghampiri ranjangnya dengan memakai kemeja putih miliknya, rambut basah, juga aroma khas Elea-nya.
Tak lama dari panggilan 'Za' terdengar. Ia tersadar bahwa barusan saja suara Rigie yang membuyarkan imajinasinya.
Ezra mengangkat tegak kepalanya, sejenak ia pandangi wajah cantik Rigie yang berkerut bingung menatap dirinya. "Kau memanggilku, Bee? Sejak kapan?"
Ezra meneguk salivanya. "Mmh... mmh. Aku rasa sapaan itu tidak buruk kan?" kilahnya secepat itu. Ia lalu bangkit dari tubuh Rigie yang hanya berbalut kemeja putih saja di bagian atas tubuh seksinya.
Tak peduli paha yang terekspos menggoda dirinya. Ezra tak melanjutkan cumbu mesra yang tadi ingin ia salurkan.
"Kamu mandi di sini?" Ezra bertanya dan di jawab cepat oleh anggukan kepala Rigie.
Ezra mendengus maklum. Pantas saja aroma tubuh Rigie sama seperti Elea-nya, jelas Rigie mengenakan skincare yang ada di kamar mandinya.
Sejenak, Ezra terpaku menatap kekasihnya. Dia lantas menarik lengan wanita itu untuk dipeluknya erat-erat. "Biar aku memelukmu."
Biasanya, Ezra hanya menyemprotkan parfum vanilla tersebut ke sekelilingnya, ke sudut sudut kamarnya. Berharap ia bisa dengan mudah merasakan keberadaan Elea.
Namun, kali ini ada sosok dengan wangi yang sama dan bisa Ezra peluk. Tentu dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan, melampiaskan kerinduannya lewat raga itu. "Aku merindukan mu." Berbisik lirih.
Rigie tersenyum kecil. Setelah kemarin saling diam-diaman perkara desain kamar, akhirnya Ezra mau kembali bicara dengannya. Bahkan mempererat pelukan seolah tak mau lagi di tinggalkan olehnya.
"Aku tahu kamu sangat sangat mencintai ku, tapi nggak perlu lebay begitu. Aku di sini with you, Za." Rigie mengurai jarak, tampak Ezra tersenyum tipis padanya sebelum bangkit dari ranjang.
"Za."
Lelaki yang baru akan keluar dari kamar itu menoleh dengan gumaman kecilnya. Di sisi ranjang, Rigie masih duduk menatap Ezra penuh telisik.
"Aku lihat, masih banyak pakaian wanita di ruang lemari mu. Kau ... belum membuang pakaian Elea?"
Ezra beku di tempatnya. Terlebih saat Rigie kembali membuka suara jernihnya. "Aku mau rumah baru untuk kita tinggal. Aku tidak mau tinggal di tempat yang pernah ditinggali Elea."
"Rigie..."
Belum selesai protes Ezra, wanita itu kembali mencetuskan dominasinya. "Pilih saja, kau mengganti semua barang-barang sampah mu. Atau cari rumah baru untuk kita tinggali?"
Rigie lantas bangkit dan berjalan mendekati tubuh tinggi Ezra yang masih kaku di posisi yang sama.
"Aku nggak mau lihat kamu sibuk dengan pekerjaan mu. Mulai dari sekarang, tolak semua tawaran job mu. Aku juga sudah hubungi Galaxy Wedding planner yang baru-baru ini viral. Dan hari ini juga kita ketemu orang WO-nya."
Ezra mengerut kening. "Apa barusan?" Ezra mencoba memastikan nama familiar yang Rigie sebutkan.
"Galaxy wedding planner." Rigie melebar bibirnya, membentuk garis lurus. "Kenapa, kau keberatan?" tanyanya.
Entah kebetulan atau hanya perasaan saja, bukankah nama cafe Elea juga Galaxy coffee shop. Masih dengan kebingungannya, Ezra hanya menatap punggung Rigie, wanita itu menuruni anak tangga hingga berakhir di sofa ruang tengah.
"Kau tidak berniat kerja kan? Nanti malam kita ketemu orang WO-nya. Kenapa diam begitu? Setidaknya bersuara Eza Sayang." Wanita itu menatapnya penuh penilaian.
Ezra lantas menyusul Rigie ke lantai bawah. Duduk di sofa lainnya. "Aku menurut saja. Kau lebih tahu soal itu," ucapnya.
📌 Boleh kasih saran saran terbaiknya... Lopee kalian semua...💋💋