NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Mendengar godaan manis dari Damar yang terdengar begitu santai, wajah Adera langsung memerah padam. Bukan karena malu saja, tapi juga karena kesal.

"Ih! Udah sakit gini masih aja sempat-sempatnya ngegoda orang!" seru Adera sambil mendengus kesal, tangannya terlipat didepan dada.

Damar hanya tersenyum lebar melihat gadis itu ngambek. Baginya, melihat Adera marah-marah begitu justru membuat suasana jadi hidup dan jauh lebih indah.

Belum sempat mereka melanjutkan perdebatan, tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan.

Tok.. tok.. tok..

"Masuk," ucap Damar.

Pintu terbuka, terlihat seorang asisten rumah tangga bernama Bi Rina masuk membawa nampan besar berisi makanan hangat yang sangat lengkap dan terlihat lezat. Bau harum masakan langsung memenuhi ruangan.

"Selamat sore, Tuan. Ini waktunya makan siang," sapa Bi Rina ramah sambil meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping ranjang.

Kemudian, Bi Rina menoleh ke arah Adera dengan senyum ramah.

"Nona Adera ya, bolehkah saya minta tolong sedikit non?" tanya Bi Rina pelan.

"Boleh kok Bi, ada apa?" jawab Adera bingung.

"Begini Non, tangan kanannya Tuan Damar kan kena benturan cukup keras. Jadi sekarang dia masih belum stabil dan agak susah kalau harus mengangkat sendok atau mangkok sendiri. Tolong bantu suapi ya Non, sebentar saja," pinta Bi Rina menjelaskan situasinya.

Deg!

Adera langsung tertekan. "Oh... o-oh iya Bi, nanti saya bantu."

Namun, sebelum Adera sempat menyentuh sendoknya, Damar langsung menggeleng cepat dengan tegas.

"Tidak perlu! Saya bisa kok makan sendiri!" tolak Damar tegas, dia mencoba mengangkat tangan kanannya meski sedikit meringis kesakitan.

"Tapi Tuan..." cegah Bi Rina.

"Enggak usah Bi. Saya tidak mau memanfaatkan keadaan saya yang lagi sakit ini cuma buat mendekati dia atau nyuruh-nyuruh dia," kata Damar serius sambil menatap Adera. "Adera itu tamu, bukan perawat. Saya tidak mau seenaknya menyuruhnya hanya karena saya punya alasan sakit."

Mendengar penolakan dan alasan yang keluar dari mulut Damar itu, Adera kembali terpaku.

Dia menatap wajah pria itu lekat-lekat. Hatinya kembali terasa hangat dan terharu. Damar benar-benar berbeda. Dia sangat menghargainya, tidak mau mengambil keuntungan sedikitpun meski kesempatan ada di depan mata.

Tanpa menunggu jawaban lagi, Adera langsung menyendok sup hangat itu dengan hati-hati. Dia meniupnya pelan-pelan agar tidak terlalu panas, lalu mengangkat sendok itu tepat ke depan wajah Damar.

"Sini... buka mulut," ucap Adera lembut, tatapannya fokus dan serius sekali.

Damar yang melihat kedekatan itu hanya bisa tersenyum lebar. Dia menurut saja, membuka mulutnya lebar-lebar sambil menatap wajah gadis di depannya dengan penuh cinta.

Aaaah...

Suapan pertama masuk dengan lancar. Damar mengunyahnya perlahan, rasanya nikmat sekali, tapi jauh lebih nikmat karena yang menyuapi adalah gadis impiannya.

"Enak?" tanya Adera singkat, masih dengan wajah sok cool.

"Sangat enak," jawab Damar sambil mengangguk, matanya tak lepas menatap Adera. "Lebih enak dari biasanya."

Adera mendengus pelan, tapi sudut bibirnya tak sadar terangkat membentuk senyum tipis. Dia kembali menyendok makanan, memasukkan sayuran dan lauk pauknya satu per satu ke dalam mulut Damar dengan sangat telaten.

Cara Adera menyuapi terlihat begitu lembut dan penuh perhatian. Sesekali dia menyeka sedikit nasi atau kuah yang menempel di sudut bibir Damar menggunakan tisu dengan gerakan reflek yang sangat natural.

Melihat sikap Adera yang begitu perhatian dan manis itu, hati Damar rasanya ingin meledak karena bahagia. Rasa sakit di tubuhnya seakan lenyap tak berbekas digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.

Di dalam hati, Damar berjanji pada dirinya sendiri... gadis di depannya ini, harus benar-benar menjadi miliknya selamanya.

Dari arah pintu, Bi Rina yang sejak tadi berdiri memperhatikan interaksi keduanya tak kuasa menahan senyum lebar di bibirnya. Matanya berbinar-binar melihat betapa akrab dan penuh perhatiannya Nona Adera terhadap majikannya.

"Ya ampun... manis sekali liatnya," batin Bi Rina meleleh. "Gak salah Tuan Damar suka sama Nona ini. Perhatiannya tulus banget, dan Tuan juga senang banget diliatin gitu. Cocok banget sumpah!"

Rasa haru langsung menyerang Bi Rina. Dia merasa sangat lega dan bahagia melihat Tuan nya yang biasanya dingin dan tertutup, kini bisa tersenyum bahagia seperti itu.

Karena tidak ingin mengganggu momen indah dan romantis itu, Bi Rina perlahan melangkah mundur, lalu dengan hati-hati menutup pintu kamar itu perlahan.

Krieeet...

Pintu tertutup rapat, meninggalkan Damar dan Adera berdua saja di dalam kamar dengan suasana yang begitu hangat dan tenang.

Adera terus menyuapi Damar dengan telaten. Sudah beberapa suap masuk, dan Damar pun menurut saja memakan apa yang diberikan gadis itu. Suasana hening namun terasa sangat hangat dan intim.

Tiba-tiba, saat Adera hendak mengambil suapan berikutnya...

Tangan kiri Damar yang sehat bergerak cepat, menangkap tangan kanan Adera yang sedang memegang sendok. Dia menggenggamnya erat, lembut, namun membuat Adera terhenti seketika.

Deg!

Jantung Adera serasa berhenti berdetak. Dia menatap kaget ke arah tangan mereka yang kini saling bersentuhan, lalu perlahan mendongak menatap wajah Damar.

Dan di saat itulah... mata mereka bertemu.

Waktu seakan berhenti berputar. Damar menatap manik mata Adera dalam-dalam, penuh rasa syukur, cinta, dan ketulusan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tatapan itu membuat Adera terpaku, tubuhnya seakan membeku tak bisa bergerak sedikitpun.

Damar menarik napas panjang, suaranya terdengar rendah dan serak namun sangat menenangkan.

"Terima kasih Adera sayang..." ucap Damar pelan sambil menggoda, meskipun sangat pelan namun terdengar jelas di telinga Adera.

"Hah? kamu ngomong apa tadi". seru Adera.

"Terima kasih sudah datang... terima kasih sudah mau peduli sama aku... dan terima kasih... sudah mau merawat aku sebaik ini," lanjut Damar lembut, jari-jarinya perlahan mengusap punggung tangan Adera dengan sayang.

"Ehh.. Apaan sih". Kata Adera yang langsung menjauhkan tangannya.

"Aku nggak tau harus gimana lagi ngungkapinnya. Rasanya... bahagia banget bisa perhatikan dan disuapin sama kamu kayak gini."

Mendengar ucapan tulus itu, wajah Adera langsung memerah padam. Dadanya terasa sesak oleh perasaan hangat yang luar biasa. Dia ingin menarik tangannya, ingin berkata biasa saja, tapi tubuhnya seakan tak berdaya di bawah genggaman dan tatapan manis itu.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!