"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
Ntah kenapa bayang bayang Jenny yang dekat dengan Galen begitu menggangu Nathan, dan ia ingin sekali untuk dapat memiliki Jenny seutuhnya.
Nathan benar benar ingin mendapatkan ciuman pertama milik gadis yang sudah lama ia cintai itu.
"Apakah aku harus mencium Jenny sekarang? Aku benar benar tidak rela, jika sampai Galen yang mendapatkannya!" gumam Nathan dalam hatinya sembari terus menatap wajah cantik Jenny. Ntah kenapa nalurinya terus memaksanya untuk melakukan hal itu.
Cup
Jenny nampak mematung, bahkan tubuhnya terasa sangat sulit untuk di gerakkan sekarang ini.
Kedua bola matanya nampak membola, ia terlihat menatap ke arah Tuannya.
"Jenny, maafkan aku!" gumam Nathan dalam hatinya.
Jenny sendiri merasakan jantungnya itu berdetak lebih cepat, bahkan berkali kali lipat.
"Tu - tuan —." Ucapan Jenny terhenti, awalnya ia ingin menegur apa yang di lakukan oleh tuannya itu. Namun ia urungkan, karena sekarang ini Jenny menyadari posisinya.
Hanya ada keheningan di dalam ruang kepala sekolah itu.
Jenny buru buru menormalkan detak jantungnya, seraya bergumam dalam hatinya, "Jenny anggap saja Tuan mu itu tidak sengaja mencium mu! Ayo buruan suapin dia, keburu Nyonya Vina itu kembali masuk ke dalam ruangan ini!"
Walaupun masih dalam keadaan syok dan juga terkejut, Jenny memilih untuk tetap profesional. Ia memilih untuk melanjutkan tugasnya sebagai pelayan dan memilih untuk tidak memikirkan apa yang barusan terjadi.
"Tuan, makanlah!" Jenny terlihat mendekatkan ayam goreng ke bibir tuannya.
"Jenny, kamu tidak marah padaku?"
"Tu - tuan, saya mana berani marah sama Anda, tolong makanlah dulu!" kata Jenny dengan ketakutan.
Nathan bisa merasakan kelemahan dan ketakutan Jenny, dan ia merasa senang. Kedudukan atas Jenny membuat Nathan merasa hebat dan bisa mengendalikan Jenny.
"Aku akan makan! Tapi kamu harus mencium bibirku dulu!" ujar Nathan dengan penuh percaya diri.
Jenny terkejut, "Apa?"
Nathan menambahkan, "Iya, mulai sekarang kamu harus sering menciumku, Jenny! Aku merasa otakku mulai normal saat berdekatan denganmu. Mungkin karena itu aku bisa kembali menjadi remaja normal." Nathan lalu menarik pinggang Jenny untuk mendekat ke arahnya.
Jenny terdiam, bingung dengan perubahan sikap Tuan mudanya yang tiba-tiba. Dalam benaknya muncul pertanyaan dan kebingungan, "Apa yang sedang terjadi? Mengapa Tuan muda berubah begitu cepat?"
Namun Nathan langsung menghentikan lamunan Jenny, "Jangan terlalu banyak berpikir, Jenny. Bukankah yang membuatku seperti ini itu adalah ayahmu yang sudah tiada itu? Bagaimana pun juga kamu yang harus bertanggung jawab untuk membuatku kembali normal, apakah kau itu tahu Jenny, sebuah surat dengan logo mawar biru yang kamu terima sejak SMP itu adalah surat cinta dariku." Nathan mencoba menjelaskan, meskipun masih terasa asing bagi Jenny akan sikap baru tuan mudanya itu.
"Apa? Sebuah surat, logo mawar biru itu... Bukankah dari Galen! Oh, tidak! Ternyata surat yang di berikan kepadaku sejak SMP itu dari mu Nathan," gumam Jenny dalam hatinya.
"Selama ini aku pikir surat tersebut dari Galen. Bagaimana aku bisa salah?" Jenny merasa sangat terkejut. Selama ini, ia selalu berusaha membuka hatinya untuk Galen, bahkan di rumahnya ia menyimpan semua surat dengan logo mawar biru itu.
Selama seminggu sekali, Jenny akan menemukan surat itu di dalam loker, sehingga tanpa ragu ia sampai berjanji pada Galen bahwa setelah lulus sekolah, ia akan menjadi kekasihnya. Alasannya, hanya karena surat itu. Itu membuat Jenny membatasi dirinya untuk lebih dekat dengan laki-laki lain. Walau banyak laki-laki di sekolah yang mengejarnya, ia tetap setia pada janjinya kepada Galen.
Namun, kenyataan ini sungguh membuatnya syok. Ternyata surat dengan logo mawar biru yang ia anggap begitu berarti bukanlah dari Galen, melainkan dari Nathan, murid culun dan terkenal bodoh di sekolah.
"Bagaimana ini? Haruskah aku menepati janji yang kubuat? Aku tidak bisa mengkhianati perasaan orang lain, terlebih Nathan yang tulus menyatakan perasaannya. Tapi... apa yang harus kukatakan pada Galen? Aku benar-benar bingung dengan situasi ini." Jenny berada dalam dilema dan konflik batin yang sangat mendalam.
"Apakah kamu tahu, Jenny? Sejak SMP, aku sangat mengagumimu bahkan jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Namun, rasa sakit kadang menyiksa aku ketika kenangan buruk itu datang dan menghampiri pikiranku." Nathan menghela nafas, merasakan kebingungan dan konflik di dalam hatinya.
"Aku bahkan bingung sendiri, kenapa bisa mencintai orang yang punya hubungan dengan orang yang menghancurkan hidupku?" ucap Nathan dengan getir. Jenny hanya bisa menelan ludah, terkejut dengan fakta yang baru saja terungkap.
Nathan melanjutkan, "Di lubuk hatiku, Jenny, aku merasa terperangkap di antara cinta dan kebencian. Aku dulu berpikir perasaanku hanya karena cintaku padamu, dan tidak ada hubungannya dengan kejahatan ayahmu. Tapi, akhirnya aku sadar, darah Antama mengalir di dalam tubuhmu juga. Kebenaran ini menyiksaku, namun aku tidak bisa lepas dari cintaku padamu. Bagaimana aku bisa membedakan antara kedua perasaan ini?" Nathan terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Maafkan aku dan juga ayahku Tuan muda! Sekarang aku hanya bisa meminta maaf padamu, dan mulai menebus semua kesalahan yang di lakukan oleh ayahku! Aku akan membuat otakmu bisa kembali normal tuan muda! Aku akan selalu mencium mu jika memang itu harus!"
"Baiklah, cium aku sekarang! Setelah itu, aku akan makan dan memastikan aku mengingat semua pelajaran yang dijelaskan guru hari ini!" ujar Nathan dengan penuh semangat. Jenny tampak bingung dengan perkataan tuan mudanya itu.
"Eh, bagaimana mungkin, Tuan?" tanya Jenny bingung.
Nathan kemudian menunjukkan sebuah alat berbentuk kotak dengan layar yang menampilkan video, sepertinya video itu menggambarkan tas milik Jenny. "Ini dia, aku akan memutar video saat guru menjelaskan pelajaran. Saat kita berdua pergi ke kamar mandi tadi!" jelas Nathan sembari mengoperasikan alat tersebut dengan sigap.
Jenny melihat tuan mudanya yang tiba-tiba terlihat cerdas dan berwibawa. Hatinya berkata, "Apakah selama ini dia hanya berpura-pura bodoh?" Jenny merasa bingung dengan apa yang terjadi, seakan-akan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nathan selama ini.
"Kenapa aku tidak pernah tahu tentang hal ini sebelumnya?" pikir Jenny dalam hati, semakin yakin bahwa ada sesuatu yang janggal dengan situasi ini.
Jennya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, kala melihat Tuannya itu menunjukkan beberapa video yang terdengar suara guru yang sedang menjelaskan.
"Tapi video ini bisa kita tonton nanti saja di rumah! Aku yakin, kamu tidak akan mendapatkan hukuman dari ibuku, tapi sekarang kamu harus mencium bibirku, Jenny. Agar pikiranku terus berjalan normal!" kata Nathan meyakinkan, berusaha menghilangkan keraguan yang tergambar di wajah Jenny.
Hati Jenny berdebar kencang saat mendengar perintah Tuannya. Terdiam sejenak, namun pikiran yang kacau balau mempertanyakan kenapa ia harus melakukan ini.
Namun, akhirnya jarak di antara keduanya semakin menipis. Mendekati wajah Jenny perlahan, Nathan menarik tengkuknya dengan lembut. Dengan gerakan yang terlatih, ia mencium dan melumat bibir gadis tersebut. "Bibir kamu manis seperti gulali," gumam Nathan sambil melepaskan lumatannya, memberikan kesempatan Jenny untuk mengambil nafas.
Beberapa detik kemudian, Nathan kembali mencium bibir Jenny, seakan ingin menikmati kenikmatan yang dirasakannya. Jenny merasa gelisah, masih berusaha keras untuk menenangkan hatinya yang masih berdebar.
Mengapa Tuannya melakukan ini? Kenapa aku tidak bisa menolak? Pertanyaan demi pertanyaan mulai menyeruak dalam benaknya. Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar.
Ceklek.
Tiba-tiba pintu ruang kepala sekolah terbuka dari arah luar, membuat keduanya terlonjak kaget.
Bersambung ♥️
kalo berkenan mampir juga ya😉