NovelToon NovelToon
Perjuangan Zazilla

Perjuangan Zazilla

Status: tamat
Genre:Romantis / Keluarga & Kasih Sayang / Cintapertama / Teen / Tamat
Popularitas:896.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ariz Kopi

Zazila adalah seorang anak yang menjadi korban perceraian orang tuanya, hidup sedari kecil dengan neneknya otaknya yang cerdas juga wajahnya yang cantik tidak membawanya sampai pada cita citanya yakni menjadi seorang pengacara,
karna ketidak mampuanya itulah dia harus banting setir rela menjadi seorang TKW.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariz Kopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Happy Reading...

🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Tidak ada airmata keluar dari mataku, cukup setitik tadi saja, karna ada yang lebih membuat ku kwatir dari apapun di dunia ini, ya yakni orang tua yang tengah terbaring lemah menunggu datangnya obat dan hanya padaku saat inilah dia bergantung, tetap ku kayuh dan ku kayuh dengan tergesa tapi sekuat apapun aku mengayuhnya tetap sama hasilnya, karna semua pasti berjalan sesuai jalurnya dan kemampuanya, bahkan juga aku, yang pura pura tidak terjadi apa apa tetap saja aku terngiang akan penghinaan yang di toreh oleh Anoman, hingga kayuhan sepedaku terasa berat dan setelah ku sadari ternyata ban sepedaku kempes, ku tuntun sepeda yang tidak jauh dari letak bengkel Pakde Boy, senyum laki laki paruh baya itu langsung tersunging ke arahku dan dengan susah payah aku berusaha untuk membalas senyumanya untuk ku.

"Zill, kamu enggak sekolah hari ini,.." tanya nya.

"Libur dulu pakde, Zilla bisa titip sepeda kan Pakde.." ucapku sambil meletakan sepeda di tempat yang tidak menganggu.

"Kenapa..? bocor..?, biar tak tembelkan.." jawab Pakde Boy, dan langsung meninggalkan pekerjaanya untuk melihat sepedaku.

"Ahh, tidak perlu Pakde, Zilla buru buru dan lagi Zilla tidak punya uang untuk membayarnya, Assalamu'alaikum.." ucapku dan langsung berbalik lalu berlari menuju ke tujuan ku yang masih beberapa kilo meter lagi dan meninggalkan Pakde Boy dengan kebingungan.

Aku terus berlari, capek berlari berjalan lalu kembali berlari lagi, bahkan sandal yang ku gunakanpun tidak kuat berjuang dengan ku, dia menyerah dengan begitu saja terlepas dari kakiku dan tertinggal entah dimana, rasa sakit yang mendera kakiku oleh panas aspal tidaklah sesakit sesuatu yang beringsak hendak keluar dari mataku, yang sedari tadi tetap aku tahan, yang sedari tadi menjadi gumpalan yang makin sesak di dada, dengan gengaman tangan yang semakin kuat terus meremas uang tiga ratus ribu darinya.

"Brukk...." aku terjatuh terjerembab, tidak ada rasa sakit disana meski darah segar keluar dari beberapa titik tubuhku, bahkan rasa perih di lutut juga ibu jari kakiku sama sekali tidak terasa sebanding dengan perih di hatiku, yang sedang terombang ambing oleh kejamnya dunia.

Dengan langkah tergesa menahan sakit aku langsung menuju ke tempat menebus obat, mengantri, tak ku peduliakn netra netra yang memandangku penuh iba, bahkan ada juga yang memberiku sebotol air minum, mungkin karna melihat peluh yang menetes hingga membasahi baju yang ku gunakan juga penampilanku yang begitu lelah sekaligus tanpa sandal.

Saat tiba giliran ku mengambil obat ternyata obat yang aku inginkan sudah ada yang menebusnya, lalu akupun segera pergi dengan kebingungan, ku giring langkah kecilku menuju ke tempat perawatan Emak, dan aku makin di buat tercengang karna aku tidak menemukan Emak terbaring disana, dengan segera aku sibak tirai di samping tempat Emak berbaring dan bertanya kepada mereka..

"Bude, apa sampean tahu kemana Emak saya.." tanya ku, pada seseorang yang tengah menunggui suaminya yang sedang sakit.

"Ohh tadi di pindahkan ke ruanganan yang lain oleh perawat Nak, coba kamu tanya sama perawat yang disana.." jawabnya dengan menunjuk tempat perawat yang tengah berdinas.

"Trimakasih bude.." ucapku, lalu langsung pergi ketempat perawat yang tengah berkutat dengan tugas mereka.

"Selamat siang Sus, mau tanya pasien atas nama Bu Markamah di pindahkan kemana ya.." tanya ku,

"Ohh Adek yang biasa menjaga Ibu yang di sana yah, sebentar ya dek tak priksanya.." jawab Perawat itu dengan lembut lalu memeriksa daftar pasien kemudian menelfon entah kemana baru setelah itu berbicara kembali kepadaku..

"Dek, Pasien atas nama Ibu Markamah sekarang berada di Paviliun Pahlawan, dengan nomer kamar 29 A." ucap perawat itu dengan sungingan senyum..

"Trimakasih Sus.." ucapku lalu segera berbalik dan menuju ke tempat yang di tunjukan oleh Perawat tadi. Langkah kaki ku ingin aku hentikan disini saja saat melihat lantai yang begitu mengkilab bak kaca yang sangat kontras dengan rupa dari kakiku yang hitam di tambah kotor dimana mana, bahkan lantai di bawahku mampu memantulkan gambar diriku disana, dapat ku lihat wajahku yang begitu buruk oleh peluh juga debu debu jalanan tadi, sempat terbersit pikiran apa mungkin Gus Farid sudah tau kalau Emak sakit jadi langsung kembali menolong kami.

"Nyess...". hawa sejuk pendingin ruangan langsung menyapa wajahku yang kepanasan oleh Matahari tadi, begitu aku membuka pintu ruangan Paviliun Pahlawan, pemandangan sangat kontras dapat ku lihat dari koridor yang begitu rapi dan bersih sekaligus wangi, yang jelas sangat berbeda dengan kamar inap Emak sebelumnya yang hanya di kelas 3 itu, kaki ku yang tadinya panaspun juga ikut dingin oleh lantai marmer yang mengkilap.

Ku jelajahkan mataku membaca setiap nomer yang tertera di depan kamar, saat langkah ku berbelok ke arah deretan nomer dua puluhan jantungku berdegub sangat kencang melihat sosok yang tengah berdiri disana dengan seluruh yang menempel di tubuhnya barang barang yang sangat bagus, aku tidak percaya bisa melihatnya secara langsung, yang tengah berdiri disana bersama seorang laki laki yang pernah ku kenal sebelumnya yakni Pakde Masrukin, ada rindu yang begitu membuncah saat ku lihat dia berdiri disana, ada hayalan yang tiba tiba ikut menyusup di hatiku, hanya sekedar ingin tanganya membelai kepalaku saat ini yang tengah begitu sangat terluka oleh keadaan, nyatanya seluruh kebencian ku padanya tetap menggiringku mengirim do'a untuknya di setiap sujudku.

Aku melangkah dengan pelan namun pasti ke arah dua orang yang tengah berbicara pelan di depan kamar 29 A, berarti benar mataku tidak salah mengenalinya dia adalah Maslikah, Ibuku, belum langkahku sampai pada mereka aku sudah mendengar mereka membicarkan aku, dengan segera ku hentikan langlah ku dan bersembunyi di balik tanaman hias yang berada di depan kamar sampingnya, jarak yang cukup dekat dengan mereka membuatku bisa mendengar dengan jelas apa yang tengah mereka bicarakan.

"Sudahlah Cak, aku tidak mau Cak Ukin menyebut nama anak dari pemalas itu.." ucapnya dengan nada kesal.

"Lik, walau bagaimanapun dia anak mu juga,.." jawab Pakde Ukin.

"Aku hanya punya 1 anak Perempuan yakni Nadira Cak. Jadi sekali lagi ku ingatkan Cak Ukin jika sampean ingin aku menemani Emak untuk hari ini jangan sampai aku melihat anak itu.." mendengar ucapanya secara langsung sungguh membuat ku seperti terlempar di api yang membara di tengah lautan Es yang sedang mengepungku. Aku semakin terlempar jauh dan semakin jauh lagi saat kata demi kata keluar lagi dari bibir orang yang aku sebut Ibu, dan aku hanya bisa mencengram ujung bajuku dengan menahan segala rasa sakit yang di tambah oleh dia.

"Bawa Emak ikut serta dengan sampean, masalah uang bulanan biar aku yang mencukupi setiap bulanya.." katanya setelah puas mencaci aku dan Ayah ku.

"Bagaimana degan Zilla, Lik, Emak jelas tidak mau kalau Zilla tidak ikut.." jawab Pakde Ukin..

"Serahkan dia pada Bapaknya.." ucapnya sinis, "Aku akan kembali kesini nanti sore Cak, aku mau istirahat dulu di Hotel, Cak Ukin jaga Emak dulu sampai aku kembali kesini nanti..." lanjutnya dengan nada perintah, lalu pergi dari tempatnya dengan bunyi sepatu mahal yang membalut kakinya berdentam mengetuk lantai mermer Rumah Sakit, dan kupandang tubuh semampai berbalut baju mahal itu hingga pintu keluar menelanya bersama kerumunan orang banyak.

Aku masih tetap terduduk di lantai tempatku tadi bersembunyi hingga entah beberapa lamanya, mencoba menetralkan segala rasa ini untuk Emak ku, untuk Malaikatku yang akan segera di renggut olehnya, wanita yang tidak mau melihat wajah ku, wanita yang tidak mengakui ku anak, wanita yang seharusnya menjadi tempatku mengadu saat ini, wanita yang seharusnya ku panggil dengan panggilan mulya yakni Ibu.

Ku hela nafas dalam kemudian berdiri dari tempatku dan berjalan berlahan menuju kamar dimana sepanjang hidupku ini hanya ku habiskan denganya.

"Ceklek.." suara pintu yang ku buka membuat seseorang yang tengah memandang penuh rindu pada Ibunya itu menatapku dan tersenyum tipis.

"Zill, kemarilah.." kata Pakde Ukin lembut, aku berjalan ke arahnya lalu menyalaminya dengan takzim.

"Assalamu'alaikum Pakde, apa kabar, kapan Pakde datang, Pakde tau dariman..." kataku langsung terhenti saat tanganya meraih tubuh kecilku dalam pelukanya, dan airmata yang sedari tadi aku tahan ahirnya menetes juga meski tanpa suara. Dan membiarkan tubuh ini di manja sejenak saja olehnya agar beban di hati ini sedikit berkurang.

"Shutt.. sudah sudah, Emak baru saja Istirahat , lebih baik kita bicara di depan.." katanya dengan menghapus airmata ku.

Aku mengikuti langkahnya yang menuju pintu dengan memandang wajah damai Emak yang tengah terlelap, dan kemudian mendudukan diriku di samping Pakde yang telah lebih dulu duduk di sana.

"Zill, dari mana kamu tadi.." tanyanya pelan.

"Zilla dari mencari uang Pakde.." jawab ku lalu kembali teringat dengan uang yang berada di saku bajuku, dan sesak itu kembali datang sembari aku terus mengigit bibir dalam ku.

"Kamu sudah berusaha sangat keras Zill, Istirahatlah.." ucapnya, tunggu apa maksudnya dengan ucapanya Istirahatlah, apa dia benar benar berniat mengambil satu satunya tumpuan dalam hidup ku, lalu aku hanya bisa menunduk semakin dalam, tau, aku tau kemana arah jalan pembicaraan ini.

"Zill, Emak sudah semakin tua dan dia harus banyak istirahat, tidak boleh kecapean, sedang kamu tidak setiap waktu bisa menjaganya.." Deg.. aku kurang menjaga, aku kurang berguna, aku hanya menjadi beban, baiklah aku tau sangat tau sekali.

"Lalu apa yang bisa Zilla lakukan Pakde..?" tanyaku,

"Biarkan Emak ikut bersama saya ke Semarang, tapi Pakde minta maaf kamu tidak bisa ikut karna disana Pakde juga bukan orang yang berkecukupan, jadi kamu bisa iku...." katanya pelan namun segera aku potong ucapanya, karna aku sudah mendengarnya tadi dan itu cukup jelas sekali buatku.

"Iya Pakde, Zilla mengerti biar nanti Zilla bicara sama Emak, kapan Pakde akan membawa Emak..?" tanya ku

"Besok siang jika mendapat Ambulance yang pas, karna Emak harus segera mendapat perawatan yang lebih bagus, tapi Zill apa kamu tidak apa apa.." tanyanya, pertanyaan apa ini, jelas saja aku apa apa, bagaimana hidupku tanpa dia nanti, namun aku hanya bisa mengeleng pelan lalu berdiri hendak meninggalkannya..

"Zill, dimana sand...kuku Ibu jari kakimu telepas dimana.." katanya dengan kaget dan Pakde Ukin langsung menyuruhku duduk kembali lalu meneliti Ibu jari kakiku yang sudah tidak ada kukunya beserta bekas darah yang sudah mengering itu.

"Sus, tolong bersihkan kaki ponakan saya.." ucapnya pelan kepada Suster yang tengah melintas dan segera meraih kepalaku dalam dekapanya, namun dekapanya kini sama sekali tidak bisa mengurangi rasa yang sedang bercampur jadi satu di dadaku.

"Apa itu sakit.." ucapnya pelan saat Suster membersihkan luka kaki ku, namun lagi lagi aku hanya menggelang pelan karna jujur luka hatiku lebih sakit dari apapun.

"Sudah Pak,.." kata Susuter itu lalu aku menyibak rok panjangku hingga sampai lututku yang keduanya juga robek cukup dalam karna tergores oleh aspal tadi, lalu Pakde kembali menyembunyikan aku dalam dekapanya, tapi lagi lagi itu tidak berpengaruh lagi buat ku.

"Ayo kita temui Emak mungkin Emak sudah bangun.." kata Pakde Ukan saat Suster sudah selesai mengobati luka ku, aku mengangguk pelan dan mengikuti langkahnya masuk kedalam.

Di dalam ternyata Emak sudah bangun dan sedang mencoba untuk duduk, dengan sedikit berlari mengabaikan rasa sakit di kakiku aku cepat menolong Emak, setelah Emak duduk dengan nyaman kamipun ahirnya mengobrol, senyumku terukir seiring dengan senyum Emak yang begitu bahagia dengan kehadiran anak laki lakinya itu, obrolan itu sedikit berbelok saat Pakde Ukan mulia menyangkut perihal membawa Emak ke Semarang..

"Emak enggak mau.." tolak Emak dengan segera, "Kalau Emak mau di bawa Zilla juga harus ikut ke sana.." lanjutnya, dan disinilah aku harus bersikap sekarang, demi kebaikan Emak kedepan tentunya, ku pegang tangan yang penuh kriput itu, tangan yang selalu menegadahkan tanganya untuk mendo'akan aku.

"Mak, Rumah Pakde itu kan enggak luas, dan keadaan ekonomi Pakde itu juga tidak bagus bukan, jika Zilla ikut kesana tentu Pakde akan tambah kesulitan lagi, belum tentang pendidikan Zilla juga.." kata ku pelan.

"Ya sudah kalau begitu Emak akan disini saja bersama kamu.." jawab Emak.

"Mak, saya juga ingin berbakti untuk Emak, saya ini masih anak mu.." kata Pakde Ukin.

"Mak, jika Zilla ikut kesana sayang beasiswa yang sudah Zilla dapatkan dengan susah payah,.." selaku..

"Tapi Zill, bagaimana dengan kamu nanti.." ucapnya Emak lagi sambil mengenggam tangan ku.

"Disini ada Bunda Ikah yang akan menjadi tempat Zilla bersandar tentunya, dan Zilla janji setelah pendidikan Zilla selesai pasti Zilla akan segera menyusul Emak kesana." jawabku dengan senyum yang aku sungingkan sangat manis untuknya, dan setelah begitu banyak kata kata janji yang aku ucapkan untuknya, ahirnya Emak menyerah dan mengiyakan keinginan Pakde Ukin untuk membawanya, tidak, sebenarnya bukan keinginan Pakde Ukin melainkan keinginan Maslikah yang ingin memisahkan aku dari Emak dan menjauhkan kehidupan mewahnya dari ku.

"Mak, Zilla hari ini pulang ya, kan sudah ada Pakde yang nemenin Emak, Zilla sudah seminggu enggak ke Pesantren takut Bunda Ikah nyariin nanti.." pamitku ke Emak sembari mencium tangan kriput itu yang kemungkinan untuk terahir kalinya.

"Kamu besok kesini lagi kan sebelum Emak berangkat.." ucap Emak sebelum melepaskan aku untuk pergi.

"Emak gimana sih, Zilla sudah seminggu lebih enggak masuk sekolah, nanti beasiswa Zilla di cabut kan makin repot buat Zilla Mak, tapi Zilla usahakan datang ya, Assalamu'alaikum .." tepisku, sesungguhnya aku ingin datang tapi bagaimana mungkin aku datang kesini jika seseorang tidak ingin melihatku.

"Kin, ikutlah dengan Zilla salamkan pada pemilik Pesantren saya titip Zilla.." kata Emak pelan kepada Pakde Ukan.

"Tidak perlu Mak, biar Zilla saja nanti yang bicara sama Gus Farid dan Bunda Ikah pasti mereka ngerti kok, biar Pakde nemenin Emak saja, sudah Zilla pergi dulu keburu telat sampai sana nanti." kataku dan langsung keluar dari ruangan itu karna sesak.

Ku paksa kakiku agar berjalan dengan cepat untuk menyembunyikan segala rasa yang tengah ingin meledak di dadaku.

"Zill, tunggu sebentar.." panggil Pakde Ukin, aku berhenti dan menoleh ke arahnya yang tengah tergopoh gopoh menyusulku.

"Ini, belilah sandal juga untuk ongkosmu pulang, dan Pakde minta jangan kesini dulu nanti.." kata Pakde Ukin.

"Apa ini dari wanita itu.." kataku pelan tapi cukup membuat Pakde Ukin tercengang oleh ucapanku. "Zilla dengar semuanya Pakde, tidak apa apa bagi Zilla karna semua Zilla lakukan demi Emak, dan apapun itu asal Emak lebih baik dan Zilla tau Emak bakal baik baik saja bersama dengan Pakde nantinya.." lanjutku lalu berbalik.

"Zill, maafkan Pakde tidak bisa berbuat banyak, Trimalah ini untuk ongkosmu pulang, ini murni dari Pakde.." kata Pakde Ukon dengan menyelipkan uang ke tanganku yang tengah saling meremas itu.

"Trimakasih Pakde, Zilla titip Emak, Assalamu'alaikum.." ucapku lalu berbalik dan meningalkan laki laki paruh baya itu dengan kebingunan.

Kepalaku yang ku paksa tegak untuk menghadapi dunia kembali tertunduk saat siluet wanita yang tadi siang sempat aku hayalkan terlihat di balik gerombolan orang lalu lalang, dan langkah kami semakin dekat lalu bersalipan dengan sangat dekat namun tidak sedikitpun dia mengenaliku, dan itu membuatku semakin merasa teriris sakit.

Aku turun dari kendaraan umum yang aku tumpangi tepat di gang samping Pesantren, namun kakiku tidak ku giring kesana melainkan ku giring ke Pantai tempatku pertama kali bertemu dengan Mas Hafidz, biasanya saat aku sedang kecewa aku akan menuju ke pohon Asem, tapi pohon itu telah menoreh luka yang begitu dalam di hatiku dan aku tidak yakin akan bisa melupakan kejadian disana pagi ini dalam hidupku kelak.

Perih dari luka di kakiku yang terkena air laut tidak sebanding dengan perih yang menjalar di seluruh hati ku, bahkan aku sama sekali tidak merasakan itu perih.

"Dunia tidak adil padaku..." triaku saat ombak besar datang menghantam seluruh tubuhku dan menjadikanku basah kuyup, kemudian jatuh terduduk di gulungan ombak yang tak henti hentinya datang dan pergi bergantiaan, sesak yang sedari tadi ku tahan kini keluar bersama deburan ombak yang menyembunyikan airmataku, aku meraung raung melepaskan segala rasa yang telah begitu sakitnya, mengiris, meremas dan mematahkan hatiku secara bersamaan, hingga kesadaran ku kembali bahwa aku tidak sendiri aku punya Allah yang akan senantiasa bersama sama ku, yang akan senantiasa menjadi penjagaku, yang akan senantiasa memberi jalan untuk ku, dan ada Qur'an di jiwaku.

Bersambung...

####

Jangan tanya atau minta Up dulu karna Emak juga merasa ikut sakit, ikut teriris seperti Zilla,

Yang menyembunyikan airmata..

Love Love Love...

💖💖💖💖💖💖

By: Ariz kopi

@maydina862

1
Ummu Faliha
Luar biasa
Maydina
😘😘😘
Zeze
Luar biasa
Dul...😇
bagus banget ceritanya 👍
Sarwani Rumpah.
endingnya luar biasa menguras air mata 😭😭😭😭suka dgn ceritanya sangat menyentu hati...Masya Allah tabarakallah sehat selalu buat mak dan sukses selalu buat karya2nya
JandaQueen
penderitaan karena salah faham...yg tak kunjung usai... tega bingits mak otor.. 😭😭
JandaQueen
knp dibuat salah faham terus mak otoooor... senenge ngaduk2 atine reader..
yusa
perjuangan hidup yg menarik tuk dibaca
bunga
luar biasa
mba_yulibae
mengandung bawang
mba_yulibae
😭😭😭
mba_yulibae
kamu jahat Mak...kau buat q ikut 😭
Nur Fadilah Fatihah
asli bagus baget novel nya keren
istikomah tersono
pingin kelanjutan ceritanya lily dong kak
ana kristianti123
zedih
Henny Nuraini
Kemana Dr Rama Nya, kok gak ada kabarnya
momy ida
and nya bikin😭😭😭berharap ada kelanjutan dari cerita ini😘😘😘novel yg luar biasa yg aku baca........ ceritanya ngalir kaya kehidupan nyata ....... thanks authoor zeyeng udah kasih kita cerita yg se kren ini😍😍😍
momy ida
ntahlah aku gk bisa komen.... krn aku baca dari part awal sampai part ini cuma bisa😭😭😭
momy ida
😭😭😭😭😭😭😭
momy ida
ibu durhaka..... kasian kamu zilla.... sinih sayang aunty peluk kamu.... walaupun pelukan secara on line😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!