Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
“Apa yang kalian lakukan?” suara Adrian terdengar dingin, dalam, dan penuh tekanan. Tangannya masih memegang Kayla, seolah memastikan perempuan itu baik-baik saja di hadapannya.
Rahang Rina mengeras. Sejak tadi ia mengaku sebagai tunangan Adrian, namun sekarang Adrian justru memeluk Kayla seolah enggan melepaskannya. Pemandangan itu seperti tamparan keras di wajahnya.
“Kayla, lepaskan pelukan kamu dari Pak Adrian!” bentak Rina, tangannya menunjuk tajam ke arah mereka.
Kayla buru-buru mencoba melepaskan diri. Namun genggaman Adrian terlalu kokoh, meski tetap lembut. Ia menunduk sedikit, lalu bertanya pelan, “Kamu baik-baik saja?”
“A… aku baik-baik saja,” jawab Kayla pelan, suaranya hampir hilang.
Rina semakin marah. Wajahnya memerah, suaranya meninggi lagi. “Kayla, jangan tidak tahu malu! Cepat lepaskan pelukan kamu!”
Baru saat itu Adrian melepaskan tangannya dari pundak Kayla. Ia berdiri tegak, lalu menatap tajam ke arah Rina tanpa berkedip.
“Katakan, ada apa ini? Kenapa kalian berbuat onar di sini?” suara Adrian tegas, berbeda jauh dari nada lembutnya saat berbicara dengan Kayla.
“Pak Adrian, aku tidak sedang berbuat onar. Aku sedang menegakkan aturan,” jawab Rina cepat, berusaha terdengar benar. “Sudah jelas dalam aturan, asrama ini hanya untuk karyawan single, bukan karyawan yang sedang hamil. Apalagi dia hamil dari lelaki berandalan.”
Kayla menunduk, menggigit bibirnya. Suaranya bergetar saat mencoba bicara. “Aku juga mau pindah… hanya saja beberapa hari ini aku tidak masuk karena…”
Kalimatnya terhenti. Dadanya sesak. Ada banyak hal yang tidak bisa ia ucapkan di depan semua orang, tentang dirinya yang dirawat, tentang luka di rumahnya, dan tentang pernikahan yang sebenarnya belum ingin ia ungkap.
“Karena apa?” bentak Rina memotong cepat. “Pak Rian, dia ini tidak masuk pasti sedang mencari pria lain untuk membiayai hidupnya. Dia kan miskin, Pak.”
Suasana langsung menegang.
“Diam.” Suara Adrian terdengar lebih rendah, tapi justru jauh lebih menakutkan. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam menusuk Rina.
“Hotel ini milikku. Siapa kamu, berani-beraninya mengatur hotelku?” lanjutnya dingin.
Rina langsung terdiam. Langkahnya mundur setengah, wajahnya berubah pucat. Untuk pertama kalinya, keberaniannya runtuh di bawah tatapan Adrian yang tidak memberi ruang untuk membantah sedikit pun.
“Pak Adrian, aku dari keluarga Lesamana. Sejak kecil kita sudah diikat dalam pertunangan. Jadi apa salahnya aku membantu kamu menegakkan aturan hotel ini?”
Adrian mengernyitkan dahi, menatap Rina dengan heran dan dingin.
“Siapa kamu?” tanya Adrian datar. “Aku bahkan tidak kenal kamu. Dan sejak kapan kita bertunangan?”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam harga diri Rina. Kepercayaan dirinya runtuh sedikit demi sedikit.
Rahang Rina mengeras, menahan emosi yang mulai naik. “Pak Adrian, dia itu serakah. Aku tadi hanya menyampaikan keinginan karyawan lain. Mereka yang single lebih membutuhkan asrama ini dibanding dia.”
“Aku akan pergi,” ucap Kayla dengan suara serak. Ia langsung jongkok, hendak memunguti barang-barangnya yang berserakan di lantai.
Namun Adrian segera memegang pundaknya, menahan gerakannya, lalu menariknya berdiri kembali. Tanpa ragu, ia memeluk Kayla erat.
“Dokter sudah bilang, tiga bulan pertama kehamilan tidak boleh mengangkat barang berat,” bisiknya pelan.
Tatapan Rina semakin mengeras. Hatinya terasa hancur melihat Adrian begitu melindungi Kayla, seolah perempuan itu sangat berharga.
“Terima kasih,” ucap Kayla lirih, nyaris tak terdengar.
Adrian melepas pelukannya, lalu tanpa diduga, pria itu—pemilik hotel dengan kekayaan tak terhitung—jongkok dan mulai memunguti barang-barang Kayla satu per satu.
Situasi itu membuat panik semua orang. Mira, Mila, bahkan beberapa petugas keamanan yang berdiri di belakang langsung bergerak membantu.
“Pak Adrian, biarkan saja yang lain yang membereskan barang Nyonya Kayla,” ucap Aldo dengan wajah cemas.
Adrian berdiri kembali, lalu meraih jemari Kayla. Genggaman itu seolah menegaskan satu hal: perempuan ini ada di bawah perlindungannya.
Rina semakin kesal melihatnya.
“Aldo, periksa orang-orang ini. Apakah mereka sering membully karyawan lain atau tidak. Yang perlu dipecat, pecat. Yang perlu diberi sanksi, beri sanksi berat,” perintah Adrian dengan suara tegas tanpa ruang bantahan.
Kemudian ia menarik Kayla sedikit mendekat, membuat mereka berdiri berdampingan.
“Kalau ada masalah, kamu harus cerita padaku,” ucapnya pelan.
“Baik,” jawab Kayla dengan suara gemetar.
Adrian mengeratkan genggamannya. “Mari pulang. Nenek khawatir sekali. Barang-barang biar nanti Aldo yang bawa.”
Ia melangkah pergi sambil menggenggam tangan Kayla, meninggalkan lorong yang kini sunyi penuh ketegangan.
Amarah Rina meledak.
“Pak Adrian! Keluarga Wijaya dan keluarga Lesamana sudah bersahabat sejak lama! Kenapa Anda membela perempuan murahan itu?” teriaknya.
“Diam! Jangan sembarangan bicara pada Nyonya,” bentak Aldo dengan tatapan tajam.
Rahang Rina mengeras. Tangannya gemetar saat melihat Adrian terus melangkah, tetap menggenggam tangan Kayla tanpa ragu sedikit pun. Dengan penuh amarah, ia mengangkat ponselnya dan memotret mereka dari belakang.
Setelah mengambil foto itu, Rina segera mengirimkannya ke kontak bernama Ka Lina. Lina adalah kakak angkat Rina, mereka berdua sama-sama dibesarkan oleh keluarga Permana.
Foto Kayla dan Adrian yang bergandengan tangan itu terkirim, dan langsung dibaca.
Di seberang sana, seorang perempuan cantik sedang duduk di depan cermin besar. Rambutnya baru saja dicatok oleh seorang pelayan. Namun ketenangan ruangan itu langsung pecah ketika ponselnya bergetar.
Ia membuka pesan itu Wajahnya langsung berubah. Tak lama kemudian, Rina menelepon.
“Ada apa, Rin?” tanya Lina dengan suara tenang yang mulai berubah dingin.
“Ka Lina, ini gawat,” ucap Rina cepat. “Pak Adrian, tunangan Kak Lina… dia sedang dekat dengan karyawan hotelnya. Namanya Kayla, seorang wakil manajer di Hotel Perdana. Tadi mereka berpelukan dihadapan orang banyak, dan dia sedang hamil. Jangan jangan dia hamil anak pak Adrian”
“Apa?” sentak Lina hampir berteriak. Kepalanya sedikit bergerak keras hingga catokan rambut bergeser.
Sekejap kemudian, amarahnya meledak.
Ia meraih catokan dari tangan pelayan di dekatnya, lalu tanpa ragu menempelkan alat panas itu ke tangan pelayan tersebut.
“Arghhh! Panas!” teriak pelayan itu sambil menarik tangannya.
“Diam!” bentak Lina dengan mata melotot. “Sini tangan kamu! Kalau tidak, aku pecat kamu!”
Pelayan itu gemetar. Ia tidak berani melawan, hanya bisa menyerahkan tangannya dengan takut.
Dengan kejam, Lina kembali menempelkan catokan panas itu, membuat pelayan itu menggigit bibirnya menahan sakit.
“Kurang ajar… kamu terus awasi wanita itu,” ucap Lina penuh amarah sebelum sambungan terputus.
Lina menggertakkan giginya, lalu menyapu semua peralatan kecantikan di meja hingga jatuh berserakan di lantai.
Ruangan itu berubah kacau dalam sekejap. Dengan napas memburu, ia segera menelpon seseorang lagi.
“Aku mau kalian awasi dan selidiki karyawan Hotel Perdana bernama Kayla.”
Tatapannya tajam menatap bayangannya di cermin besar. Rahangnya mengeras.
Lina tidak pernah rela kehilangan Adrian. Obsesi itu sudah lama tumbuh, dan sekarang berubah menjadi amarah yang tidak lagi bisa dikendalikan.