Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran
Setelah puas bermain main. Daffin melepaskan ciumannya, ia mengusap sudut bibir Nara yang basah karena air liurnya.
"Hiks.. Elo.. Hiks.. jahat.." Nara memukul dada Daffin kencang.
"Kalo elo gak mau semua ini terjadi, jangan coba coba membuat gue marah." Daffin menghentikan tangan Nara.
"Maaf." cicit Nara pelan.
"Pulang!" Daffin menarik tangan Nara kasar. Nara hanya bisa pasrah mengikuti langkah Daffin.
"Gue udah peringatin elo!" tunjuk Daffin tepat di wajah Baim "Sekali lagi elo ngedekit Nara, gue bakal bikin hidup elo gak tenang." ujarnya penuh ancaman.
"Ra. Elo gak papa 'kan?" Baim tidak perduli akan ancaman Daffin, ia melepaskan diri dari cengkraman tangan Tama dan Remon. Tangan Baim terulur ingin mengusap wajah Nara yang masih di penuhi air mata.
Nara refleks mundur bersembunyi di belakang Daffin. Ia masih sangat takut pada Daffin dan Nara juga tidak mau Daffin kembali menyakiti Baim.
"Ra!" sekali lagi Baim ingin mendekati Nara namun Daffin mengangkat tangannya menghentikan ucapan Baim.
"Elo lihat sendiri kan dia milih bersama siapa?"
"Itu karena elo yang ngancam dia an*ing." geram Baim. Daffin menyeringai, wajahnya melengos.
"Nara!" Daffin menoleh melihat Nara yang berada di belakanganya. "Elo mau ikut gue apa dia?"
"Ikut elo."
"Denger kan pake kuping elo sendiri." Daffin menunjuk telinga Baim. Ia terlihat puas akan jawaban Nara.
"Ra. Elo yakin?"
"Sory, Im." Nara menunduk menyembunyikan air matanya yang lagi-lagi menetes.
Daffin tidak mau berlama-lama berada di tempat itu, ia segera membawa Nara pergi.
"Tam. Rey. Bawain ransel gue dan Nara. Gue balik duluan!" Tama mengancungkan jempolnya.
Tidak berapa lama setelah Nara pergi Mia datang dengan wajah cemas ia menghampiri Baim yang hanya tinggal sendiri di tempat itu.
"Loh Nara mana?" Mia melihat sekeliling. Baim dia tak bergeming.
"Elo gak papa 'kan?" Mia mengusap pipi lebam Baim "kita ke UKS sekarang!" Baim menggeleng lemah.
"Luka elo harus segera diobatin." menarik tangan Baim pelan "Ayo Im, nanti infeksi."
Baim mendengus tapi tetap menurut pada Mia.
~
Di rumah Daffin
Daffin membanting pintu mobilnya dengan keras, membuat Nara yang tengah melamun terlonjak kaget.
"Turun!" seru Daffin.
Perlahan Nara turun dari mobil dengan kaki bergetar ia masih merasa takut melihat Daffin seperti itu.
"Elo masuk! Gue mau pergi."
"Mau kemana?" tanya Nara dengan suara bergetar.
"Minggir." Daffin mendorong tubuh Nara supaya tidak menghalangi jalannya.
Nara masih berdiri di depan rumah walau mobil Daffin sudah lagi tidak terlihat, dengan langkah gontai ia masuk ke dalam rumah.
Beberapa pelayan heran melihat nona nya pulang dalam keadaan kacau dan tidak di temani Daffin. Apalagi ini seharusnya masih jam pelajaran sekolah. Tapi mereka enggan untuk bertanya karena merasa tidak enak melihat keadaan Nara.
Nara menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia menutup wajahnya dengan bantal dan mulai menangis dengan keras, agar tidak ada orang yang mendengarnya.
Setengah jam kemudian Nara tertidur masih dengan seragam sekolah lengkap, bahkan ia tak sempat melepas sepatunya.
Jam tujuh malam Nara terbangun, kerena cacing di perutnya sudah minta jatah makan. Ia teringat jika perutnya belum diisi sejak tadi siang.
Selesai membersihkan diri Nara turun menuju dapur mencari sesuatu yang bisa ia makan. Karena perutnya benar benar lapar.
"Non mau makan?" tanya seorang bibi.
"Iya, Bi. Aku lapar." Nara tidak perduli akan tatapan para pelayan, yang jelas saat ini ia ingin makan. Mungkin mereka melihat matanya yang bengkak.
"Papa belum pulang ya, Bi?"
"Tuan belum pulang, Non." Nara menghela napasnya pelan. Daffin? Jelas tidak perlu di tanyakan lagi, pasti pemuda itu belum pulang.
Selesai makan Nara kembali ke kamarnya, ia melihat ponselnya di atas meja belajarnya bergetar. Nara melihat kontak Daffin yang sedang menghubunginya.
"Hallo?" jawab Nara ragu, kenapa Daffin gak pulang ia malah meneleponnya apa pemuda itu menyesal dan mau minta maaf.
....
"Tama."
....
"Oke gue kesana sekarang, elo sharelok ke gue!"
Klek tut tut tut
Nara bergerak mengambil tas selempang kecil. Ia memasukan ponsel dan dompetnya, dengan cepat ia menuruni setiap anak tangga. Sampai di bawah Nara lupa kalo mobilnya tidak ada di sini, terpaksa ia memesan taksi online.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.