NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: SELAMANYA AKAN MENJADI ANAK SAYA

"Arkan, kemari."

Suara bariton Kolonel Victor terdengar rendah, datar, namun sarat akan penekanan mutlak yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun. Sepasang mata kelamnya mengunci pergerakan sang anak. Arkan, yang meskipun sedang dalam mode merajuk dan keras kepala, seketika menciut saat mendengar nada komando dari pria raksasa itu. Dengan bibir yang masih mengerucut sebal, bocah enam tahun itu akhirnya perlahan melonggarkan kuncian lengannya di leher Ayu.

Victor melangkah maju satu kali lagi, mengulurkan kedua lengannya yang kekar, lalu dengan sangat mudah memindahkan bobot tubuh padat Arkan ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Begitu Arkan berpindah gendongan, Ayu secara refleks mengembuskan napas lega yang tertahan. Otot punggungnya yang sempat menegang karena kewalahan menopang tubuh Arkan yang kian meninggi kini bisa kembali rileks.

Namun, ketenangan Ayu tidak bertahan lama. Setelah memposisikan Arkan dengan nyaman di dalam gendongan lengan kirinya, Victor tidak langsung berbalik pergi. Pria raksasa itu memaku langkahnya di depan meja kerja Ayu, menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu dengan tatapan yang teramat serius dan mendalam.

"Kapten Ayuni Ameera Bakri," panggil Victor, menyebut nama lengkap sang Polwan militer dengan nada dinas yang sangat formal. "Sepertinya, setelah urusan siang ini selesai, ada hal sangat krusial yang harus kita bahas bersama mengenai kita kedepannya."

Ayu tertegun di tempatnya berdiri. Kedua alisnya bertaut rapat, menyiratkan kebingungan yang teramat sangat. "Kedepannya? Mohon izin, Komandan, maksudnya—"

Belum sempat Ayu menyelesaikan kalimat tanyanya, Victor sudah terlebih dahulu membalikkan tubuh raksasanya dengan taktis. Tanpa sepatah kata tambahan, sang Kolonel melangkah lebar menggendong Arkan keluar dari dalam ruangan kerja staf intelijen tersebut, meninggalkan Ayu yang masih terpaku kaku didera rasa penasaran yang membuncah.

Victor berjalan dengan langkah tegap bin tegas menyusuri koridor beton menuju gedung utama Markas Komando (Mako). Di dalam dekapannya, Arkan hanya bisa diam tertunduk, memilin ujung kerah seragam dinas harian milik Victor dengan jemari kecilnya. Atmosfer di sekitar mereka terasa begitu dingin dan menekan.

Begitu melangkah masuk melewati pintu lobi utama Mako, pemandangan di dalam ruangan seketika menyita perhatian. Di sana, tepat di depan meja piket provost, sudah ada sepasang ibu dan anak laki-laki berusia belasan tahun yang sedang berdiri membungkuk kaku dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Di samping mereka, Sersan Satu Johan berdiri dengan sikap tolak pinggang, menjaga agar kedua orang tersebut tidak beranjak satu inci pun dari tempatnya.

Ternyata, mereka adalah keluarga dari salah seorang perwira pertama berpangkat Kapten yang berdinas di Pusdikmil ini—sama seperti pangkat Ayu. Hanya saja, sang kepala keluarga, Kapten Ulil, saat ini sedang tidak berada di ksatrian karena tengah mengemban tugas negara yang mulia. Beliau dikirim dalam satuan tugas (Satgas) pengamanan ke wilayah perbatasan luar kota untuk menyalurkan bantuan sosial dan misi perdamaian wilayah. Di lembaga pendidikan militer seperti Rindam maupun Pusdikmil, penugasan Satgas ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri seperti kontingen perdamaian memang merupakan hal yang lumrah terjadi bagi para personelnya.

Wanita paruh baya bernama Ibu Alma itu tampak meremas jemarinya sendiri dengan gemetar, sementara anak laki-lakinya yang berusia sekitar sebelas tahun—anak yang sore kemarin memimpin perdebatan dan mengejek Arkan di lapangan komplek—hanya bisa menatap lantai marmer dengan wajah pucat pasi.

TAP! TAP! TAP!

Suara ketukan sepatu lars milik Victor menggema kuat di lobi Mako, membuat ibu dan anak itu seketika menegakkan tubuh dalam posisi siap yang gemetar. Victor menurunkan Arkan dari gendongannya secara perlahan. Begitu kaki kecilnya menapak di lantai, Arkan langsung mengenali sosok kakak laki-laki yang berdiri di depan sang ibu. Itu adalah anak yang kemarin sore tertawa paling keras dan mengatakan dengan lantang bahwa Komandan Besar sama sekali bukan ayah kandung Arkan.

Victor berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya. Sosok raksasanya seolah menenggelamkan keberanian sepasang ibu dan anak di hadapannya.

"Ibu Alma," ucap Victor. Suaranya terdengar pelan, tidak membentak, namun setiap untaian kata yang keluar dari bibirnya memiliki penekanan magis yang laksana hantaman palu hakim di ruang sidang.

"Ibu tentu tahu dan sadar betul, Arkan ini masih anak-anak. Dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa soal peliknya urusan orang dewasa. Saya ingin bertanya kepada Ibu, apakah mulut Ibu memang tidak bisa diam saja, atau rasanya ada yang kurang enak di tenggorokan Ibu kalau dalam sehari saja tidak membicarakan kata-kata yang tidak baik tentang keluarga orang lain?"

Ibu Alma seketika menelan ludah dengan susah payah, wajahnya kian memutih. "Mo... Mohon izin, Bapak Danpusdikmil..."

"Perlu Ibu dan seluruh warga asrama ketahui," potong Victor cepat dengan kilat mata yang kian menajam. "Saya dan staf Intelijen Kapten Ayu akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini."

Rentetan kalimat itu mendadak membuat Sersan Satu Johan yang berjaga di samping menahan napas, sementara Arkan langsung mendongak menatap wajah Victor dengan mata membelalak.

"Perlu juga ibu Alma ketahui. Saya dan Ayu sudah kenal lama. Dulu di masa lalu, kami berdua pernah menjalin hubungan yang sangat dekat," lanjut Victor dengan nada suara yang berwibawa, membuka sedikit tabir misteri yang selama ini menjadi konsumsi gosip liar. "Namun, karena saat itu ada perbedaan keyakinan yang mendasar di antara kami, Tuhan seolah sengaja menunda takdir kami. Sekarang, jalannya sudah terbuka. Jadi, apakah ada yang salah dari hubungan kami berdua hingga Ibu harus menggoreng statusnya setiap siang di teras rumah?"

"Ah... tidak, Bapak Pusdikmil. Saya benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya atas segala kelancangan saya selama ini," ucap Ibu Alma dengan suara yang bergetar menahan tangis malu.

"Memangnya, apa yang membuat status seorang wanita yang menjadi ibu tunggal atau janda begitu rendah dan hina di mata Ibu?" tanya Victor lagi dengan nada merendah yang sangat menusuk ego. Pria raksasa itu kemudian mengalihkan pandangan matanya, menatap lurus ke arah anak laki-laki berusia sebelas tahun yang berdiri di samping Ibu Alma.

"Dan kamu, anak muda," ucap Victor tegas, membuat bocah sebelas tahun itu tersentak kaku. "Arkan itu adalah anak saya. Dan sampai kapan pun, dia akan selamanya tetap menjadi anak saya. Tahu apa kamu soal urusan internal keluarga kami sampai berani mengklaim Arkan bukan anak saya di depan anak-anak lain?"

Victor menjeda kalimatnya, memberikan penjelasan taktis yang sengaja ia susun agar bisa dicerna dengan logis oleh otak anak seusia mereka. "Saya dan ibunya Arkan itu hanya sedang terpisah jarak sementara waktu karena tuntutan kedinasan masing-masing, itulah alasan mengapa selama dua tahun ini kami tidak tinggal di bawah satu atap rumah yang sama. Paham kamu?"

Mendengar untaian kalimat yang sangat masuk akal itu, anak laki-laki berpangkat Kapten itu langsung mengangguk cepat berulang kali dengan wajah ketakutan. Bagi anak seusianya, penjelasan bahwa orang tua "pisah rumah sementara karena tugas" adalah hal yang sangat biasa dan sering terjadi di lingkungan militer.

"Tolong ya, Ibu Alma," ucap Victor, menutup interogasinya dengan nada dingin. "Selama suami Ibu, Bapak Kapten Ahmad Riandi Ulil, sedang berjuang bertaruh nyawa melaksanakan tugas Satgas di luar sana, setidaknya Ibu fokus berdoa saja di dalam rumah agar Bapak Ulil selalu diberikan kesehatan dan bisa pulang dengan selamat. Gunakan waktu Ibu untuk mengajarkan hal-hal yang baik dan sopan kepada anak-anak, bukan malah mencontohkan tabiat buruk dengan mengurusi hidup orang lain."

"Siap Bapak Komandan!" sahut Ibu Alma dengan suara serak, memberikan hormat sedalam-dalamnya.

Di samping kaki tegap Victor, Arkan yang sejak tadi menyimak setiap kalimat yang meluncur dari mulut sang Komandan Besar, mendadak merasakan hatinya membuncah oleh rasa lega yang luar biasa. Otak kecilnya mulai berpikir dan menarik kesimpulan baru. Ternyata, kakak laki-laki berbaju biru itu salah besar! Ayah Besar memang beneran ayahnya Arkan! Mereka tidak serumah hanya karena Ayah dan Ibu sedang tugas dinas terpisah. Seluruh keraguan dan kesedihan yang menghimpit dada Arkan sejak kemarin sore kini lenyap tanpa sisa, digantikan oleh rasa bangga yang kembali membara di dalam hati kecilnya.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!