Ketika target Pelenyapan nya, adalah cinta nya sendiri! Apakah ia mampu melenyapkan nya?
Keduanya cerdas namun memiliki cerita hidup yang menyimpang, tapi bagaimana jika persimpangan itu sendiri menyatukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Limosin dan Perancis
"Tuhan, aku tidak bermimpi!" Batin Bella.
Apa yang di katakan seseorang di surel itu benar. Ia mengirimkan lokasi tempat dimana pertemuan mereka disana. Juga sebuah Kartu hitam digital dengan tulisan emas berisi Kaneki Corps, sesuai dengan arahan dari orang itu Bella menunjukkan kartu itu di Penerbangan tujuan Perancis. Sungguh setelah itu dia terkejut. Sebuah ruang pesawat VIP untuknya dengan pelayanan penuh.
"Nona, jika ada yang anda butuh sesuatu kami siap melayani." Ucap seorang Pramugari, Bella mengangguk mendengar itu.
"Emm, boleh kutanyakan sesuatu?" Tanya Bella, Pramugari itu mengangguk.
"Ya nona?"
"Soal kartu ini, sebenarnya milik siapa?" Pramugari itu tersenyum padanya. Ini pesawat asal Perancis, yang baru saja mendarat di Amerika petang lalu. Mereka mengantar warganya yang akan berlibur kemari. Bella memang di atur untuk ada dalam pesawat ini, oleh Brian dan Eddie disana.
"Nona, itu kartu dari Tuan muda kami. Mereka sangat mengagumimu. Separuh dari penghasilan mereka disana, untuk perbaikan pesawat ini di Perancis. Kau beruntung bisa mendapatkan akses VIP dari Tuan kami!" Ucap Pramugari, Bella diam ia hanya tersenyum pada pramugari itu. Luar biasa sekali rasanya seperti mendapatkan sebuah door prize.
"Kaneki Corp di dirikan oleh dua orang Pemuda?" Tanya Bella lagi, pertanyaan itu membuat Pramugari itu mengangguk.
"Ya nona, sepuluh tahun lalu mereka memulainya dengan kedai coklat. Sekarang kedai itu tumbuh menjadi sebuah perusahaan besar. Dengan gedung pencakar langit tertinggi ke 5 di Perancis. Hebat bukan?" Bella tersenyum mendengar itu, luar biasa rasanya perusahaan sebesar itu di dirikan begitu saja oleh dua orang.
"Silahkan duduk nona, semoga kau menikmati perjalananmu." Ucapan terakhir dari Pramugari itu di iringi dengan senyuman. Ia pun berlalu dari hadapan Bella.
Luas sekali disini sungguh, Bella biasanya duduk di kelas bisnis. Dia tidak pernah merasakan duduk di kelas VIP. Ia bersandar di kursinya, mencoba menikmati pemandangan dari balik kaca pesawat.
Beberapa menit setelah persiapan selesai, pesawat itu mulai lepas landas. Mungkin ini akan memakan waktu yang cukup lama. Bella memutuskan menutup matanya menyelami alam mimpi.
Di lain tempat, di depan kaca Brian sudah rapi dengan jasnya. Ini sudah sepuluh tahun, kumis yang bertumbuhan di wajahnya rambutnya yang sudah cukup panjang itu tak pernah ia potong.
"Brother, bagaimana dia akan mengenalimu dengan penampilan itu?" Tanya Eddie di ambang pintu.
"Dia akan mengenaliku, jika hatinya masih memeluk namaku. Benar bukan?" Eddie menghela nafas mendengar itu.
"Okay, anggap saja dia tidak mengenalimu dengan logikanya tapi merasakan keberadaanmu dengan hatinya. Kira-kira manakah yang akan menang?" Brian meletakkan sisirnya kembali, mendengar ucapan Eddie itu dia tersenyum dan berbalik.
"Semua terserah pada Tuhan saja. Aku hanya akan melakukan apa yang aku bisa. Jika di hatinya sudah ada tempat untuk orang lain, aku tidak keberatan mundur." Gemas dengan ucapan itu, Eddie membulatkan matanya. Enteng sekali dia mengucapkan itu setelah apa yang terjadi.
"Kau ini bicara apa? Kau tidak membiarkanku melepaskan Angela, lalu kau?" Kesal Eddie.
"Hahahah... tidak-tidak, aku hanya bercanda. Lagi pula, ini masalah waktu bukan. Manusia kadang terbiasa dengan kehilangan dan dukanya seiring berjalannya waktu. Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan. Sekarang diamlah disini aku akan membawa kakak iparmu pulang." Eddie tersenyum lalu mengangguk. Brian menepuk pelan bahu adiknya itu lalu pergi dari sana.
...Kami di di atur oleh Pencipta Semesta...
...Yang Agung...
...Kami debu paling kecil di hadapan Tuhan...
...Dalam semestanya sering mengumpat...
...Menyalahkan perihal apapun yang terjadi...
...Dunia tidak selalu seperti cara dan keinginanmu...
...Ini roda-roda variasi bukan milikmu seorang...
...Ini perjalan seluruh jiwa...
...Bertamasya kemari dengan buku takdirnya...
...masing-masing...
Perancis, kota Paris dan Efielnya terlihat sangat menawan. Ini sudah malam, dan Bella baru keluar dari bandara sambil menyeret kopernya keluar. Sembari berjalan Bella membuka ponselnya, mencoba mencari tau apakah ada surel baru yang masuk dari orang itu. Ternyata ada satu surrel masuk disana.
***Hei, kau bisa temukan manusia yang membawa tulisan di papapnnya.
Kaneki Car
Orang dengan tulisan itu, akan mengantarmu beristirahat di hotel***.
Bella menutup ponselnya kembali netranya beralih mencari keberadaan papan yang di maksud. Dari jutaan nyawa disana, ada satu orang di ujung kanan dengan jas hitamnya. Tak salah dengan apa yang dia lihat, ia pun bergegas menghampirinya. Pria itu dengan papan di tangannya bertuliskan Kaneki Car.
"Emmm... Hei, aku mendapatkan surrel untuk menemuimu. Apa benar kau dari Kaneki Corps?" Tanya Bella ketika tepat berada dihadapan Pria itu. Pria yang tak lain adalah Brian itu pun mengangguk. Brian memakai kacamata hitam kala itu.
"Tentu saja nona, aku dari Kaneki Corps. Sepertinya Tuan Muda mempersiapkan segala hal dengan baik ya." Jawab Brian.
Bella terkejut mendengar suara dari Pria ini. Seperti suara Brian, sungguh sangat mirip. Melihat penampilannya itu membuat Bella menepis segala hal di kepalanya.
'Damn, dia seorang om om, Bel.... Brian tidak mungkin berjenggot seperti itu, astaga!" Batin Bella.
Brian mengulurkan tangannya ke arah Bella.
"Apa?" Tanya Bella, menatap heran padanya.
"Bisa kubawakan itu nona?" Bella paham sekarang, tanpa ragu ia memberikan kopernya pada Brian. Dengan senang hati Brian membawakan itu. Keduanya pergi menuju sebuah Limosin yang sedang terparkir di depan bandara.
"Astaga!" Pekik Bella tepat ketika berada dihadapan Limosin itu. Brian yang sedang berada dibelakang mobil, menaruh koper Bella tersenyum mendengar itu.
"Kenapa harus limo?" Tanya Bella, Brian menutup bagasinya. Lalu tersenyum padanya.
"Nona, ini kendaraan umum bagi Tuan muda kami. Dia punya banyak mobil limo di kediamannya." Jelas Brian.
"Hah?" Bella terkejut.
"Ya nona, mereka lebih sering menggunakan ferari dan Lamborghini." Sungguh ini sudah terlalu mewah bagi Bella. Kemewahan ini untuknya apa tidak terlalu berlebihan? Dia hanya datang memenuhi undangan tapi di perlakukan layaknya seorang ratu.
Brian membukakan pintu mobilnya untuk Bella. Masih dengan perasaan yang terpukau Bella pun masuk kedalam Limosin. Brian ikut masuk kedalam, dia tidak menyupir kali ini.
"Kau ikut masuk?" Tanya Bella, ketika melihat Brian masuk dan duduk dihadapannya.
"Ya, tugasku hanya membawamu dan memastikanmu aman sebelum bertemu Tuan muda." Jelas Brian, Bella mengangguk mendengar itu.
"Lalu, kapan aku bisa menemuinya?" Tanya Bella. Disitu Brian mengeluarkan secarik kertas, dimana disana tertera banyak tulisan. Brian menunjuk salah satu kalimat disana.
"Seminggu lagi dia akan datang." Jawab Brian.
"Hah, seminggu?" Tanya Bella heran. Tentu saja dia heran, jika Tuan muda mereka kembali seminggu lagi lalu untuk apa dia mengundangnya lebih awal kemari.
"Tidak usah heran nona. Tuan muda adalah penggemar setiamu, dia tau kau sangat menyukai Paris dan isinya dari novelmu. Itulah mengapa dia mengundangmu kemari lebih awal, agar kaubisa menikmati kota ini dan Eiffel." Penjelasan dari Brian membuat Bella tersenyum. Rasanya dia seperti dimanjakan saja disini.
"Astaga, rasanya aku sudah seperti istrinya saja ya?" Canda Bella. Hangat sekali rasanya mendengar tawa itu kembali, Brian ikut tersenyum melihat kebahagiaan kekasihnya tersirat disana.
'Kau memang akan segera ku nikahi, sayang. Aku akan bermain sebentar disini denganmu, sampai matamu bisa mengenali aku."
...Prasasti terindah dalam hatiku adalah...
...Namamu...
wiihh ngomong² nm nya sama gwe thor hahahaa...
kaget gwe pas pertama bca..