NovelToon NovelToon
Elang Mataram

Elang Mataram

Status: tamat
Genre:Petualangan / Fantasi Timur / Pendekar / Ahli Bela Diri Kuno / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dan budidaya abadi / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Fariz Pradipta

Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.

Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 – Dewi Bidadari Dari Gunung Lawu

Akan tetapi Tapak Gatra malah tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan anak buahnya yang terus mengaduh sambil memegangi selangkangannya dengan berurai air mata karena menahan perih yang teramat sangat  Kesempatan ini digunakan oleh Retno untuk segera melarikan diri, tapi dengan mudahnya Tapak Gatra mencekal

kerah baju belakang gadis hitam ini kemudian mengangkatnya ke atas seperti mencenkal tengkuk seekor kucing kemudian menotok Retno. “Weishhh! Ternyata gadis ini binal juga, tapi aku sangat suka gadis binal! Hahaha…”

Sementara anak buah Tapak Gatra yang tadi “pusaka”nya ditendang Retno bangun, dengan sambil mengaduh ia menghunus goloknya dan hendak membacok Retno. “Tahan!” bentak Tapak Gatra sambil menendang golok di tangan anak buahnya hingga goloknya lepas dari tangannya. “Guubbllookkkk! Jangan bunuh dia! Mereka ini harus kita nikmati hidup-hidup! Masa kau mau menggauli mayat mereka?!” semprot Tapak Gatra.

“Hoi! Gadis yang itu jatah untuk kalian, biar gadis binal buat jatahku! Hahaha…” Ucap Tapak Gatra yang memberikan Warsiah untuk para anak buahnya sementara ia mengambil Retno sambil tertawa mesum. Retno hanya bisa pasrah, teringatlah ia pada ayahnya yang seorang pemimpin kelompok perampok yang teramat kejam. Kini ia pun diculik oleh sekelompok perampok yang sudah siap untuk “merampok” kehormatan calon pengantin yang tidak jadi menikah ini.

Retno menutup matanya dan menggigit bibirnya ketika ia mendengar suara jeritan pilu Warsiah, pengasuh sekaligus sahabat sebayanya ini terus menjerit-jerit seiring dengan suara robekan kain dan tawa para lelaki buas anak buah Tapak Gatra tersebut. “Oh Romo… Apakah ini hukum karma untuk anakmu? Gusti… Apakah Dosa

Romoku harus kau timpakan kepadaku?” ratapnya dalam hati bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes ketika tangan kasar Tapak Gatra mulai merobek pakaiannya dan menggeranyangi tubuhnya.

Tapi tiba-tiba terdengar suara pukulan keras yang diikuti dengan suara keluh kesakitan Tapak Gatra. Retno pun membuka matanya, ternyata di hadapannya telah berdiri seorang perempuan paruh baya yang berparas amat cantik dan berpakaian mewah sekali. Pakaian kuning wanita bersanggul konde emas ini dihiasi dengan selendang-selendang sutra berwarna-warni dan aneka perhiasan mewah dari emas dan permata, tubuhnya tinggi semampai dan nampak anggun sekali. Namun yang membuat Retno bergdik ngeri adalah aroma kembang tujuh rupa yang tiba-tiba menghampar memenuhi tempat itu.

“Brengsek! Siapa kamu?!” bentak Tapak Gatra.

Wanita cantik ini menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih bersih, sungguh cantik seringai wanita paruh baya ini, namun aura mengerikan pun nampak jelas dari seringai wajah wanita ini. “Aku Penguasa Gunung Lawu ini! Tak kuzinkan siapapun berbuat keonaran di wilayahku!”

“Setan! Ini wilayah kami, kau jangan mengaku-ngaku!” semprot Tapak Gatra sambil mengacungkan goloknya.

“Jangan kau kira aku tidak tahu! Kalian gerombolan Perampok yang melarikan diri dari kejaran Adipati Ponorogo karena berani merampok di wilayahnya!” jawab wanita misterius ini dengan dingin namun tegas.

“Kurang ajar! Cukup sampai disini hidupmu itu! Heeaatttt!” Tapak Gatra menerjang wanita itu dengan goloknya  Untuk selanjutnya Retno tak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi karena ia masih dalam keadaan tertotok. Ia hanya mendengar sedikit sabetan golok, namun itu tak lama karena kemudian terdengar  suara sambaran sambaran bagaikan suara sambaran petir yang kemudian diikuti jerit kematian Tapak Gatra dan anak buahnya.

Rupanya itu suara sambaran dari selendang-selendang milik wanita misterius itu yang menyambar-nyambar Tapak Gatra dan anak buahnya. Ternyata wanita ini kesaktiannya sudah sulit untuk diukur karena dalam waktu sekejap saja ia sudah bisa menghabisi Tapak Gatra dan semua anak buahnya. Para perampok itu tewas dengan dada ambrol dan sekujur tubuh hangus menghitam bagaikan tersambar petir!

Wanita ini kemudian melepaskan totokan Retno sehingga gadis ini kembali bisa bergerak dan berbicara. “Eehhh… Terima kasih Den Ayu sudah menyelematkan kami…” Ucapnya sambil menjura pada wanita itu.

Tetapi Wanita itu hanya terdiam dan menghela nafas panjang sambil melihat ke arah lain. “Aku terlambat….” desahnya.

Retno pun melihat ke arah yang sedang dilihat oleh wanita itu, menjeritlah ia ketika melihat Warsiah tewas dengan kepala pecah. Retno menjerit kemudian berlari dan memeluk mayat Warsiah. “Aku terlambat… Rupanya gadis ini sangat terpukul dan bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke pohon itu.” desah wanita itu sambil melihat sebatang pohon besar yang belumuran darah.

Saat itu tiba-tiba datanglah beberapa orang gadis berpakaian warna-warni yang melompat dari atas pohon-pohon yang tidak disadari oleh Retno karena suara langkah kaki mereka tidak terdengar olehnya. Mereka langsung bersujud pada wanita misterius itu. “Kalian terlambat!” tegur wanita itu.

“Maafkan kami Gusti Patih…” jawab mereka berbarengan dengan kepala semakin menunduk ke bawah.

“Sudahlah… Sekarang buang mayat mereka! Hanyutkan mayat mereka ke sungai!” perintah wanita itu. “Dan kamu, bawa jenasah gadis itu ke tempat kita dan kebumikan dengan layak!” perintahnya pada salah satu gadis itu sambil menunjuk jenasah Warsiah.

Wanita itu kemudian mendekap Retno yang masih menangis sesegukan. “Siapa namamu Ndhuk?” tanyanya dengan lembut.

“Retno…. Retno Jumini…” Jawab Retno.

“Kenapa kamu bisa sampai ada di hutan seperti ini?”

“Sa… Saya…. Melarikan diri dari Desa saya…” jawab Retno dengan kagok.

“Begitu? Hmm… Bagaimana kalau kamu ikut denganku saja, kamu bisa tinggal di tempatku.” ajak wanita itu.

“Tunggu… Siapa nama Nyai? Dan dimanakah tempat Nyai?” tanya Retno penasaran.

“Orang-orang menyebutku Dewi Bidadari Gunung Lawu, tempatku ada di puncak gunung Lawu ini!” jawab wanita yang bergelar Dewi Bidadari Gunung Lawu itu.

“De… Dewi… Bi… Bidadari???” tanya Retno dengan ketakutan mendengar gelar wanita itu, apalagi sedari tadi hidungnya mencium aroma kembang tujuh rupa yang mewangi dari tubuh wanita itu.

“Jangan takut Ndhuk… Aku ini manusia juga, sama sepertimu! Nama asliku Kantili. Akan kuceritakan semuanya di tempatku. Sekarang bagaimana? Lebih baik kau ikut denganku daripada kau kembali menjadi mangsa para lelaki buas macam mereka!” ajak Nyai Kantili setengah memaksa.

Retno berpikir sejenak, sepertinya tawaran Nyai Kantili adalah yang terbaik untuknya saat ini. Dia tidak punya tempat tujuan dan tidak tahu apa yang akan menghadangnya di depan nanti. Maka meskipun ia masih ketakutan pada Nyai Kantili, ia pun menerima ajakan penolongnya tersebut. “Baiklah Nyai, saya ikut dengan Nyai saja.”

“Bagus! Sekarang pegang tubuhku erat-erat!” perintah Nyai Kantili. Retno pun memegangi tubuh Nyai Kantili, dan wushhh!!!! Retno tak bisa mempercayai apa yang ia saksikan dan rasakan, ia dibawa terbang oleh Nyai Kantili meninggalkan tempat tersebut!

***

Didalam sebuah rumah gubug di puncak gunung Sindoro, seorang pemuda berambut gondrong yang terluka amat parah dengan sekujur tubuh membiru nampak tak sadarkan diri sedang direndam didalam sebuah gentong raksasa berisi air mendidih yang mengeluarkan bau aneh, hingga tak ubahnya pemuda itu nampak sedang direbus didalam sebuah gentong raksasa. Pemuda itu yang tak lain adalah Surodipo mulai menggeliat merasakan kesakitan diseluruh bagian tubuhnya, perlahan matanya mulai membuka.

Perlahan kesadarannya mulai pulih, pandangan matanya mulai jelas, ia mendapati sedang berada didalam gentong raksasa, direndam semacam air panas yang mengeluarkan bau aneh hingga layaknya ia sedang direbus! “Ah air ini panas sekali, membuat seluruh tubuhku makin sakit! Ahhh… Apakah ini di Neraka? Apakah aku sedang disiksa di neraka?” rintihnya.

Surodipo kemudian merintih menahan sakit disekujur tubuhnya, dan ternyata kedua tangannya dipasung pada sebuah balok kayu nan kokoh diatas gentong raksasa itu, “Ah aku ingat, setelah bentrokan tenaga dalam karena adu pukulan dengan si Topeng Setan pandanganku menjadi gelap semua aku tak ingat apa-apa lagi, tapi sekarang dimana aku?”

1
baca yg gue suka
kok muter2 gak karuan.
lawan jadi kawan, mau berantem gak jadi. maunya gmn nih?
baca yg gue suka
siapa yg terjebak?
kok malah macet gak nemu ujung pangkalnya
baca yg gue suka
niatnya memancing, knp justru terpancing?
mau mengusut perkara malah disudutkan.
ni namanya terperosok ke lubang sendiri🤣🤣
baca yg gue suka
dikasi hati minta jantung.
pantasnya ngadep laja nelaka😄
Cunomo Cucun
sudah masuk perangkap syetan.
baca yg gue suka
wedus gembel ikutan bantu perang
Feri Fernando
Aryo Pangiri memang kebelinger
Riszal Purbaya Abdi
kerennn
Thomas Andreas
bagus
Lilik Muliyadi
perang antar manusia
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
Ulun Jhava
Jebak menjebak nmax inj😂
Ulun Jhava
Paham kan sekarang benowo??
Ulun Jhava
Laki laki mmg panembahan senopati👍👍
Ulun Jhava
Senopati panembahan mmg the legend selain sakti jg cerdik ditambah sang pama ki martani,.tambah kuat mataram
Ulun Jhava
Raden ronggo congkak egois tapi hatix lembut👍👍keren kau calon raja mataram selanjutx
Ignatius Sumardi
Luar biasa
FPS: Terima kasih 🙏😊
total 1 replies
Esther M
.matur nuwun mas fariz🙏🙏
FPS: Sama2 🙏😁
total 1 replies
Windy Veriyanti
waosan ingkang saè 👍👍👍
matur nuwun 🙏🌷
Windy Veriyanti: senang sekali membaca fiksi berlatar belakang sejarah kerajaan di Tanah Jawa 👍

semoga next ada cerita yang berlatar belakang Kerajaan Padjajaran di era Prabu Siliwangi atau Kerajaan Singhasari di era Prabu Kertanegara 🙏
total 2 replies
Dikjo Ucluk
buat sejarah bsru thor
wahyu hidayat
mantap thor, baru baca di 2024.
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali
FPS: iya dari Babad Tanah Jawi & Serat Kanda
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!