Kisah ini adalah kisah seorang perwira menengah kepolisian Osaka yang bernama Takagi Fujimaru, 35 tahun, bersama rekannya Kaoru Usui, 30 tahun, yang mengungkap kasus pembunuhan berantai. Kasus ini terinspirasi dari kisah nyata pembunuhan berantai yang terjadi di Hongkong pada tahun 1982. Dalam bekerja mereka dibantu seorang dokter ahli forensik yang bernama Keiko Kitagawa, 35 tahun. Bagaimanakah kisah perjuangan mereka mengungkap kasus dan menemukan pelaku yang sesungguhnya ?
Selamat membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bas_E, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 Menit, Kenapa Lama Sekali ?
Keiko memandang tubuh Takagi yang berlahan menjauh. Entah mengapa ada rasa khawatir menyelubungi hatinya. Ia meremas jemari kedua tangannya, sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"5 menit, kenapa lama sekali?"
Jantungnya berpacu dengan cepat. Wajahnya memucat. Sambil menggigit bibit bawahnya, matanya terus memandang ke arah Takagi menghilang tadi, berharap lelaki itu segera muncul dalam keadaan sehat.
Sementara itu pria yang sedang ditunggu oleh Keiko, berlari dengan mengendap-endap. Ia berusaha setiap langkah kakinya bergerak tanpa menimbulkan suara. Begitu tiba di ujung lorong, ia merapatkan tubuhnya ke dinding sambil mengintip. Ia dapat melihat dari tempatnya berdiri, pria yang tadi memapah, sedang melucuti pakaian wanita muda itu, yang telah terbaring tak berdaya.
Salah seorang pria bersiul.
"Pemandangan yang indah. Kau yakin akan membaginya dengan kami?" Kata pria berkaos biru.
"Tentu saja. Aku sudah berjanji. Lagi pula aku menang taruhan dan mendapat jackpot. Ha. Ha .. Ha.." Kata pria berkemeja bunga-bunga itu.
"Dasar kau kekasih durjana" Kata pria berkaos hitam.
"Siapa suruh dia jual mahal padaku" Jawab pria berkemeja bunga-bunga kemudian.
Ketiga lelaki itu menyeringai dengan mata menatap tajam, memandang keindahan tubuh perempuan setengah telan*jang itu. Mereka terlihat mengeluarkan 'tongkat' masing-masing yang berlahan mulai berdiri, siap mengeksekusi mangsanya.
Klontang..
Takagi melempar kaleng minuman, yang kebetulan ada di sana.
"Siapa itu !!!" Seru pria yang berkemeja bunga-bunga. Ia memberi kode kepada temannya yang berkaos hitam. Pria yang diberi kode, kemudian mencari arah datangnya suara dengan perasaan terpaksa.
"Ihh. Mengganggu saja" Ia memasukkan kembali 'tongkatnya' dan menguncinya di dalam celana.
Tak lama terdengar langkah kaki mendekati tempat Takagi bersembunyi. Begitu pria itu mendekat, Takagi meraih tangan orang itu dan menariknya. Pria itu limbung mendapat serangan tiba-tiba. Belum hilang keterkejutannya, dengan cepat Takagi menepuk titik fatal targetnya dengan bagian bawah kedua telapak tangannya, pada daerah rahang sebelah kiri dan bagian atas leher belakang sebelah kanan secara bersamaan.
Bruk..
Orang itu seketika ambruk dan pingsan. Takagi kemudian menyeret tubuh lelaki itu ke tepi dinding. Tak lupa ia memborgol kedua tangan pria itu di belakang tubuhnya. 2 orang yang tersisa tampak bersikap waspada. Takagi mengambil revolver dari pinggang sebelah belakang. Ia keluar dari tempat persembunyian dengan menodongkan senjata pada 2 berandalan itu.
"Polisi !!! Angkat tangan !!!"
Kedua orang itu terkejut. Mereka refleks mengangkat tangan. Takagi sekilas melirik perempuan yang pingsan itu, telah dilucuti sebagian pakaiannya.
"Sarungkan 'pedang' kalian !!" Takagi menunjuk kedua benda itu dengan revolvernya.
Kedua orang itu melihat bagian bawah perut mereka. Dengan menahan sakit, kedua pria itu memasukan 'pedang' mereka yang terlanjur berdiri.
"Berlutut dan letakkan tangan di atas kepala"
Kedua orang itu tanpa banyak bicara, hanya bisa mengikuti perintah Takagi yang menodongkan senjatanya. Dengan cepat Takagi mengambil borgol plastic handcuffs dari kantong kulit yang ada di pinggangnya, dan memasangkannya pada kedua orang itu. Kemudian ia bergegas memeriksa kondisi korban.
"Kelakuan kalian ini benar-benar memalukan. Kalian berniat buruk pada perempuan yang tidak berdaya. Apa kata orang tua kalian kalau melihat kelakuan bejad anaknya" Sambil menutupi bagian tubuh korban yang terbuka dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba, cresss...
Tubuh Takagi terdorong ke depan. Hampir saja ia menghimpit korban, kalau saja kedua tangannya tidak cepat menahan bobot tubuhnya. Revolver dalam genggamannya terlepas beberapa meter. Ia merasakan perih yang teramat sangat di punggungnya. Dengan sekuat tenaga, ia berlahan bangkit dan berusaha berdiri. Meraba punggung dengan tangan kirinya. Ada sebuah kunai menancap di sana.
*****
Kunai (苦内 atau 苦無) adalah peralatan berukuran kecil yang digunakan ninja. Alat ini menyerupai pisau berujung runcing dan sering digunakan seperti kuku oleh para ninja untuk menempel di dinding sewaktu memanjat atau menggali tanah.
Kunai berukuran sekitar 10-15 cm sehingga cukup kecil untuk dibawa ke mana-mana dan disembunyikan di balik baju dari penglihatan orang. Alat ini diketahui sebagai senjata standar bagi ninja seperti halnya shuriken (disebut bintang ninja secara harfiah merupakan sebuah pisau yang tersembunyi. Memiliki bentuk pipih dengan sejumlah mata pisau, biasanya alat ini akan digenggam sebelum dilemparkan oleh ninja ke targetnya). Kunai berukuran kecil disebut Tobikunai (secara harafiah: kunai terbang).
*****
Ia membalikkan tubuhnya. Seorang pemuda kurus dengan tinggi badan yang hampir sama dengan dirinya, telah melempar kunai ke punggungnya. Pemuda itu menyeringai memperlihatkan giginya yang menguning.
" Untung aku ke toilet dulu tadi he he he.."
Tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang dari belakang tubuhnya, dengan cepat Takagi melakukan gerakan memutar dan melompat. Ia merobohkan pria itu dengan sekali tendangan.
Bruk..
Mendapat tendangan keras di kepalanya, orang itu roboh dengan posisi tengkurap. Darah segar mengalir dari hidungnya.
"Sudah ku duga, cuma segitu kemampuanmu" Kata Takagi sambil menahan rasa sakit.
"Detektif !! Kau tidak apa-apa?" Kaoru tiba dengan beberapa orang petugas polisi.
"Bagus kalian sudah datang. Bawa mereka ke kantor, dengan tuduhan percobaan pemerkosaan" Takagi berkata sambil berusaha berdiri dengan tegak.
"Ada berapa orang pelakunya?" Tanya Kaoru tanpa memperhatikan ekspresi Takagi.
"Semua ada 4 orang. Yang seorang aku tinggal di depan sana. Apa kalian sudah mengamankannya?" Sambil meringis menahan sakit.
"Yang di depan sudah kami amankan, Detektif"
Kaoru beserta petugas polisi segera menyeret ketiga orang pelaku yang tersisa.
"Korban belum sempat disentuh. Tapi ia dalam keadaan tidak sadar. Sepertinya perlu di bawa ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya" Ucap Takagi kemudian.
"Paramedis sebentar lagi datang, Detektif" Ucap Kaoru.
"Good. Kita tunggu saja" Jawab Takagi dengan suara sedikit bergetar.
"Detektif, syukurlah kau tidak apa-apa" Keiko datang ke TKP, setelah melihat para tersangka dibawa polisi.
"Dokter..." Takagi berusaha tersenyum melihat kedatangan Keiko.
Keiko mendekati Takagi dengan langkah yang lebar. Senyumnya berlahan memudar melihat raut wajah Takagi yang memucat dan bibirnya terlihat bergetar. 3 langkah, 2 langkah, 1 langkah..
Bruk...
"Detektif !!!!!" Keiko terkejut begitu Takagi roboh di pelukannya. Matanya membulat sempurna melihat sebuah pisau ninja berdiri dengan gagahnya di punggung Takagi. Sekuat tenaga Keiko menahan bobot tubuh Polisi itu.
Kaoru yang mendengar teriakan Keiko, spontan berbalik badan. Segera berlari ke arah Takagi yang berada di pelukan Keiko.
"Ya Tuhan. Kenapa tidak mengatakan kalau kau terluka, Detektif!!" Teriak Kaoru panik.
Paramedis yang baru datang memeriksa kondisi korban, bergegas memeriksa keadaan Takagi.
"Dia kehilangan banyak darah. Harus segera dibawa ke rumah sakit" Kata seorang paramedis, sambil menekan kedua sisi objek yang luka untuk menghentikan pendarahan.
Brankar ambulan segera diturunkan. Takagi segera dinaikkan ke atasnya. Keiko membantu menekan luka Takagi di satu sisi. sisi lain dilakukan oleh seorang paramedis.
Sambil berlari mereka mendorong brankar menuju ambulans yang akan membawa Takagi ke rumah sakit Universitas Osaka sebagai rumah sakit terdekat.
***