"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepolosan Vania
Daffa membaringkan tubuh perlahan, kedua kakinya masih berada di atas lantai. Menggunakan kedua tangan untuk menjadi sandaran kepala, lelaki itu senyum-senyum sendiri menatap punggung istrinya.
"Kamu gak mau nanya aku udah selesai apa belum?" tegur Daffa.
"Nanti kalau mas udah selesai juga pasti panggil, kan?" sahut Vania, senyum tampan suaminya tak bisa berhenti terurai.
Daffa menelisik setiap inci tubuh istrinya, menggigit bibir bawah tipis dan bangkit dari posisi baru saja dibuat nyaman. Menarik pergelangan Vania, mengejutkan seseorang yang dibawanya untuk berbaring bersama.
"Tidur sini," kata Daffa sembari membetulkan posisi tidur. Vania memperhatikan tubuh lelaki yang menyusun bantal untuknya, celana ternyata sudah membalut tubuh. "Liatin apa?" tegur Daffa.
"Celananya mas udah dipakai," jawab Vania, berangsur kedua mata menatap suaminya.
Daffa memahat senyum, diubahnya lebar dengan menunjukkan gigi putih. "Maunya dibuka aja? Kamu mau liat apa emangnya? Penasaran sama sesuatu?" goda Daffa.
"Jangan dibuka dong, masa baru dipakai udah dibuka lagi?" jawab Vania.
"Ya mungkin aja kamu lebih suka kalau dibuka, mau lihat sesuatu. Aku kan gak tau."
"Enggak ada yang mau dilihat kok, Mas. Aku tadi cuma perhatiin aja, mas udah pakai celananya apa belum. Udah gak ada lagi."
"Ngeselin banget, sih?" Daffa mencubit hidung istrinya, cepat melepaskan dan mengukurkan tangan kiri setelah ia berbaring lebih dulu. "Tidur sini!" katanya, memukul lengan.
Vania memperhatikan kebingungan, dia menatap ke arah bantal. Daffa langsung membimbing untuknya bersandar pada lengan, memegang pinggang dan membuat tubuh Vania menghadap dirinya.
"M-mas?" ragu memanggil dan menatap, wajahnya sangat merah.
"Kita kan mau jalani lagi pernikahan ini dengan lebih baik, jadi ya tidurnya harus kayak gini." Daffa berucap, lalu memindahkan tangan Vania pada pingganya. "Tangan kamu di sini, terus badannya lebih deket lagi!" katanya, semakin mendekatkan tubuh hingga hampir menempel penuh.
Vania merasa gerah seketika, padahal pendingin udara sudah berhasil membuat bulu-bulu halus di tangan berdiri tadi. Namun, sekarang justru terasa sangat panas, seolah-olah sekujur tubuh serta wajah ditumbuhi keringat sekarang.
"M-mas gak hubungi mama apa Alya dulu? Takutnya nanti nungguin di rumah." Coba ia memecah keheningan, menghilangkan rasa gugup menyerang.
"Udah tadi hubungi pas di jalan, bilang kalau bakal pulang kesini." Jawabnya tenang.
Vania mengangguk berulang, apa lagi yang harus dikatakan sekarang. Hening kembali tercipta dalam kamar berukuran luas yang dilengkapi dengan banyak perabot selain ranjang.
Jantung berdegup kencang dari Vania, itu mampu dirasakan oleh Daffa dan menarik dagunya untuk pandangan bisa terangkat. Mata saling memandang, Daffa menelan saliva tatkala wajah cantik itu mampu diamatinya sangat dekat.
Ibu jari menyentuh bibir merah Vania, tatapan pun terarah pada titik sama. Namun, itu tidaklah lama, karena Daffa berpindah menatap kedua mata yang tak lepas mengamati dirinya. "Selamat tidur, Nia." Katanya sembari tersenyum.
"Mas juga," jawab Vania melakukan hal sama.
Daffa memejamkan kedua mata, mendekap erat tubuh istrinya dan membelai rambutnya. Walau hubungan ingin diperbaiki, tapi masih saja ada penolakan dalam hati yang coba terus dilawan olehnya. Tentang hubungan suami istri, rasanya cukup sulit bagi Daffa memulai dengan Vania.
Tak ingin melakukan semua hanya sebatas kewajiban tanpa ada campuran perasaan, Daffa tak mau membuat itu nantinya sebagai ganjalan dalam hati. Setidaknya, hati yang terus menolak masih bersedia untuk diajak bekerja sama, membangun hubungan lebih baik dari sebelumnya dengan perempuan yang begitu tulus terhadapnya.
Di waktu bersamaan, namun pada tempat berbeda, Johan tengah duduk di dalam ruang kerjanya. Melamun sedari dirinya memasuki ruangan besar pribadi yang tak pernah dimasuki oleh siapa pun, pria itu menarik laci yang telah dipasangkan kunci, namun ragu untuk memutar langsung.
Sekarang, ia membukanya perlahan, menarik laci yang tak pernah lagi dibuka olehnya. Sebuah buku bersampul coklat diraih, terselip selembar foto di antara halaman-halamannya. Johan menarik foto tanpa membuka buku, tampak wajah cantik dengan ulasan senyum ceria di sana. Terpejam sekilas kedua mata, punggung kembali disandarkan olehnya pada kursi hitam empuk, memiliki sandaran punggung tinggi.
"Aku udah ketemu sama Nia, dan dia mirip sama kamu, Linda. Dia punya senyum ceria yang sama kayak kamu, dia juga punya hati yang bersih. Kamu pasti bangga lihat dia," pilu Johan berucap, seraya menatap foto di tangan kanan.
"Maaf, karena udah jadi pecundang selama ini. Belum bisa bahagiain kamu, atau Vania. Tapi, aku janji akan mulai perbaiki semuanya dari hari ini, aku bakal lakuin semua yang terbaik buat kalian. Aku mau kita bisa sama-sama."
Johan menyapu lembut wajah dari foto itu, lalu menurunkannya dan menyandarkan kepala, menatap langit-langit ruangan. Memejamkan kedua mata dan mengundang memori bersama ibu dari Vania, wanita yang tak pernah diketahui keberadaan juga kabarnya lagi.
Rasa bersalah telah menjadi hukuman baginya selama bertahun-tahun, karena pernah menjadi pecundang juga pembohong besar, hanya demi kekuasaan yang ternyata tak mampu membuatnya tenang juga bahagia. Menikah di bawah tangan dengan Linda saat dirinya sudah memiliki istri, namun pada akhirnya Johan harus meninggalkan wanita itu tanpa kata perpisahan di sebuah rumah sakit.
Anak yang baru saja dilahirkan, dikirimkan oleh Johan ke panti asuhan dan mengatakan pada Linda bahwa putri mereka telah tiada. Semua bukan tanpa alasan, Johan ingin melindungi Vania dari amukan istri lainnya, wanita yang telah berpulang selama lima tahun ini. Mencari keberadaan Linda hanya untuk meminta maaf, tapi sedikit saja jejak tak ditinggalkan olehnya.
Menjadi donatur panti dari awal ia meletakkan Vania dulu, hanya cara itu yang bisa dilakukan oleh Johan demi meringankan beban bersalah yang semakin tumbuh subur. Hingga dirinya berani menunjukkan diri, mengakui pada putrinya. Meski, semua tak pernah berani dikatakan, tentang kejujuran di masa lalu yang hanya diketahui oleh kepala panti secuil saja.
Bu Rina hanya tahu bahwa ibu Vania adalah istri kedua, yang tak bisa merawat anaknya sendiri karena alasan kesehatan, dan telah setuju mengirim Vania juga turut mengantar. Akan tetapi, itu hanyalah kebohongan yang dibuat oleh Johan, agar putrinya tak membenci atau menyalahkan. Ingin untuk berkata kebenaran, tapi sekali lagi ia harus menimbang dengan memperhatikan Vania dari kejauhan.
Dia terlalu takut akan kemiskinan saat itu, hingga memutuskan jalan salah dalam hidupnya. Andai saja waktu itu bisa terulang, Johan pasti tak akan pernah menambal kebohongan dengan kebohongan, yang terus menjelma sebagai beban dalam setiap langkah hidupnya.
Pencarian terhadap Linda pun masih dilakukan, berharap jika itu akan membuahkan hasil sekarang, agar dapat mewujudkan satu impian darinya yang hanya meminta kebersamaan. Entah terlambat atau tidak, namun ia ingin mengubah semua menjadi lebih baik dengan harapan jika Linda masih bernyawa hingga detik ini.
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe