Beberapa bab akan mengandung konflik keras. Tidak diperkenankan berkomentar buruk dan sok tau sebelum membaca sampai bab terakhir. Yang tidak kuat harap SKIP.
Bukan aku tidak mencintai gadis impianku, Bukan tidak menyayangimu. Aku menjaga dirimu dan kehormatanmu. Memilihku adalah pilihan berat untukmu, Jika kamu sabar..tunggulah aku. Kulindungi wanita pilihanku, Karena aku mencintaimu selalu walau Nyawa ada di ujung peluru.
Aku Ardian Putranto, Lettu Ardi.. memilihmu dalam hatiku Adinda ku...
Bersama kisah Lettu Rama Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Abang ada untukmu.
"Dek..Abang akan selalu sayang sama kamu. Tapi sudah kewajiban Abang membela dan menjagamu. Ini bukan masalah tidak hormat. Abang hanya meluruskan sesuatu yang salah. Abang nggak mau pikiran yang tidak benar ini akan mengancam rumah tangga kita" jelas Ardi.
"Kamu disini dulu ya. Istirahat!!! Abang selesaikan masalah di depan dulu. Percayakan pada suamimu ini"
Adinda mengangguk. Ardi membuka pintu dan melangkah ke ruang tamu.
"Mana janda genit itu. Beraninya hanya bersembunyi di belakangmu saja" ibu Nuri celingukan mencari Adinda.
"Ardi memintanya istirahat di dalam kamar saja"
"Ciihh. licik" cibir ibu Nuri.
"Apa mau ibu?" tanya Ardi.
"Ceraikan Dinda!!! Menikahlah dengan Vania!! Vania ini gadis berpendidikan.. gayanya modis. Dia tidak akan mempermalukanmu. Dinda hanya ingin hartamu saja"
"Astagfirullah Bu.. Apa Ardi hanya akan makan gaya modis seorang wanita. Gunanya istri bukan untuk pamer body. Sekarang Ardi tanya.. Harta mana yang Ardi habiskan???" Tiap bulan Ardi masih mengirimi ibu gaji Ardi khan? Dan Adinda tidak pernah komentar apapun" jelas Ardi.
"Itu di jarinya pakai cincin mahal. Ibu tidak pakai" ketus ibu Nuri.
"Ya Allah Bu, itu jari ibu kanan kiri sudah penuh dengan cincin. Hanya ibu jari saja yang tidak pakai. Apa masih kurang??? Belum kalung dan gelang ibu" Ardi merasa heran dengan sikap ibunya yang keterlaluan.
"Dindaaaaaa" teriak Bu Nuri.
Kakek nenek masih memantau kelakuan menantunya itu.
Dinda yang mendengar namanya di panggil segera keluar dari kamar dan menemui ibunya.
"Iya ibu"
"Itu cincinmu beratnya berapa gram?" tanya Bu Nuri.
"Empat gram Bu" jawab Adinda menunduk.
"Lepas!!!!" perintah Bu Nuri.
"Nggak bisa Bu. Itu cincin kawin dari Ardi" tolak Ardi tegas.
"Kamu bela perempuan itu daripada ibu???" kesal Bu Nuri.
"Ibu itu salah. Ardi pun berhak, malah suatu kewajiban untuk menafkahi istri" jelas Ardi.
"Dimana-mana ibu yang harus di utamakan" tegas Ibu Nuri.
"Ardi paham Bu. Tapi istri juga hal utama dalam hati Ardi. Ibu dan Dinda sama-sama wanita yang Ardi cintai. Tolong jangan seperti ini Bu"
Bu Nuri sangat kesal. Ia menarik lengan Adinda dengan kasar, tapi Ardi mampu mencegah dan mendekap Adinda.
"Hey perempuan ganjen.. Lihat!!! Gara-gara kamu anak ku menjadi durhaka dan pembangkang.. Ingin ku rusak wajahmu yang sok polos itu" teriak ibu Nuri.
Adinda terisak, hatinya terasa sakit sekali mendengar perkataan ibu mertuanya. Hati Ardi pun tak kalah sakit, tak tega tau dengan mata kepalanya sendiri istrinya harus mendapatkan penolakan dari ibunya.
Tak kuat mendapat caci maki itu, Adinda pingsan di pelukan Ardi.
"Ya Allah dek..Dinda sayang Maafin Abang ya!!" Ardi membawa Adinda ke dalam kamar.
"Bagus sekali kelakuan mu ini Nuri. Entah setan apa dulu yang membuatku buta bisa merestuimu menikah dengan anak ku" ketus kakek. Nenek mengikuti Ardi karena cemas dengan keadaan Dinda.
Ibu Nuri langsung lemas terduduk di dipan panjang. Tak menyangka bapak mertuanya bisa berucap menyakitkan seperti itu.
"Duuhh.. Dinda itu membawa pengaruh buruk dalam keluarga ini Bu" gerutu Vania.
"Kamu benar Vania.. Ibu harus cepat memisahkan Ardi dan Adinda. Kalau tidak... dia bisa menghabiskan uang Ardi juga" ucap Bu Nuri lalu mengajak Vania pulang.
-_-_-_-_-
"Dek.. sayang.. Sadar dek" Ardi ikut lemas melihat kondisi Adinda yang belum sadar disana.
Kakek ikut menggosok telapak tangan Adinda yang dingin.
"Ibumu itu sungguh keterlaluan. Kakek berfirasat si kuntilanak di samping ibumu itu penyebabnya" gerutu nenek.
"Awas saja kalau kamu sampai tergoda tingkah Vania" ancam kakek.
"Nggak lah kek. Ardi sudah punya Adinda. Tidak ingin yang lain lagi" ucap Ardi sendu.
Tak lama Adinda siuman. Kepalanya terasa berat. Adinda melihat kecemasan di mata Ardi. Air matanya meleleh tak terbendung lagi.
"Adinda ikhlas bang kalau Abang mau tinggalkan Dinda. Bagaimanapun, ibu adalah wanita yang melahirkan Abang" kata Adinda.
"Bukan begitu penyelesaiannya sayang. Abang nggak akan pernah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Ibu tetaplah ibu, kalau salah.. kita wajib mengingatkan. Tapi soal antara kamu dan Abang.. kita sudah dalam ikatan pernikahan. Abang sudah menitipkan cinta Abang di rahim mu. Apa kamu tega membiarkan anak kita tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari orang tuanya?" jelas Ardi.
"Dinda bingung bang. Dinda merasa bersalah sama ibu"
"Abang akan selalu ada disini. Kamu nggak sendirian sayang. Abang minta sama kamu. Jaga anak kita baik-baik. Abang akan bicara sama ibu" bujuk Ardi.
-_-_-_-
Ardi menutup pintu kamarnya perlahan. Ia memijat pangkal hidungnya.
Ya Allah, keterlaluan sekali ibu memperlakukan Dinda. Istriku tidak salah Ya Allah.
Hati Ardi terasa sesak luar biasa. Ia sangat menghormati dan menyayangi ibunya, tapi ia juga sangat mencintai Adinda.
Ardi duduk di bangku kebun belakang rumah. Tak hentinya ia menghembuskan asap rokok berharap pikiran dan hatinya akan sedikit tenang.
"Kakek juga laki-laki. Kakek tau bagaimana resahnya hatimu saat ini. Disinilah hatimu di latih. Imanmu sebagai seorang suami sedang di uji"
***
Vania terus menempel pada Bu Nuri. Ia berharap bisa mendapatkan Ardi melalui ibu kandung Ardi itu.
"Bu, kalau ibu memang ingin memisahkan mas Ardi dengan janda genit itu, ada dua caranya. Ibu harus membuat janda genit itu kehilangan bayinya, atau kita ikuti mas Ardi sampai tempat tugasnya" usul Vania.
"Ardi tidak akan setuju dengan ide itu" tolak Bu Nuri bingung.
"Kalau mas Ardi setuju, namanya bukan rencana donk Bu" kata Vania mempengaruhi.
.
.
kalau ibu yg seperti ini, hanya ada neraka bagi kehidupan anaknya... 😡