Bagaimana jadinya jika seorang perempuan yang berpenampilan tidak menarik bisa membuat seorang CEO tampan jatuh cinta? Yang awalnya membenci jadi cinta, seolah ada kekuatan magic yang membutakan matanya. Kemampuan gadis itu sungguh membuat sang pria terpedaya.
"Jadilah kekasihku! Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau." Itulah tawaran yang diberikan oleh Juno kepada Aruna Rhea. Gadis yang berpenampilan kampungan, tetapi berhasil membuat Juno mabuk kepayang.
Siapa sangka ada rahasia di balik penampilan Aruna, yang membuat Juno kesulitan mendapatkan cintanya.
#Sequel dari novel 'My Lovely Idiot Husband'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantarkan Kerja
...***...
"Kalau aku jadi ngikutin dua syarat kamu itu. Apa aku langsung resmi jadi pacar kamu?" tanya Juno seraya menopang dagu menatap Aruna yang masih menyantap sarapannya.
"Nggak juga." Aruna menggelengkan kepala, lalu meminum air putih. Aruna menyudahi sarapannya.
"Kenapa? Kan, aku udah ngelakuin syarat kamu." Juno menegakkan duduknya. Menatap Aruna sembari mengerutkan keningnya.
"Aku mau lihat dulu seberapa tulus cinta kamu itu. Oh, iya. Kamu udah bilang sama orang tuamu kalau kita udah putus, kan?" Saat Aruna melunasi hutangnya kepada Juno, perempuan itu memang meminta Juno untuk berkata kepada orang tuanya, jika mereka sudah putus hubungan. Agar dirinya terbebas dari hubungan pura-pura itu lagi.
"Udah, tapi aku mau bilang sama mereka kalau kita dah balikan."
"Jangan!" Aruna menukas cepat.
Juno memicingkan matanya, "Kamu mau mempermainkan aku, ya?" tanyanya curiga.
Ya. Aruna ingin sekali menjawab kata itu. Sebenarnya ia tidak berniat sama sekali untuk menerima Juno menjadi kekasihnya. Namun, dikarenakan sikap lelaki itu yang terlalu percaya diri dan sombong. Mengatakan jika dirinya mampu memberikan apa pun keinginan Aruna, jadinya Aruna ingin mencoba menguji kebenarannya saja.
"Aku harus bekerja. Kamu mau mengantarkan aku ke kantor, nggak?" Bukannya menjawab, Aruna mengalihkan pembicaraan. Aruna jadi ingat, jika ia harus menyelesaikan masalahnya dengan teman-temannya. Menuntut jawaban mereka atas insiden yang terjadi semalam. Kenapa teman-temannya tiba-tiba menghilang?
"Jawab pertanyaanku dulu!" desak Juno, tetapi Aruna malah beranjak berdiri.
"Kalau kamu nggak mau nganterin aku. Aku bisa berangkat sendiri." Aruna bersikukuh dan hendak pergi, tetapi baru selangkah dia berbalik lagi. "Kamu punya ikat rambut, nggak?" tanyanya.
"Mana mungkin aku punya kayak gitu." Juno mencebikkan bibir. "Kamu beneran nggak mau jawab pertanyaanku?" cecar Juno lagi. Aruna menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu memang serius mencintai aku. Tunjukkan sikap yang bisa membuat aku terkesan sama kamu! Aku paling nggak suka dipaksa." Kata-kata Aruna sukses membuat Juno kalah telak. Ia tidak berani bertanya lagi.
"Kamu mau apa?" Juno bertanya ketika melihat Aruna menggulung rambutnya lalu mengambil sumpit yang tersedia di atas meja makan.
Aruna tidak menjawab. Ia melanjutkan gerakannya menusukkan sumpit itu pada rambutnya yang digelung di tengah kepala. "Udah aku bilang, aku nggak suka rambutku digerai." Begitulah jawaban Aruna selanjutnya. Lalu bergegas menuju keluar rumah Juno. Juno sempat melongo melihat tingkah Aruna. Embusan napas kasar pun terlontar ke udara.
"Biar aku antar." Juno mengejar langkah panjang Aruna. Gadis itu pun tertahan. Lalu mengangguk pelan.
"Aku tunggu di luar," ucapnya sambil tersenyum dipaksakan.
...***...
Di perjalanan menuju kantor Aruna, beberapa tidak ada perbincangan di antara mereka. Keduanya sama-sama bersikap canggung dan tidak banyak bicara. Aruna merasa bingung dengan sikap Juno kepadanya. Memikirkan apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat pemuda tampan itu jadi jatuh cinta kepadanya. Juno pun demikian, dalam otaknya tersimpan banyak pertanyaan. Bukan pertanyaan yang sama dengan yang ada di benak Aruna, melainkan rasa penasaran tentang kenapa Aruna tidak langsung menerima cintanya. Apakah tingkat popularitasnya sekarang sudah berkurang di mata perempuan, atau kadar ketampanannya sudah tidak cukup untuk menggaet perempuan? Begitulah pikir Juno.
"Sejak kapan?" Aruna membuka perbincangan. Juno sedikit tersentak lalu menoleh sejenak.
"Sejak kapan apa?" tanyanya ambigu.
"Sejak kapan kamu mulai mencintai aku?" Pertanyaan itu yang ingin Aruna tanyakan pertama kali, tetapi sebelumnya tertahan oleh gengsi.
Juno tersenyum tipis sambil menatap jalan raya, setelah dirinya menoleh sekilas pada Aruna. "Sejak pertama kali kita bertemu di depan kamar mandi perusahaanmu waktu itu. Semenjak itu wajah kamu selalu terbayang di mataku."
Aruna sontak menoleh ke arah Juno yang duduk di sampingnya. Memorinya kembali pada masa kejadian itu terjadi. Aruna mencoba mencari jejak ingatan yang kira-kira membuat Juno terkesan. Tidak ada kejadian spesial yang Aruna tangkap dalam ingatannya, tetapi kenapa hal itu bisa membuat Juno jatuh cinta kepadanya.
"Sepertinya kamu yang harus memakai kacamata besar, karena matamu sudah bermasalah." Perkataan Aruna membuat Juno tertawa, dan Aruna tertegun menatap heran pada Juno.
"Kata mamiku, 'cinta itu tidak perlu ditanyakan kenapa dia bisa datang. Seperti adanya sihir yang nggak masuk di akal, cinta juga sama. Ketika hati terasa bergetar kala kita menyebutkan namanya saja, mungkin cinta sudah menguasai hatinya. Seperti makhluk yang mencintai Tuhan-nya, tanpa perlu melihat wujud yang dicintainya, tetapi ia rela melakukan apa pun atas nama cintanya'." Juno menuturkan ulang petuah sang mami.
Aruna masih bergeming. Tatapan matanya terdapat sorot kesedihan. Jika memang begitu luhur arti sebuah cinta, kenapa orang tuanya harus berpisah saat pernikahan terjadi belum lama? Bahkan Aruna masih sangat kecil waktu itu. Lebih menyakitkan lagi, sang papa harus menikahi wanita lain yang bahkan sudah mempunyai anak dari orang lain. Hal itu membuat Aruna tidak percaya dengan adanya kata cinta.
"Kenapa?" Juno bertanya karena tidak mendengar respon apa-apa dari Aruna. Ia pun menoleh sekilas.
"Nggak apa-apa," ujar Aruna mengalihkan pandangannya ke arah depan. Berusaha menyembunyikan butiran kristal yang sudah berkilauan di pelupuk matanya.
"Aruna–" Juno harus menelan kembali kata-katanya, karena saat ia menoleh ke arah Aruna lagi, perempuan itu sedang bersandar pada sandaran kursi mobil sambil memejamkan mata. Seolah dia tidak ingin mendengarkan apa-apa. Juno hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia harus belajar mendalami dan memahami sikap Aruna lagi. Bagaimanapun juga, sudah menjadi keputusannya untuk mencintai wanita ini. Maka ia harus menebak semua teka-teki yang Aruna sembunyikan. Juno harus banyak bersabar.
"Aku pasti bisa membuatmu jatuh cinta, Aruna. Tunggu saja!" batin Juno sembari mengulas senyum samar.
...***...
Mobil Juno terparkir berapa meter agak jauh dari perusahaan Aruna. Itu sengaja dilakukan karena Aruna tidak ingin diketahui oleh teman-temannya, jika dia diantar seorang Juno. Pemilik saham terbesar di perusahaannya. Siapa yang tidak tahu dia di perusahaan itu. Lantas Aruna menyuruh Juno segera pergi dari sana, setelah dirinya turun dari mobil Juno.
Aruna berjalan menuju perusahaannya dengan langkah gontai. Ia ingin segera bertemu dengan teman-temannya. Namun, ketika dirinya hendak masuk ke lobi utama. Seseorang dari arah belakang memanggil namanya.
"Bu Aruna."
Aruna menoleh ke asal suara. Terlihat Indira datang menghampirinya sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Ciyeee, yang udah punya pacar. Kerja aja dianterin." Aruna menatap heran, ketika gadis itu malah menggodanya tanpa rasa bersalah karena sudah meninggalkan dirinya semalam di kafe bar itu. Namun, ada sedikit rasa was-was dalam benaknya. Apakah Indira melihat sosok Juno yang mengantar dirinya? "Kenalin, dong, sama aku!" celetuk gadis slengean yang tidak ada sopan-sopannya sama atasan. Pertanyaan itu seolah menjadi jawaban atas ketakutan Aruna. Dia yakin jika Indira tidak melihat Juno.
"Jangan ngalihin topik! Semalam, kalian pulang jam berapa dari kafe?" tanya Aruna tanpa basa-basi. "Kenapa ninggalin aku?" tambahnya lagi dengan nada dingin.
Indira tersentak, "Bukannya Ibu yang pulang duluan. Kata bu Dena, Ibu pulang dijemput sama pacar Ibu."
"Apa? Bu Dena bilang gitu?" Aruna terperangah dengan kening yang mengkerut dalam.
Indira mengangguk. "Kalau nggak percaya tanya aja si Yoga! Dia juga denger, kok. Memangnya Bu Aruna nggak pulang semalam?" Indira menatap penampilan Aruna. Pakaian yang dia pakai adalah pakaian yang dia pakai semalam. "Jangan-jangan ...." Indira bersikap seolah tidak percaya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Aduh!"
Satu ketukan berhasil mendarat di kening Indira. Tangan Arunalah pelakunya. "Jangan suka berprasangka buruk!" omel si empunya tangan.
Indira meringis sakit sambil mengelus keningnya. Ia ingin berkata lagi, tetapi Aruna sudah meninggalkannya pergi. "Dih, main tinggal aja, si. Padahal bisa barengan," cicit Indira. Lalu berjalan malas mengikuti Aruna.
Aruna berjalan tergesa, tetapi belum sampai perempuan itu pada ruangan kerjanya. Langkahnya tiba-tiba terhenti karena mendengar suara seseorang yang sedang mengobrol lewat panggilan telepon di sebuah lorong sepi. Aruna berjalan perlahan tanpa mengeluarkan suara, ia bersandar di dinding pembatas tanpa melihat orang tersebut karena takut ketahuan. Aruna mencoba mencuri dengar pembicaraan orang tersebut.
"Iya, Pak, saya minta maaf. Tapi investor kami malah menandatangani kontrak kerja selama dua tahun penuh. Apalagi sekarang manager keuangan kami sedikit lebih kompeten, tapi itu urusan mudah. Sepertinya dia orang yang mudah digertak."
Aruna menajamkan pendengarannya. Ia semakin penasaran saat posisinya di perusahaan disebut oleh orang itu.
"Nanti akan saya pikirkan lagi. Anda tenang saja. Setiap proyek yang kami jalankan akan ada bocorannya pada pihak kalian. Perusahaan ini tidak akan diizinkan untuk berkembang," sambung orang itu.
Aruna sudah tidak tahan. Rasa penasarannya memaksanya untuk memastikan siapa orang tersebut. Namun, suara cempreng tiba-tiba menghancurkan niatnya itu.
"Ibu lagi ngapain di sini? Ruangan kita di sana. Bukannya tadi buru-buru?" Dialah Indira, perempuan yang agak kesulitan mengejar Aruna karena langkah panjang perempuan itu.
Aruna berdecak, dan langsung membungkam mulut Indira dengan telapak tangannya. "Ssstt ... bisa diem, nggak?" titah Aruna berbisik. Kedua mata Indira membulat sempurna. Ia terkejut sekaligus bingung, tetapi perempuan itu hanya bisa mengangguk patuh sambil merapatkan bibirnya di balik tangan Aruna.
Aruna melongok ke arah lorong tempat orang tadi menelepon. Benar saja, orang tersebut sudah hilang tanpa jejak. Sepertinya dia langsung kabur ketika mendengar suara Indira yang menggema.
"Kamu, si! Lain kali kalau ngomong volumenya kecilin! Jadi kabur, kan, dia." Aruna mendengkus sambil melepaskan tangannya dari mulut Indira. Lalu melengos pergi dari sana.
Indira yang masih kebingungan dengan sikap atasannya hanya bisa menggaruk keningnya bingung. Kepalanya ikut melongok ke arah lorong yang dilihat Aruna tadi. Kosong, tidak ada siapa pun di sana. "Ngintip siapa, si, Bu Aruna? Nggak nyangka dia punya hobi ngintip juga," celoteh Indira.
...***...
Biar tambah semangat, boleh minta tulis komentar kalian tentang novel ini, Readerskuh? ☺
semangat ya author 👍👍👍👍
ditunggu karya selanjutnya 💪💪💪💪
spil pemeran juno nya 😊😊
manusia kaya dena ini banyak di dunia nyata