Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Frans keluar dari kamarnya setelah berdandan rapi, rencananya hari ini dia akan mencari tahu dimana Rahma tinggal. Frans tidak sengaja melihat Dolly dan Tiara yang sedang ciuman karena pintu kamar Dolly terbuka lebar saat Tiara ingin memukul Dolly.
Frans tetap melanjutkan langkahnya setelah menutup pintu kamarnya. Tidak lupa Frans juga mengunci pintu kamarnya. Sejak kedatangan Tiara ke kamarnya, Frans selalu mengunci pintu kamar. Baik saat di kamar ataupun meninggalkan kamar karena dia takut kejadian Tiara yang memaksa masuk ke kamarnya terulang lagi.
Frans memacu motornya ke areal perkebunan, dia menyusuri jalanan berbatu untuk mencari tahu keberadaan Rahma saat ini. Lama Frans berkeliling akhirnya melihat Rahma dari kejauhan. Tampak olehnya Rahma sedang memanggul sekarung berondolan, jika ditimbang mungkin sekitar dua puluh kilogram.
"Tenagamu kek samsonwati, hehehe!" decak kagum Frans kala melihat Rahma meletakkan karung berisi berondolan di pinggir jalan.
Di tempat itu sudah banyak terkumpul berondolan dan sawit janjangan. Mungkin sebentar lagi waktunya pulang karena waktu sudah menunjukkan jam sebelas siang.
Frans berhenti dengan jarak sedikit jauh dari Rahma. Dia terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang pujaan hatinya. Rahma duduk bersandar pada pohon sawit setelah meletakkan sekarung berondolan tadi.
"Semoga nanti usahaku berhasil, sehingga dia bisa melanjutkan kuliah sambil bekerja di rumah," monolog Frans masih duduk di atas motornya.
Frans tidak mau turun dari motor karena takut kehilangan jejak Rahma jika Rahma pulang nanti.
Tak berselang lama, beberapa teman Rahma berdatangan. Ada yang memanggul karung berisi berondolan dan ada juga yang mendorong angkong berisikan sawit janjangan. Mereka bekerja sambil bersendau gurau bersama sehingga tampak kekeluargaannya.
Frans senang melihat hal itu, ternyata Rahma memiliki banyak teman di tempat kerjanya. Berbeda jauh keadaannya dengan di sekolah, di sekolah Rahma selalu di-bully karena miskin. Tapi bully an itu terjadi karena ulah isengnya, sehingga Frans selalu merasa bersalah.
Tak berapa lama, mandor dan asisten datang untuk menimbang berondolan dan sawit janjangan. Selesai dengan kegiatan menimbang, sawit janjangan dan berondolan diangkut dengan mobil dump truk.
Rahma dan teman-temannya pulang setelah diketahui berapa banyak hasil kerja hari ini. Frans mengikuti Rahma dari kejauhan dengan kecepatan yang sangat pelan. Rahma mengayuh sepedanya perlahan karena sudah lelah.
"Bu, Rahma pulang!" teriak Rahma dari samping rumah.
Frans terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Rahma sejak di perkebunan tadi. Frans yang melihat sendiri bagaimana Rahma bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi semakin iba.
Frans meninggalkan rumah Rahma, dia berjanji pada dirinya sendiri akan kembali esok hari saat Rahma bekerja di perkebunan. Dia sengaja tidak ingin bertemu Rahma, agar Frans bisa leluasa membujuk bu Sarifah.
"Besok aku ajak Rio sekalian! Pasti dia bisa membujuk ibunya Rahma. Pokoknya besok pagi-pagi buta harus sudah bergerak! Harus!" gumam Frans sambil kembali mengendarai motornya.
*
*
*
Frans menjemput Rio di rumahnya sekitar jam tujuh pagi. Frans sudah memberitahu pada Rio untuk membantu membujuk ibu Rahma. Setiap orang tua pasti inginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Akhirnya sampai juga Frans dan Rio di halaman depan rumah Rahma. Frans dan Rio turun dari motor setelah memarkirkan di bawah pohon jambu air.
"Permisi!" teriak Rio sambil berulangkali mengetuk pintu rumah Rahma.
Tak berselang lama, ada suara sahutan dari dalam rumah. Kemudian terdengar suara pintu terbuka.
"Iya, cari siapa?" tanya bu Sarifah di ambang pintu.
"Pagi, Bu! Kenalkan kami teman sekolah Rahma," ucap Frans sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan bu Sarifah kemudian menciumnya.
Gerakan Frans diikuti oleh Rio, mencium punggung tangan bu Sarifah. Bu Sarifah mengajak mereka masuk usai bersalaman.
"Kalian temannya Rahma? Rahma sedang bekerja saat ini, kalau kalian ingin bertemu dengan Rahma sebaiknya nanti sore kalian datang lagi," ucap bu Sarifah begitu mereka duduk di ruang tamu.
"Mumpung karena Rahma masih kerja kami datang ke sini, Bu. Kami ingin minta tolong pada Ibu untuk membujuk Rahma agar mau menerima beasiswa yang ditawarkan oleh pihak sekolah. Itu jika Ibu tidak keberatan ditinggal Rahma menempuh pendidikan di ibukota." Frans menjelaskan maksud kedatangannya pada bu Sarifah.
Bu Sarifah tersentak ketika mendengar penjelasan dari Frans. Dia tidak menyangka jika anaknya kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya.
"Rahma tidak pernah bercerita tentang beasiswa. Dia tidak bilang jika dia mendapatkan beasiswa. Dia hanya bilang ingin kuliah tapi belum cukup uangnya. Apa dia berbohong?" kata bu Sarifah.
"Mungkin dia tidak ingin meninggalkan Ibu sendirian di rumah ini. Apalagi Ibu masih harus berobat, jadi lebih baik dia menunda kuliahnya. Itu hanya pemikiran saya, entah kalau pemikiran Rahma," jawab Frans menjelaskan kemungkinan apa saja yang menjadi pemikiran Rahma saat ini.
"Bisa jadi!"