Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Pulang Terlambat
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
..._________...
Arini terus mondar-mandir di depan perusahaan yang sudah sangat sepi. Matahari sudah mulai terbenam namun belum juga Arini mendapati angkutan.
Mata Arini terus celingukan menerawang jauh berharap akan ada ojek ataupun angkutan yang datang untuk mengantarkannya pulang.
"Benarkah Arini harus jalan kaki?" gumamnya.
Jika jalan kaki adalah satu-satunya cara untuk Arini bisa sampai di rumah dia akan rela melakukannya. Dia juga sangat takut kalau kakek juga neneknya khawatir padanya karena belum pulang.
Arini mulai melangkah pelan, dengan tangan menenteng kresek yang ada bajunya yang kotor gara-gara terkena lumpur. Sesekali Arini akan menoleh berharap akan ada mobil yang berhenti dan mengantarkannya.
Allahu Akbar... Allahu Akbar!
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Suara azan magrib sudah menggema begitu keras. Arini senang karena akhirnya dia bisa sampai di waktu maghrib tapi dia juga sedih karena dia belum sampai di rumah, yang pasti akan membuat semua khawatir.
Arini putuskan untuk mencari masjid terdekat setelah itu baru dia akan pulang. Meskipun akhirnya dia jalan kaki tak masalah dia sudah terbiasa untuk itu.
Tak jauh dari tempat Arini berada tadi akhirnya dia bisa melihat masjid. Arini langsung bergegas menuju ke sana sebelum iqamah bersuara.
Arini mengambil wudhu di sebelah kanan masjid itu, setelah itu dia baru masuk dan saat dia masuk iqamah dia dengarkan.
"Alhamdulillah, bisa berjamaah," ucapnya.
Tak ada jarak dari satu dengan yang lainnya. Semua saling berhimpit-himpitan bahkan bahu saling bersentuhan dan tak ada celah sedikitpun dari jama'ah laki-laki maupun perempuan.
Itulah yang membuat Arini senang saat berjamaah di masjid semuanya saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain tanpa melihat keadaan satu sama lainnya.
Kenyamanan yang tidak Arini dapatkan saat di luaran sana bisa Arini dapatkan saat berada di dalam masjid. Bahkan semuanya tak merasa sungkan atau pilih-pilih untuk berjabat tangan.
Setelah selesai Arini melipat mukenanya dan memasukkannya di tas kecil yang selalu dia bawa kemanapun. Setelah selesai Arini kembali bergegas untuk pulang, "aku harus cepat pulang, nenek juga kakek pasti sangat khawatir padaku," gumamnya.
Tak ada satupun angkutan yang lewat membuat Arini benar-benar memutuskan untuk jalan kaki. Namun belum juga dia meninggalkan pelataran masjid ada orang yang menyapanya, sepertinya dia juga baru keluar dari masjid.
"Permisi," sapanya dengan begitu pelan dan terdengar sangat sopan.
Arini yang hendak berjalan mengurungkan niatnya dan malah menoleh memastikan siapa yang datang dan menyapa, "𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯, "batin Arini.
Arini menoleh dan benar saja bukan orang yang tidak di harapkan oleh Arini yang ada di sana. Seorang pria tampan yang beberapa hari lalu bertemu dengannya di rumah sakit, dia adalah Dokter Dimas.
"Anda...? Dokter yang kemarin kan?" tanya Arini memastikan.
"Benar, perkenalkan saya Dimas," Dimas mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Arini, namun tak kunjung di sambut oleh Arini.
Arini hanya tersenyum sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada, "maaf," ucap Arini yang tak ingin bersentuhan dengan seorang laki-laki.
"Oh, maaf," Dimas menarik kembali tangannya, tak masalah Arini tak mau menjabat tangannya mungkin dia mempunyai alasan melakukan itu, meskipun tidak pandai tentang agama tapi Dimas tau alasannya karena mereka bukan mahram.
"Jadi pak Dokter namanya Pak Dimas ya, saya Arini," meskipun tak saling berjabat tangan namun Arini tetap memperkenalkan diri pada Dimas.
"Oh Arini. Hemm, kamu ngapain malem-malem di sini? apa ada masalah?"
Arini bingung mau menggeleng atau mengangguk, di bilang ada masalah ya ada, tapi juga bukan masalah besar juga sih, "tidak ada masalah kok, Pak Dokter. Hanya saja...? "
"Hemm?
"Arini...? Hemm..., nggak ada apa-apa," Arini masih sangat enggan untuk mengatakan pada Dimas, lagian Dimas juga bukan siapa-siapa baginya hanya orang yang pernah bertemu saja.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas.
"Saya mau pulang. Maaf, saya permisi sudah malam," Arini berjalan melalui Dimas begitu saja. Benar ini sudah malam sebenarnya tak pantas juga sangat tidak baik bagi gadis masih ada di luar tanpa ada keluarga yang menemaninya.
"Boleh saya antar kamu pulang?" ucap Dimas menawarkan.
Arini menoleh, dia tersenyum sangat manis dengan lesung pipi yang begitu memukau, "tidak usah, Pak dokter. Rumah Arini dekat kok, hanya di depan situ," ucapnya berbohong juga tidak.
Dimas hanya bisa pasrah, dia tak bisa memaksa Arini meskipun dia sangat menginginkannya. Dimas ingin sekali lebih mengenal Arini, entah kenapa dia merasa akrab padanya meski baru dua kali bertemu, dan aroma dari Arini itu, "tidak mungkin, mungkin hanya kebetulan sama saja. Tidak mungkin dia, dia sudah meninggal."
Dimas pergi setelah dia tak melihat Arini lagi, tujuannya sekarang adalah perusahaan Gautama, dia ada janji pada Arya.
/////
Sebuah motor besar baru saja berhenti di depan rumah di kediaman juragan Marta. Ada dua orang yang menungganginya, mereka berdua adalah Fara yang baru saja pulang jalan-jalan dengan kekasih barunya, Nando.
Senyum terlihat jelas dari keduanya, padahal baru saja kemarin mereka jadian dan hari ini mereka berdua sudah menghabiskan waktu bersama berkeliling Mol juga beberapa tempat wisata.
"Sayang, terima kasih ya sudah ajakin aku jalan-jalan. Terima kasih juga sudah belanjain Fara," ucap Fara yang terlihat sangat bahagia.
"Sama-sama, Sayang. Sudahlah jangan terima kasih terus aku bosen dengernya. Oh iya, besok aku ada undangan dari teman yang sedang ulang tahun. Kamu datang bersama ku ya, aku ingin kenalin kamu kepada teman-teman. Aku akan buktikan pada mereka kalau aku sudah tak jomblo lagi,"
"Jam berapa?" tanya Fara antusias. Fara begitu senang jika urusan pesta. Dia bisa senang-senang dan tentunya dia bisa makan enak sekaligus gratis kan.
"Besok jam tujuh malam, kamu dandan yang cantik jangan lupa pakai baju yang aku belikan tadi. Aku yakin kamu akan sangat cantik dengan pakaian itu," ucap Nando.
"Hem.., baik deh! demi membahagiakan kamu aku rela memakai apapun. Lagian bajunya bagus meskipun sedikit terbuka tapi tak masalah aku akan tetap memakainya," jawab Fara nurut.
"Aku pulang dulu ya, ingat besok jangan lupa,"
"Iya iya, "
"Sayang," panggil Nando. Fara terdiam saat Nando berjalan mendekatinya.
"Sayang, kamu sangat cantik," puji Nando. Nando menarik Fara semakin dekat padanya, bahkan tak ada lagi jarak di anda mereka berdua. Satu tangan Nando melingkar di pinggang Fara satunya lagi menahan tengkuk Fara.
Tanpa kata-kata lagi, Nando menyatukan bibirnya dengan bibir Fara, sentuhan yang sangat lembut membuat Fara terlena, dia begitu menikmati sentuhan dari Nando.
Keduanya semakin menikmati saat sentuhan itu semakin dalam dan terasa menantang juga mengharapkan yang lebih. Kedua lidah juga sudah berdansa dengan gerakan saling mengikat.
Meski di tempat terbuka namun keduanya tetap bebas melakukan itu, toh tak ada yang melihat juga karena sudah sangat malam.
"Sayang," suara berat sudah terdengar dari Nando seandainya tidak di tempat terbuka mungkin dia akan memangsa Fara saat ini juga, tapi tempat ini tak menguntungkan untuknya.
Tangan Nando tak tahan, dia ingin sekali memainkan bok*ong Fara yang terlihat berisi. Hingga akhirnya keinginan yang sedari tadi dia tahan akhirnya dia dapatkan saat ini, dia bisa bebas memainkannya apalagi Fara diam berarti dia mengizinkannya.
"Ahhh..., sayang," Fara mengerang, dia sangat menikmati sentuhan itu.
Gila, mungkin itu Fara sekarang. Dia tak peduli apapun lagi apalagi kehormatannya. Dia rela Nando yang bukan suaminya menyentuh bagian yang sama sekali tak pantas di sentuh. Dan parahnya Fara malah menikmatinya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Nando.
Sekali lagi Nando mengecup bibir Fara tangannya sudah terlepas dari tempat yang begitu enak di sentuh olehnya, "saya pulang, jangan lupa besok,"
"Iya," jawab Fara yang kini tertunduk malu dengan wajah yang merona.
Dari sekian banyaknya pacar Fara dulu-dulu baru kali ini Fara mendapatkan pacar yang begitu berani. Biasanya hanya akan mencium kening saja tak ada yang lain, dan Nando?.
"Hati-hati! " Fara melambaikan tangannya saat Nando sudah menyalakan motornya.
"Oke, selamat malam, Sayang. Jangan lupa besok, kita akan bersenang-senang! " jawab Nando yang juga berteriak juga melambaikan tangannya.
"Hemm," Fara mengangguk.
"Hem, Nando begitu liar. Tapi kenapa aku sangat menyukainya, sentuhannya begitu berbeda dari mantan-mantanku,"
Fara kembali membuka paper back berwarna pink di tangannya, isinya adalah baju yang di belikan oleh Nando yang ingin dia memakainya besok, "aku harus menyembunyikan ini dari Kak Melisa, dia tak boleh tau mengenai baju ini apalagi besok aku yang akan pergi dengan Nando."
"Kalau kak Melisa tau, semuanya pasti akan gagal," gumamnya.
/////
Bersambung...
__________
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung