Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Mawar pembawa pesan
Tatapan mataku terpaku dalam tatapan yang mendalam ke arah sosok putih yang tertidur lelap itu. Tanganku terus menggenggam tangannya, sesekali aku bersenandung dalam hening kedalam hatiku. Mataku menoleh kearah samping menatap seseorang yang berdiri dibelakangku sambil memperhatikanku.
Luka di tubuhku seolah bukan apa-apa, bukan suatu hal yang penting. Mataku terus menatap ke arah sorot matanya yang sendu. Ia hanya terdiam beberapa saat. Keheningan seakan menyergap diriku. Banyak hal yang ingin aku tanyakan, banyak hal yang ingin aku ketahui.
Mulut lelaki itu masih terkatup rapat, tatapannya masih senduh dan sedikit memerah. Ia menarik nafas cukup panjang dan memegang lembut pundakku dengan tangan besarnya.
“Maaf.” Ucapnya lembut dengan lirik yang tak pernah kusangka.
“Maaf aku tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi. Beberapa kali saat kita berada di toko milik Emily saat berjalan bersamamu. Dan tadi sore saat kita berada di stand. Aku menyadari banyak hal, banyak hal janggal.” Nathan terdiam sejenak mengatur kata.
Rona menatapnya, hak yang ia duga tadinya menjadi kenyataan hal ini semacam firasat saja.
“Jadi siapa mereka?” Tanya Rona dengan nada datar.
“Aku belum tahu mereka siapa dan apa motifnya. Tapi sepertinya yang mereka incar bukan kalian tapi aku.” Tegasnya melepaskan tangannya dari bagu gadis itu.
“Kenapa kau tidak katakan saja sebelum kami naik kereta tentang firasatmu tersebut?!” Tanya Rona dengan nada sedikit meninggi.
“Akan berbahaya jika kau tidak naik kereta kuda bersama Emily, syukurnya kau baik bersama mereka.” Pungkas Nathan menyandarkan tubuhnya ke dekat sudut dinding yang ada di ruang tersebut.
Rona terdiam dan hal yang dikatakan Nathan benar, kalau saja dia tidak ikut naik kemungkinan cedera Emily lebih parah dari ini. Rona memiliki kepekaan yang berbeda dari manusia kebanyakan, jadi ia pasti paham betul maksud Nathan menyuruhnya untuk naik ke dalam kereta bersama Emily.
“Kenapa menurutmu kau yang dalam bahaya? Bisa kau jelaskan sedikit lebih mudah agar aku mengerti.” Rona yang sedari tadi menahan tangis di ujung matanya menghela nafas panjang dan menjaga nada bicaranya yang sedikit gemetar.
“Aku masih belum tahu, tapi aku akan tinggal disini sementara sampai semuanya aman. Beberapa pengawal akan berjaga. Pergilah aku akan menjaga Emily disini.” Pinta Nathan agar wanita itu segera pergi dan mengobati lukanya.
Rona berdiri dan menghela nafas panjang, ia hanya melewati Nathan dan berhenti sejenak menatap Emily lalu pergi.
Rona yang kala itu merendam badannya dengan air hangat di bak mandinya merasa seluruh tubuhnya sakit semua, padahal beberapa waktu lalu ia tak merasakan apapun. Air hangat itu merilekskan pikiran nya sejenak.
Taburan wewangian bunga matahari dan strawberry kering menjadi parfum alami pada bak mandi tersebut, pelayannya memijat sedikit tubuh dan bahu Rona. Rona merasa nyeri hebat di badannya.
“Maafkan saya Nona, apakah pijatan saya terlalu keras?” Tanya Rose berhati-hati.
“Sudahlah aku akan keluar, siapkan obatnya dikamar.” Rona keluar bak mandi dan mengenakan jubahnya berjalan ke kamarnya.
Rona terduduk di cermin kamarnya sambil menyisir rambut panjangnya. Matanya menatap ke arah cermin, Rose yang sedang mengolesi obat ke bagian dahi dan punggung Rona dengan perlahan. Rose dengan hati-hati mengoleskan salep tersebut.
Rona menatap tubuhnya yang masih berbungkuskan jubah yang setengah terbuka sehingga memperlihatkan leher hingga bahu dan lengannya. Lalu memegang wajahnya menatap dalam ke cermin tersebut.
“Ada apa nona?” Tanya Rose yang merasa khawatir.
“Tidak apa-apa, pergilah kau juga lelah dan perlu istirahat.” Rona mengganti bajunya dan kembali ke kasur.
Rose hanya mengangguk lalu pergi kembali ke kamarnya. Suasana kali itu sangat hening dan dingin. Sesekali Rona menarik selimutnya dan masih menatap ke arah atas langit-langit kamarnya.
Hal buruk yang terjadi hari ini terjadi begitu cepat, seakan ia merasa tidak aman untuk sementara waktu.
“Siapa mereka?” Tanya Rona lirik dalam hati dan mencoba memejamkan matanya. Rona tidak bisa tidur dan berpaling ke kanan dan ke kiri seakan jika dia tertidur akan ada hal buruk yang terjadi.
Setelah beberapa saat Rona menutup matanya dan mencoba tertidur. Kala itu ia bermimpi akan pertemuan pertamanya dengan Dean bahwan kencan tak disengaja di ladang bukit ilalang membuatnya tersenyum.
“Hangat.” Rona bergemuruh lirik dalam tidurnya. Seakan tidurnya itu begitu nyenyak membawanya.
Seseorang lelaki dengan pakaian baju biasa Mengenakan jubah dengan pedang ditangan kanannya memasuki kamar Rona dari jendela.
Lelaki itu memiliki simbol keluarga Wiltone sebagai sabuk dijubahnya. Lelaki itu mendekati Rona dan duduk di kasur memeluk gadis tersebut. Tangannya mengelus lembut wajah Rona dan menyanyikan lagu kesukaan Rona.
“Maafkan aku Rona, maaf aku terlambat.” Lelaki itu membuka jubah yang menutupi kepalanya.
Benar saja ia adalah Dean yang ditunggu-tunggu oleh Rona selama 2 musim terakhir. Lelaki itu mengelus lembut rambut Rona. Terlihat luka di dahi tersebut ditutupi oleh kain kasa dan plester.
“Bagaimana bisa wajah cantik ini terluka, semoga tidak meninggalkan bekas.” Dean mengambil helaian rambut Rona dan menciumnya.
“Sepertinya aku harus pergi, tunggu aku.” Ucap Dean bangkit dari kasur tersebut dan meletakkan 3 batang mawar di meja samping kasur gadis itu.
“Aku akan merindukanmu. Begitu Juga Aroma lembut tubuhmu.” Dean langsung melompat dari jendela dan sedikit mengendap dari pengawalan yang ada di kediaman White.
Pagi itu bagaikan pagi yang indah bagu Rona, seakan kejadian kemarin bukan apa-apa lagi. Anehnya Rona menatap keatas langit langit kamarnya dan menoleh kesamping.
“Aroma ini?!” Rona terbangun dan terduduk di kasurnya sambil memandangi ke arah sebelah menatap 3 batang mawar tertinggal di atas meja.
“Dia datang? Kapan ia datang? Saat aku tertidur?!” Tanya Rona pada dirinya sendiri dan mengambil 3 batang tangkai mawar tersebut san mencium aroma nya.
“Masih segar, wangi ini masih segar?” Rona berdiri dan berlari ke arah jendela kamarnya menatap taman bunga mawarnya.
Mata Rona tak menyangkah bahwa bunga-bunga di tamannya belum ada yang mekar dan masih kuncup. Tapi bunga yang ada di genggamannya ini telah mekar dengan cantiknya bahkan aromanya saja masih sangat segar seperti baru dipetik.
“Kenapa tidak ada surat maupun pesan?” Tanyanya dalam hati namun Rona masih tak menemukan jawaban. Jawaban yang ia tahu bahwa lelaki itu sempat datang tanpa membangunkannya. Mata Rona menjelajahi taman dan melihat sekitarnya dengan detail.
“Dean dimana kamu?” Tanya Rona yang bertanya dengan dirinya sendiri. Rona masih mencium lembut aroma mawar tersebut.
“Rindunya. Aku Rindu Dean.” Ungkapnya dengan senyuman haru, air mata mengalir begitu melewati pipinya dan terjatuh. Suara kicauan burung sudah beradu pagi itu, matahari sudah mulai menaik tinggi kelangit suasana menjadi lebih hangat. Semua hal sedikit membaik dan harapan kedepannya juga harus baik.