Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Azkia
Setelah semalam minum obat dan beristirahat, akhirnya Azkia kembali fit dan dia tidak menyia-nyiakan kesembuhannya ini untuk pergi bersama pria yang dia cintai, Gibran. Walaupun pria itu sebenarnya meminta Azkia untuk tetap beristirahat di rumah, namun Azkia tetap ingin pergi sebagai pengganti acara malam mingguan kemarin.
" Kita cari makan dulu, ya?" Gibran mengarahkan mobilnya masuk ke halaman sebuah restoran Japanese food.
" Kia belum lapar lho, Kak!" Azkia nampak keberadaan mereka berhenti di sebuah restoran.
" Memangnya kamu sudah makan siang?" Gibran melirik ke arah Azkia seraya melepas seat belt nya.
" Belum, sih. Tapi kalau dekat Kak Gibran, aku tuh rasanya kenyang terus, jadi nggak diajak makan juga nggak masalah."
" Gombal kamu! Buktinya kalau Kakak ajak kamu makan, makannya lahap kadang minta nambah," sindir Gibran.
" Hahaha, itu sih karena kebetulan khilaf saja, Kak." Azkia tergelak karena ucapannya yang terlalu berlebihan tadi. Dia pun akhirnya mengikuti apa yang Gibran lakukan, membuka seat belt dan keluar dari mobil.
Gibran dan Azkia berjalan dengan lengan Gibran yang merangkul pundak Azkia. Mereka berdua memasuki restoran itu layaknya sepasang kekasih seperti kebanyakan.
Azkia memesan chicken katsu bento sementara sementara Gibran memilih menu Tori karaage.
" Kia, Kia kapan siap untuk menikah?"
Pertanyaan Gibran yang menyinggung soal pernikahan langsung membuat Azkia nampak terperanjat.
" Kenapa Kak Gibran tanya seperti itu?" tanya Azkia terheran.
" Biar Kakak bisa nyicil buat persiapan beli seserahan untuk kamu." Gibran terkekeh.
" Apaan sih? Kak Gibran lebay amat." Azkia ikutan terkekeh.
" Kia nggak mau menikah sebelum Kak Alden nikah duluan, Kak."
" Hmmm, masih lama, dong?"
" Apaan sih, Kak? Kia saja baru dua puluh satu tahun, kok!"
" Gibran? Kamu Gibran, kan?"
Saat Gibran dan Azkia terlihat asyik mengobrol tiba-tiba seorang wanita datang mendekati dan menyapa Gibran.
Gibran dan Azkia langsung menoleh ke arah seorang wanita cantik yang berdiri di dekat meja mereka.
" Bener lho, kamu Gibran, kan?" Wanita itu merasa yakin jika yang ditemuinya itu adalah Gibran.
" Siapa, ya?" Gibran sendiri mencoba mengingat wanita yang menyapanya, sementara Azkia langsung menampakkan wajah juteknya dengan menatap sinis wanita yang sedang menyapa kekasihnya itu.
" Ya ampun, kamu nggak ingat aku, Gibran? Aku Shendy, teman SMA kamu waktu di Jambi. Kamu sekarang tinggal di Jakarta ini, Gibran?" tanya wanita bernama Shendy itu.
" Shendy? Kita pernah satu SMA, ya?" Gibran kembali mencoba mengingat.
" Iya, tapi memang nggak satu kelas, sih." Shendy mencoba membuka kembali ingatan Gibran.
Gibran mengeryitkan keningnya masih berusaha mengingat.
" Maaf kalau aku lupa, tapi memang aku agak lupa, sih." Gibran menggaruk tengkuknya seraya menyeringai.
Shendy lalu melirik ke arah Azkia yang melirik dengan tampang jutek kepadanya.
" Ini adik kamu, Gibran?" tanya Shendy kemudian
Azkia yang dianggap adik Gibran oleh Shendy langsung melotot. " Aku itu pacarnya Kak Gibran! Bukan adiknya!" protes Azkia menepis dugaan Shendy.
" Oh, pacar, ya?" Shendy membalas dengan nada tak kalah ketusnya dengan Azkia, membuat putri dari pemilik Alexa Butique itu langsung mengerucutkan bibirnya.
" Oh ya. Gibran. Nomer HP kamu berapa? Nanti kita bisa mengobrol-ngobrol lagi." Shendy langsung mengambil ponselnya bersiap untuk menyimpan nomer yang akan disebutkan Gibran.
" Nomerku 081x xxxx xxxx." Akhirnya Gibran menyebutkan nomer telepon miliknya kepada Shendy.
Azkia yang mengetahui jika kekasihnya itu memberikan nomer ponselnya kepada Shendy langsung mendengus kesal.
" Itu nomer aku, kamu simpan ya, Gibran!" Shendy yang telah mendapatkan nomer ponsel Gibran langung melakukan panggilan ke nomer Gibran untuk meninggalkan nomer teleponnya ke ponsel milik Gibran.
" Oke, Shen."
" Ya sudah, aku nggak mau ganggu acara kalian. Nanti chat aku ya, Gibran. Bye ..." Shendy kemudian meninggalkan Gibran dan Azkia setelah berpamitan.
" Ngapain sih pakai kasih nomer Kak Gibran segala? Kak Gibran mau selingkuh ya, dari Kia?!" tuding Azkia yang merasa kesal karena Gibran mau memberikan nomer ponselnya kepada Shendy.
" Lho, kok selingkuh? Dia itu 'kan teman SMA aku dulu. Masa nggak aku kasih? Nanti dikira aku sombong lagi." Gibran beralasan.
" Terus kalau kasih nomer telepon mau chatingan? Mau reunian, gitu?! Nanti ujung-ujungnya saling tertarik dan selingkuh!" ketus Azkia melipat kedua tangan di dada dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
" Hmmm, cemburu nih, ceritanya?" Gibran terkekeh melihat Azkia yang merajuk. Dia justru merasa senang melihat wanita itu memasang wajah memberengut.
" Cemburu itu tanda cinta, berarti beneran ya Kia cintanya sama Kakak?" Gibran kembali menggoda Azkia, membuat gadis cantik dan tomboy itu hanya melirik sekilas seraya membuang muka, karena dia masih merasa kesal kekasihnya itu memberi nomer ponselnya kepada wanita lain. Apalagi dia merasa kalau wanita yang tadi menyapa Gibran tidaklah bersahabat jika dilihat dari bahasa tubuh dan ucapannya.
***
" Mbak Kia, tadi Ibu Lusiana datang ke sini mengantar gaun yang kemarin Mbak Kia antar." Wanda yang melihat kemunculan Azkia dari ujung tangga langsung menyampaikan informasi.
" Tante Lusiana?" Azkia menghela nafas saat mengingat kejadian saat dia mengantar pesanan gaun milik Lusiana itu.
" Berapa yang dikembalikan, Mbak Wan?" tanya Azkia kemudian.
" Dua yang kembali, Mbak. Yang diambil sudah dibayarkan." Wanda menjelaskan kepada Azkia.
" Oke, makasih, Mbak." ucap Azkia lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya.
Ddrrtt ddrrtt
Azkia merogoh tasnya saat alat komunikasinya itu bergetar di dalam tasnya itu.
Azkia mendengus saat mengetahui jika orang yang menghubunginya saat ini.
" Assalamualaikum, Tan." Walau agak malas terpaksa menerima panggilan telepon dari Mama Raffasya itu.
" Waalaikumsalam, Azkia kamu ada di mana sekarang? Tadi Tante ke butik kamu tapi kamu nggak ada." Lusiana menanyakan keberadaan Azkia saat ini.
" Iya, Tan. Kia baru sampai butik." Azkia menyahuti.
" Kia, kamu baik-baik saja, kan? Tante minta maaf atas perbuatan Raffa terhadap kamu, Kia. Benar-benar keterlaluan itu anak!" Suara Lusiana terdengar penuh emosi.
" Sudahlah, Tan. Nggak usah ingat-ingat itu lagi." Azkia menolak diajak bicara soal kejadian di kamar tamu rumah Raffasya beberapa hari lalu.
" Tante mengerti perasaan kamu, Kia. Kamu pasti kecewa, marah dan malu ... Tante bisa apa buat menebus kesalahan Raffa itu, Kia?" Lusiana sungguh merasa menyesal.
Azkia kembali menarik nafas dalam-dalam.
" Tante hanya cukup tidak berusaha mendekatkan Kia dengan Kak Raffa!" Entahlah, mungkin itu hanya perasaannya saja. Namun Azkia merasa jika Lusiana memang sengaja sedang membuat Azkia dan Raffasya menjadi dekat.
" Hmmm, maksud Kia?" Lusiana mencoba menyangkal dan berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Azkia.
" Tante, apa Tante sengaja membuat Kia dekat dengan Kak Raffa?!" tuduh Azkia.
" K-kenapa Azkia berpikiran seperti itu?"
" Kia aneh saja, tiba-tiba selalu ada Kak Raffa setiap Tante berhubungan dengan Kia. Seperti memang sengaja direncanakan untuk menjadi seperti itu." Azkia menyampaikan kecurigaannya.
" Apa benar memang itu yang direncanakan Tante?!" tuduh Azkia kembali.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️