Demi membantu sang ayah Samara rela menikah dengan Edric, CEO muda yang terkenal sangat kejam.
Suaminya tak pernah menganggap Samara ada. Hari-hari rumah tangganya penuh dengan isak-tangis.
Bagaimana kelanjutan hubungan diantara keduanya?
Akankah Samara bertahan atau memutuskan pergi?
Bagaimana dengan Edric?
Apakah dia akan mati-matian mengejar cinta istrinya kembali?
Saksikan berbagai kejutan dalam kisah mereka hanya di Noveltoon.
#Silahkan jika anda ingin promosi novel anda di page saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ♡SanitaComel♡, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Fiona (part 2)
Malam terasa sangat panjang mereka semua pun tertidur di kamar masing-masing.
Pagi hari telah tiba.
Samara membangunkan suaminya,,, menepuk nepuk pipinya Edric.
"Hooaammm"
Sepertinya Edric masih mengantuk, dia hanya menggeliat namun matanya masih tertutup,,
lagi-lagi Samara menepuk pundaknya, Edric pun membuka matanya perlahan.
"Kenapa membangunkan aku secepat ini? what day is it?"
Edric masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Ini sudah jam 7 pagi sayang,, kau mau tidur sampai jam berapa? apa kau tidak pergi ke kantor?" Jawab Samara.
"Benar juga,, hari ini ada meeting dengan klien"
Edric pun bangkit menuju kamar mandi,, Samara pun menyiapkan pakaian kerjanya, Samara sudah lebih dulu bersiap hanya menunggu Edric saja.
Edric pun sedang memakai pakaian,, Samara pun membelakangi Edric, meskipun mereka sudah saling mencintai,, namun mereka masih malu untuk hal seperti itu.
Setelah selesai, Edric langsung memeluk Samara, setiap pagi dia selalu melakukannya,, dia merasa ada yang kurang jika tidak memeluk istrinya itu.
"Hmm, rambut mu wangi sekali sayang,, kau pakai shampo apa?"
Edric menciumi rambut Samara sambil memeluknya dari belakang.
Samara heran melihat suaminya itu.
*kau ini kenapa sih,, suka sekali mencium rambut ku,, memang aku pakai shampo apa lagi? semua di kamar mandi itu hanya ada barang-barang mu saja,, jika aku menggantinya dengan shampo pilihan ku, kau pasti akan mengamuk kan yang mulia*
Samara memajukan bibirnya.
"Aku kan pakai shampo yang sama dengan mu sayang" Jawab Samara
"Really? tapi kenapa rambut mu sangat wangi"
"Apa kau berbohong padaku" Edric menajamkan tatapannya
*ya tuhan, bagaimana lagi aku harus mengatakan padamu yang mulia, kau ini berpendidikan tinggi tapi kenapa kau sangat bodoh*
Samara menghela nafasnya dengan kasar.
"Sayang untuk apa aku berbohong,, aku bahkan tidak pernah berbohong padamu" Samara tersenyum berusaha menyudahi drama di antara Edric dengannya
"Baiklah, ayo turun,, mungkin David sudah menunggu ku"
Edric menggandeng tangan Samara,, Samara pun mengikutinya dari belakang.
Belum sampai di ruang makan,, mereka berhenti di ruang keluarga terdengar Alishka dan Mama Rosa sedang berdebat.
"Mama kenapa sih tiba-tiba membahas pertunangan ku dengan Kak Varo? maksud mama apa?" Alishka bicara dengan sedikit keras
"Ya mama cuma mau yang terbaik untuk kamu sayang,, lagi pula Varo sangat menyayangi kamu, lalu apa masalahnya? kalian kan memang sudah dekat" Mama Rosa masih bicara dengan lembut
"Tapi kenapa mama tidak tanya dulu ke aku ma? bagaimana kalau Kak Varo tidak cinta sama aku ma? mama bahkan tidak pernah mikirin perasaan aku" Alishka masih menekan suaranya
"Alishka dengarkan mama,, Varo itu pemuda yang baik, dia juga berasal dari keluarga terpandang,, dia bisa memberikan segalanya sama kamu,, mama yakin kamu pasti bahagia jika menikah dengannya"
"Tapi aku tidak mau nikah ma,, aku belum siap" Alishka meninggikan suaranya
"Mama tidak maksa kamu untuk menikah sekarang,, tapi kamu harus bertunangan dengan Varo" Mama Rosa masih kokoh dengan pendiriannya
"Aku tidak mengerti sama jalan pikiran mama"
Alishka menangis tidak habis pikir dengan perkataan ibunya,, Alishka melihat Edric yang sedari tadi mendengarkan mereka.
"Kakak.. hiks hiks"
Alishka berlari memeluk kakaknya, dan menangis di dada kakaknya,, Edric yang melihat adiknya menangis pun tidak tega, dia mengelus kepala Alishka dalam dekapannya.
Samara yang melihatnya pun merasa kasihan pada Alishka.
"Kakak, aku sudah menganggapnya sama dengan mu kak,, aku tidak bisa kak,, tolong katakan itu pada mama kak, katakan pada mama aku tidak bisa kak, hiks hiks"
Alishka masih menangis dalam pelukan Edric,, kemudian Edric mengangkat wajah Alishka agar melihatnya dan memegang pipi Alishka.
"Sudah jangan menangis lagi ya,, nanti kalau oppa Varo lihat dia bisa ikut sedih" Edric menghapus air mata di pipi adiknya itu
Alishka yang tidak ingin membuat hubungan kakaknya dan Alvaro renggang pun berhenti menangis,, dia pun juga tidak ingin berjauhan dengan Alvaro,, karena Alvaro sudah seperti kakak baginya.
Benar saja,, Alvaro sudah ada di antara mereka,, begitu juga dengan David yang sudah berada di dekat Edric.
Namun David tidak mengetahui kalau Alishka habis menangis,, begitu pun dengan Alvaro yang juga tidak mengetahui perdebatan antara ibu dan anak.
Alvaro sedikit heran melihat Alishka yang terus menempel pada kakaknya.
"Hey little girl,, kenapa kau sangat manja dengan kakak mu?"
Alvaro masih bersikap biasa, mulai mengganggu Alishka menarik-narik rambut Alishka.
"Haha, iyah nih,, dia minta berangkat bersama ku ke kantor, terus memeluk ku begini" Edric berbohong agar Alvaro tidak curiga
"Sudahlah,, biar oppa saja yang antar,, kan jam masuk kalian berbeda"
Alvaro mencoba menarik tangan Alishka,, ingin melihat wajah gadis itu , untuk memastikan apakah dia menangis atau tidak,, karena Alvaro merasa tidak seperti biasanya.
Dengan cepat Alishka mengusap air matanya dan berbalik melihat Alvaro.
"Ada apa oppa? oppa ingin mengantar ku ke kantor" Alishka tersenyum menatap Alvaro
*syukurlah dia baik baik saja* Alvaro merasa tenang setelah melihat Alishka
"Iya, apa kau tidak mau di antar oppa?"
Alvaro mengusap rambut Alishka.
"Berhenti oppa,, nanti rambut ku bisa rusak"
Alishka menyingkirkan tangan Alvaro yang mengacak-acak rambutnya.
"Aku hari ini mau berangkat sama kak Edric,, karena aku ada tugas pagi ini,, jadi oppa santai saja dirumah" Tolak Alishka dengan halus.
"Baiklah,, kalian hati-hati ya"
Alvaro mengantar sampai pintu utama, Edric dan Alishka pun menaiki mobil,,, David yang melewati Alvaro memberikan tatapan yang tajam,, kemudian David melajukan mobilnya.
Alvaro menatap heran ke arah David pergi.
*kenapa dia menatap ku seperti tatapan permusuhan,, apa aku punya salah padanya, aneh sekali asisten Edric itu* Alvaro pun menuju gerbang ingin morning run
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah yang cukup mewah,, Fiona menatap sebuah brosur yang ada di tangannya di dalam brosur terdapat wajah Samara,, kemudian dia merobek brosur tersebut sampai tidak utuh lagi dan membuangnya ke tempat sampah.
*aku benci wanita ini,, sampai kapan kau akan terus bahagia,, baiklah kau berbahagia lah sekarang, karena sebentar lagi kau akan menderita*
"Hahaha"
Wanita itu tertawa seperti orang tidak waras,, Fiona mengetik nomor seseorang di ponselnya,
dan menelfon orang tersebut.
"Hei, lanjutkan rencana ku sekarang juga .. aku sudah tidak sabar melihatnya hancur"
Perintah fiona pada orang yang berada di seberang telfon.
"Baiklah,, lakukan apa yang sudah ku katakan, jangan sampai kau gagal"
Fiona tersenyum penuh tanda tanya, entah apa yang ada di pikirannya itu.
"Oke, aku akan membayar berapa pun yang kau mau,, intinya jangan sampai ada yang tau rencana ini"
Fiona menutup panggilan tersebut,, kemudian berjalan menuju cermin.
"Hahaha,, kau ingin bersaing dengan ku kan,, baiklah akan ku perlihatkan aslinya diriku ini"
Fiona mengepalkan tangannya, lalu membakar brosur itu.
Bersambung....
Pembaca yang bijak akan meninggalkan jejak 🙏🏻
coba saja di kasih biar para pembaca yang gak faham artinya, jadi ngerti mereka ngomongin apa🤗tolong di perbaiki yah thor
Thor kasih terjemahan kalo ada bahasa Inggris nya,aku ngk mengerti🤦🏻♀️ apa yang di omongin