Yurina, gadis 20 tahun terpaksa mengandung dari seorang CEO tempat ia berkerja, akibat insiden yang terjadi di malam ulang tahun perusahaan.
Selama beberapa bulan Yurina dan Moranno hidup bersama dalam ikatan pernikahan, tanpa di sadari cinta hadir diantara mereka.
Lika - liku perjalanan rumah tangga mereka diwarnai orang - orang yang ingin memisahkan hubungan mereka.
Baik Yurina maupun Moranno, sama - sama menjaga hati mereka untuk sang pasangan hidup.
Berdoa yang benar, berpikir yang benar, dan hidup yang benar, akan membawamu bertemu dengan kebahagiaanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 "Anda salah orang"
Sore itu Yurina telah menyelesaikan jadwal kegiatan hariannya. Ia memang sudah terbiasa dididik hidup disiplin sejak kecil di panti asuhan dimana ia dibesarkan.
Terlihat bibi Nur dan pelayan wanita yang lain sedang sibuk menyiapkan makan malam dan merapikan rumah.
Yurina menuju taman di halaman rumah besar itu. Pak Karto sibuk memotong rumput dengan mesin rumput, disisi lain bibi Asri sedang menyiram bunga dan tanaman hias lainnya.
"Bi Asri... Boleh aku membantu menyiram tanaman bunganya." Kata Yurina yang berjalan mendekat.
Bibi Asri menoleh kearah datangnya suara, lalu membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat.
"Jangan nyonya, ini tugas saya, nanti kalau tuan dan nyonya besar tahu saya bisa dimarahi." Kata bi Asih melanjutkan pekerjaannya menyirami tanaman.
"Tidak apa-apa bi, saya ingin cari keringat saja."
"Nanti kalau tuan dan nyonya datang dan melihat nyonya melakukan pekerjaan saya bagaimana?"
"Nanti saya yang mengatakannya pada mereka bi."
"Berikan saja pada dia bi, ia memang pantas melakukannya, bukankah itu pekerjaan yang biasa ia lakukan sebelum ada dirumah ini." Kata nyonya Agatsa yang tiba-tiba berdiri didekat mereka dengan wajah angkuhnya.
Yurina dan bibi Asri kompak menoleh kearah datangnya suara.
"Nyonya besar....." Keduanya lalu sama-sama membungkuk memberi hormat saat tahu siapa yang datang.
Seorang gadis cantik berpenampilan seksi dan elegan, berdiri disamping nyonya Agatsa dengan gaya anggunnya sambil tersenyum sinis kearah Yurina.
"Bukankah wanita itu yang aku temui direstoran siang tadi dan yang menyenggol pramusaji hingga membuat bajuku kotor." batin Yurina.
Nyonya Agatsa lalu meninggalkan tempat itu dengan raut wajah datarnya diikuti gadis yang berdiri disampingnya itu.
"Sini, biar kubantu bi..." Kata Yurina sambil mengulurkan tangannya ke arah bi Asih.
"Terima kasih nyonya, maaf merepotkan nyonya." Kata bi Asih merasa tidak nyaman, sambil memberikan kran air ke tangan Yurina.
"Iya bi, tidak apa-apa. Benar dikatakan nyonya besar, saya sudah biasa melakukan ini, walau taman di panti tidak sebesar di taman rumah ini." Kata Yurina dengan senyumnya yang manis pada bibi Asri.
"Apa nyonya pernah tinggal di panti?" Tanya bibi Asih sambil memperhatikan majikannya itu melakukan pekerjaann yang seharusnya dilakukan olehnya.
"Iya bi, saya dibesarkan disana. Setelah saya berkerja, saya tinggal di kost bersama sahabat saya, dan semuanya kami melakukannya sendiri."
"Iya nyonya, saya percaya dengan cerita anda. Saya bisa melihat anda melakukan semuanya dengan cekatan selama anda ada disini, dan itu bisa dilakukan kalau seseorang tersebut sudah biasa." Tutur bibi Asih pada majikannya itu.
"Kok krannya tiba-tiba mati ya bi?" Kata Yurina saat kran ditangannya tiba-tiba terhenti.
Yurina lalu mengutak-atik kran ditangannya. Bibi Asih pun turut membantu majikannya itu.
"Mungkin krannya tersendat bi." Kata Yurina sambil mengarahkan kran tersebut kearah wajahnya untuk melihat lubang kran yang kemungkinan terganjal sesuatu.
Detik kemudian tiba-tiba air menyembur dengan deras dari kran yang dipegang Yurina tepat mengenai wajahnya, sehingga Yurina menjadi basah kuyup, dari ujung rambut hingga ujung kakinya karena tidak sempat menghindar. Matanya pun sedikit memerah terkena semburan air yang deras. Bibi Asih pun turut basah kuyup walau terkena cipratan air namun begitu deras.
"Hahaaa..."
Yurina dan bibi Asih spontan menoleh kearah datangnya suara orang yang tertawa. Tampak wanita yang tadinya datang bersama ibu Moranno berdiri diujung kran yang satunya lagi tertawa begitu puas.
Yurina dan bi Asih yang basah kuyup hanya bisa saling berpandangan dan menggelengkan kepala melihat apa yang telah dilakukan wanita itu pada mereka.
Dengan santai dan masih tertawa puas, wanita itu melangkah mendekati Yurina dan bi Asih yang masih tetap melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai.
"Bagaimana bermain airnya, asik kan?" Kata wanita itu masih tertawa.
"Aku sengaja menutup kran diujung sana." Katanya dengan senyum mengejek.
Yurina dan bi Asih tak menjawab sepatah kata pun, mereka tetap melakukan kegiatannya tanpa merasa tergganngu dengan kehadiran wanita itu.
"Gadis cleaning service. apa kau tuli, tidak dengar perkataanku?" Kata wanita itu lagi dengan nada kasarnya.
"Maafkan kami nona, kami kira nona tidak berbicara dengan kami. Kami bukan sedang bermain air, tapi sedang menyiram tanaman ditaman ini nona." Katanya tersenyum dan tetap bersikap sopan.
"Kau memang pantas melakukan pekerjaan ini. Walau menjadi isteri seorang Moranno yang kaya raya, statusmu itu tidak akan pernah berubah. Orang miskin ya tetap orang miskin. Kau tidak akan pernah bisa berperilaku layaknya seorang bangsawan." Katanya mengejek sambil tertawa lebar.
Yurina yang mendengar itu hanya terdiam seolah-olah perkataan wanita itu bukan ditujukan untuknya. Ia tetap tenang melakukan pekerjaannya menyiram bunga.
"Ya begitulah, gadis rendahan tak akan mengerti apa yang dikatakan orang-orang kelas atas, jangankan bisa menjawab, untuk memahami setiap kata pun ia tak mampu?" Tambah wanita itu lagi berusaha memancing reaksi kemarahan Yurina.
Yurina masih tetap setia dalam diamnya.
"Moranno memang salah memilih isteri. Ternyata kau gadis yang bukan hanya miskin, tapi juga gagu." Wanita itu kembali tertawa lepas dengan gaya mengejek.
Yurina lalu menghentikan kegiatannya, dengan langkah pasti ia mendekati wanita yang terus menghinanya itu. Sementara bibi Asih agak gugup melihat situasi yang sedang berlangsung.
"Nona, saya memang orang miskin, dan saya bukan lah siapa-siapa. Tetapi dengan siapapun saya berbicara saya akan tetap menjaga kesopan santunan. Bukan hanya status, seseorang dihargai, tapi juga attitude yang ia miliki. Sayangnya itu tak anda miliki nona." Kata Yurina dengan wajah datarnya.
"Kau... Beraninya berbicara seperti itu padaku!"
Dengan cepat wanita itu melayangkan tangannya kearah wajah Yurina. Namun sebelum tangan wanita itu berhasil mendarat diwajahnya, Yurina dengan sigap menangkap tangan wanita itu, lalu memutarnya kebelakang lalu menguncinya.
"Lepaskan... Lepaskan tanganku bodoh. Kau tidak pantas menyentuhku." Kata wanita itu meringis kesakitan.
"Stop menghina orang miskin dan lemah nona. Dan stop melakukan ini pada saya, anda salah orang." Kata Yurina setengah berbisik ditelinga wanita itu dan semakin mengeratkan kuncian tangannya.
"Aww... Lepaskan tanganku bodoh... Kau menyakitiku! Bentak wanita itu.
"Plak.. Plak... Plak...Plak... Plak..."
Ketiga wanita itu serempak menoleh ke arah datangnya suara. Nampak Moranno melangkah mendekat dengan menepuk kedua belah tangannya sambil tersenyum.
"Luar biasa, seru sekali permainan kalian. Kalian terlihat akrab sekali. Kata Moranno yang memandang kedua wanita dihadapannya dengan posisi mereka yang belum berubah.
Yurina yang menyadari posisinya lalu dengan spontan melepaskan tangan wanita itu dari kunciannya.
Sementara bibi Asih terpaku ditempat ia berdiri, tak berani memandang wajah majikannya yang baru saja tiba ditempat itu.
"Moranno, lihatlah wanita ini sengaja menyakitiku." Dengan wajah yang dibuat memelas, ia mendekati Moranno mengharapkan pembelaan dari pria itu.
"Berhenti ditempatmu." Kata Moranno disertai isyarat tangannya .
"Aku sudah melihat semuanya, kau memang tidak pernah berubah Gandis."
"Kau lihat, dia pantas menjadi isteriku. Ia sanggup menanganimu seorang diri tanpa bantuan siapapun."
"Satu lagi... Jangan memanggilnya dengan sebutan wanita, panggil dia nyonya Moranno setiap kali bertemu dengannya, karena dia adalah isteriku." Tegas Moranno.
Moranno lalu menghampiri isterinya.
"Kau tak apa-apa isteriku." Kata Moranno sambil memperhatikan dan memeriksa isterinya itu.
"Huh... Seharusnya aku yang ditanya seperti itu, pergelangan tanganku sangat sakit." Batin Gandis.
"Ayo segera ganti pakaianmu, nanti kau flu, aku tak ingin kau sakit." Kata Moranno sambil merengkuh bahu isterinya itu. Yurina terpaku, hatinya berdebar mendapat perhatian suaminya itu.
"Bibi Asih, tolong benahi kekacauan yang terjadi disini, kami akan segera masuk." Kata Moranno pada bibi Asih yang masih berdiri ditempatnya.
" Baik tuan..." Bi Asih lalu segera menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugasnya.
Moranno lalu menarik pergelangan tangan Yurina dengan lembut untuk mengajaknya meninggalkan tempat itu.
Gandis yang menyaksikan semua itu menjadi bertambah panas hatinya.
***