Vania Maharani terpaksa memutuskan jalinan cintanya dengan Leon Mahardika,kekasih masa SMA nya karena desakan dari Nyonya Laras, mamanya Leon. Keadaan lah yang membuat Vania terpaksa menyetujui kemauan Nyonya Laras dan menjalankan rencana yang membuat Leon sangat membenci Vania.
Hingga 7 tahun berlalu, mereka kembali bertemu namun dengan status yang berbeda. Leon sudah menikah dengan Ziva yang tak lain sahabatnya sejak kecil sekaligus dialah orang yang memberikan ide gila pada Nyonya Laras.
Perusahaan tempat Vania bekerja bangkrut, dan di ambil alih oleh perusahaan Leon. Dan di sanalah penderitaan Vania di mulai.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Vania hingga membuatnya mau menjadi istri siri Leon?
Simak dan ikuti ceritanya.
Jangan lupa dukung Author dengan cara
Like, Coment, Vote, Favorite dan kasih hadiah buat author ya.
Kamsyahamida 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cintya Devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku, Kamu dan Kisah Kita
Ketika jam makan siang, Vania dimintai tolong oleh Bu Leni untuk keluar. Beberapa staf perusahaan yang ingin makan siang di ruangan mereka meminta tolong pada Vania untuk membelikan camilan bagi mereka.
Vania, sebagai salah satu karyawan yang patuh dan tidak pernah membantah perintah atasannya, bergegas menjalankan perintah Bu Leni. Sayangnya, kesialan menimpa Vania. Orang yang berusaha Vania hindari, kini tengah berduaan di depan lobby.
Sebenarnya Vania sangat malas jika harus berpapasan dengan Ziva dan Leon. Hatinya terasa panas, jika melihat perhatiaan Leon pada Ziva. Namun, bagaimana pun makanan ini tetap harus di antar ke pemiliknya.
"Come on Vania, kamu pasti bisa. Anggap aja mereka berdua gak ada. Tinggal lewat, gak usah di lirik dan gak usah di lihat. Dengan begitu kamu gak akan sakit hati. Selesai kan?" gumam Vania sambil berusaha memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Ziva yabg tanpa sengaja melihat keberadaan Vania, mulai mencari cara untuk membuat Vania tambah sakit hati. Ziva lalu menggelendot manja di lengan Leon, tujuan Ziva ingin berusaha membuat Vania cemburu dengan kemesraannya bersama Leon sekaligus mempertunjukan pada Vania, bahwa Leon kini sudah menjadi miliknya dan melupakan Vania.
"Sayang, kita mau makan di mana?" ucap Ziva manja.
"Ziva, tolong jangan bersikap seperti ini di depan umum. Malu kalau sampai dilihat sama para karyawanku."
"Arghh..., aku tahu hanya beralasan Leon. Padahal yang kami takutkan Vania bukan. Kamu tidak mau sampai Vania lihat kemesraan kita kan? Pasti jauh dalam hatimu, kamu masih mencintai dia kan Leon. Dan semua ucapan kamu di dalam tadi hanya untuk menghiburku bukan? Aku kecewa sama kamu Leon, lebih baik aku pulang saja. Biar kamu bisa pergi makan siang dengan Vania, mantan terindah kamu itu," seru Ziva sambil berakting menangis. Dengan begini Leon pasti akan mencegahnya dan berusaha menenangkannya.
Rupanya, akting yang sedang di mainkan Ziva berhasil. Leon segera menarik tangan Ziva sambil membujuk sang Istri untuk tidak marah lagi padanya.
"Ziva sayang.., jangan marah dong. Ini sungguh tidak ada hubungannya dengan Vania. Baiklah jika kamu ingin mesra denganku, sini biar aku peluk kamu. Jadi, apa sekarang kamu masih ingin pulang dan tidak jadi makan siang denganku?" ucap Leon.
"Enggak sayang. Udah gak marah kok. Mana mungkin aku bisa marah sama suami yang sempurna seperti kamu ini. Sayang tolong katakan padaku, kalau kamu mencintaiku sayang," rengek Ziva.
Deg...
Mata Leon langsung tertuju pada Vania. Entah Ziva sengaja atau tidak, tapi saat Ziva memintanya Vania nampak berjalan laku berhenti sejenak di depan mereka. Sepasang mata Vania dan Leon saling bertatap nanar. Namun Vania berusaha mengacuhkan mereka dan hendak melewati keduanya.
Mulut Leon seketika sulit untuk di buka. Sungguh berat bagi Leon mengabulkan permintaan Ziva, tapi jika Leon tidak melakukannya, Ziva jelas semakin cemburu dan sedih dengan sikapnya.
"Leon, kenapa diam cepat bilang kalau kamu cinta sama aku," desak Ziva.
"Emhh...,emh..."
"Leon..," ucap Ziva penuh penekanan.
"Iya Ziva, aku mencintaimu," kata Leon bertepatan saat Vania berjalan melewatinya.
Glek...
Kedua kelopak mata Vania mulai mengembun. Air mata itu rasanya sudah tidak tertahan lagi. Bukannya wajar, jika Suami mengatakan cinta pada Istrinya? Terus kenapa dia seolah tidak terima mendengar pernyataan Leon untuk Ziva.
Vania sempat berhenti tepat di belakang Leon. Ziva menoleh dan tersenyum licik, puas rasanya membuat hati Vania semakin hancur.
"Aku bisa melihat dari sikap kamu, jika kamu masih mencintai Leon. Dan bagaimana rasanya cemburu Vania? Sakit bukan? Itu yang dulu aku rasakan saat aku harus melihat kamu dan Leon pacaran di depan mataku. Sekarang kamu sudah merasakan apa yang aku rasakan dulu," batin Ziva dengan smirk di garis bibirnya.
Setelah mengatur napasnya, Vania melanjutkan langkahnya sambil menyeka air yang mengalir deras di pipinya.
"Kamu harus kuat Vania. Tinggal dua minggu lagi kamu bekerja di sini. Setelah itu pergi jauh-jauh dari kehidupan Leon dan Ziva. Jangan sampai kamu menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Ingat Vania, Leon itu bukan lagi milik kamu tapi milik Ziva!" batin Vania.
Leon seolah di lema. Andai dia bisa jujur, dia pun terluka saat mengabulkan permintaan Ziva. Bukan karena dirinya tidak mencintai Ziva, tapi Leon lebih memikirkan perasaan Vania.
"Maafin aku Vania, tapi aku juga tidak bisa menolak permintaan Istriku. Kamu dan Ziva, sama-sama punya tempat penting di hatiku sekarang. Bagaimana pun Ziva yang selalu mendampingiku hingga aku bisa sampai sukses seperti ini. Sedangkan kamu, cintaku untuk kamu sama sekali tidak berubah. Apalagi saat aku tahu, jika kamu tidak pernah mengkhianati hubungan kita dulu. Maafin aku Vania, aku rasa ini yang terbaik. Kamu dan aku, kisah antara aku dan kamu sudah berakhir."
kayak perhatian Morgan pada istri orang yang author anggap hal benar
mudah mudahan author merasakan diposisi leon didunia nyata, amin
ternyata sudah ada yang ngantri lagi untuk nyakiti vania🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️