[🚫Hati-hati, novel ini bisa buat kamu terbang melayang-layang lalu jatuh ke dalam empang🚫]
Kisah Tuan Muda Rico.
Pria dewasa yang dijodohkan dengan gadis amit-amit bernama Bebiana.
Tidak hanya merepotkan, gadis belia itu juga memiliki hobi aneh. Yaitu mencuri apa saja yang bisa dijadikan uang demi menuruti hobinya bermain game.
Akankah Rico bisa bertahan memiliki istri yang hobinya maling sana-sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Mati tak semudah itu Bebiana ferguso!"
Kini Rico menatap Bebi yang tengah terbengong-bengong kebingungan karena tidak jadi mati. Pria itu tersenyum jenaka sambil menaikan satu alisnya tinggi-tinggi.
"Coba sekali lagi ... kamu belum beruntung itu! Malaikat maut sedang sibuk," ledeknya sangat menyebalkan.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa obat nyamuk ini tidak terasa seperti racun?" pungkas perempuan itu murka sambil melempar wadah bekas obat nyamuknya ke dada Rico.
CK. Rico makin tertawa geli. Beberapa kali ia mengelap air liurnya yang menetes karena terlalu banyak ketawa.
"Aku sudah tahu kalau otakmu pasti akan sedangkal ini! Maka dari itu aku menyuruh pelayan untuk mengganti semua cairan berbahaya di rumah ini menggunakan jus buah. Dan obat nyamuk cair yang kamu minum baru saja adalah jus jeruk. Pasti kamu mengambilnya dari bawah kolong tangga, 'kan!" tebak Rico sambil ngakak-ngakak dan merasa jadi spesies paling jenius seantero jagat.
"Dasar pria gila! Pergi kamu dari kamar ini!" Satu bantal sofa melayang ke wajah manusia itu. Bebi menggemeretakkan gigi-giginya saat pria itu masih saja tergelak penuh aura meledek setelah menggagalkan rencana bunuh dirinya.
"Pergi!" teriak wanita itu lagi. Demi apa pun ia merasa malu. Andai Bebi tidak takut dengan benda tajam, pasti ia sudah bunuh diri menggunakan gunting kuku.
"Oke ... oke. Aku tidak akan meledekmu lagi! Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi." Rico menghentikan bercandanya karena takut Bebi marah dan membuat urusan jadi panjang.
"Pergi!" teriak Bebi untuk ketiga kalinya.
Sepertinya terlambat. Perempuan itu sudah benar-benar marah sekarang.
Rico mengangkat dua tangan ke atas. Tersenyum jenaka seperti badut Mampang. "Aku pergi! Tapi kamu habiskan dulu makanannya. Bukannya tadi kamu mau makan itu ... aku sudah berbaik hati membawakannya, lho!"
"Tidak jadi! Aku sedang tidak berselera makan."
"Ayolah!" Rico menatap Bebi dengan pandangan memohon. "Aku tidak bisa keluar dari kamarmu sebelum kamu menghabiskan makanan itu! Ayah masih ada di bawah, dia akan marah padaku jika aku tidak berhasil memberimu makan."
Dua tangan Bebi terlipat di depan dada. "Itu bukan urusanku!"
"Bukan urusanmu bagaimana? Malam ini ayahku akan menginap di sini. Jika keadaanmu terus terpuruk seperti ini, ayahku pasti akan menginap lebih lama di rumah ini. Coba kamu tebak, siapa yang akan dirugikan jika bukan kita berdua?"
Bebi termangu. Menatap pria itu dengan isi pikiran sama. Bener yang Rico katakan. Ia tidak bisa bernapas dengan leluasa jika ayah mertuanya tinggal di rumah ini. Huh, kesalnya dalam hati.
"Kalau tidak mau ya sudah! Itu artinya kita harus main nikah-nikahan selama ada ayah di sini!"
Sontak wanita itu menelan salivanya tegang. Entah kenapa bayangan kejadian tadi siang melintas kembali hingga membuat bulu-bulu kuduk di sekujur tubuhnya merinding geli.
Tidak ... jangan sampai itu terjadi kedua kali. Demi apa pun Bebi belum siap menghadapi kejamnya seonggok Dipsy.
"Hemm, baiklah!" Perempuan itu mengangguk lemah.
"Nah, gitu! Kalau begini 'kan aku tidak perlu main adu otot segala denganmu." Ada helaan napas lega di balik seringai yang terlukis dari bibir Rico.
Namun baru saja pria itu mengambil piring dari atas nampan, Bebi kembali bertingkah.
"Aku mau makan disuapi!"
"A-apa kamu bilang? Kamu pikir aku babumu?" gertak Rico geram. "Kamu punya tangan. Kamu masih sehat. Jadi jangan membuatku kesal. Ingat, hubungan kita tidak sama dengan orang lain. Aku tidak mungkin bisa melakukan hal-hal yang dilakukan seperti pasangan pada umumunya!"
"Heuh." Bola mata Bebi sedikit menyipit. "Baiklah, aku bisa makan sendiri, tapi ada syaratnya! Kamu harus bisa menebak pertanyaanku baru aku mau makan sendiri!"
"Lakukanlah, aku masih punya banyak waktu untuk meladeni bocah sepertimu. Kebetulan aku ahli dalam permainan tebak-tebakkan!" Tatapan Rico menjurus lurus. Menunggu pertanyaan apa yang akan Bebi berikan kepadanya.
"Oke .... fokuskan pikiranmu, dengarkan baik-baik pertanyaanku!" Pria itu mengangguk. "Demi bisa melahirkanku ke dunia, ibuku rela telanjang dan mempertontonkan tubuhnya di hadapan umum, siapakah aku?"
"Jablay!" tebak Rico asal tanpa basa-basi. Bebi menggelengkan kepalanya sedikit tergelak. Rico kesal, tapi agak senang karena Bebi sudah mau tertawa walau sedikit.
"Bukanlah! Pikirkan dulu baik-baik sebelum menjawab."
"Kamu bilang rela telanjang, kan? Kalau begitu semacam Pekerja se*s komersial."
"Bukan, dong!"
Rico mengerutkan dua alisnya kesal. Anak satu ini, geramnya dalam hati. "Siapa, sih? Pelakor?"
"Pikiranmu terlalu jauh. Dasar manusia bodoh! Katanya jago tebak-tebakan, yang begitu saja kamu tidak tahu." Bebi menjulurkan lidahnya dengan nada mengejek.
"Bukan tidak tahu, tapi tebakanmu itu tidak masuk akal! Jangan memancing kesabaranku ya bocah sialan!" Rico mengemeretakkan semua gigi-giginya. "Loonte?" sungut pria itu untuk terakhir kali.
"Sudahlah, aku menyerah! Pass!"
"Hmm. Dasar bodoh! Jawabannya bambu! Setiap kali anaknya lahir, bajunya akan terlepas satu-persatu. Semakin tinggi dia akan semakin terlihat telanjang."
"Cuih!" Rico menggerutu kesal. "Tebak-tebakan bocah! Tidak bermutu," omelnya.
"Bukan tidak bermutu! Tapi otakmu yang terlalu dangkal." Bebi tersenyum puas karena berhasil membuat Rico kalah telak.
"Suapi aku aku!" serunya.
***
Dapatkan give away totebag lucu nama penaku. TERBATAS
wkakakaaakakakaaaaaa....
🤦🤦🤣🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃