Gerry Putera Tanuwijaya seorang pengusaha sukses dan kaya harus menelan pil pahit saat perusahaannya dinyatakan bangkrut akibat ulah Om dan Tantenya yang ingin menguasai kekayaan Gerry. Bahkan Gerry mengalami kecelakaan wajahnya hancur dan harus menjalani operasi plastik.
Rubi Caesa Gilbert wanita cantik nan sexi, dia merupakan seorang pengusaha muda yang sukses. Kehidupannya tidak tenang saat Kakak dan Mama tirinya berusaha untuk membunuh Rubi.
Pertemuan yang tidak disengaja antara Rubi dan Gerry, membuat mereka terikat satu sama lain. Rubi membutuhkan bodyguard untuk melindungi dirinya sementara Gerry membutuhkan uang untuk menjalani hidupnya.
Akankah tumbuh cinta diantara mereka? sedangkan Rubi saat ini menutup rapat hatinya untuk seorang pria dan tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
💰
💰
💰
💰
💰
Malam pun tiba...
Saat ini Rubby sedang duduk di pinggiran kolam berenang dengan laptop yang berada di pangkuannya.
"Hai sayang," sapa Gerry dan mencium kening Rubby.
"Hai."
"Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi cek pekerjaan, kamu hebat sayang perusahaanku naik pesat aku mengalami keuntungan yang sangat luar biasa, terima kasih ya sayang."
Cup...
Rubby mencium pipi Gerry...
"Kok cuma pipi, yang ini iri loh pengen di cium juga," seru Gerry dengan menunjuk bibirnya.
"Apaan sih."
"Awas kamu sayang, minggu depan aku tidak akan melepaskanmu, aku akan buat kamu tidak akan turun dari ranjang," seru Gerry.
"Ishh..apaan sih Ger, mesum banget otaknya."
"Hai Bos, hai Ger."
"Ya ampun, kenapa lo datang disaat yang tidak tepat sih? ganggu aja, ga tahu apa kalau gue lagi romantis-romantisan," ketus Gerry.
"Gerry..." seru Rubby dengan tatapan tajamnya.
"Hehehe...bercanda sayang gitu aja marah," sahut Gerry dengan bergelayut manja di pundak Rubby.
"Bhuahahaha...dasar cemen, tampang saja boleh sangar tapi hati hello kitty," ledek Kiting.
"Jangan mancing deh Ting, satu minggu lagi gue nikah, gue ga mau bikin calon istri gue marah bisa-bisa malam pertamanya gue ga bakalan di kasih jatah."
"Wadaw...sakit sayang."
Rubby menginjak kaki Gerry dan itu membuat Kiting semakin menertawakan Gerry.
"Senang lo ya ketawain gue."
"Sudah-sudah, perut gue sudah sangat sakit. Sebenarnya ada yang mau gue bicarakan sama Bos cantik gue."
"Mau bicarakan apa? kayanya serius nih?" sahut Gerry.
Rubby menutup laptopnya dan menyimpannya di atas meja.
"Ada apa Ting? lo mau bicara apa?" tanya Rubby.
"Bos, Kiting punya teman namanya Celline saat ini Ibunya sedang sakit terkena kanker p******* dan harus segera di operasi, kasihan dia tidak punya biaya. Dia kuliah sambil bekerja, sebel berangkat kuliah dia bekerja sebagai loper koran dan pulang kuliah dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran," seru Kiting.
"Terus?" tanya Rubby.
"Tolonglah bantuin Celline, kasihan dia."
"Lo suka ya sama wanita itu?" goda Gerry.
"Apaan sih lo Ger," sahut Kiting dengan wajah yang sudah memerah.
"Hahai, wajah lo sudah memerah kaya tomat busuk, berarti benar kan lo suka sama cewek itu."
"Ah sudahlah ga penting, sekarang yang terpenting Bos mau kan bantuin Kiting yang tampan mempesona ini," seru Kiting dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Idih najis, lo cacingan?" cibir Gerry.
"Ayolah Bos, please..please..please..lima puluh juta ga bakalan ada artinya buat Bosku yang cantik ini, kalau perlu dia bisa kerja disini jadi pelayan untuk membayarnya," seru Kiting.
Rubby tampak berpikir sejenak...
"Coba besok lo bawa dia kesini? tapi lo sudah membuktikan kalau dia bukan orang yang patut di curigai kan? apa orang itu aman?" tanya Rubby.
"Kayanya dia orang baik-baik kok Bos, dan ga aneh-aneh juga."
"Awas aja kalau sampai lo salah langkah," ancam Gerry.
"Ok, besok bawa aja kesini. Kalau gitu aku ke kamar dulu capek mau istirahat," seru Rubby dan beranjak dari duduknya.
"Mau aku temenin ga sayang tidurnya," seru Gerry.
"Hah...."
Kiting mengusap wajah Gerry dengan tangannya.
"Istigfar Ger istigfar, belum halal ga sabaran banget sih lo."
Rubby hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya, dia sudah sangat lelah karena sepulang dari Australia dia belum istirahat.
***
Keesokkan harinya...
Sebelum berangkat ke kampus, Kiting mampir dulu ke rumah sakit karena Kiting tahu kalau Celline pasti ada di rumah sakit.
"Pagi..."
"Raga, ngapain lo kesini?" tanya Celline.
"Ya gue mau jenguk Ibu lo lah, selamat pagi Bu," seru Kiting dengan mencium punggung tangan Ibu Celline.
"Selamat pagi, Nak. Apa kamu temannya Celline?"
"Iya Bu."
"Ibu sangat senang akhirnya Celline punya teman juga."
Kiting mengangkat satu alisnya dan melirik ke arah Celline.
"Selama ini tidak ada yang mau berteman dengan Celline karena Celline anak orang miskin jadi tidak ada yang mau dekat-dekat dengan Celline, tapi sekarang kamu mau dekat dengan anak Ibu, Ibu sangat berterima kasih," ucap Ibu Celline dengan deraian airmata.
"Ibu, kok Ibu nangis sih? jangan nangis, Celline kan sudah sering bilang, Celline tidak apa-apa tidak punya teman karena Celline tidak pernah minta makan kepada mereka, jadi sudahlah Celline baik-baik saja," sahut Celline.
Kiting tersenyum, satu yang baru saja dia tahu dari seorang Celline, dia adalah wanita tangguh yang pantang menyerah dan dia juga tidak peduli dengan pandangan orang terhadap dirinya, Kiting merasa Celline mempunyai kesamaan dengan Bos cantiknya.
"Cell, apa bisa kita bicara sebentar?" seru Kiting.
"Boleh, kita ke taman rumah sakit saja. Bu, Celline keluar dulu sebentar ya."
Ibu Celline mengangguk dan tersenyum...
Kiting dan Celline berjalan beriringan menuju taman rumah sakit dan mereka duduk di kursi yang ada disana.
"Celline, apa kamu mau Ibu kamu segera di operasi?" tanya Kiting.
"Pertanyaan konyol, ya jelaslah tapi gue belum mendapatkan uangnya."
"Gue bisa bantu lo."
"Caranya?"
"Lo ikut sama gue, nanti gue kenalin lo sama seseorang dan orang itu yang akan memberimu bantuan."
"Siapa?"
"Gue ga bisa cerita disini, kalau mau nanti pulang kuliah kita temui dia."
"Siapa sebenarnya Raga, apa Raga mau bawa gue ke Bosnya dan nanti ujung-ujungnya dia minta timbal balik," batin Celline.
"Bagaimana?" tanya Kiting.
"Tidak usah, biar gue cari pinjaman ke orang lain saja."
"Kenapa? lo takut? jangan takut, gue bukan orang jahat lagipula dia ga bakalan minta timbal balik atas uang yang lo pinjam, dia cuma mau ketemu sama lo doang, kebetulan di rumahnya membutuhkan seorang pelayan lagi, kalau lo mau lo bisa bekerja disana dan gajinya dua kali lipat dari gaji lo menjadi seorang pelayan di sebuah restoran," jelas Kiting yang mengerti akan pemikiran Celline.
"Tapi---"
"Gue ga bakalan maksa, kalau lo ga mau ga apa-apa, gue cuma menawarkan saja. Ya sudah, kalau begitu gue ke kampus dulu."
Kiting pun beranjak dari duduknya tapi Celline menahan lengan Kiting sehingga membuat Kiting menghentikan langkahnya.
"Gue mau, gue sudah bingung harus cari uang kemana lagi sedangkan Ibu harus segera di operasi, tapi lo ga bakalan jual gue kan?" seru Celline.
"Astaga Celline, jadi lo mikir kalau gue bakalan jual lo ke seorang mucikari? pikiran lo terlalu jauh, ya sudah nanti sore gue jemput lo kesini kita bertemu dengan seseorang."
Celline pun dengan berat hati menganggukkan kepalanya.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Kiting menjemput Celline dan mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Rubby.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Kiting pun masuk ke dalam sebuah rumah mewah dan besar. Celline tercengang melihat begitu banyaknya pengawal di rumah itu.
"Astaga, kok banyak pengawal? jangan-jangan Raga mau bawa gue ke seorang Bos mafia dan dijadikan sanderaannya," batin Celline.
"Ayo turun, ngapain malah bengong."
"Ah iya."
Jujur saja kalau saat ini kaki Celline begitu lemas, jantungnya berdebar tak karuan.
"Jangan tegang, relax saja."
Kiting pun mengajak Celline masuk ke dalam rumah Rubby, Celline masih celingukkan dan tampak terpana akan kemewahan rumah itu.
Rubby saat ini sedang latihan kungfu bersama Shifu Shen-shen.
"Maya, Bos cantik dimana?" tanya Kiting.
"Dihalaman belakang Mas Kiting, sedang latihan kungfu."
"Astaga, si Maya malah panggil Kiting lagi bikin malu saja," batin Kiting dan melirik ke arah Celline.
"Bos cantik? Kiting? nah kan, Raga itu penuh misteri banget. Kenapa juga maid itu manggil Kiting, pasti ada sesuatu nih mengenai Raga,: batin Celline.
"Ayo kita ke belakang."
Celline pun terus saja mengekor di belakang Kiting, dia mengikuti Kiting dengan menundukkan kepalanya, hingga Kiting berhenti dan Celline menabrak punggung kekar milik Kiting.
"Aw..."
"Ya ampun, lo kenapa?"
"Lo yang kenapa, berheti tiba-tiba."
"Lah memangnya lo ga lihat kalau gue berhenti? makannya kalau jalan itu mata lihat ke depan, bukannya malah menunduk terus."
Celline tidak menjawab ocehan Kiting.
"Bos cantik."
"Eh Ting, sudah pulang?"
Kiting langsung menghampiri Rubby dan membisikkan sesuatu.
"Bos jangan panggil Kiting dong, Celline tahunya nama gue Raga," bisik Kiting.
"Oh, ok siap-siap."
"Hah, itu yang Raga panggil dengan sebutan Bos, ga salah? cantik banget," batin Celline.
"Shifu, latihannya cukup dulu."
"Baik Nona."
"Yuk, kita ngobrolnya di depan saja," ajak Rubby.
Sekarang ketiganya sedang duduk di ruang tamu.
"Jadi ini, wanita yang lo sebutkan kemarin?" tanya Rubby.
"Iya Bos, kenalkan namanya Celline.
"Celline."
"Rubby."
"Apa benar, Ibumu sedang di rawat di rumah sakit?" tanya Rubby.
"Iya Nona."
"Berapa uang yang kamu butuhkan?"
"Li--lima puluh juta, Nona."
"Kalau masalah uang, itu urusan gampang cuma yang jadi pertanyaan berapa lama kamu akan membayarnya?"
"Ti--tidak tahu Nona, tapi aku akan berusaha bekerja keras untuk membayar hutangnya," sahut Celline gugup.
Rubby tersenyum manis saat melihat tangan Celline bergetar, Rubby tahu kalau saat ini Celline sedang merasa takut.
"Apa kamu takut kepadaku?" tanya Rubby.
"Ah ti--tidak Nona."
"Jangan takut, aku ga bakalan gigit kok. Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja disini kebetulan aku juga sedang membutuhkan maid untuk membantu Maya disini."
"I--iya Nona, aku mau."
Rubby beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu dari dalam laci yang berada disana, dan kemudian menuliskan sesuatu.
"Ini lima puluh juta, ambillah."
"Ambil Cell," seru Kiting.
Kemudian dengan tangan yang bergetar, Celline mengambil cek itu.
"Terima kasih Nona."
"Iya sama-sama, kamu cepat ke rumah sakit dan operasi Ibu kamu, setelah Ibu kamu sembuh kamu langsung kesini untuk bekerja disini," seru Rubby.
"Iya Nona, kalau begitu aku pamit dulu."
"Gue antar lo ke rumah sakit."
Celline pun menganggukkan kepalanya...
"Bos, gue antar Celline dulu."
"Iya."
Kiting dan Celline pun pergi meninggalkan tumah Rubby, selama dalam perjalanan tidak ada yang berbicara sedikit pun, mereka terlihat larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Gue penasaran dengan Raga, pertama Raga ketahuan membawa pistol, kedua Raga mempunyai nama Kiting, ketiga Raga mempunyai seorang Bos wanita yang sangat cantik, dan rumahnya pun dijaga oleh pengawal yang sangat banyak, apa gue tanyakan langsung saja kepada Raga ya?" batin Celline.
Celline meremas tangannya sendiri...
"Tapi kalau gue tanyakan sekarang, gue takut Raga marah dan malah menembak gue," batin Celline dengan bergidik ngeri.
💰
💰
💰
💰
💰
Ayo guys mana dukungannya🙏🙏
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOBE YOU
Mantap