Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 23
Hembusan angin siang hari itu cukup kencang membawa sekumpulan awan hitam yang siap menumpahkan isinya ke bumi
Ina menghela nafas menatap langit. Hari ini Ian ada pertandingan taekwondo antar SMU. Yudi pun tidak bisa menjemputnya karena mengantarkan Aya ke tempat klien-klien butiknya
Gadis itu segera melangkahkan kaki menuju halte yang berjarak 500 meter dari sekolahnya. Langkahnya berubah menjadi lari-lari kecil saat merasakan titik-titik air mulai turun ke bumi dengan cepat berubah menjadi hujan deras
Ina tidak menyadari ada seseorang yang selalu memotret pergerakannya. Hingga gadis itu sampai di halte, orang itu masih tetap memotret Ina
Ina menatap langit yang masih gelap. Gemuruh petir mulai bersahutan. Didepannya ada sepasang muda-mudi yang saling berbagi payung dan berlari sambil tertawa
Ina tak sadar ikut tersenyum. Pikirannya menuju ke Lean. Apa kabar pemuda itu? Setelah kejadian di Rumah Sakit dua minggu lalu, Ina bertekad untuk tidak lagi menemui dan menghubungi Lean. Entah mengapa ia selalu sedih melihat Lean dekat dengan perempuan lain, tapi iapun tidak punya hak apapun untuk melarang Lean
Kembali Ina melihat sepasang anak SMU yang sedang berlari di tengah hujan, dimana sang pemuda meletakkan tangannya di atas kepala sang gadis dengan maksud agar kepala gadis itu tidak basah terkena hujan
Ina tertawa. Hal konyol, tentu saja mereka tetap saja basah. Hanya saja perhatian pemuda itu justru menarik perhatiannya. Lean dulu juga begitu, saat hujan ketika tidak ada payung tangan pemuda itu selalu berada diatas kepala Ina
Ina menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan Lean. Sepertinya ada yang tidak beres dengan kepalanya. Semakin ia ingin menghilangkan Lean, semakin ia teringat akan pemuda itu. Ina menghela nafas kasar. Gadis itu mengarahkan pandangannya lurus ke depan
Kembali Ina melihat seorang pemuda yang datang ke arah halte dengan payung di tangannya. Sosok itu menembus lebatnya hujan. Walau tidak jelas, namun sosoknya mirip dengan Lean. Ina segera menutup matanya dengan tangan
"Mataku juga ikut tidak beres.." kata Ina
"Na.."
Gadis itu menghembuskan nafas kasar
"Sampai suaranya pun terdengar.." kata Ina lagi
"Suara siapa Na?"
Ina terkesiap. Segera di dongakkan kepalanya melihat sosok yang sudah ada di sampingnya
"Bang Lean.."
Lean tersenyum. Pemuda itu melepas jaketnya dan memakaikannya ke Ina, lalu ikut duduk di samping Ina
"Bang.." Ina mencoba melepaskan jaket Lean namun ditahan oleh pemuda itu
"Dingin Na.. Nanti kamu masuk angin. Pake jaketnya ya,udah di cuci kok." Kata Lean mencoba bergurau
Ina tersenyum. Keduanya kembali hening menatap hujan
"Ng.. abang janjian lagi sama temen abang?" Tanya Ina
Kening Lean berkerut, kemudian ia ingat kebohongannya tempo hari. Pemuda itu tersenyum sambil menggeleng
"Nggak.. " kata Lean. Matanya memperhatikan sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari halte
"Ian mana?" Tanya Lean lagi
"Ian ada kejuaraan taekwondo."
Bibir Lean membulat. Matanya tetap tidak berpaling dari mobil hitam itu. Beberapa saat kemudian, mobil itu berjalan meninggalkan halte. Lean menghembuskan nafas lega
"Besok-besok jangan pulang sendiri ya Na." Kata Lean
Ina menoleh menatap Lean "Kenapa?"
"Untuk keselamatan aja. Sejak peristiwa di basement kemarin, kita harus lebih hati-hati." Kata Lean
Ina tersenyum tipis
"Tenang aja, Ina bisa jaga diri bang." Kata Ina
Lean terkekeh
"Ya,abang percaya. Sampai gemetar kayak kemarin ya?" Goda Lean
Bibir Ina mengerucut "Siapa yang nggak gemetar kalau ditodong pistol begitu."
Lean memutar tubuh Ina menghadap dirinya.
"Kenapa Ina nggak pernah lagi jenguk abang atau balas pesan dan telepon abang?" Tanya Lean
Bulu mata Ina mengerjap. Mungkin Lean salah melihat, tetapi terlihat mata itu berkaca-kaca. Gadis itu segera menunduk
"Nggak apa-apa bang. Kemarin Ina sempat jenguk bang Lean. Cuma.. abang kayaknya lagi sibuk, jadi Ina turun lagi." Kata Ina sambil melepaskan tangan Lean dari bahunya
Lean tahu, itu saat Ina melihat dirinya dipeluk Mariska. Lean menatap butiran hujan yang terjatuh. Hujan sudah tidak sederas tadi
"Perasaan abang saat ini seperti hujan.."
Ina menatap Lean yang masih melihat butiran hujan
"Seperti gerimis yang tiba-tiba menderas, mengalirkan semua kenangan dan rindu.." Lean balik menatap Ina
"Abang rindu kebersamaan kita dulu Na. Abang rindu kita main bareng, ketawa bareng.. akhir-akhir ini kenapa abang merasa semuanya berubah? Apa karena pernyataan abang di taman bulan lalu jadi Ina menghindar dari abang?"
Keduanya saling memandang dalam diam. Angin berhembus perlahan. Hujan sudah berhenti, menyisakan dinginnya udara.
Ina menghela nafas berusaha menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan Lean
"Ina berusaha menjaga jarak karena kita bukan saudara, tidak pantas rasanya berdekatan seperti dulu bang. Lagipula, ada hati yang harus abang jaga bukan?" Kata Ina
Lean menghela nafas
"Berapa kali abang bilang, Mariska bukan kekasih abang. Abang cuma sayang sama Ina, dari dulu sampai sekarang." Kata Lean
Ina menatap Lean
"Coba abang tanya betul hati abang. Apakah sayang abang ke Ina seperti seorang pria pada wanita? Atau hanya sayang sebagai adik?" Tanya Ina
"Na..dia bukan.."
"Walau abang bilang kalian bukan sepasang kekasih, tetapi interaksi abang dengan kak Mariska kemarin-kemarin tidak mencerminkan hal itu. Abang juga menyukainya kan?" Kata Ina lagi dengan nada sedikit meninggi. Mata itu tetap menatap Lean. Terlihat sorot kesedihan di sana
"Mengapa Ina sedih? Apa Ina cemburu? Apa aku harus senang, atau bagaimana?" Pertanyaan itu terus berputar di kepala Lean
"Ina...cemburu?" Tanya Lean akhirnya
Ina terkejut dengan pertanyaan Lean. Sesaat pipi gadis itu memerah. Namun segera ditundukkannya kepalanya menghindari tatapan Lean
"Na..jawab."
Gadis itu berdiri, melepas jaket Lean dan mengembalikannya
"Ina anggap pernyataan abang di taman sekedar main-main. Terima kasih jaketnya, bang." Kata Ina
Gadis itu hendak pergi namun Lean menarik tangannya. Ina sedikit memberontak
"Lepas bang!" Kata Ina
"Ina cemburu kan? Jawab abang.."
"Bang.."
Tiba-tiba terdengar sebuah suara
"Andre! Lepaskan dia!"
Keduanya menoleh. Ray terlihat turun dari motornya dan menghampiri Ina dan Lean. Lean mengendurkan pegangannya sehingga Ina leluasa menarik tangannya
"Apa yang terjadi?!" Tanya Ray
Ina menggamit lengan Ray. Lean melihat hal itu dengan pandangan kecewa
"Tidak ada apa-apa. Bang Lean, Ina pulang ya." Pamit Ina
Kening Ray berkerut "Lean?" Bisiknya dalam hati
Ina segera menarik tangan Ray untuk segera pergi. Lean melihat keduanya berboncengan. Ray sempat memandang Lean kemudia segera memacu motornya meninggalkan Lean
Lean memandangi motor Ray hingga menghilang dari pandangannya. Pemuda itu kembali terduduk di halte
"Na..kalau abang anggap Ina sebagai adik, harusnya perasaan abang tidak sesakit ini saat melihat Ina pergi dengan Ray.." Bisik Lean
Beep beep. Sebuah pesan masuk di hpnya
Lean melihat pesan itu. Nomor tidak dikenal. Saat dibuka, Lean terbelalak. Semua foto-foto candid Ina
"Tetaplah menjadi Leandre kalau ingin melihat gadis ini selamat."
Rahang Lean mengeras. Apa maksud dari semua ini?
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...