Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Pengakuan Georgina berhasil memancing lirikan Reka pada Leon.
Sadar akan itu, Leon langsung berubah panik."Aku tidak melakukan apapun padanya. Coba saja tanyakan sendiri, kalau tidak percaya!." Leon tak mau Reka salah paham kepadanya.
"Bukan, bayi ini bukan milik mas Leon."
Untungnya bayi itu bukanlah milik Leon, karena bila bayi itu adalah milik Leon bisa dipastikan Reka tidak akan pernah kembali pada Leon.
"Lalu, siapa ayah dari bayi yang sedang kamu kandung, Geo?."
"Kamu tidak perlu khawatir! Ayah dari bayi ini bersedia bertanggung jawab, namun yang jadi masalah sekarang adalah rencana pernikahanku dengan Leon sudah di depan mata, tapi dengan kondisiku saat ini tak mungkin lagi menikah dengan Leon."
Georgina membalas genggaman tangan Reka.
"Reka..."
"Iya...."
Suasana hening sejenak, menanti Georgina kembali berkata-kata.
"Aku mohon, menikahlah dengan Leon dengan begitu orang tuaku pasti tidak akan merasa terlalu malu dihadapan keluarga Fernandez! Mungkin dengan cara itu juga, kedua orang tuaku akan bisa menerimaku kembali."
Georgina sadar, dengan memprovokasi Reka lewat baby Richard saja tidak akan cukup. Tidak menutup kemungkinan disepanjang hidup, Reka akan terus diselimuti perasaan bersalah karena merasa telah merebut Leon darinya. Dengan mengaku sedang mengandung anak dari pria lain dan meminta bantuan Reka untuk menggantikan posisinya menikah dengan Leon, akan lebih tepat menurut Georgina.
Untuk kesekian kalinya Leon terpaku atas tindakan Georgina.
Reka tak langsung menjawab, cukup lama ia menatap wajah sendu Georgina. Semua rencananya untuk meminta maaf kepada wanita itu seolah sirna begitu saja dengan permintaan dari wanita itu sendiri. Kini ia bisa menikah dengan Leon tanpa harus menyandang gelar sebagai wanita perebut.
"Kamu bersedia kan?." Pertanyaan Georgina sekaligus menyadarkan Reka dari lamunannya.
Reka hanya bisa mengangguk, seolah malu pada diri sendiri untuk mengiyakan dengan kata-kata karena awalnya di dalam kepalanya sudah tersusun permintaan maaf untuk diungkapkan kepada Georgina. Permintaan maaf karena terpaksa harus merebut Leon dari wanita itu agar bisa tetap bersama dengan baby Richard.
"Terima kasih banyak, Reka." Georgina memeluk Reka yang masih terlihat linglung. Ya, wanita itu tidak menyangka situasi akan berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada kesan merebut di sini, malah kesannya Georgina memohon kepada dirinya.
Berbeda dengan Georgina yang kini nampak tersenyum setelah Reka bersedia menerima tawaran darinya, di tempat yang berbeda, mommy-nya Georgina justru sedang menyiapkan diri untuk menyampaikan berita mengejutkan tentang putri kesayangan mereka kepada sang suami.
"Sebenarnya ada apa ini, Mom?." Daddy-nya Georgina nampak bingung melihat istrinya hanya diam saja, padahal tadinya wanita itu berkata ingin menyampaikan hal penting kepadanya.
Daddy-nya Georgina semakin bingung karena istrinya bukannya menjawab, tapi malah menangis.
"Please....jangan membuat Daddy semakin bingung dengan sikap mommy ini!." Pria keturunan belanda tersebut terlihat menautkan kedua alis tebalnya.
"Anak kita, dad......"
"Iya....ada apa dengan anak kita?." Daddy mendekat, menggenggam tangan sang istri untuk menciptakan suasana nyaman agar wanita itu mau melanjutkan ceritanya.
"Dia hamil...."
"APA.....?." Nada Daddy naik beberapa oktaf sakit kagetnya. "Jangan becanda, mom!."
"Mommy tidak sedang bercanda, dad. Geo sedang hamil, dan anak yang ada didalam kandungnya saat ini bukanlah anaknya Leon. Hiks.....hiks....hiks...."
Mimik wajah Daddy-nya Georgina langsung berubah merah menahan emosi.
"Anak itu benar-benar bikin malu." Daddy mengusap wajahnya dengan kasar, merasa telah gagal mendidik anak gadisnya hingga terjerumus pada perbuatan yang salah. Terlebih, Georgina melakukannya dengan pria lain, bukan dengan pria yang sebentar lagi menikah dengannya.
"Apa yang harus Daddy katakan pada keluarga Fernandez nanti. Mereka pasti akan merasa sangat dipermalukan oleh keluarga kita." Sebenarnya Daddy tidak pernah memaksa Georgina untuk menerima perjodohan tersebut, pria itu memberi pilihan. Georgina boleh memilih menerima atau menolak, dan pada saat itu Georgina memilih menerima. Kalau memang memiliki pria lain yang dicintai, bukankah seharusnya putrinya itu memilih menolak agar tidak sampai mempermalukan keluarga mereka seperti ini. Daddy-nya Georgina sangat menyayangkan perbuatan putrinya yang telah mempermalukan dirinya di hadapan calon besannya.
"Seburuk apapun, Georgina tetaplah anak kandung kita, dad. Sebagai orang tuanya seharusnya kita mencari solusi, bukannya malah terus menyalahkan dan memojokkan Geo!."
Daddy terdiam, apa yang dikatakan oleh istrinya tidak salah. Georgina tetaplah putri kandung mereka, kalaupun Georgina sampai melakukan kesalahan fatal itu artinya mereka pun bersalah karena tak mampu mendidiknya agar bisa menjaga diri dengan baik.
"Mommy sudah kehilangan putri bungsu kita, dan sekarang mommy tidak ingin sampai kehilangan putri sulungnya kita juga, dad."
Deg.
Ucapan sang istri ibarat membuka luka yang selama ini masih tersimpan di dalam hati. Pria paruh baya itu membawa sang istri ke dalam pelukan.
"Maafkan Daddy, mom....maaf karena gagal mendidik putri kita hingga ia melampaui batas."
"Hiks..hiks..hiks...Ini bukan sepenuhnya kesalahan Daddy, mommy juga bersalah. Seharusnya mommy lebih protektif dalam mendidik Geo."
Malam harinya.
Georgina duduk dihadapan kedua orang tuanya layaknya seorang terdakwa yang menanti vonis. Tangannya nampak saling menggenggam di pangkuan sedangkan pandangannya tertunduk.
"Kalau memang kamu mencintai pria lain, lalu mengapa menerima perjodohan dengan nak Leon?." Suara Daddy rendah namun tegas.
"Maafkan, Geo, dad!." Dengan suara bergetar menahan tangis Georgina berujar.
"Apa kamu pikir dengan meminta maaf semua akan baik-baik saja?." Ada jeda sejenak, sebelum Daddy kembali berkata. "Jujur, Daddy sampai tidak tahu harus berkata apa nanti dihadapan keluarga Fernandez."
Mommy menggenggam tangan sang suami, seolah mengisyaratkan agar pria itu tidak bersikap terlalu keras terhadap putri mereka.
Di tengah kebingungan Daddy-nya Georgina, tiba-tiba ponsel pria itu berdering. Nama tuan Fernandez tertera dengan jelas dilayar ponselnya.
Pria itu memperlihatkan pada sang istri siapa yang sedang melakukan panggilan telepon.
"Angkat saja, dad!."
"Ha_halo...." Daddy-nya Georgina menjawab dengan suara terbata.
"Halo tuan Semi....maaf kalau saya sudah menggangu waktu istirahat anda." Hening sesaat. "Sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan bahwa sore tadi Geo sempat datang ke rumah kami dan ia sudah menceritakan semuanya. Sebagai orang tua, sebaiknya kita menanggapinya dengan bijak. Tuan Semi tidak perlu merasa bersalah pada kelurga kami! Mari sama-sama berpikir bijak, mungkin anak-anak kita tidak berjodoh! Saya harap dengan berakhirnya hubungan anak-anak kita, tidak sampai membuat hubungan keluarga kita renggang kedepannya nanti!"
Ibarat sebuah beban berat di hilangkan dari pundaknya, seperti itulah leganya perasaan Daddy-nya Georgina saat mendengar penuturan tuan Fernandez dari seberang telepon.
*
"Daddy jadi tidak tega pada tuan Semi, mom. Tuan Semi pasti sangat merasa bersalah terhadap keluarga kita." Ujar tuan Fernandez setelah obrolannya bersama Daddy-nya Georgina berakhir.
"Sebenarnya mommy pun merasa begitu dad, tapi mau bagaimana lagi, ini kan Geo yang minta." Balas sang istri.
"Kalau begini ceritanya, anak muda yang bermain cinta para orang tua yang ikutan gila." Mommy tersenyum mendengar kalimat suaminya.
trimakasih Thor sudah menghibur dengan karyamu..sehat selalu.. semangat untuk berkarya 👍