Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Zurich
Kediaman Keluarga Schwarz
Elsa menghentikan mobilnya tepat di depan mansion besar yang lampunya menyala terang.
Para pengawal yang dikhususkan untuk menjaga keamanan mansion besar mirip istana itu, berdiri tegap di berbagai sisi.
"Ayo, Nyonya," ucap Elsa kepada Chloe yang duduk di sampingnya.
Chloe mengangguk pelan, lalu keduanya keluar dari mobil sport hitam.
Angin malam Zurich terasa dingin. Menerpa rambut panjang Chloe yang dibiarkan terurai. Saat melihat Elsa dan wanita asing yang keluar dari mobil, para pengawal langsung menunduk.
"Selamat malam, Nona Elsa," ucap salah satu dari mereka.
"Malam... Apa Tetua ada di dalam?" tanya Elsa.
"Ada, Nona. Tetua ada di ruang kerjanya. Apa Anda ingin bertemu dengannya?"
Elsa melirik Chloe sekilas. Wanita itu hanya diam dengan wajah datarnya. "Iya. Katakan kepada Tetua kalau aku ingin bertemu dengannya."
Pengawal itu mengangguk lalu berbicara lewat radio.
Sebenarnya Chloe bisa saja langsung masuk ke dalam mansion milik ayahnya itu. Tapi ia sadar, saat ini jiwanya hidup di dalam raga yang berbeda. Dan tentu saja tidak ada satu pun yang mengenal sosok dirinya yang sekarang. Kecuali Elsa.
"Silakan masuk, Nona," ucap pengawal itu dengan sopan setelah ia menyampaikan pesan kepada anak buah Tetua yang berjaga di dalam.
Elsa meraih tangan Chloe dan mengajaknya masuk. Tapi baru selangkah, pengawal itu menghentikan mereka.
"Mohon maaf, Nona. Anda tidak bisa membawa orang asing sembarangan ke dalam mansion ini," tegur sang pengawal.
Elsa langsung mengerutkan keningnya. "Orang asing? Dia bukan orang asing!"
Chloe tetap diam. Wajahnya datar. Tapi matanya menatap satu per satu pengawal ayahnya yang berdiri di hadapannya.
Ini rumahnya. Tapi karena tubuh barunya inilah membuat para pengawal itu tidak mengenal siapa dirinya.
Elsa maju selangkah. Suaranya tetap halus tapi menusuk. "Buka mata kalian baik-baik. Wanita ini adalah Nyonya kalian. Jika terjadi apa-apa padanya, maka kalian akan berurusan dengan Tetua."
Para pengawal saling pandang. Ragu. "Tapi, Nona... Kami belum menerima perintah—"
"CK! Kau ini cerewet sekali. Ayo, Nyonya," ucap Elsa. Ia tidak ingin lagi mendengar alasan dari kedua pengawal yang menghalangi mereka.
Chloe masih tetap diam. Ia melangkah masuk ke dalam mansion besar itu bersama Elsa.
TAK.... TAK....
Suara hak sepatu Elsa menggema di lantai marmer yang dingin.
Aroma kayu jati tua dan bunga lili bercampur jadi satu. Sama persis seperti satu minggu yang lalu, saat Daisy melangkah pergi untuk menjalankan misinya. Dan raganya tidak akan kembali lagi dengan utuh.
Tapi malam ini wanita itu kembali. Dengan raga yang berbeda, tapi jiwa yang sama.
Mereka berdua langsung menuju ruang kerja ayah Daisy yang berada di lantai satu.
Pintu kayu jati dengan ukiran mawar di tengahnya tertutup rapat. Satu minggu yang lalu Daisy mengetuk pintu itu untuk terakhir kalinya. Melapor sambil tersenyum dan berjanji kepada ayahnya untuk kembali dengan membawa kemenangan.
Tapi takdir berkata lain. Klan mafia Kalajengking Merah menangkapnya dan membunuhnya.
Tapi alam dan semesta masih berpihak padanya. Memberikannya kehidupan kedua di dalam raga seorang wanita lemah seperti Chloe Weiss. Yang tak lain adalah saudara tirinya sendiri.
Elsa berdiri di depan pintu. Tangannya gemetar saat ingin mengetuk. "Nyonya... Kau siap?" bisiknya.
Chloe mengangguk. Wajahnya datar. Tapi di dalam jiwa Daisy menjerit. Dalam hati ia berkata: "Ini rumahku. Di dalam sana adalah Daddyku. Dan dia tidak akan mengenalku."
Tok... Tok...
"Masuk," suara berat dari dalam terdengar.
Elsa mendorong pintu pelan. KREK.
Ruang kerja itu masih sama. Lampu meja kuning redup. Rak buku penuh. Dan di balik meja besar...
Maximilian Schwarz duduk. Pena di tangannya. Tapi matanya kosong, menatap foto di dalam bingkai.
Foto Daisy Airin Schwarz. Putri dan anak satu-satunya yang sangat ia sayangi. Tersenyum manis dengan memakai gaun berwarna marun. Satu minggu yang lalu meninggal karena tertangkap musuh dan dibunuh.
Begitu melihat Elsa dan Chloe masuk, Maximilian tidak langsung bicara. Ia menatap Chloe lama. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Siapa?" tanyanya.
Elsa menunduk diam. Tapi Chloe, matanya berkaca-kaca menatap pria paruh baya yang ada di hadapannya.
"Daddy."
Satu kata.
Pelan. Serak. Tapi cara mengucapkannya... persis Daisy.
Maximilian terdiam. Seluruh tubuhnya menegang.
Chloe melangkah maju, menatap wajah ayahnya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
"Daddy tidak mengenali aku karena tubuh baru ini..." ucap Chloe.
Suara itu. Nada itu. Cara ia menyebut "Daddy"...
Maximilian Schwarz menutup matanya. Tangannya yang memegang pena bergetar hebat.
TOK.
Pena jatuh ke lantai.
"TIDAK! JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU! PANGGILAN ITU HANYA UNTUK PUTRIKU!" bentak Maximilian. Suaranya menggema di ruangan. Pecah.
Maximilian menatap Chloe dengan tajam. Wanita kurus yang berdiri di hadapannya ini tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Daddy..." bisiknya lagi, pelan.
BRAK!
Maximilian menghantam meja. Foto Daisy jatuh. Kacanya pecah dan berserakan.
"STOP! PUTRIKU SUDAH MATI!" raungnya. "DIBUNUH OLEH KALAJENGKING MERAH! JASADNYA BAHKAN DIMUTILASI! DAN SAMPAI SEKARANG POTONGAN TUBUH YANG LAINNYA MASIH BELUM DITEMUKAN!"
Ruangan itu sunyi. Hanya suara napas Maximilian yang memburu. Dan suara Elsa yang menahan tangis.
Chloe menyeka air matanya. "Hanya ragaku yang mati, Daddy... Tapi jiwaku kembali hidup di dalam tubuh ini."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Maximilian menatap Chloe. Napasnya berat. Rahangnya mengeras. Tangannya yang baru saja menghantam meja masih mengepal.
"Jiwa?" Suaranya serak. Hampir berbisik. "Kau pikir aku orang bodoh? Kau pikir aku percaya omong kosong reinkarnasi?"
Chloe menggeleng. Ia melangkah maju, menginjak pecahan kaca. Krek.
Darah menetes dari kakinya. Tapi ia tidak peduli.
"Memang terdengar sangat mustahil, Daddy... Tapi itu kenyataannya. Aku kembali hidup di dalam raga ini. Raga Chloe Weiss. Putri dari suami kedua ibu," ucap Chloe sambil menangis.
Darah masih menetes di kaki Chloe, mengotori lantai marmer yang mengkilap.
Maximilian tidak menjawab. Ia hanya menatap.
Menatap luka itu. Menatap air mata itu. Menatap cara Chloe berdiri.
Punggung tegak. Dagunya terangkat. Persis seperti Daisy saat dihukum karena melawan guru.
"Chloe Weiss..." gumam Maximilian. "Anak dari Irina Weiss."
Namanya disebut seperti racun.
"Wanita yang pergi karena menganggap aku ini monster," lanjut Maximilian dingin. "Dan sekarang kau bilang... jiwamu ada di dalam tubuh anaknya?"
Chloe mengangguk. "Aku tahu Daddy sangat membenci Ibu. Tapi aku... aku tidak pernah sedikit pun membencinya. Walaupun dia meninggalkanku bersama Daddy, tapi Ibu tetap Ibuku. Dia yang melahirkanku.
Tapi aku tidak pernah minta terlahir di raga ini, Daddy. Aku cuma minta satu kesempatan... untuk pulang."
Hening.
Maximilian beranjak berdiri. Berjalan ke arah Chloe dan mengelilingi wanita itu seperti sedang menginterogasi tawanan.
"Kalau kau benar Daisy... buktikan satu hal saja. Sesuatu yang hanya kau dan aku yang tahu."
Chloe menutup mata. Mengambil napas.
"Lima tahun yang lalu. Pada saat ulang tahun Daddy yang keempat puluh. Daddy mabuk. Jatuh di tangga. Dan aku yang menemukan. Daddy bilang sambil menangis... Jangan bilang siapa-siapa, Nak. Seorang Schwarz tidak boleh terlihat lemah. Terus aku berjanji. Aku tidak akan bilang. Rahasia kita.'"
Langkah Maximilian terhenti.
Itu malam yang tidak pernah ia ceritakan ke siapa pun. Termasuk kepada asisten pribadinya.
Tangannya yang mengepal perlahan terbuka. "Berhenti..." bisiknya. Suaranya patah. "Jangan dilanjutkan..."
Chloe membuka mata. "Masih mau bukti lagi, Daddy? Mau aku nyanyikan lagu yang Daddy nyanyikan tiap aku demam? Atau mau aku sebutin nama anjing pertama kita? Bruno. Yang Daddy kubur sendiri di taman belakang."
DUG.
Maximilian terhuyung. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tubuh setinggi 190cm itu bergetar.
"DAISY..." raungnya.
Dalam satu gerakan, ia menarik Chloe ke dalam pelukannya. Tidak peduli darah di kaki Chloe mengotori jas mahalnya.
Ia memeluk sekuat tenaga. Seolah takut Tuhan akan mengambilnya lagi.
"Maafkan Daddy... Maafkan Daddy karena tidak bisa melindungimu..." isaknya. "Selama satu minggu ini Daddy sangat terpukul. Kau pergi dengan raga yang utuh, tapi kembali hanya tinggal nama..."
Chloe menangis di dada ayahnya. "Aku di sini, Daddy... Aku pulang. Walaupun raganya berbeda... tapi ini aku. Putri Daddy. Putri Maximilian Schwarz. Putri kecil Daddy yang Daddy besarkan dengan kasih sayang."
Elsa ikut menangis sambil menutup mulutnya. Melihat ayah dan anak itu kembali bersatu. Walaupun raga Daisy sudah berbeda, tapi jiwanya masih tetap sama.
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 🙏 😊 🥰.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,